Terpaksa Menikahi Kepsek Kejam

Terpaksa Menikahi Kepsek Kejam
Eps 86


__ADS_3

Hermawan akan mengajak Zahra kembali pulang dan berkumpul bersama keluarganya.


Setengah Hermawan menunggu, Zahra pun keluar dari kamarnya. Zahra pun menghampiri Hermawan.


"Yuk...kita berangkat..." ajak Hermawan.


"Yuk kek..." sahit Zahra bahagia.


Mereka pun masuk ke dalam mobil, Zahra melihat-lihat pemandangan di luar jendela mobil.


Zahra merasa daerah yang saat ini di lihatnya begitu asing bagi dirinya karwna selama ini tak pernah datang kesini.


"Kita sekarang sedang dimana ya kek...???" tanya Zahra.


"Kita lagi berada di Yogya Ra..." jawab Kakek Hermawan.


"Wow...Yogya...Aku belum pernah kesini kek..." Ujar Zahra takjub.


Hermawan hanya tersenyum melihat Zahra terpukau memandang ke luar jendela kaca mobil.


Mobil terus melaju hingga mereka pun sampai di Bandara Udara International Adi Sutjipto.


"Kita mau kemana kek??" tanya Zahra heran saat mereka turun di bandara.


"Ikut kakek aja dulu ya...." ajak Hermawan.


Hermawan tampak menelpon seseorang, tak berapa lama Hermawan pun menghampiri wanita paruh baya yang terlihat masih sangat cantik.


"Sayang..." panggil Hermawan pada istrinya.


Zahra yang menyadari wanita itu adalah nenek Faiz dia langsung berlari memeluk tubuh renta nenek Faiz.


"Nenek...Ara kangen...bagaimana kabar nenek...???" tanya Zahra.


"Baik sayang...kamu bagaimana kabarnya??" tanya nenek.


"Baik juga nek...Alhamdulillah nenek sehat..." ujar Zahra.


"Kita langsung berangkat ya sayang...!" ajak Hermawan pada istrinya.


Nenek Faiz pun mengangguk, dan mereka pun melangkah menuju jet pribadi keluarga Hermawan.


Di dalam jet pribadi Hermawan, Zahra sangat kayuun dengan kekayaan Hermawan.


"Enak ya kek..nek...kalau punya pesawat pribafi...bisa mau kemana aja...dan kapan saja..." ujar Zahra penuh kekaguman.


"Ya begitulah sayang...! nanti semua kekayaan kami akan menjadi kalian..." ujar Nenek Faiz.


"Mhm...kasih sayang dari nenek dan kakek sama Ara itu sudah lebih dari cukup bagi Ara..." ujar Zahra.


" Iya sayang...kalau kamu mau istirahat, kamu bisa tidur di kamar yang ada..." tawar Hermawan pada Zahra.


Zahra yang mengerti keadaan, akhirnya memilih masuk ke dalam kamar yang tersedia.


"Ara mau tiduran dulu ya nek...kek..." Zahra izin masuk kamar.


"Iya sayang..." Nenek tersenyum ramah pada Zahra.


Zahra kini telah berada di kamar di dalam pesawat.


Hermawan pun langsung memeluk tubuh istrinya.

__ADS_1


"Aku merindukanmu sayang..." ucap Hermawan.


"Aku juga merindukanmu..." lirih nenek Faiz.


Walaupun Hermawan dan istrinya sudah tua, mereka masih tetap romantis seperti awal baru-baru menikah.


Mereka selalu menjaga keutuhan rumah tangganya. Semakin hari mereka semakin saling mencintai.


"Sudah lama ya sayang...kita tak berjumpa Adrian...putra tunggal kita..." Nenek Faiz mengingat sosok putranya.


"Iya...kalau kita nggak datang...dia belum tentu akan datang mengunjungi kita..." ujar Hermawan menanggapi perkataan istrinya.


"Tak terasa waktu berjalan begitu cepat...rasanya kita baru saja menikah dan memiliki Adrian...namun sekarang...Adrian pun akan memiliki cucu..." Nenek Faiz mengenang masa-masa yang telah mereka lalui.


"Mhm...begitulah kehidupan... di saat menjalaninya terasa begitu lama...namun di saat semua itu telah berlalu maka terasa waktu itu berjalan dengan cepat..." ucap Hermawan dengan bijak.


Nenek Faiz pun merebahkan tubuhnya di tubuh kekar suaminya, walau sudah tua, namun tubuh Hermawan masih kokoh dan tegap.


2 jam perjalanan mereka pun sampai di jakarta, Nenek Faiz membangunkan Zahra yang sudah tertidur lelap.


"Ra...bangun...kita udah sampai..." Nenek Faiz membelai kepala Zahra yang sedang tertidur.


"Mhm...Iya nek..." ucap Zahra dengan suara serak khas orang bangun tidur.


