Terpaksa Menikahi Kepsek Kejam

Terpaksa Menikahi Kepsek Kejam
Eps 70


__ADS_3

Di sebuah rumah sederhana seorang pria menunduk di depan pria lainnya.


"Dasar goblok...!!! melakukan hal sepele saja kau tak becus..." bentak pria yang menggunakan jas hitam dan berkaca mata hitam.


"Ma...ma...af tuan..." ucap pria yang kini tengah menunduk di maki oleh pria satu lagi.


"Maaf kau bilang...!!! kau terlalu ceroboh..." bentaknya lagi.


Pria itu sangak marah pada orang suruhan yang di utusnya untuk melukai Zahra.


"aku tak mau tahu...sekarang menjauhlah dari kota ini...karena sudah pasti saat ini kau jadi buronan polisi..." ujar Si bos dengan memberikan uang secukupnya.


Pria itu pun memgangguk lalu berkemas untuk meninggalkan kota jakarta. Lalu pria yang memakinya pun pergi meninggalkan rumah sederhana itu.


*****


"Gimana kabar Zahra mbak...???" tanya Alita saat mereka duduk di ruang keluarga setelah selesai makan malam.


"Zahra nggak apa-apa Ta...ibu Siti yang terluka...dan sempat di operasi..." jelas Fathiya.


"Tampaknya Zahra sangat menyayangi buk Siti..." tambah Fahiya.


"Wajarlah mbak Zahra memyayanginya karena dia wanita yang telah membesarkannya...apalagi buk Siti memganggapnya sebagai anak kandungnya..." ujar Alita.


"Iya sich...aku udah minta tolong Yola ngambil sampel darah Zahra buat menguji DNA Zahra dengan DNA mama..." ujar Fathiya.


"Bagus mbak...semoga aja prediksi kita benar ya mbak..." ucap Alita penuh harap.


"Aamiin..." ucap Fathiya.


"Bagaimqna hubungan mbak sama mas Alex??" tanya Alita yang hanya tahu suami kakaknya selingkuh.


"Aku udah ajukan gugatan cerai...setelah bercerai aku akan bawa mama ke rumah..." jawab Fathiya penuh keyakinan.


"Segitunya mbak...apa mbak nggak mau kasih kesempatan buat dia...??" Alita menguji keseriusan kakaknya.


"Iya...buat apa aku bertahan...keluarganya pun tak merestui hubungan kami... selama ini aku bertahan karena dia mencintaiku... dan dia sudah mengkhianati cinta itu..." jelas Fathiya penuh keyakinan.


"Semoga ini uang terbaik buat mbak...aku hanya bisa berdo'a yang terbaik..." ujar Alita.


"makasih ya dek...aku harap kamu nggak keberatan kami tinggal di sini untuk sementara waktu..." ucap Fathiya merasa tidak enak hati harus menumpang di rumah adiknya.


"Nggak apa-apa mbak...ya tapi beginilah... aku sama mas Sakti sibuk ke kampus...jadi mbak sama mama harus sabar...jangan ngerasa berkecil hati..." ucap Alita.


"Aku sama mama bisa ngerti kok dek..." ucap Fathiya.


"Stella mana mbak???" tanya Alita yang sedari tadi belum melihat Stella.

__ADS_1


"Stella minta izin mau ketemu sama teman-temannya...selama satu minggu ini..." jawab Fathiya.


"Ya udah...kita tidur yuk...udah larut..." ajak Alita pada Fathiya karena jam telah menunjukkan jam 11 malam.


"Iya...lagian besok kamu harus bangun pagi..." ucap Fathiya.


Mereka pun melangkah menuju kamar masing-masing dan tidur .


******


Zahra sudah keluar dari rumah sakit, sedangkan buk Siti juga telah di perbolehkan pulang dari rumah sakit, saat ini Zahra dan Faiz menginap di rumah mang Uddin karena Zahra ingin merawat ibunya yang sedang sakit.


Karena Zahra dalam kondisi mengandung, Faiz tak ingin terjadi apa-apa pada istrinya, Faiz pun menyediakan beberapa pelayan untuk membantu membersihkan rumah serta memasak.


Dan tak lupa Faiz menyediakan beberapa pengawal untuk berjaga-jaga di rumah mang Ujang.


Hingga saat ini Faiz dan Ridho belum menapatkan titik terang siapa pelaku yang berniat mencelakai Zahra.


