
Kehamilan Zahra telah masuk bulan ke tujuh, Mawar sebagai ibu kandung Zahra mengusulkan untuk mengadakan acara syukuran 7 bulanan, dan dia ingin semua biaya dia yang menanggungnya, dan acara akan di lakukan di rumah Fathiya. Sebelumnya Mawar sudah meminta izin pada Adrian dan Rahayu serta mang Uddin dan buk Siti.
Mereka yang menyadari hubungan Zahra dan Mawar mengizinkan acara itu di lakukan di rumah Fathiya, mengizinkan Mawar dan kedua kakak Zahra yang mengurus acara syukuran itu.
Seminggu menjelang acara, Fathiya sibuk menyiapkan segala yang berhubungan dengan acara syukurannya begitu juga dengan Alita.
Hari ini Alita sekeluarga menginap di rumah Fathiya untuk membahas segala keperluan acara tujuh bulanan adiknya.
Setelah makan malam, Alita dan Fathiya mencek segala keperluan yang sudah ready dan yang belum ready di ruang keluarga. Sedangkan Mawar terlebih dahulu masuk kamar karena kurang sehat.
“ mbak... kateringnya pake katering teman aku aja ya mbak...” usul Alita memulai pembicaraan.
“ mhm...boleh...enak nggak???’” tanya Fathiya.
“ mhm...di jamin enak kak...kami kalau seminar selalu pakai katering temanku ini kak...gak pernah ganti....” ujar Alita semangat mempromosikan usaha temannya.
“ ya udah terserah kamu aja...berarti kamu ya yang menghubungi teman kamu...” ujar Fathiya.
“ beres mbak...” sahut Alita.
“ oh iya...hampir kelupaan...ustadnya siapa ya...?” tanya Fathiya bingung.
“ iya ya...siapa ya...?? aku nggak ada kenalan ustad soalnya mbak...” Alita ikutan bingung.
Dia menyenggol lengan Sakti yang sedang asik main game di handphonenya.
“ mas ada kenalan ustad gak???” tanya Alita pada Suaminya.
“ Aduuh...siapa ya...nggak ada dek....” jawab Sakti asal karena dia sedang Fokus pada gamenya.
“ ih...mas Sakti di tanyain gitu....” gerutu Alita kesal.
“ ya mas juga kurang tahu... coba deh kamu tanya Ara...” usul Sakti.
“Ya udah mbak...coba deh telpon Ara dulu tanyain sama dia...mana tahu keluarga pak Adrian ada yang kenal ustad yang bagus..” usul Alita.
“ ya udah mbak coba dulu ya telpon Ara...” Fathiya pun mengambil ponselnya, lalu dia pun menghubungi adiknya.
“ Hallo Assalamua’alaikum....” ucap Zahra dari seberang telpon.
“ wa’alaikumsalam...lagi ngapain Ra?? Mbak ganggu nggak??” tanya Fathiya.
“ lagi santai mbak...ada apa mbak...?” Zahra
“ mhm...gini Ra...mbak lagi bingung cari ustad buat syukuran kamu...kira-kira Faiz ada kenalan ustad nggak...??” tanya Fathiya terus terang.
“ owh...gitu.... bentar ya mbak.... ara tanya mas Faiz dulu...” Zahra pun bertanya pada suaminya yang sedang sibuk membuka tabletnya.
“ mas...mbak Yaya nanya... apa mas ada kenalan ustad buat acara syukuran Ara nanti...”
Tanya Zahra pada Faiz.
__ADS_1
“ bilang aja sama mbak Yaya... suruh tanyain sama Ridho...” jawab Faiz. Karena selama ini segala sesuatu yang berhubungan dengan acara-acara selalu Ridho yang mengaturnya. lalu dia pun kembali sibuk dengan tabletnya
“ oh...” Zahra ber- oh – Ria lalu dia pun kembali berbicara dengan Fathiya.
“ Hallo mbak...kata mas Faiz...mbak tanya sama Ridho aja...dia yang lebih tahu mbak...” ujar Zahra.
“ owh... ya udah...mbak coba hubungi Ridho dulu ya...” ucap Fathiya lalu mematikan ponselnya.
Fathiya membuka konta ponselnya mencari nama Ridho, Fathiya sempat menyimpan ponsel Ridho saat mereka sibuk mencari-cari Zahra yang Hilang.
Ridho yang baru saja hendak memejamkan matanya mengurungkan niatnya saat mendengar ponselnya berdering. Dia melihat panggilan dari Fathiya, Ridho mengernyitkan dahinya heran mengapa Fathiya menghubunginya.
“ Hallo...” sahut Ridho.
“ Hallo ssalamu’alaikum...maaf dho...apa aku mengganggu???” tanya Fathiya basa-basi.
“ eng...gak...” jawab Ridho.
“ mhm...gini Dho...aku mau tanya apakah kamu ada kenalan ustad ??? buat acara tujuh bulanan Zahra...” tanya Fathiya terus terang.
