
"Setelah bertahun-tahun ibuk merawat Zahra, hingga ibuk merasa Zahra adalah pelita dalam hidup kami yang sepi dari buah hati..." tutur buk Siti pada Alita jujur.
Entah mengapa Siti, Tiba-tiba ingin menceritakan kenangannya berjumpa dengan Zahra pada Alita.
"Mhm...begitu ya buk ceritanya..." ujar Alita.
"Iya non..." lirih Siti.
"Mhm...kalau seandainya Zahra berjumpa dengan keluarganya bagaimana menurut ibuk...???" tanya Alita lagi hati-hati takut Siti tersinggung.
"Saya senang jika Zahra bisa berjumpa dengan keluarganya...hanya saja saya takut Zahra lupa dengan saya yang hanya ibu angkatnya...." tutur Siti sendu membayangkan Zahra pergi meninggalkan dirinya.
"Ibuk kan tahu bagaimana Zahra, dia wanita yang baik hati...nggak mungkin Zahra melupakan ibuk yang sudah membesarkannya..." ucap Alita menghibur buk Siti.
"Iya sich non...semoga saja Zahra bisa menemukan keluarganya lagi..." ujar Siti.
"Aamiin..." ucap Alita dengan sebuah senyuman.
Alita dapat menyimpulkan titik terang bahwa Zahra di temukan oleh buk Siti, dan hal itu bisa di kaitkan dengan hilangnya Azza.
Lokasi penemuan Zahra dengan hilangnya Azza berjarak tidak terlalu jauh. itu bisa memungkinkan bahwa Zahra adalah Azza putri dari buk Mawar dan Adik Fathiya dan Alita.
"Makasih ya buk...ibuk udah mau cerita sama aku...Sebenarnya...aku pernah kehilangan adik yang memiliki nama sama persis dengan Zahra buk..." Alita mulai jujur.
Siti terkejut mendengar penuturan Alita.
"Kami biasa memanggil namanya Azza... dia menghilang di saat kami bermain di taman..." jujur Alita pada Siti.
"Kalau aku boleh tahu buk....apakah Zahra memiliki tanda lahir di pergelangan tangannya...???" tanya Alita sangat hati-hati.
Degh...
Dengan ragu, Siti menganggukkan kepalanya, mengiyakan pertanyaan Alita.
"Apakah...jangan-jangan Zahra adik aku buk??" ujar Alita bersemangat karena dia mendapatkan titik terang.
"Mungkin..." lirih Siti dengan ragu. Saat ini rasa di hatinya bercampur aduk, rasa bahagia putrinya akan berjumpa dengan keluarganya serta rasa sedih takut Zahra akan melupakan dirinya.
"Buk...bolehkah aku berjumpa dengan Zahra buk...tapi...aku minta sama ibuk untuk merahasiakan hal ini terlebih dahulu..." pinta Alita pada Siti memohon.
Siti kembali mengangguk, dia tak tega memisahkan Zahra dengan keluarga kandungnya. Jika memang Alita merupakan kakak Zahra, Zahra berhak mengetahui hal ini.
"Ya udah...aku ikut ibuk Siti ke rumah sekarang ya..." pinta Alita bersemangat.
" Boleh..." jawab Siti.
"Tunggu bentar ya buk..." ujar Alita, lalu dia pun menghampiri Fathiya yang berjalan di belakang mereka.
__ADS_1
"Mbak...tolong bawain belanjaanku...mbak pulang aja duluan...aku mau ke rumah buk Siti dulu..." ujar Alita pada Fathiya kemudian dia kembali menghampiri Siti.
Fathiya hanya bisa pasrah, dia pun membawa Ferdy serta belanjaan Alita ke rumah.
Kini Alita telah berada di rumah buk Siti. Buk Siti mempersilahkan Alita duduk di ruang tamu.
Mang Uddin yang melihat kedatangan Alita merasa heran lalu dia menghampiri istrinya yang tengah membuatkan teh untuk Alita.
"Siapa yang datang buk...???" tanya mang Uddi saat dia telah berada di dapur.
"Itu lho Pak yang tinggal di gang sebelah...dosen Universitas Indonesia yang keren itu..." jawab buk Siti.
"Owh...trus ngapain dia datang kesini buk???"tanya mang Uddi lagi masih penasaran.
