Terpaksa Menikahi Kepsek Kejam

Terpaksa Menikahi Kepsek Kejam
Eps 94


__ADS_3

Setelah selesai Hermawan menyampaikan kata terima kasih acara pun di lanjutkan ke acara tausiyah agama dan do’a keselamatan untuk Zahra dan ketiga calon bayi kembarnya.


Acara berakhir dengan do’a dan menikmati hidangan dari tuan rumah. Terakhir di tutup dengan membagikan uang santunan pada anak-anak yatim dan beberapa dhu’afa yang sengaja di pundang untuk menghadiri acara selamatan 7 bulan Zahra.


Acara pun selesai pada sore hari, para tamu pun satu persatu mulai pulang meninggalkan kediaman Fathiya.


Begitu juga dengan Dahliam dia pun berpamitan dengan Adrian dan Rahayu, lalu sebelum dia masuk ke dalam mobil Dahlia mencoba menghampiri Ridho yang sedang mengobrol dengan Faiz.


Faiz yang melihat Dahlia hendak mendekat ke tempat dia berada langsung memberitahukan hal itu pada Ridho, Ridho langsung membalikkan badannya lalu menyuruh Faiz menjauh dari tempat itu.


“ Mas Ridho...aku mau pulang...mas bisa antarkan aku...??” tanya Dahlia mencoba mengambil perhatian Ridho.


Ridho yang sudah muak dengan sikap Dahlia pun melihat Fathiya yang sedang berjalan tak jauh dari tempatnya berada.


“ Ya.....” panggil Ridho, fathiya yang merasa dirinya di panggil langsung menghampiri Ridho.


“ Ada apa ??” tanya Fathiya heran lalu menoleh pada Dahlia yang berada di samping Ridho.


“ Jadi kan kita pergi mengurus urusan katering??” tanya Ridgo sambil mengedipkan matanya.


“ i...ya...” jawab Fathiya yang mengerti dengan kedipan mata Ridho.


Dahlia merasa jengkel dengan kedekatan Ridho dan Fathiya.


“ mas...anterin aku dulu aja setelah itu baru pergi ngurus kateringnya...” pinta Dahlia manja.


“ Maaf...aku harus prioritaskan kekasihku dari pada kamu....” jawab Ridho membuat Fathiya langsung membulatkan matanya mendengar perkataan Ridho.


“ maksud mas wanita ini kekasih mas Ridho??” tanya Dahlia memastikan pendengarannya tak salah tangkap.


“ iya.... Fathiya adalah kekasihku...” ujar Ridho tegas. Lalu mengajak Fathiya menjauh dari tempat Dahlia yang masih mematung tak percaya.


“ RIDHO...” Panggil seorang wanita paruh baya yang mendengar percakapan Ridho dan Dahlia. Wanita itu adalah Mama kandung Ridho. Yang juga ikut hadir dalam acara syukuran Zahra.


“ eh mama...ada apa ma...??” tanya Ridho heran melihat mamanya tersenyum manis.


Mama Ridho mendekati Fathiya.


“ Apa benar wanita ini kekasihmu ??” tanya mama Ridho antusias.


“ mhm.... i....i...tu...” Ridho gelagapan bingung harus menjelaskan apa.


“ Mama sangat setuju....wanita ini sangat anggun dan mama berharap kamu menikahinya secepatnya.” Perintah Mama Ridho yang tampak tak ingin mendengar alasan apapun lagi dari putranya karena dia merasa putranya sudah cukup umur untuk menikah.


“ Mhm....ta...pi... ma...!” bantah Ridho


“ Tak ada tapi-tapian.... ini perintah!!! Mama tak mau menunggu lebih lama lagi” ujar mama Ridho dengan tegas.

__ADS_1


“Kamu mau kan menikahi dengan putra tante...??” tanya mama Ridho pada Fathiya langsung membuat Fathiya jadi bingung harus menjawab apa.


“ mhm....i...i...ya...tant...” lirih Fathiya terbata-bata.


“ ya udah...mama pulang duluan ya...papa kamu udah nungguin mama di mobil,...” ucap mama Faiz dan meninggalkan Ridho dan Fathiya dalam keadaan bingung.


Setelah mama Ridho pergi meninggalkan mereka, mereka pun salinpandang bingung tak tahu harus berbicara apa.


Kebetulan saat ini mereka berada di taman belakang, mereka punterduduk di bangku yang tersedia di taman.


Mereka terdiam, tanpa ada seorang pun memulai pembicaraan. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.


Hampir satu jam mereka hanya diam membisu, Akhirnya Ridho mulai berbicara.


“ Ya...” panggil Ridho.


“ Mhm....” gumam Fathiya


“mhm...maafkan aku...” tutur Ridho merasa bersalah, ternyata sandiwaranya di depan Dahlia membuatnya terjebak bersama Fathiya.


“ Maaf???” tanya Fathiya mengernyitkan dahinya.


