Terpaksa Menikahi Kepsek Kejam

Terpaksa Menikahi Kepsek Kejam
Eps 148


__ADS_3

Hai Readers...


Author minta maaf ya baru bisa update sekarang...


karena rutinitas masih menyangkut lebaran, jadinya Author baru bisa update sekarang...


Sekali lagi Author minta maaf pada Readers yang merasa kecewa karena baru bisa update hari ini...


\=\=\=\=\=\=\=\=\=>>>>>>


Faiz membayangkan Zahra di culik orang lalu di aniaya oleh penculiknya. Dia tak tahu harus bagaimana.


Ponsel Faiz pun berdering, Panggilan dari nenek Zahra.


"Fa...kamu langsung pulang ya nak...Semua urusan tentang Zahra sudah di urus sama kakek kamu..." ujar Nenek Faiz saat panggilannya telah terhubung.


Nenek Faiz mematikan ponselnya dan berharap agar Faiz pulang secepatnya.


Dengan langkah gontai Faiz pun meninggalkan Faubourg Saint-Honore. Dia pun pulang ke rumah drngan perasaan luka yang mendalam.


Faiz menyesal telah meninggalkan istrinya sendirian di tempat asing bagi istrinya. Dia berharap semoga Zahra cepat di temukan dalam keadaan baik-baik saja.


Di perjalanan pulang hanya wajah Zahra yang ada di pikirannya, semua kenangan indahnya bersama bidadari kecilnya terus melintas dalam ingatannya membuat Faiz semakin terpuruk.


Faiz terus menangis tak karuan, baru kali ini seorang Faiz yang arogan dan sombong menitikkan air matanya demi seorang wanita yang sangat di cintainya.


Sopir keluarga Hermawan pun bingung melihat majikannya yang begitu rapuh. Dia mengetahui keadaan Zahra dari tuan Hermawan, dia hanya di perintahkan untuk mengantarkan Faiz pulang tanpa bertanya apa pun pada Faiz.


Tiga pukuh menit perjalanan mereka pun sampai di bungalow milik Tuan Hermawan.


Faiz turun dari mobil dengan langkah gontai, nenek Faiz langsung menghampiri cucu kesayangannya itu, dan Faiz pun jatuh dalam pelukkan neneknya.


"Kamu sabar ya nak...Zahra pasti di temukan...nenek yakin orang suruhan kakekmu akan menemukan Zahra secepat mungkin..." nenek Faiz berusaha menenangkan cucunya.


"Zahra akan baik-baik saja...kamu jangan khawatir ya nak..."


"Sudahlah bersihkan dirimu...kakek akan mengurus semuanya...besok kita akan ke kantor polisi melaporkan kehilangan Zahra..." Hermawan yang baru saja keluar menghampiri cucunya berusaha menyuruh cucunya itu untuk sabar.


Faiz pun masuk ke dalam rumah, dengan di papah oleh kakek dan neneknya.


Mereka mengantarkan Faiz langsung ke dalam kamarnya.


"Kamu harus kuat...jika ingin mencari Zahra... Kalau kamu rapuh seperti ini bagaimana bisa kamu mencari istrimu..." ujar Hermawan tegas menguatkan hati cucunya.


Faiz pun menghapus air matanya, dia berusaha tegar walau pun hatinya sangatlah hancur.


Faiz pun melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, Nenek Faiz hanya dapat memandangi cucunya melangkah gontai menuju kamar mandi.


Nenek Faiz sangat hancur melihat cucunya yang terpuruk begitu juga dengan Hermawan.

__ADS_1


"Nek...kita harus kuatkan Faiz...jangan tunjukkan kalau kita juga lemah..." pesan Hermawan pada istrinya.


Mereka pun krluar dari kamar Faiz. Mereka membiarkan Faiz menenangkan diri terlebih dahulu.


Di kuar kamar nenek Faiz pun menangis di pelukkan suaminya.


"Kek...bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan Zahra...apa lagi Zahra saat ini tengah mengandung..." 0Tangis nenek Faiz pecah.


"Sabar sayang...kamu gak boleh rapuh di hadapan Faiz, kamu harus kuat di hadapan Faiz, agar dia juga tegar menjalani musibah ini..." Ujar Hermawan menenangkan istrinya yang juga sedih kehilangan cucu menantunya.


*****


Di tempat lain, Zahra tengah berada di rumah sakit menjaga seorang wanita paruh baya.


Wanita yang tidak memiliki siapa-siapa hanya seorang pengasuh pribadi menemaninya kemana pun ia pergi.


