Terpaksa Menikahi Kepsek Kejam

Terpaksa Menikahi Kepsek Kejam
Eps 49


__ADS_3

Readers....


sambil nungguin Author up date...


boleh mampir juga di karya Autho yang lainnya.


- Suamiku berubah karena mantan -


di tunggu...


\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>


"Bentar lagi aku antarin kakak pulang ya..." ujarnya yang baru saja masuk ruang rawat majikannya setelah mengurusi segala adminstrasi rumah sakit.


"Panggil saja aku Stella kak..." ujarnya lagi.


"Tapi...aku gak tahu harus pulang kemana... karena aku hanya pergi berlibur disini dengan suamiku..." jawab Zahra jujur membiat Stella jadi bingungbharus bagaimana


"Terus gimana???" tanya Stella juga ijut bingung.


Zahra hanya bisa menggelengkan kepalanya, dia juga tidak tahu harus bagaimana.


"Kakak ada no. ponsel yang bisa di hubungi???" tanya Stella pada Zahra.


Zahra masih juga menggelengkan kepala.


Stella pun merasa bersalah telah membawa Zahra dari Faubourg Saint-Honore.


"Kakak ingat nama hotel tempat kakak menginap???" tabya Stella terus berusaha bertanya pada Zahra agar dia bisa mengantarkan Zahra kembali pada keluarganya.


"Kami tinggal di rumah kakek dan nenek suamiku..." jawab Zahra mulai putus asa.


"Apa kakak ingat nama daerahnya???" tanya Stella lagi mulai khawatir.


"nggak...yang aku ingat nama kakek Hermawan..." ujar Zahra. memberi sedikit informasi.


"Ya ampun kak...di Paris ini banyak yang punya nama Hermawan..." Stella tak tahu harus bagaimana lagi.


"Stell...lla..." lirih wanita paruh baya yang kini sedang terbaring di brangkar rumah sakit.


"I...iya buk..." jawab Stella saat melihat majikannya sudah sadarkan diri.


Stella langsung berdiri dan menghampiri majikannya.


"Ibuk...mau apa...??" tanya Stella, Stella sangat cekatan dan perhatian dengan majikannya.


Stella menganggap Ibu Mawar majikannya sebagai orang tuanya. Sehingga Mawar juga menyayangi Stella seperti putrinya.


"Gadis itu....???" tanya Mawar pada Stella, mengingat wanita yang telah membantunya.


Mawar yang hendak membeli sesuatu di Faubourg Saint-Honore tiba-tiba kepalanya pusing, saat melihat Zahra yang duduk di sebuah bangku dia pun langsung meminta tolong pada Zahra karena tampak dari wajah Zahra, bahwa dia adalah oeang baik-baik.


"Ini buk...kak Zahra masih di sini..." jawab Stella.

__ADS_1


Zahra pun berdiri mendekati ibu Mawar.


"Saya masih disini buk..." Ujar Zahra.


"Maafkan ibu...udah merepotkanmu..." ujar Mawar merasa bersalah telah merepotkan Zahra.


"Siapa namamu nak...???" tanya Mawar pada Zahra.


"Zahra buk..." jawab Zahra.


"Nama yang cantik...Secantik pemilik nama... selain cantik paras kamu juga cantik hati nak..." puji Mawar pada Zahra, dia sangat bersyukur bisa berjumpa dengan Zahra.


"Terima kasih buk..." ucap Zahra dengan senyuman, walau hatinya saat ini dalam kerisauan, dia tak ingin melihat Mawar bersedih apalagi kondisi ibu Mawar masih belum pulih.


"Zahra...kamu udah makan???" tanya Mawar pada Zahra mengingat dari tadi siang dia menemani Mawar.


"Belum buk..." jawab Zahra jujur, saking paniknya, Zahra lupa akan rasa lapar yang selalu mengganggunya.


Zahra teringat dengan bayi kembar yang ada di dalam rahimnya, dia pun menitikkan air matanya mengingat nasib bayi kembar yang tengah di kandungnya. Sedangkan dia tidak bekerja sama sekali. Entah bagaimana cara Zahra akan membesarkan anak kembarnya nanti jika dia tak berjumpa dengan suaminya Faiz.


Tanpa di sadarinya, Zahra pun menitikkan air matanya. Zahra tak dapat lagi menyembunyikan kesedihannya setelah membayangkan nasib buah hatinya.