Zahra bangun dan melangkah menuruni pesawat.


Di depan bandara, mobil bawahan Hermawan telah datang menjemput mereka, Mereka pun naik ke dalam mobil dan sopir pun melajukan mobil menuju kediaman Adrian.


Hermawan sengaja tak memberitahukan keluarga Adrian akan kedatangannya.


Dia ingin memberi kejutan pada putra dan cucunya. Kebetulan hari ini hari minggu hingga Hermawan yakin mereka akan diam di rumah.


Sebuah mobil mewah berkelas masuk ke dalam pekarangan kediaman Adrian. Mobil tersebut berhenti tepat di depan pintu utama.


"Ma...kayaknya ada tamu...siapa ya..?" tanya Adrian pada Rahayu.


"Mama kurang tau pa...biar mama lihat dulu ya..." ujar Rahayu lalu dia berdiri untuk melihat siapa yang datang.


Faiz yang baru saja keluar dari ruang olah raga juga melihat mobil itu dan menghampiri Adrian yang duduk di ruang keluarga.


"Siapa pa?" tanya Faiz pada Adrian sambil menunjuk keluar rumah.


"Papa juga kurang tahu...itu mama kamu sedang melihatnya..." jawab Adrian.


Faiz yang merasa penasaran pun melangkah menuju pintu utama untuk melihat siapa yang datang.


Hermawan dan Istrinya serta Zahra keluar dari dalam mobil Rahayu kaget dan histeria saat melihat kedatangan mertuanya.


"Pa...pa...lihat ni siapa yang datang..." teriak Rahayu ke dalam rumah.


Faiz yang penasaran pun mempercepat langkahnya.


"Kakek...nenek...!!" pekik Faiz. Faiz juga melihat istrinya berada di samping neneknya.


Faiz langsung memghampiri kakeknya dan menyalami kakeknya, lalu diapun memeluk tubuh renta neneknya yang masih terlihat cantik di usianya yang telah menua.


Setelah itu dia pun memeluk istrinya,


"Aku merindukanmu..." lirih Faiz.


Rahayu pun menghampiri kedua mertuanya lalu menyalami kedua mertuanya.

__ADS_1


Dia pun memeluk mama mertuanya.


"Mama apa kabar??? Ayu kangen mama..." ujar Rahayu pada nenek Faiz.


"Baik sayang...mama juga kangen sama. kamu..." ucap Rahayu.


"Yuk masuk ma..." ajak Rahayu.


"Adrian mana...?" tanya Hermawan.


"Di dalam pa..." jawab Rahayu.


Mereka pun melangkah masuk ke dalam rumah, Adrian pun berdiri hendak melihat siapa yang datang.


"Papa...mama..." bathin Adrian.


Adrian pun buru-buru menghampiri papanya Hermawan. Sosok yang selalu di banggakannya.


Adrian menyalami tangan papanya, dan memeluk tubuh kokoh ayahnya walau sudah berumur.


Lalu dia pun berpindah menyalami mamanya, dan memeluk tubuh tua mamanya.


"Ma...Iyan kangen mama..." bisiknya.


Nenek Faiz tersenyum, lalu melepaskan pelukannya dan mencium puncak kepala putranya.


"Mama juga kangen Iyan...gimana kabarmu sayang...??" tanya Nenek Faiz pada Adrian.


"Alhamdulilah Iyan baik-baik saja ma..." ujar Adrian.


Begitulah seorang anak, walaupun sudah dewasa, jika berada di hadapan kedua orang tuanya mereka akan merasa tetap sebagai anak kecil. Adrian yang akan memiliki cucu, masih saja manja dengan ibunya.


"Mama...papa pasti capek...istirahat dulu ya...bentar lagi jam 12...jam makan siang Ayu siapin makan siang dulu..." ujar Rahayu.


"Ara ikut ya ma..." sahut Zahra saat melihat Rahayu hendak melangkah menuju dapur.


"Nggak usah sayang...mama cuma mau bilang sama pelayan buat menyiapkan makan siang..." ujar Rahayu.


"Owh..." Zahra hanya bisa ber-oh ria.


Adrian mengajak papa dan mamanya untuk duduk di ruang keluarga melepas rindu.


Mereka pun bercengkrama, Hermawan memberitahukan bahwa saat ini Zahra dan Faiz sudah aman. Namun dia tak memberitahukan apa yang telah di lakukannya pada Alex. Hermawan juga tak memberitahukan dalang di balik semua yang terjadi pada Zahra.


Karena Hermawan ingin mereka hidup seperti biasa tanpa ada perasaan bersalah. Hermawan akan menyimpan rahasia eksekusi Alex beserta anak buahnya.


********


Bersambung....


.


.


.


jangan lupa tinggalkan jejak ya readers yang baik hati...


# like...


# koment...

__ADS_1


# Vote...


# dan hadiah


__ADS_2