
Di rumahnya Zahra sibuk membantu ibunya menyiapkan makan siang untuk Faiz dan mang Uddin, di sela-sela memasak Zahra bercerita tentang semua yang terjadi padanya selama di Paris, Zahra juga tak lupa menceritakan tentang buk Mawar pada buk Siti.
Zahra juga menceritakan buk Mawar pernah kehilangan putrinya seumuran dengan dirinya.
"Buk Mawar bilang, dia gak mau kembali ke Indonesia karena Indonesia mengingatkan dia dengan kehilangan putrinya yang tak pernah di temukannya..." jelas Zahra.
Degh...
Tiba-tiba Siti merasa Mawarlah ibu kandung Zahra. Dengan begitu Siti oun merasa takut kehilangan Zahra jika nanti dia benar-benar menemukan orang tua kandungnya.
"Ara ngerasa bagaimana saat bersama buk Mawar...?" tanya Siti berusaha memcari tahu ikatan bathin di antara mereka.
"Ara ngerasa kalau buk Mawar sangat sayang sama Ara...Ara juga ngerasa dekat sama dia walaupun Ara baru saja mengenal dirinya..." jawab Zahra jujur.
Zahra tak pernah berfikiran kalau ibu Mawar itu ibu kandungnya, bagi Zahra kedua orang tua kandungnya adalah Siti dan mang Uddin dia tak ingin mencari tahu segala sesuatu tentang keluarga kandungnya.
Zahra hanya ingin menganggap Siti dan mang Uddin sebagai orang tua kandungnya.
"Mhm...kamu masih saja gadis polos yang ibuk miliki nak..." gumam Siti di dalam hati.
Karena keasyikan bercerita mereka pun tak menyadari semua masakan pun sudah selesai.
Semua makanan telah siap terhidang di atas meja makan, tak berapa lama mang Uddin masuk ke dalam ruang makan dan tak berselang lama Faiz pun datang.
Zahra menyambut kedatangan Faiz lalu mengajak Faiz untuk makan siang.
"Nak Faiz udah datang...??yuk sekalian makan siang bareng..." ajak Siti saat melihat menantunya masuk ke dalam ruang makan.
Faiz pun duduk di bangku yang tersedia, Zahra mengambilkan makanan untuk Faiz. Setelah itu dia pun mengambil makanan untuk dirinya.
Menu siang ini semuanya adalah makanan ke sukaan Zahra, mulai dari sayur lodeh, sambal ampela serta goreng tempe dan teri balado.
Zahra makan dengan lahap, begitu juga dengan Faiz, katena jarang makan-makanan seperti ini Faiz merasa masakan yang tersedia sangat lezat.
Setelah selesai makan Faiz kembali ke sekolah, mang Uddin masuk ke dalam kamarnya untuk istirahat.
Sedangkan Siti dan Zahra membersihkan piring kotor bekas makan mereka. Di rumah Siti tidak ada pelayan, karena Siti ingin mengerjakan semuanya sendiri apalagi hanya meteka bersua tinggal di rumah itu.
Faiz telah menyediakan pelayan untuk membantu Siti, namun Siti menolaknya dengan alasan agar dia tetap bergerak di rumah itu terlebih lagi yang di urusnya hanyalah mang Uddin seorang hanya sesekali Zahra dan Faiz datang ke rumah mereka.
******
Mawar, Fathiya, dan Stella telah berada di bandara Soekarno-Hatta, Alita yang mendapat kabar dari kakaknya akan kedatangan ibunya ke Indonesia sangatlah bahagia.
Alita dan suaminya datang menjemput sang ibu serta saudaranya.
Alita yang telah lama tak bersua dengan ibunya dia merasa sangat rindu pada wanita yang telah melahirkannya itu.
__ADS_1
Alita berlari melangkah menghampiri ibunya saat baru saja melihat wanita paruh baya itu keluar dari bandara.
"Mama..." lirihnya yang kini telah berada di pelukkan ibunya.
"Alita..." lirih Mawar terharu bisa berjumpa dengan putri keduanya.
Walaupun mereka sering berkomunikasi via video call tapi lain rasanya saat berjumpa secara langsung.
"Alita kangen mama..." bisik Alita.
"Mama juga kangen sama kamu...tapi kamunya terlalu sibuk untuk menjenguk mama aja susah..." ucap Mawar jujur.
Mawar yang hidup jauh dari putrinya selalu merasa kesepian, namun dia tak ingin mengganggu karier putrinya.
"Mama...apa kabar???" ucap Sakti suami Alita setelah istrinya puas meluapkan rasa rindunya pada ibunya.
Sakti menyalami dan mencium punggung tangan mama mertuanya itu.
"Mama baik nak...kamu apa kabar...??" tanya Mawar.
"Kami baik ma..." jawab Sakti.
"Putra kalian Ferdy mana??" tanya Mawar karena dia tak melihat cucu satu-satunya.
"Ferdy kurang sehat ma...dia tinggal di rumah sama mama..." jawab Sakti.
"Hai Stella...kamu apa kabar...???" tanya Alita menyapa wanita yang selalu menjaga ibunya.
"Yukk ma...kak...stella...kita langsung ke rumah aku aja ya..." ajak Alita.
Alita tahu permasalahan yang tengah di hadapi oleh Fathiya. Jadi Alita mengajak Mawar, Fathiya dan Stella untul menginap di rumahnya selama tinggal di Indonesia.
Alita dan Sakti telah menikah 2 tahun yang lalu dan memiliki seorang putra yang bernama Ferdy.
Alita dan Sakti tinggal di rumah miliknya bersama mama Sakti, karena Mama Sakti yang tinggal sendirian Sakti mengajak mamanya untuk tinggal bersama mereka.
Sakti juga merupakan seorang dosen di Universitas Indonesia.
Mereka pun melangkah menuju mobil milik Sakti di parkiran, Stella membantu Sajti dan Alita membawa barang-barang dan memasukkannnya ke dalam bagais mobil.
Setelah itu Sakti pun melajukan mobilnya menuju rumah mereka, di perjalanan mereka lalui demgan mengobrol ringan sekedar melepas rindu telah lama tak berjumpa.
Sesampai di rumah Alita, Mereka masuk ke dalam rumah, di rumah Alita ada seorang tukang kebun yang bernama Rudi.
Rudi membantu Sakti mengangkat barang-barang bawaan Mawar dan membawanya ke kamar yang telah di sediakan Alita.
"Assalamu'alaikum..." ucap mereka saat memasuki rumah.
__ADS_1
Rossa mama Sakti langsung berdiri menghampiri pintu menyambut kedatangan besan dan saudari menantunya.
"Wa'alaikumsalam..." jawab Rossa dia pun memeluk Mawar saat berjumpa.
"Pa kabar mbak...??" tanya Rossa pada Mawar.
"Baik Ross...kamu apa kabar...??" tanya Mawar balik.
"Baik mbak..." jawab Rossa.
"Ferdy mana?" tanya Mawar yang tak sabar ingin berjumpa dengan cucunya.
"Ferdy sedang tidur di kamarnya..." jawab Rossa.
"Kalian pasti lelah, istirahatlah terlebih dahulu...sebelum kita makan siang..." ucap Rossa.
"Alita..antar mereka ke kamar mereka ya... Mama sama bi Sumi akan menyiapkan makanan..." ujar Rossa.
"Iya Ma..." ucap Alita lalu mengajak Mawar dan Fathiya ke kamar Tamu paling depan, serta Stella di kamar sampingnya.
Mereka pun masuk ke dalam kamar masing-masing. Mereka pun membersihkan diri sebelum mereka beristirahat sejenak.
Alita, Rossa dan seorang pelayan rumah tangga yang di pekerjakannya pun menyiapkan makanan untuk kekuarga Alita yang baru saja datang dari Paris.
Kehidupan Alita lebih dari cukup, namun Alita hanya mempekerjakan seorang tukang kebun, Pelayan rumah tangga serta seorang pengasuh untuk Ferdy.
Walaupun dia sibuk, dia masih menyempatkan diri untuk mengurusi suami dan putranya, Alita sudah terbiasa memasak sendiri untuk keluarga kecilnya.
Bi Sumi hanya sekedar membantu bersih-bersih rumah, serta mencuci dan menggosok.
Kehidupan yang terbilang sederhana, walaupun kekayaan peninggalan ayahnya bisa menghidupi mereka dengan kehidupan yang mewah.
Karena Almarhum Ayah Alita dan Fathiya merupakan seorang pebisnis yang handal, Mereka memiliki saham yang banyak di berbagai perusahaan terkenal di Paris.
Bersambung....
.
.
.
jangan lupa tinggalkan jejak ya readers yang baik hati...
# like...
# koment...
__ADS_1
# Vote...
# dan hadiah...