"Zahra...kamu menangis...???" tanya Mawar heran melihat air mata jatuh membasahi pipi paras cantiknya.


"Mhm....a...aku...hiks..." Zahra pun tak kuasa menyembunyikan tangisnya.


Saat ini dia hanya ingin pulang kembali bersama keluarganya, suaminya, orang tua, serta kakek dan nenek Faiz.


Mawar berusaha bangkit dari posisi berbaringnya, dia berusaha duduk di bantu oleh Stella.


DEEGHH...


Jantung Mawar merasakan detak yang begitu dahsyat, dia merasa ada sesuatu uang membuat dirinya merasa ingin terus memeluk tubuh wanita asing yang baru saja di kenalnya, seolah dia merasa sangat dekat dengan Zahra.


Sedangkan Zahra merasa nyaman berada di pelukkan wanita paruh baya yang baru saja di kenalnya, dia ingin terus merasakan kehangatan yang di berikan wanita asing yang baru saja di tolongnya.


Setelah berapa lama mereka mengalirkan kasih sayang di antara mereka seakan mereka memiliki ikatan yang mereka sendiri tak mengerti.


"Buk...saya carikan makanan dulu ya...kak Zahra pasti kelaparan..." Ujar Stella membuat Mawar dan Zahra pun saling melepaskan pelukkan mereka.


"Aku merasa nyaman berada di pelukkan ibu Mawar, aku selalu ingin berada di pelukkannya..." gumam Zahra di dalam hati.


"Gadis ini...dia membuatku selalu ingin berada di dekatnya...aku seolah merindukannya..." bathin Mawar meneteskan air matanya.


"Eh iya...Stella belikan makanan buat Zahra, sekalian buat kamu ya...kamu pasti juga belum makan..." ujar Mawar pada Stella.


Walaupun status Stella sebagai pengasuh pribadi, namun Mawar telah menganggap Stella sebagai putrinya.


"Iya buk..." ujar Stella.


Stella pun beranjak meninggalkan Zahra dan Ibu Mawar.


Sejenak mereka hening dengan pikiran masing-masing.

__ADS_1


"Zahra...kamu tinggal dimana???" tanya Mawar pada Zahra mengusik keheningan di antara mereka.


"Aku...aku tinggal di Indonesia buk...Aku kesini berlibur bersama suamiku..." jawab Zahra jujur.


"Kamu sudah menikah??" tanya Mawar kaget, tak menyangka wanita yang berparas anggun dan tampak masih muda telah menikah.


Zahra hanya menjawab dengan sebuah anggukkan kepala.


"Memangnya umur kamu sekarang berapa ???" tanya Mawar heran.


"sembilan belas tahun buk..." jawab Zahra jujur.


"Kenapa kamu menikah dengan usia muda ??" Tanya Mawar mulai penasaran dengan kehidupan Zahra.


"Mertuaku...ingin cepat-cepat memiliki cucu...dan dia hanya ingin aku satu-satunya wanita sebagai menantunya..." jawab Zahra jujur dan sangat polos.


Kepolosan Zahra tak bisa di sembunyikannya apalagi di depan wanita yang dia sendiri merasakan dekat dengan Mawar.


"Nak...habis ibu keluar dari rumah sakit kamu mau kan antarkan ibu berjumpa dengan keluargamu...." pinta Mawar membuat Zahra kembali bersedih.


"Zahra gak tahu jalan pulang ke suami Ara buk..." ucap Zahra.


"Maksud kamu...??" Mawar bingung mendengar jawaban Zahra.


Akhirnya Zahra pun menceritakan keadaan dan kondisinya saat ini. Bagaimana dia bisa terpisah dari suaminya.


Mawar mendengar penjelasan Zahra, dia merasa bersalah, semua yang terjadi menimpa Zahra adalah karena dirinya yang meminta bantuan pada Zahra.


Mawar pun berusaha berfikir bagaimana membawa Zahra kembali pada keluarga.


"Kamu ada ponsel Nak...??" tanya Mawar berharap Zahra membawa ponselnya agar dia bisa mengubungi keluarga Zahra.


Zahra hanya menggelengkan kepalanya putus asa.


Mawar menghela nafasnya, karena dia malah bingung dengan nasib yang Zahra.


Bersambung....


.


.


.


w^jangan lupa tinggalkan jejak ya readers yang baik hati...


# like...


# koment...


# Vote...


# dan hadiah...

__ADS_1


terimakasih pembaca setiaku...


__ADS_2