Sebenarnya wanita ini memiliki dua putri yang tinggal di Indonesia bekerja sebagai dokter terkenal di rumah sakit besar di Indonesia, sedangkan yang satu lagi sebagai dosen di Universitas Indonesia.


Mereka yang telah berkeluarga terpaksa meninggalkan sang ibu di Paris, dari awal mereka ingin membawa ibu mereka ke Indonesia namun sang Ibu bersikeras tak mau pindah ke Indonesia.


Baginya Indonesia memiliki kenangan yang menyedihkan baginya sehingga dia tak lagi ingin menginjakkan kaki di tanah air, dia memilih menghabiskan hari tuanya di Paris bersama pengasuh pribadi yang di percaya untuk menjaganya kemana pun.


Saat ini Zahra bingung harus kemana, dia tidak tahu dimana alamat bungalow milik keluarga Hermawan.


Dia hanya memikirkan Faiz yang akan khawatir dengan dirinya.


Zahra terpaksa ikut dengan wanita yang sedang terbaring lemah di hadapannya.


Saat Zahra berdiri menunggu Faiz kbali dari toilet, tiba-tiba seorang wanita yang berwajah Indo menyapa dirinya.


"Kamu orang Indo...?" tanya wanita itu yangvterlihat berjalan sempoyongan, wajahnya pucat.


"I...iya buk..." jawab Zahra gugup karena wanita itu tiba-tiba menyapanya.


"Nak....bisa tolong ibuk..." ujarnya lagi. Zahra bingung.


"Tolong antarkan ibuk ke parkiran, kepala ibuk pusing..." ucapnya.


Zahra yang melihat wanita paruh baya itu semakin lemah, dia pun menggandeng tangan wanita yang baru saja di kenalnya.


Dia pun mengantarkan wanita itu menuju mobilnya, saat dia telah berada di dekat mobil milik wanita itu, tiba-tiba wanita yang baru saja di tolong Zahra pun pingsan jatuh ke badan Zahra.


Saat wanita itu pingsan, seorang wanita berpenampilan seperti body guard keluar dari mobil milik wanita paru baya itu.


"Buk...ibuk kenapa???" tanya wanita yang baru saja keluar dari mobil milik wabita paruh baya itu.


Wanita itu langsung membawa wanita itu ke dalam mobil.


"Kakak orang Indo ya...??? Tolong bantuin saya antar ibuk ke rumah sakit ya..." pinta wanita itu.

__ADS_1


Zahra tidak dapat berfikir lagi wanita itu langsung menarik Zahra ke dalam mobil lalu dia melajukan mobil meninggalkan Faubourg Saint-Honore. Zahra semakin bingung dan panik, terlebih saat dia sadar dia tak membawa ponsel.


Karena dia pergi bersama Faiz, dia merasa tidak penting membawa ponselnya.


Mereka telah berada di rumah sakit, setelah wanita paruh baya tersebut di periksa dan di rawat karena penyakitnya, Zahra malah bingung harus bagaimana.


Dia tak tahu harus menghubungi siapa, dia baru saja satu hari berada di Paris, bahkan dia tak mengerti sedikit pun tentang kota Paris ini.


Flash back Off...


Zahra hanya bisa duduk termenung memikirkan keadaannya saat ini.


Dia merasa rindu dengan sosok suaminya, tanpa di sadarinya buliran bening jatuh di pipinya mengingat sosok suami tercintanya.


Dia merasa bersalah telah meninggalkan Faiz, dan hingga dia saat ini berada di tempat yang dia sendiri tidak tahu dimana.


"Kak..." Sapa wanita yang bekerja sebagai pengasuh dan sopir pribadi wanita paruh baya yang kini terbaring lemah di hadapan Zahra.


"I...iya..." ujar Zahra.


"Kakak nangis...??" tanya wanita itu.


Zahra menghapus air mata yang membasahi pipinya.


"Mhm...aku bingung..." jawab Zahra.


"Bingung kenapa kak??" tanya wanita tersebut.


"Bi...ngung bagaimana caranya aku pulang..." jawab Zahra.


"Bentar lagi aku antarin kakak pulang ya..." ujarnya yang baru saja masuk ruang rawat majikannya setelah mengurusi segala adminstrasi rumah sakit.


Bersambung....


.


.


.


w^jangan lupa tinggalkan jejak ya readers yang baik hati...


# like...


# koment...


# Vote...


# dan hadiah...

__ADS_1


terimakasih pembaca setiaku...


__ADS_2