"Nanti ibuk ceritain sama bapak...Bapak tumben udah pulang...ada apa???" buk Siti memgalihkan pembicaraan.
"Bapak mau ngambil racun rumput buk...taman di belakang sekolah udah semak..." jawab mang Uddin yang ingat dengan pekerjaannya dan dia pun melupakan rasa penasarannya tentang keberadaan Alita di rumahnya.
"Bapak pergi lagi ya buk..." ujar mang Uddin lalueninggalkan Siti yang memggelengkan kepalanya melihat suaminya yang begitu penasaran dengan kedatangan Alita.
"Maaf ya non...saya kelamaan bikin tehnya...non Alita jadi lama menunggu..." ujar Buk Siti saat masuk ke dalam ruang tamu.
"Nggak apa-apa buk..." jawab Alita.
"Di minum dulu non..." Siti mempersilahkan Alita untuk minum teh yang trlah di buatkannya.
"Iya buk..." ucapnya.
"Mhm...kalau foto-foto Zahra waktu kecil kebanyakan di album di rumah mertua Zahra non..." jawab Siti.
Semenjak Zahra kecil, mertuanya sudah menyayangi Zahra seperti menyayangi putri mereka, Zahra tumbuh seperti sekarang ini banyak bantuan dari mertuanya non..." jelas Siti pada Alita.
Alita menganggukkan kepalanya paham dengan kehidupan Zahra sewaktu kecil.
"Zahra saat ini berada di rumah mertuanya...nanti kita kesana aja non..." ujar Siti lagi.
"Iya buk..." Ucap Alita.
Alita pun meminum teh yang telah di sediakan oleh buk Siti. tiba-tiba...
"Assalamu'alaikum..." ujar Zahra yang baru saja datang.
"Wa'alaikumsalam..." jawab Sito dan Alita bersamaan.
Zahra langsung masuk rumah karena dia melihat pintu rumah Siti tidak berkunci. Zahra mengernyitkan dahinya saat melihat Alita yang berada di rumah orang tuanya.
"Ara...kamu panjang umur nak...ibuk baru saja mau kesana...tumben kamu datang...???" ujar Siti menghampiri Zahra yang berdiro heran melihat Alita.
__ADS_1
"Mhm...nggak apa-apa buk...mama Rahayu ngajakin Ara pergi ke mall...Ara mau ibuk juga ikut..." ujar Zahra pada Siti.
"Ke mall...?? ngapain...?? ibuk udah belanja..." Siti malas untuk pergi ke mall.
"Ara pengen ibuuk ikut..."rengek Zahra manja.
"Ya udah...tunggu bentar ya..."
"Ara kenal sama non Alita ini???" tanya Siti pada Zahra.
"Buk dosen yang tinggal di gang sebelah ya buk..." jawab Zahra polos.
"Iya Ra...aku kesini mai ketemu kamu..." ucap Alita mengajak Zahra untuk duduk di sampingnya.
"Ada apa buk dosen cari aku??? " tanya Zahra.
"Nggak ada Ra...aku cuma pengen ketemu sama kamu...pengen ngobrol-ngobrol aja..." jawab Alita.
"Owh...tapi mbak...aku mau pergi sama mama Rahayu...mama Rahayu udah nungguin Ara..." ujar Zahra hati-hati agar Alita tidak tersinggung dengan ucapannya.
"Owh...nggak pa-pa Ra...gimana kalau kamu main ke rumah aku nanti sore...kebetulan disana ada yang pengen ketemu sama kamu" tawar Alita pada Zahra.
"Siapa buk ??" tanya Zahra heran.
"Mhm...kamu panggil aku mbak aja...nanti sore kamu juga bakal tahu...." jawab Alita.
"Mhm...Ara minta izin Mas Faiz dulu ya buk eh mbak..." ujar Zahra.
"Iya...nggak pa-pa...Ya udah buk...Alita izin pamit dulu ya..." Alita pun pamit pada Siti karena dia sadar diri Zahra ingin mengajak Siti untuk pergi.
"Iya non...hati-hati ya..." ujar Siti lalu Alita pun pergi meninggalkan rumah Siti.
Walaupun dia tidak sempat mengobrol dengan Zahra namun dia senang sudah mendapatkan berita tentang Zahra.
Bersambung....
.
.
.
jangan lupa tinggalkan jejak ya readers yang baik hati...
# like...
# koment...
__ADS_1
# Vote...
# dan hadiah...