Saat ini dua orang tersangka yang di perkirakan oleh Ridho yaitu Setiawan dan Dahlia.


Namun menurut Ridho, kemungkinan kecil Dahlia akan berbuat jahat. Karena setahu Ridho, Dahlia saat ini sedang berada di luar kota.


Makan Setiawanlah menjadi tersangka utama dalang dari peristiwa yang menimpa Zahra dan buk Siti.


Namun di karenakan pihak berwajib tidak dapat menemukan sang pelaku maka sulit mencari titik terangnya.


Untuk sementara itu, Faiz berjaga-jaga dengan menyuruh pengawal yang stand by 24 jam di rumah mang Uddin serta kediaman Adrian.


Para pengawal pun selalu stand by di mana pun keluarga Faiz berada.


Zahra saat ini tengah berada di kamar Siti yang masih di anjurkan beristirahat agar cepat pulih.


Zahra memyuapi makan siang untuk ibunya dengan sangat hati-hati.


"Ibuk makan yang banyak ya...biar cepat sembuh..." ucap Zahra.


"Iya..." ucap Siti sambil tersenyum manis.


"Ibuk bersyukur tak terjadi apa-apa sama kamu Ra..." ujar Siti sambil mengelus pipi putrinya.


"Ibuk...Ara merada sedih melihat ibuk seperti ini..." ucap Zahra lalu meletakkan piring di atas nakas di samping tempat tidur, Zahra pun memeluk ibunya.


Siti mengelus kepala Zahra.


" Ibuk ingin kamu sehat dan semoga kamu bisa menemukan keluarga kandungmu nak..." ucap Siti tanpa di sadarinya buliran benong pun jatuh membasahi pipinya.


Zahra memdongakkan kepalanya, lalu menatap dalam pada Siti.

__ADS_1


"Maksud ibuk apa...??? Ara gak mungkin bisa menemukan keluarga Ara buk...karena 15 tahun waktu yang lama buk...mereka takkan mungkin bisa menemukan aku...dan begitu juga aku..."


"Bahi Ara hal itu gak penting...yang penting ibuk tetap menjadi ibunya Ara..." ujar Zahra merasa sedih mend3lengar ucapan Siti.


"Ibuk akan selalu menjadi ibumu Ra...tapi jika keluargamu datang mencarimu maka terimalah mereka...karena mereka pun sangat merindukanmu..." ujar Siti.


Zahra semakin tidak paham dengan perkataan Siti.


"Apakah ada yang mencari Ara ke rumah ini buk???" tanya Zahra penasaran.


Siti mengangguk dia menatap ke arah jendela.


" Ara masih ingat wanita yang datang mencari Ara hari sabtu kemarin...??" tanya Siti pada Zahra.


Zahra mengangguk.


"Buk dosen yang tinggal di gang sebelah itu kan buk...???" tanya Zahra.


"Iya...sebelumnya ibuk ketemu sama dia di jalan pulang waktu belanja di mamang tukang sayur keliling..." Siti mulai menceritakan pembicaraan yang terjadi antara Siti dan Alita.


"Ternyata non Alita itu sedang mencari tahu keberadaan adiknya yang hilang 15 tahun lalu...itu artinya sama waktu ibuk menemukan kamu Ra..." jelas Siti.


"Tapi buk...kita gak bisa percaya begitu saja..." Zahra berusaha menenangkan hatinya yang berkecamuk tak menentu.


"Iya Ra...ibuk juga berfikir seperti itu...tapi satu hal yang membuat ibuk yakin dia adalah kakakmu..." Siti tak melanjutkan perkataannya.


Siti meraih pergelangan tangan Zahra, dia menyibakkan sedikit lengan baju Zahra, lalu melihat dalam pada tanda lahir yang terdapat di sana.


"Adiknya yang hilang 15 tahun lalu memiliki tanda lahir tepat di pergelangan tangannya...sama persis dengan tanda lahir yang kamu miliki Ra..." Jelas buk Siti lagi.


Zahra hanya terdiam terpaku, dia bingung harus bahagia atau sedih, jauh di hatinya paling dalam dia bahagia bisa berjumpa dengan keluarganya, namun dia sedih jika hal itu akan membuat Siti terluka dan bersedih.


Bersambung....


.


.


.


jangan lupa tinggalkan jejak ya readers yang baik hati...


# like...


# koment...


# Vote...

__ADS_1


# dan hadiah


__ADS_2