“ Maaf...gara-gara aku kamu malah dapat masalah...” jawab Ridho.


“ gak masalah...aku yakin kamu bisa menjelaskannya nanti di rumah dengan kedua orang tuamu....” ujar Fathiya.


“ maksudmu??” tanya Fathiya meminta penjelasan.


Ridho sangat paham dengan kedua orang tuanya, jika mereka katakn iya.... mka harus di ikuti, dan begitu juga sebaliknya. Ridho khawatir jika setelah dia menjelaskan yang sebenarnya terjadi namun kedua orang tuanya tetap memaksa dirinya menikah dengan Fathiya, dia tak tahu harus bagaimana.


“ maksudku...jika kedua orang tuaku nantinya tetap menyuruhku menikahimu???” ujar Fathiya membuat Fathiya membelalakkan matanya.


“ nggak mungkin Dho...aku hanyalah seorang janda...” tolak Fathiyia, dia takut berharap lebih dari Ridho.


“ mhm.... apa pun itu...jika kedua orang tua ku sudah memutuskan aku tak bisa berbuat apa-apa lagi....” ujar Ridho jujur dan penuh kebingunan.


“ Aku.......” Fathiya tak dapat lagi berkata apa pun.


Di saat mereka masih kebingungan, Zahra datang menghampiri Fathiya.


“ mbak Yaya...disini rupanya...dari tadi mama cari-cari mbak...” ujar Zahra saat menemukan kakaknya.


“ eh...iya...” ujar Fathiya lalu dia pun melangkah meninggalkan Ridho yang belum selesai bicara dengan Fathiya.


“Arrrrggghhh...dasar bodoh!!!” umpat Ridho pada dirinya sendiri.


Semua tamu sudah pulang, kini tinggallah keluarga inti. Mereka pun mengabadikan acara itu dengan mengambil foto selfie, dan foto bareng untuk kenang-kenangan.

__ADS_1


Setelah itu mereka pun bersih-bersih bersiap-siap untuk shalat magrib berjama’ah, di keluarga Hermawan telah biasa untuk melakukan shalat maghrib berjama’ah untuk seluruh keluarga.


Kediaman Fathiya tak jauh berbeda dengan rumah pak Adrian, Megah dan memiliki banyak kamar yang cukup di tempati oleh seluruh keluarga, Baik dari keluarga Faiz maupun dari keluarga Zahra.


Fathiya juga mempekerjakan banyak pelayan di kediamannya, sehingga mereka tak perlu lagi sibuk-sibuk membersihkan rumah Fathiya, karena semuanya telah di bersihkan oleh para pelayan dan sebelum maghrib kediaman Fathiya pun telah rapi seperti sedia kala.


Saat maghrib tiba semua keluarga telah berkumpul di mushala yang tersedia di rumah Fathiya, mereka melaksanakan shalat berjama’ah yang di imami oleh kakek Hermawan.


Fathiya dan Alita merasakan kehadiran sosok seorang ayah, hingga mereka pun teringat pada sang Ayah yang telah pergi meninggalkan mereka di saat mereka masih remaja.


Setelah shalat dan berdo’a, Fathiya dan Alita memeluk buk Mawar lalu menagis tersedu-sedu, semua keluarga heran melihat kedua adik kakak itu dengan bingung.


Mawar memeluk kedua putrinya lalu ikut menangis, dia tahu betul apa yang membuat kedua putrinya bersedih.


“ doa’akanlah papa kalian...agar beliau bisa tenang disana...” lirih mawar pada kedua putrinya.


Mendengar ucapan buk Mawar semua keluarga disana, mengerti apa yang menyebabkan Fathiya dan Alita menangis.


Zahra menghampiri kedua kakak dan Mamanya.


“ Walaupun Ara nggak merasakan kasih sayang papa...Ara yakin papa adalah sosok seorang Ayah yang sempurna bagi mbak Yaya dan mbak Alita... Ara akan ikut mendo’akan papa agar papa bahagia di akhirat sana...jika mbak Yaya dan mbak Alita rindu sosok Papa...Papa Adrian dan Bapak akan menggantikan sosok Ayah buat mbak yaya dan mbak Alita...” ujar Zahra


“ Benar kan pa... pak??” tanya Zahra pada kedua sosok Ayah yang selama ini mengisi hari-harinya.


“ Benar nak...papa dan bapakmu akan menjadi ayah buat kedua kakakmu...Keluargamu juga keluarga papa dan Bapakmu “ ujar Adrian tersenyum begitu juga dengan mang Uddin.


Semua orang terharu dengan apa yang di ucapkan oleh Zahra, mereka tak menyangka didikan dari pak Adrian dan mang Uddin membuatnya tumbuh bagaikan berlian yang selalu bersinar di sekelilingnya.


****


Bersambung....


.


.


.


jangan lupa tinggalkan jejak ya readers yang baik hati...


# like...


# koment...


# Vote...


# dan hadiah

__ADS_1


__ADS_2