Terpaksa Menikahi Kepsek Kejam

Terpaksa Menikahi Kepsek Kejam
Eps 53


__ADS_3

Di ruang tamu, Nenek Faiz dan Bu Mawar tengah duduk Bu Mawar meminta maaf atas kejadian yang menimpa Zahra dan Faiz.


Mereka terpisah karena Mawar yang meminta tolong pada Zahra untuk mengantarkannya ke rumah sakit.


"Aku minta maaf mbak...Aku gak menyangka hal ini membuat Faiz tersiksa hingga dia jatuh sakit...." ujar Mawar dengan penuh penyesalan.


"Gak apa-apa war...yang penting mereka sekarang sudah ketemu..." ucap Nenek Faiz.


Nenek Faiz dan mawar telah lama berkenalan, semenjak Mawar pindah ke Paris nenek Faiz merupakan teman sekaligus kakak angkat bagi Mawar.


Kebaikan nenek Faiz yang membantu Mawar keluar dari keterpurukkannya.


Kakek Faiz dan Suami mawar merupakan rekan bisnis. Mereka berjumpa di saat Hermawan mengundang suami Mawar makan malam ke bungalow miliknya.


Di saat itu, nenek Faiz melihat kesedihan yang mendalam dari wajah Mawar, hingga akhirnya nenek Faiz mencoba mendekati Mawar mencari tahu penyebab kesedihannya. Hari demi hari Nenek Faiz terus menghibur Mawar hingga dia oun mulai menerima kenyataan akan hilangnya putri kecilnya.


Sejak itu Mawar menganggap nenek Faiz sebagai kakak angkatnya, dia pun selalu menjalin silaturrahmi dengan nenek Faiz. Hampir setiap bulan Mawar datang ke bungalow milik Hermawan hanya sekedar berjimpa dengan nenek Faiz.


Dan dia tak menyangka, niatnya ingin bersilaturrahmi dengan nenek Faiz malah mempertemukan sepasang suami istri yang terpisah karena ulahnya.


Mereka bersyukur akhirnya Zahra dan Faiz telah bersatu kembali.


Mereka pun bercengkrama bercerita berbagai hal hingga tiba waktu petang.


"Mbak...udah sore...aku pulang dulu ya mbak..." ucap Mawar pamit pada nenek Faiz.


"Oh...tunggu sebentar ya...mbak panggilkan Zahra..." ujar nenek Faiz.


Nenek Faiz pun melangkah menuju kamar milik Faiz. Lali ia mengetuk pintu.


Tok...tok...tok...


Zahra yang baru saja selesai mandi dan sudah rapi langsung melangkah menuju pintu dan membukakan pintu.


"Nenek...." Seru Zahra saat melihat nenek Faiz telah berada di depan pintu.


"Ra...ibu Mawar mau pulang..." Ucap nenek Faiz memberitahukan Zahra.


"Kok cepat nek...apa ibuk Mawar gak mau menginap disini???" tanya Zahra tampak sendu.


Dia merasa sedih harus berpisah dengan wanita baik yang selama ini merawatnya seperti ibu kandungnya.


Terlebih Zahra merasakan kehangatan yang berbeda yang di berikan oleh ibu Mawar pada dirinya.


"Kalau kamu mau membujuknya untuk menginap silahkan..." Ujar Nenek Faiz pada Zahra, dia mengerti wajah sendu cucu nenantunya itu.

__ADS_1


Zahra membalik menatap wajah suaminya yang masih tertidur pulas.


"Iya nek...Ara turun ke ruang tamu..." ucap Zahra lalu melangkah beriringan dengan nenek Faiz menuju ruang tamu.


Mawar tersenyum melihat Zahra yang memdekatinya.


"Ibuk mau pulang...???" tanya Zahra pada Mawar seakan dia tak ingin berpisah dengan buk Mawar.


"Iya nak...Udah sore...kasihan Stella udah nungguin di mobil..." jawab Mawar.


"Buk...kenapa ibuk gak menginap di sini... Ara..." Zahra tidak melanjutkan ucapnya, dia terlihat begitu sedih.


"Ra...hari ini ibuk pulang dulu...besok-besok ibuk datang lagi...kalau Ara pengen main ke rumah ibuk juga boleh..." ucap Mawar berat hati, sebenarnya dia ingin tetap berada di dekat Zahra namun dia ingin memberi ruang buat keluarga Zahra saling melepas rindu terlebih dengan suaminya.


"Ibuk janji datang kesini lagi kan...???" tanya Zahra penuh harap.


