
Setelah Alex meninggal Fathiya langsung mengurus surat-surat status perceraiannya.
Agar dia dapat kembali memiliki aset-aset miliknya.
Saat ini Fathiya telah tinggal di kediamannya bersama Mawar. Di rumah ini Fathiya mempekerjakan 2 orang asisten rumah tangga satu sopir dan satu orang tukang kebun yang mana mereka merupakan suami dari dua orang asisten rumah tangganya.
Dia pun kembali beraktivitas seperti biasanya, namun kali ini Mawar tak kagi di antar ke rumah Alita, di karenakan kediaman Fathiya lumayan berjarak dengan kediaman Alita.
Nanun sesekali mereka berkunjung ke rumah Alita dan Zahra sekedar melepas kerinduan.
Fathiya merasa lelah bekerja seharian ini dia melakukan lima kali operasi berutrut-turut. Karena temannya yang sama sebagai dokter bedah, sedang mengambil cuti melahirkan sehingga semua pasiennya di handle oleh Fathiya.
Dengan langkah gontai Fathiya berjalan keluar dari ruangannya hendak pulang ke rumah. Fathiya melangkah menuju parkiran dan mengambil mobilnya, lalu dia pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Tanpa di sadarinya mobilnya pun menabrak sebuah pohon di sebuah tikungan.
Fathiya yang memang dalam kondisi lemah, dia kaget saat kejadian itu lalu dia pun pingsan tak sadarkan diri.
Saat kejadian itu sebuah mobil sport melintas dan melihat kecelakaan yang terjadi. Si pengemudi mobil sport itu menghentikan mobilnya. Dia keluar dari mobil dan melihat kondisi mobil yang menabrak pohon itu.
“Fathiya” pekiknya saat mengfenali wanita yang tak berdaya di dalam mobil itu.
Dia pun langsung berusaha mengeluarkan tubuh Fathiya dari dalam mobil, dan mengangkat tubuh Fathiya ke dalam mobilnya. Dia pun menghubungi bengkel langganannya untuk menjemput mobil Fathiya yang rusak di pinggir jalan yang lumayan sepi.
Setelah itu dia pun membawa Fathiya ke klinik terdekat untuk memeriksa kondisi Fathiya. Satu jam dia menunggu Fathiya yang belum sadarkan diri, Dia bersyukur Fathiya tak mengalami cidera yang parah, dia hanya syok dan butuh istirahat.
Dengan setia dia menunggu Fathiya hingga sadarkan diri, sambil menunggu Fathiya sadar dia masih sibuk dengan tablet yang ada di tangannya guna menghandle beberapa bisnis yang di kelolanya.
“a...a..ku... di ma..na...” lirih Ftahiya yang bingung dengan keberadaannya di tempat yang asing baginya.
Fathiya pun melihat seorang pria yang asik dengan tablet di tangannya.
“Ri...Ri...dho...?’ lirihnya lagi yang dapat di dengar oleh sang pria.
Ridho yang mendengar lirihan Fathiya langsung menoleh pada Fathiya.
“ Kamu udah sadar...??” tanya Ridho menghampiri Fathiya yang terbanring di brangkar.
” Aku.. dimna??” tanya Fathiya bingung.
“ kamu saat ini tengah berada di sebuah klinik...aku mendapatimu dalam keadaan pingsan di pinggir jalan...” jawab Ridho.
Fathiya berusaha mengingat-ingat apa yang baru saja terjadi pada dirinya. Tak berapa lama dia pun dapat mengingat apa yang telagh terjadi pada dirinya.
“ aku yang salah...mengendarai mobil di saat mengantuk...” ujar Fathiya jujur.
‘ Ya ampun...kenapa kamu mengendarai mobil dalam keadaan mengantuk??? Seharusnya kamu beristirahatlah sejenak sebelum kembali pulang...” nasehat Ridho pada Fathiya.
__ADS_1
‘Aku hanya ingin cepat pulang...karena aku gak mau mama mengkhawatirkanku..” tutur Fathiya menyesal.
´justru hal ini membuat mama kamu jadi khawatir...ya sudah...sekarang hubungilah ibuk Mawar...aku akan mengantarkanmu pulang ke rumah... dan mobilmu sudah di bawa ke bengkel...” ujar Ridho.
“ Ya Ampun Dho...makasih banyak ya...kamu udah selamatkan aku...” ujar Fathiya tulus.
“ Sama-sama.... itu adalah kewajiban kita sebagai sesama...’ ucap Ridho.
