Terpaksa Menikahi Kepsek Kejam

Terpaksa Menikahi Kepsek Kejam
Eps 54


__ADS_3

Setelah selesai shalat maghrib mereka pun makan malam bersama di ruang makan.


Seperti biasa Zahra mengambilkan makanan buat suaminya, lalu dia pun mengambil makanan untuk dirinya.


Semua makanan yang tersedia merupakan masakan khas Indonesia.


Zahra memcicipi satu per sati makanan yang terhidang. Di mulai dari ayam kecap, rendang sapi, serta sambal tomat campur ikan teri. Semua bahan makanan di dapat di swalayan yang menyediakan bahan masakan khusus makanan Indonesia.


Zahra makan dengan lahapnya, Hermawan dan nenek Faiz memandangi cucu menantunya dengan bahagia. Akhirnya Faiz kembali memiliki semangat hidup setelah berjumpa dengan istrinya.


Setelah makan malam, mereka pindah ke ruang keluarga bercengkrama dan mengobrol ringan melepas kerinduan, selama satu bulan ini bungalow Hermawan di selimuti kesedihan.


Namun kesedihan itu kini telah sirna dengan kehadiran Zahra.


"Ra...sudah berapa bulan kandunganmu...???" tanya Nenek Faiz karena perut Zahra sudah tampak sedikit membesar.


"masuk empat bulan nek..." jawab Zahra yang duduk di samping Faiz.


"Kamu gak merasakan mual atau pusing seperti wanita hamil lainnya...???" tanya nenek lagi.


Karena Nenek Faiz khawatir Zahra melalui masa-masa sulit kehamilan tanpa Faiz selama dia tinggal bersama Mawar.


"Nggak nek...Ara merasa biasa-biasa saja...hanya saja Ara sering merasa lapar..." jawab Zahra polos membuat semua yang mendengar jawaban Zahra tertawa.


"Ha...ha...ha..."


"Syukurlah...jarang lho wanita hamil merasakan hal seperti kamu..." ujar nenek Faiz.


"Alhamdulillah nek..." ucap Zahra lalu merebahkan kepalanya di pundak suaminya.


Nenek Faiz dan Hermawan saling pandang melihat tingkah Zahra yang sangat manja pada suaminya.


"Mas...aku pengen makan bakso..." bisik Zahra tiba-tiba perutnya kembali lapar.


"Kamu mau bakso???" tanya Faiz menatap pada Zahra yang di ikuti tatapan dari Hermawan dan istrinya.


Mereka geleng-geleng kepala, lalu nenek Fauz memanggil seorang pelayan untuk membuatkan Zahra semangkok bakso.


******


Di rumah Mawar duduk melamun di bangku taman belakang rumahnya.


Stella yang melihat bu Mawar masih di luar rumah dia pun menghampiri Bu Mawar.


"Bu...udah malam....kita masuk yukk " ajak Stella.


Bu Mawar masih saja tak bergeming dia menatap sendu ke taman bunga miliknya.


Hatinya merasa kehilangan, dia ingin selalu berada dekat dengan Zahra.


Stella heran melihat buk Mawar yang tampak bersedih.

__ADS_1


"Buk...ibu ada masalah???" tanya Stella hati-hati lalu dia pun duduk di samping bu Mawar.


"Stell...ibu merasa rindu dengan Zahra..." ucap buk Mawar jujur.


Stella tersenyum.


"Kalau ibu rindu dengan Zahra, ibu bisa datang ke rumah kakeknya Faiz..." ucap Stella memcoba menghibur Mawar.


"Tapi Stell...ibu ngerasa begitu dekat dengannya...ibu merasa Zahra adalah putri kandung ibu yang hilang..." ujar Buk Mawar jujur mengungkap apa yang di rasakannya selama satu bulan ini bersama Zahra.


Stella teringat cerita buk Mawar yang kehilangan putri bungsunya.


"Mana tau Zahra, putri ibuk???" ujar Stella asal.


Mawar menatap dalam pada Stella.


"Itu yang sedang ibu pikirkan...bagaimana caranya ibuk bisa tahu asal usul Zahra..." tanya Mawar pada Stella.


"Menurut cerita nenek Faiz, Zahra memiliki orang tua di Indonesia..." tambah Mawar, hal inilah yang membuat dia ragu.


"Mhm..." gumam Stella tidak tahu harus berkata apa lagi.