"Iya sayang..." jawab Mawar nerentangkan tangannya, Zahra pun memghambur di pelukkan Mawar.


"Buk Ara pasti kangen sama ibuk..." lirih Zahra.


"Ibuk juga pasti kangen sama kamu...makanya kalau ibuk kangen ibuk datang kesini atau suruh Ara datang ke rimah ibuk..." ujar Mawar sambil mengelus kepala Zahra.


"Iya buk..." lirih Zahra.


"Mbak...aku pamit ya..." ujar Mawar lagi pada nenek Faiz lalu dia pun melangkah menuju pintu utama di ikuti oleh Zahra dan nenek Faiz melepas kepergian Mawar.


Zahra dan nenek Faiz pun masuk ke dalam rumah, mereka bersiap-siap untuk shalat maghrib.


Zahra langsung menuju kamar melihat suaminya yang tadi masih tertidur.


Di kamar Faiz telah terbangun, dia duduk beraandar di sandaran tempat tidur.


"Kamu dari mana Ra...??" tanya Faiz saat Zahra baru saja masuk ke kamar.


"Dari ruang tamu mas...buk Mawar mau pulang..." jawab Zahra mengjampiri suaminya.


"Mas...mandi dulu ya...aku siapin air hangat biar segar..." ucap Zahra memcium pipi suaminya lalu beranjak menuju kamar mandi menyiapkan air hangat untuk Faiz.


Faiz hanya tersenyum melihat tingkah Zahra, Zahra yang dulu pendiam, dan selalu menanti belaian kasih dari Faiz, sejak kehamilannya dia pun mulai menunjukkan kasihnya pada Faiz.


Dengan memberi ciuman, atau pelukkan terlebih dahulu.


Zahra telah selesai menyiapkan air panas untuk Faiz. Dia pun memgambilkan handuk untuk Faiz.


"Sayang..." lirih Zahra membuat hati Faiz sangat bahagia karena baru kali ini Zahra dengan memanggilnya sayang.

__ADS_1


"Apa...kamu bilang apa tadi...??" goda Faiz.


"Emangnya Ara ngomong apa???" Zahra malah malu dengan godaan Faiz.


"Mhm...tadi kamu panggil mas apa???" tanya Faiz lagi semakin jahil menggoda istrinya yang kini wajahnya berubah merah merona menahan malu.


"Mas apaan sih...aku udah siapin air hangatnya...Mas Faiz mandi dulu ya..." ujar Zahra sambil menyodorkan handuk dengan wajah kesal.


Faiz pun berdiri lalu memeluk tubuh istrinya.


"Aku bahagia, kalau kamu panggil aku sayang..." bisik Faiz lalu melepaskan pelukkannya dan melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, bersiap-siap untuk shalat maghrib berjamaah bersama Kakek dan nenek Faiz di lantai satu.


Sambil menunggu Faiz selesai mandi Zahra, mengambil Al-qur'an lalu melantunkan ayat-ayat suci. Faiz keluar dari kamar mandi mendengarkan suara merdu istrinya yang melantunkan kalimat-kalimat Allah.


Faiz sangat terpukau dengan suara indah milik istrinya.


"Soddaqollahul'azhim..." Zahra memutup bacaannya saat melihat suaminya telah berdiri di depan pintu kamar mandi yang sedang menatapnya.


Zahra mengambil pakaian Faiz yang telah di sediakannyasebelum mengaji. Lalu memberikannya pada Faiz.


"Terima kasih sayang..." lirih Faiz membuat wajah Zahra kembali merah merona.


Faiz tersenyum bahagia melihat wajah istrinya yang sangat di rindukannya.


Faiz pun selesai mengenakan pakaiannya. Faiz tampak lebih segar dan bersemangat dengan seketika sakit yang di deritanya hilang begitu saja saat dia berjumpa dengan istrinya.


"Yukk kita turun ke bawah..." ajak Faiz lalu menggandeng tangan istrinya keluar dari kamar.


Zahra pun bergelayut manja di lengan suaminya, seakan dia tak ingin lagi berpisah dengan pangeran hatinya yang selalu di rindukannya. Ayah dari anak-anak yang di kandungnya.


Di mushola lantai bawah, kakek dan nenek Faiz telah menunggu mereka, dan mereka pun sholat berjama'ah dengan beberapa pelayan lainnya Hermawan sebagai Imamnya.


Bersambung....


.


.


.


w^jangan lupa tinggalkan jejak ya readers yang baik hati...


# like...


# koment...

__ADS_1


# Vote...


# dan hadiah...


__ADS_2