“ Owh...ada....” jawab Ridho singkat.
“ Bisakah aku minta kontaknya...?? atau...bisakah kamu menghubunginya...???’ pinta Fathiya memohon.
“ Ok... besok aku akan menghubunginmya...” ujar Ridho dengan senang hati membantu Fathiya.
“ Oke... terima kasih ya Dho... maaf jadi merepotkanmu...” ucap Fathiya sungkan.
“ Sekali lagi terima kasih ya....” Fathiya pun menutup panggilan ponselnya.
“ Beres...!” seru Ftahiya.
Alita dari tadi memperhatikan kakaknya yang menelpon Ridho. Alita mulai usil menggoda kakaknya.
“ Ridho siapa mbak??? Temannya Faiz...?” tanya Alita pura-pura tak tahu.
“ Iya...siapa lagi...” ujar Fathiya.
“ eh mbak...kalau aku perhatikan.... mas Ridho cocok deh sama mbak...” oceh Alita usil, Sakti yang mendengar ocehan istrinya tersenyum cengengesan.
“Benar mbak...kayaknya Ridho cocok deh sama mbak...kenapa mbak gak jadian aja sama dia...” goda Sakti usil.
“ kalian apaan sich...mana ada cowok lajang suka sama Janda...” gerutu Fathiya.
“ ada kok mbak...mbak aja yang nggak tahu....mana tahu dia malah berjodoh dengan mbak....” ujar Sakti sambil tertawa usil.
“ apaan sich...aku sam Ridho Cuma temanan nggak lebih...lagian mana tahu dia udah punya kekasih....aku juga nggak pernah tahu...” ujar Ftahiya.
“ jadi kalau dia nggak punya kekasih mbak Yaya mau sama Ridho....?” tanya Alita menggoda kakaknya.
“ au ah...gelap...” ucap Fathiya lalu dia hendak berdiri dan meninggalkan Alita dan suaminya.
__ADS_1
“ eh...mbak Yaya mau kemana??? Kita kan belum selesai ngobrolnya....” alita berusaha menghentikan langkah kakaknya.
“ aku ngantuk...kita sambung besok aja...!” ujar Fathiya.
Fathiya pun meninggalkan Alita dan Sakti yang geleng-geleng kepala melihat reaksi Fathiya, terlihat wajah malu-malu Fathiya. Tampak dengan jelas Fathiya mengagumi Ridho namun berusaha menyembunyikannya, karena Fathiya sadar diri bahwa dirinya bukanlah seorang gadis lagi maupun seorang Janda yang di tinggal selingkuh oleh suaminya.
Saat Fathiya telah berada di dalam kamarnya, dia mulai memikirkan perkataan Alita dan Sakti tadi saat berada di ruang keluarga.
“ ya ampun...kenapa gara-gara ucapa Alita aku jadi mengingat pria baik hati itu,,,,??? “ bathin Fathiya.
Dia pun mulai berusaha memejamkan matanya agar bayangan pria baik hati nan tampan serta maskulin itu bisa hilang dari ingatannya.
Namun usaha Fathiya semakin membuatnya teringat bayangan Ridho, Fathiya mengingat pertemuan yang membuat mereka dekat mulai dari saat dia menabrak mobil Ridho, Ridho yang menolongnya saat dia kecelakaan karena ulah bodoh Fathiya sendiri. Serta hari-hari yang terkadang mereka berjumpa di komplek perumahan mereka saat Fathiya mengajak buk Mawar joging pagi di hari minggu.
Memang semua yang terjadi di antara mereka tak ada hal yang begitu mengesankan namun benih-benih kekaguman terhadap Ridho telah tumbuh di hatinya.
Dengan susah payah Fathiya berusaha tidur akhirnya dia pun tertidur setelah lama berguling ke kriri dan ke kanan di atas ranjangnya.
Sedangkan Alita dan Sakti masih asik membicarakan Fathiya dan Ridho.
“ Aku setuju dek... kalau Mbak Yaya sama Ridho...” pendapat Sakti setelah Fathiya meninggalkan mereka.
“ iya sich mas...mereka cocok...tapi kalau aku perhatikanj hubungan mereka nggak terlalu dekat...” ujar Alita yang hanya mengenal Ridho sebagai teman Faiz.
“ Ya udah.... kalau kamu bisa cari celah buat mempersatukan mereka... kamu aja yang nyomblangin mereka...” usul Sakti asal.
“ Apaan sich mas...aku aja nggak kenal dekat sama Ridho...” Alita nggak suka jadi mak comblang.
“ Hahaha.... ya udah kita sebagai mbak Yaya berdo’a aja mereka berjodoh...”
“ Aaminn” seru Alita tanda dia setuju kakanya berjodoh dengan Ridho.
*****
Bersambung....
.
.
.
jangan lupa tinggalkan jejak ya readers yang baik hati...
# like...
# koment...
# Vote...
# dan hadiah
__ADS_1