
"Faiz...kamu...???" ucapnya langsung merangkul tubuh Faiz tanpa memperdulikan Zahra yang berada di sampingnya.
Faiz membalas rangkulan wanita yang kini tengah memeluknya itu.
"Kamu...apa kabar ???" tanya wanita itu pada Faiz.
"Aku baik...kamu apa kabar???" tanya Faiz pada wanita itu.
"Aku...aku...hiks..." wanita itu pun menangis di pelukkan Faiz.
Faiz bingung harus bagaimana, dia pun mengajak wanita itu masuk ke dalam ruangan buk Mawar.
Dia mendudukkan wanita yang tengah menangis di pelukkannya di shofa ruangan buk Mawar.
Faiz lupa dengan keberadaan Zahra di sampingnya. Zahra hanya diam menatap kedekatan suaminya dengan wanita asing baginya.
"Ada apa ya...???" tanya Faiz pada wanita itu.
"Fa...Alex...Alex mengkhianatiku...dia pergi dengan wanita itu...hiks...tangisnya pecah.
Buk Mawar pun terbangun saat dia mendengar tangisan Fathiya.
"Fathiya...?? kamu disini sayang???" tanya Mawar pada putri sulungnya.
Mendengar nama yang di panggil buk Mawar, Zahra dapat menyimpulkan bahwa wanita itu adalah putri sulung buk Mawar.
Fathiya menghampiri ibunya yang terbaring lemah.
"Ibuk...." ujarnya lalu memeluk tubuh ibunya sambil menangis.
"Ada apa???" tanya buk Mawar pada putrinya.
Fathiya hanya terdiam, dia tak sanggup menceritakan perselingkuhan suaminya kepada ibunya.
Hubungan Fathiya dengan Alex sempat di tentang oleh Mawar, namun Fathiya bersikeras untuk menikah dengan Alex hingga akhirnya dia tega meninggalkan ibunya di Paris dan bekerja sebagai dokter di Indonesia.
Setahun ini hubungan mereka baik-baik saja, namun dalam minggu ini terungkap kebusukan Alex yang hobi bermain wanita.
Karena Fathiya merasa kecewa dengan suaminya, dia pun meminta cuti beberapa hari dan pulang ke Paris menemui ibunya.
Saat tiba di rumahnya, Stella mengabari Fathiya bahwa ibunya berada di rumah sakit. Oleh karena itu Fathiya yang menjaga buk Mawar di rumah sakit sedangkan Stella mencari makanan untuk mereka.
Fathiya menatap Zahra yang kini tengah berdiri di samping ibunya. Fathiya merasa pernah mengenal wanita itu namun dia tidak tahu entah dimana.
Mawar yang menunggu jawaban dari putrinya seakan lupa di saat Fathiya menatap pada Zahra.
"Ya...kenalin ini Zahra...Zahra ini yang menolong ibuk sebulan yang lalu..." ujar Mawar memperkenalkan Zahra pada Fathiya.
Zahra mengulurkan tangannya pada Fathiya tanpa di sengaja Fathiya melihat tanda lahir di pergelangan tangan Zahra.
Seketika Fathiya mengingat masa lalunya bersama adik kecilnya yang sangat dia sayangi.
__ADS_1
"Azza..." lirih Fathiya lalu dia menghampiri Zahra hendak memeluk tubuh Zahra, namun di urungkannya karena tampak di wajah Zahra yang bingung dengan sikapnya.
"Aku Fathiya...putri sulung buk Mawar..." Fathiya memperkenalkan dirinya.
"Zahra..." lirih Zahra.
Di saat itu, Faiz pun menghampiri Zahra.
"Ya...Zahra ini adalah istriku..." ujar Faiz pada Fathiya.
Membuat Fathiya merasa tidak enak hati pada Zahra karena telah memeluk suaminya di depan matanya.
"Maafkan sikapku tadi..." lirih Fathiya pada Zahra.
"Ra...Fathiya ini sahabat mas sewaktu Mas kuliah di sini... Mas sudah menganggapnya seperti adik sendiri...antara Mas dan dia tak ada hubungan apa-apa..." jelas Faiz berharap Zahra mengerti dengan posisinya tadi yang menrrima pelukkan Fathiya begitu saja di hadapan istrinya.
Zahra tersenyum.
"Aku ngerti kok mas...lagian Kak Fathiya membutuhkan mas untuk meluapkan rasa sedihnya..." ucap Zahra.