"Stell...kamu ingat gak waktu Zahra yang jatuh ke danau...??"


Stella memgangguk.


"Kamu ingat tepat di pergelangan tangan Zahra ada tanda lhair berwarna hitam...???" tanya Mawar pada Stella.


"Iya buk..." lirih Stella.


"Azza putri bungsu ibu yang hilang juga memiliki tanda lahir di pergelangan tangannya..." ujar Buk Mawar mengingat pergelangan tangan mungil milik putri bungsunya ketika masih bersama dirinya.


"Namanya pun hampir sama...hanya saja panghilan yang berbeda..." ujar bu Mawar


"Memangnya siapa nama putri ibu...??" tanya Stella


"Azzahratul Humayra...panggilannya Azza yang berarti Perkasa agar dia kuat menjalani kerasnya hidup..." jelas Buk Mawar.


"Teman-temannya banyak memanggilnya Zahra..." buk Mawar mengenang masa lalunya bersama putri bungsunya.


Stella menghela nafas, dia berharap benar Zahra adalah putri buk Mawar, dan dia berniat di hatinya akan mencari tahu segala halnya berhubungan dengan Zahra. Agar buk Mawar tak bersedih lagi.


"Buk...kita akan cari tahu siapa sebenarnya Zahra...Sekarang kita masuk yukk...udah malam...Stella takut nanti ibuk masuk angin..." bujuk Stella.


Akhirnya Mawar pun mau beranjak dari taman menuju rumah, Stella membimbing buk Mawar masuk ke dalam kamarbya, sebelum tidur Stella memberikan obat untuk di minum buk Mawar.


Lalu dia pun meninggalkan buk Mawar di kamarnya untuk beristirahat.


*****


Jam 4.00 subuh.

__ADS_1


Zahra bangun dari tidurnya, Zahra berusaha melepaskan diri dari pelukan suaminya yang masih tertidur pulas.


Dia pun melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah mandi Zahra pun mengaji menunggu suaminya bangun.


Jam 5 subuh Faiz pun terbangun saat mendengarkan suara merdu yang melantunkan ayat-ayat suci Al-qur'an. Faiz pun bangun dan melangkah menuju kamar mandi, sedangkan Zahra masih asyik dengan bacaannya.


Zahra menyelesaikan bacaannya saat melihat suaminya tak lagi berada di atas ranjang. Dia pun mengambil pakaian koko milik Faiz dari lemari, Faiz pun keluar dari kamar mandi, Zahra langsung menghampiri suaminya, Zahra memberikan pakaian itu pada Faiz.


Zahra membantu memasangkan pakaian suaminya seperti biasa yang dia lakukan.


Setelah selesai memasang pakaian Faiz, mereka pun shalat subuh berjama'ah.


Zahra menyalami tangan suaminya setelah mereka selesai berdo'a. Dia mencium punggungbtangan Faiz. Faiz pun membelai kepala Zahra lalu membacakan doa terbaik buat istri dan anak-anaknya.


Setelah selesai shalat mereka duduk di balkon rumah sambil menunggu fajar menyingsing.


Zahra menyandarkan kepalanya di dada Faiz .


"Mas...aku ingin pergi ke menara Eifeel.." pinta Zahra.


"Nanti kamu hilang lagi..." Faiz merasa keberatan membawa Zahra ke tempat-tempat yang ramai.


"Aku janji gak akan pergi kemana-mana...aku juga akan membawa hpku..." jawab Zahra tampak memohon.


"Baiklah...nanti jam 11 kita pergi jalan-jalan...tapi aku akan minta kakek menyediakan pengawal untuk menjaga kamu dan anak-anak kita..."


"Aku gak mau kamu dan anak-anak kita kenapa-kenapa...karena kalian adalah nafasku dan hidupku..." ujar Faiz.


"Iya sayang..." jawab Zahra.


Faiz yang mendengar kata-kata Zahra langsung menatap dalam pada istrinya.


"Aku sangat bahagia jika kamu memanggilku seperti tadi..." lirih Faiz sambil tersenyum manis pada istrinya.


"Iya nasku sayang...Ara akan berusaha membuat mas Faiz selalu bahagia..." Lirih Zahra sambil tersenyum.


Bersambung....


.


.


.


w^jangan lupa tinggalkan jejak ya readers yang baik hati...


# like...


# koment...


# Vote...

__ADS_1


# dan hadiah...


__ADS_2