“ aku hubungi mama dulu ya...” ujar Fathiya lalu mengambil hpnya di dalam tas, untungnya Ridho tak lupa membawa tas Fathiya.
“ iya...” gumam Ridho.
Fathiya pun men- dial no. Kontak mamanya.
“ Hallo...Assalamu’alaikum...” ujar Fathiya saat panggilannya tersambung.
“ wa’alaikumsalam...Yaya... kamu dimana?? Kenapa belum sampai di rumah nak...?” tanya Mawar khawatir.
“ Ya masih di jalan ma...bentar lagi Yaya pulang ya ma...” ucap Fathiya pada Mawar tak ingin mamanya khawatir dengan keadaannya.
“ Ya udah... kamu hati-hati di jalan ya sayng...” ujar Mawar.
“ iya ma...” ucap Fathiya lalu dia pun memutuskan sambungan teponnya.
“ kamu tunggu di sini sebentar ya...” ujar Ridho, Sebelum keluar dari klinik Ridho pun mengurus bebrapa administrasi pengobatan Fathiya di klinik itu. Dia keluar menuju resepsionis untuk membayar biaya pengobatan Fathiya.
“ Yuk... kita pulang...” Ajak Ridho.
Ridho membantu Fathiya turun dari brangkarnya, lalu memapah Fathiya keluar dari klinik menuju mobilnya.
Ridho membukakan mobilnya lalu membantu Fathiya masuk ke dalam mobil, setelah itu dia pun masuk mobil di pintu bagian kemudi.
Sebelum melajukan mobilnya, Ridho menoleh pada Fathiya. Dia tersenyum lalu mengambil tali seat belt dan memasangkan seat belt itu pada Fathiya.
Saat Ridho memasangkan seat belt untuk Fathiya, pada saat itu pula Fathiya dapat melihat kesempurnaan wajah pria baik hati yang ada di hadapannya.
Nafas mint yang berhembus tepat di hidung Fathiya membuat Fathiya terpukau dan terpana. Di tambah dengan aroma maskulin dari tubuh kekar Ridho membuat Fathiya melayang.
Ridho sudah selesai memasangkan seat belt untuk Fathiya, namun dia heran melihat ekspressi Fathiya yang terpukau pada kesempurnaan makhuk Tuhan yang berada di hadapannya saat ini.
Ridho mengibaskan tangannya di depan wajah Fathiya.
"Hei...Yaya..." panggil Ridho membuyarkan khayalan Fathiya.
" Eh...Ma...ma...af..." gumam Fathiya terbata-bata malu karena ketahuan sedang menatap Ridho dengan penuh ke kaguman.
"Udah siap...??" tanya Ridho mengalihkan pembicaraan agar Fathiya melupakan aksi konyolnya di depan Ridho.
__ADS_1
Fathiya hanya mengangguk menahan rasa malunya.
"Ya ampun betapa bodohnya aku..." gumam Fathiya di dalam hati, lalu dia pun memalingkan wajahnya menghadap ke jendela.
Di sepanjang jalan mereka terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing.
Di saat Ridho hendak mengantarkan Fathiya ke rumahnya yang lama, di sana Fathiya tersadar harusnya dia memberitahukan Ridho jika dia telah pindah rumah.
"Dho...maaf...aku lupa memberitahukanmu... kami sudah pindah ke rumahku yang lama...!" ujar Fathiya tak enak hati.
"Jika merepotkan turunkan saja aku diaini biar aku naik ojek online aja nanti..." ujar Fathiya lagi.
"Pindah??? Kapan kamu pindahnya...?? kemana???" tanya Ridho heran.
"Mhm...kami udah pindah sekitar 2 minggu yang lewat..." jawab Fathiya.
"Owh...ya udah aku antarin kamu aja... dimana alamatnya..." tanya Ridho dan bersiap memutar balik mobilnya.
"Mhm...di perumahan Cempaka..." jawab Fathiya.
"kamu tinggal di perumahan Cempaka???" tanya Ridho memastikan.
"Iya..." jawab Fathiya heran mendengar pertanyaan Ridho.
"Serius...kenapa aku gak tahu ya...?? aku juga tinggal di perumahan Cempaka..." ujar Ridho tersenyum.
"Mungkin karena kamu sibuk, gak terlalu perhatian dengan warga sana..." ujar Fathiya.
Dia sendiri juga baru menyadari bahwa Ridho tinggal di perumahan yang sama dengannya.
Bersambung....
.
.
.
jangan lupa tinggalkan jejak ya readers yang baik hati...
# like...
# koment...
# Vote...
# dan hadiah
__ADS_1