Fathiya merasa terharu mendengar ucapan Zahra, dia langsung memeluk Zahra.
"Makasih ya Ra..." lirih Fathiya.
Di saat Fathiya memeluk Zahra.
Degh...
Jantungnya berdetak merasa kehangatan, dia merasa sangat dekat dengan Zahra. Dia merasa Zahra adalah adiknya yang selama ini hilang.
Stella melihat Fathiya dan Zahra yang berdiri berdekatan.
"Mereka sangat mirip...." Bathin Stella menatap intens kepada Zahra dan Fathiya.
"Kamu udah datang Stell...kalau gitu kita makan bareng yuk..." ajak Fathiya pada Zahra dan Faiz.
"Iya nak...kamu ikut makan sama Fathiya ya...biar semakin akrab..." ujar Mawar pada Zahra.
Akhirnya Zahra mengikuti langkah Fathiya menuju shofa, Stella mengambil piring lalu menghidangkan makanan yang baru saja di belinya.
Mereka pun menyantap makanan yang tersedia.
"Ra...kamu di Indo tinggal dmana??" tanya Fathiya di sela-sela makannya.
"Aku tinggal sama mas Faiz " jawab Zahra polos.
"Sebelum kamu menikah???" Fathiya berusaha mengenali Zahra lebih dekat.
"Aku tinggal bersama Ayah dan ibuk yang sangat menyayangiku..." jawab Zahra yang tiba-tiba dia teringat pada Buk Siti dan Mang Uddin kedua orang tua angkatnya.
,"Kalau kita udah di Indo, boleh ya aku main ke rumah kedua orang tuamu..." ujar Fathiya.
__ADS_1
"Boleh kak...aku pasti senang..." jawab Zahra dengan senang hati.
Fathiya tersenyum, berharap dengan berjumpandengan kedua orang tua Zahra, dia dapat mengungkap kebenaran siapa Zahra sesungguhnya.
Mereka pun melanjutkan makan mereka sambil mengobrol ringan.
Setelah selesai makan, Zahra dan Faiz pun minta izin pamit karena hari sudah mulai petang.
"Udah sore...kita pulang ya Ra..." Ajak Faiz pada Zahra.
"Iya mas..." jawab Zahra, sebenarnya Zahra ingin berlama-lama bersama Mawar dan Fathiya.
Entah mengapa Zahra merasa dia nyaman bergaul dan berinteraksi dengan Fatjiya serta buk Mawar. Ingin rasanya dia berlama-lama disana. Namun dia tak mungkin mengungkapkan hal itu pada Faiz.
"Lain kali Main ke rumah ibuk ya Ra..." ucap Buk Mawar penuh harap.
"Mhm...iya buk..." jawab Zahra.
"Oia buk...kemungkinan dua hari lagi aku sama Zahra harus pulang ke Indonesia...karena kerjaanku banyak yang tertunda disana...Kasihan papa menghandle semuanya selama aku berada di sini..." ujar Faiz memberitahukan keberangkatannya ke Indonesia.
"Mhm...ibuk akan usahakan sembuh...biar bisa ngantar kamu ke bandara..." ucap Mawar pada Zahra.
"Iya buk...Zahra harap ibuk cepat sembuh ya...." ujar Zahra lalu memgecup puncak kepala Mawar.
Mawar semakin merasa bahwa Zahra adalah putrinya, namun dia belum bisa berbuat apa-apa karena tak ada bukti yang menyatakan Zahra adalah putrinya.
Zahra dan Faiz pun keluar dari ruangan Mawar meninggalkan Fathiya, yang sangat penasaran dengan sosok Zahra.
Stella melihat Fathiya juga merasakan hal yang sama dengan dirinya, dia pun memperlihatkan foto Fathiya dan Zahra yang di ambilnya secara diam-diam saat mengobrol tadi.
"Mbak Fathiya...coba lihat ini...." ujarnya.
Fathiya mengambil ponsel yang di sodorkan Stella pada dirinya.
Fathiya sangat takjub saat melihat foto ditinya dan Zahra sangatlah mirip, hanya tampak berbeda usia saja.
Saat itu juga Fathiya memperlihatkan Foto itu pada Mawar. Mawar terdiam mandangi Foto Fathiya dan Zahra yang sangatlah mirip.
Bersambung....
.
.
.
jangan lupa tinggalkan jejak ya readers yang baik hati...
# like...
# koment...
__ADS_1
# Vote...
# dan hadiah...