
Setelah makan malam di kediaman Alita, Mawar Fathiya dan Alita duduk di taman belakang rumah.
"Apa sebenarnya yang membuat mama mau menginjakkan kaki di Indonesia lagi...???" tanya Alita pada mamanya memulai pembicaraan mereka.
Mawar hanya diam, dia menoleh pada putri sukungnya untuk menceritakan tujuannya ke Indonesia.
"Gini lho dek...di Paris mama ketemu sama seseorang yang memiliki tanda lahir sama persis dengan Azza...jadi mama mau mencari tahu tentang wanita itu..." jelas Fathiya.
"Benar mbak...coba deh mbak liat ini...Mbak Yaya sama Zahra mereka sangat mirip" Stella yang baru saja datang bergabung menunjukkan foto Fathiya dan Zahra saat di Paris.
Alita melihat foto yang ada di ponsel Stella, dia merasa kenal dengan Zahra. Wajah Zahra tak asing baginya.
"Ini kalau gak salah...anaknya mang Uddin yang tinggal di belakang sekolah Harapan Bangsa..." ujar Alita yang mengenali Zahra karena dia tinggal di komplek yang sama dengan komplek Sekolah Harapan Bangsa.
"Kamu kenal dari mana dek...???" tanya Fathiya heran.
"Rumahnya nggak jauh dari sini mbak..." jawab Alita.
"Kebetulan dek kita bisa main kesana secepatnya..." Fathiya antusias.
"Menurut aku....supaya Zahra nggak curiga mending kita tanya-tanya dulu sama mang Uddin dan istrinya tentang siapa Zahra sesungguhnya...." usul Alita.
"Boleh...tapi mending kamu deh Ta yang nanya sama istrinya mang Uddin..." ujar Fathiya pada Alita.
"Iya juga sich...tapi kapan ya aku bisa ketemu sama buk Siti...mbak kan tahu kegiatan ngajar aku full...palingan aku cuma bisa waktu weekend...itu pun kalau gak ada kuliah tambahan...." Ujar Alita.
"Terserah kalian...yang penting mama mau secepatnya kita bisa membuktikan kalau Zahra itu Azza...Adik kalian..." tegas Mawar.
"Iya ma..." ucap Fathiya dan Alita.
Fathiya dan Alita sangat senang jika Zahra itu memang adik mereka, karena mereka sangat merindukan sosok adik mereka yang telah hilang bertahun-tahun.
Mereka berharap semoga Zahra memang adik mereka yang hilang.
******
Weekend minggu ini Alita dan Fathiya memgajak Ferdy jalan pagi ke taman, sedangkan Mawar dan Rossa di rumah.
Ferdy yang masih berumur satu taun melangkah pelan yang di ikuti oleh mama dan Tantenya.
Mereka menikmati sedarnya udara pagi yang belum tercemar oleh adap kendaraan, karena hari sabtu kendaraan belum banyak berkeliaran di tengah kota.
Saat Alita dan Fathiya dalam perjalanan pulang, Alita melihat Siti yang belanja di tukang sayur keliling komplek.
"Mbak...jagain Ferdy ya..." ujar Alita lalu dia pun mendekati tukang sayur tersebut.
"Eh...mbak Alita...mau beli sayur apa nih...???" sapa tukang sayur ramah saat Alita telah berada di dekatnya.
__ADS_1
"Biasa mang...wortel 1 Kg, Kentang 1 kg...." Alita memesan beberapa sayur yang di butuhkannya.
"Buk Siti...beli apa???" Sapa Alita pada Siti yang sedang asyik memilih cabe.
"Ini Non...cabe, Kangkung dan lain-lain biat stok di rumah..." jawab Siti ramah.
Siti memang mengenal Alita namun hanya sekedar tahu bahwa Alita adalah warga komplek yang sama dengannya.
Karena Alita yang sibuk mengajar di kampus, membuat Alita jarang bersosialisasi dengan warga.
"Ini non..." Mamang tukang sayur menyodorkan beberapa sayuran yang di pesan Alita tadi.
"Makasih ya mang..." ujar Alita lalu menyodorkan selembar uang seratus ribu untuk membayar semua pesanannya.
Alita dan buk Siti selesai belanja sayur, mereka pun berjalan arah pulang. Alita berjalan beriringan dengan buk Siti.
"Buk Siti aku boleh tanya nggak??" tqnya Alita hati-hati pada Siti.
"Tanya apa Non...???" Siti malah heran tiba-tiba Alita yang jarang berkomunikasi dengannya mengajaknya mengobrol.
"Mhm...aku dengar-dengar Zahra anak ibuk Siti hilang ya di Paris???" tanya Alita hati-hati.
"Iya non...tapi syukurlah dia sudah di temukan..." jawab Siti penuh rasa syukur.
"Alhamdulillah...aku kira belum ketemu buk..." ujar Alita lagi.
"Iya non...kalau seandainya Zahra nggak ketemu, ibuk gak tahu harus bagaimana... Walaupun dia bukan anak kandung ibuk...tapi ibuk sangat sayang padanya...Ibuk udah anggap Zahra anak kandung ibuk...dialah yang mewarnai hidup kami selama ini..." tutur Siti jujur.
Alita tersentak saat mendengar ucapan buk Siti, dia semakin dapat peluang untuk mencari tahu siapa Zahra sesungguhnya.
"Kapan buk Siti menemukan Zahra???" tanya Alita antusias menanggapi ucapan buk Siti.
Buk Siti pun berhenti dan duduk di sebuah bangku yang terdapat di pinggir jalan.
"Saya menemukan Zahra saat itu kira-kira umurnya sekitar 4 tahun..." jelas buk Siti mnegenang masa lalu.
Flash back On...
Saat itu Siti baru saja pulang dari pasar, dia berjalan ke pinggir jalan hendak mencari angkot.
Di saat iti dia melihat seorang balita perempuan yang tengah menangis. Siti pun menghampiri balita itu.
"Anak pintar kenapa nangis..." