
"Mhm...terserah mas aja deh..." ujar Zahra hanya bisa mengikuti keinginan suaminya.
Zahra sangat bahagia dengan kepedulian Faiz terhadap keliarganya walaupun Zahra bukan anak kandung namun Fatimah dan mang Uddin sangat menyayanginya melebihi putri kandung.
Makanya Zahra hanya menganggap Ibu Fatimah dan Mang Uddin sebagai kedua orang tua kandungnya.
Sambil menjelang siang, Zahra merebahkan tubuhnya di ranjang kecil miliknya.
Faiz yang melihat Zahra berbaring, dia pun mendekati Zahra.
"Aku boleh dunkz ikutan...." ujar Faiz ikut merebahkan tubuhnya di samping Zahra.
Zahra menggeser tubuhnya memberi tempat untuk Faiz. Faiz merasakan kasur milik Zahra tak seempuk kasur yang di milikinya.
Ternyata selama ini Zahra benar-benar hidup dengan sederhana. Faiz merasa kasihan dengan hidup yang di jalani istrinya.
Zahra yang terpisah dari keluarganya yang entah dimana saat ini semenjak berumur empat tahun dan Di asuh oleh ibu Fatimah dan mang Uddin dengan penuh kasih sayang.
"Ra...mulainsaat ini aku akan membuatmu bahagia..." gumam Faiz.
Zahra melingkarkan tangannya dibdada bidang Faiz.
"Mas..." Zahra
"mhm..." Faiz
"Bolehkah aku bertanya sesuatu...???" Zahra
"Tanyakanlah..." Faiz
"apakah mas menyesal menikah denganku??? " Zahra
"Kenapa kamu nanyain itu???" Faiz
"Kamu kan orang kaya...terpaksa menikah dengan wanita miskin sepertiku..." Zahra
"Hushh...jangan bilang seperti itu, aku mencintaimu sejak kamu datang kesini... Kehadiranmu menghiasi hari-hariku..." Faiz.
Zahra menatap dalam pada suaminya, dia melihat besarnya cinta Faiz pada dirinya.
"Makasih mas..." lirih Zahra lalu dia pun mempererat pelukannya pada Faiz.
Zahra bersyukur mendapatkan cinta yang besar dari Faiz, walaupun di awal pernikahannya tak seindah pernikahan pasangan lainnya Yang penuh kebahagiaan.
Faiz pun membalas pelukkan istrinya, mereka pun terlelap dalam luapan kasih sayang yang terukir di hati mereka.
******
Di sore hari...
Faiz dan Zahra pamit pulang.
__ADS_1
"Buk...pak...Faiz minta mulai besok bapak sama ibuk nginap di rumah aja dulu... Faiz mau merenovasi rumah ini...supaya bapak sama ibuk nyaman tinggal disini..." pinta Faiz pada kedua mertuanya.
"Tapi nak...kami gak mau merepotkan..." ucap Mang Uddin.
"Pak...saat ini Zahra adalah istri Faiz yang berarti orang tua Zahra juga orang tua Faiz... Faiz melakukan hal itu hanya untuk orang tua Faiz..." ucqp Faiz
"Tapi nak..." Bantah Fatimah merasa tidak enak hati.
"Gak ada tapi-tapian buk...Faiz udah nyurih orang untuk bekerja mulai besok..." ucap Faiz.
"Ya udah kami pamit dulu ya buk...pak..." Faiz pun pamit pada kedua mertuanya, lalu menyalami Fatimah dan Mang Uddin begitu juga dengan Zahra dia mengikuti suaminya.
Faiz sengaja langsung pamit karena dia tak ingin Fatimah dan Mang Uddin menolak permintaannya.
Seminggu pekerjaan Renovasi rumah Mang Uddin pun selesai, Saat ini mang Uddin dan Ibu Fatimah dapat tinggal di rumah yang layak.
Faiz tak ingin Zahra tinggal di rumah yang megah, sedangkan orang tuanya tinggal di rumah yang sangat sederhana.
Hari ini adalah hari syukuran berdirinya rumah Mang Uddin yang sudah siap di huni, Faiz melakukan ini semua untuk membahagiakan istrinya.
Dalam acara syukuran ini semua pelayan di kerahkan untuk memasak dan menjamu beberapa tamu yang di undang dalam acara syukuran ini.
Zahra yang sangat bersemangat ikut membantu pekerjaan benerapa pelayan, walaupun Faiz sudah melarangnya namun di saat Faiz berbicara dengan beberapa tamu Zahra pun melakukan pekerjaan yang dapat di lakukannya.
Adrian, Rahayu, Fatimah dan mang Uddin sedang duduk bersama di ruang tamu dalam acara ini sambil menyambut beberapa tamu yang datang.
"Terima kasih tuan..." ucap Mang Uddin merasa tidak enak pada Adrian.
"Saya rasa cukup dengan panggil nama atau bapak..." ucap Adrian merasa tidak enak hati pada besannya, karena mang Uddin sellau menganggap dirinya sebagai juragannya.
"Tapi...tuan..." Bantah mang Uddin.
"Tidak ada tapi-tapian mang... kita adalah keluarga..." sahut Adrian.
"I...i...ya pak..." ucap Mang Uddin gugup.
Adrian dan Rahayu tersenyum melihat mang Uddin.
Mereka menikmati acara syukuran itu dengan suka cita.
Hari ini adalah Hari pertama mang Uddin dan Fatimah tinggal di rumah barunya.
Faiz yang telah berjanji pada istrinya di hari pertama rumah ini di tempati, mereka akan menginap di rumah itu.
Semua tamu sudah pulang, begitu juga dengan Adrian dan Rahayu. Kini tinggallah mang Uddin, Fatimah, Zahra dan Faiz di rumah baru Mang Uddin.
"Ra...kamu istirahatlah...sudah larut malam kamu tampak kecapekkan..." perintah Fatimah saat melihat putrinya masih sibuk beres-beres.
"Iya buk..." jawab Zahra namun dia masih saja menyelesaikan pekerjaannya.
Faiz yang melihat istrinya begitu sibuk langsung menghampiri istrinya.
__ADS_1
"Sayang...kamu dengar gak apa yang di bilang ibuk...???" Tanya Faiz dengan berkacak pinggang menunjukkan dia marah dengan tingkah istrinya yang dari tadi terlalu sibuk bekerja.
Zahra yang melihat suaminya marah langsung menghentikan pekerjaannya. Lalu menghampiri suaminya.
Arya memegang bahu istrinya.
"Buat apa aku menggaji banyak pelayan kalau istriku masih saja sibuk bekerja...???" ujar Faiz sedikit kesal dengan tingkah istrinya yang keras kepala.
"Ma..maaf...aku pikir jika berada di rumah ibuku, aku bisa bekerja sesuka hatiku... Mas kan tahu kalau aku di rumah tak pernah sedikit pun bekerja..." Zahra memberi alasan agar Faiz tak memarahinya.
"Aku cuma mau kamu bekerja untukku seorang...karena aku tak ingin perhatianmu bercabang selain pada diriku..." ujar Faiz tegas.
"Iya sayang..." ucap Zahra.
"Ya udah yuk kita istirahat..." ajak Faiz.
Faiz telah menyediakan kamar khusus buat dirinya dan Zahra jika menginap di rumah mang Uddin.
Faiz mengajak Zahra ke kamar tersebut. Rumah mang Uddin memang tak semegah rumah Adrian, dan rumah mang Uddi juga tak bertingkat. Namun di rumah itu terdapat empat kamar luas serta di lengkapi kamar mandi khusus di dalamnya.
Di rumah itu juga terdapat ruang makan, ruang keluarga serta ruang tamu yang lapang. Dapurnya pun telah di desian serapi mungkin.
Di dalam kamar Zahra melihat bebrapa barang-barang miliknya tersusun rapi, dam Foto yang di tempel acak di dinding kamarnya dulu kini telah masuk ke dalam pigura besar. dan terpanjang indah di dalam kamar itu.
Zahra sangat terkesan dengan hal yang di lakukan Faiz juga melihat diary miliknya serta buku-buku favorite Zahra tersusun rapi di atas meja yang terdapat di dalam kamar.
Zahra memberikan sebuah ciuman di pipi Faiz sebagai ungkapan terima kasihnya kepada suaminya.
"Eits...kamu menggodaku...??" ujar Faiz dengan seringai licik.
"Nggaak..." ucap Zahra lalu berlalu menuju kamar mandi untuk memberaihkan dirinya yang sudah lengket.
"Aku mandi dulu ya mas..." teriak Zahra saat dia telah berada di depan pintu kamar mandi.
Bersambung....
.
.
.
jangan lupa tinggalkan jejak ya readers yang baik hati...
# like...
# koment...
# Vote...
# dan hadiah...
__ADS_1
terimakasih pembaca setiaku...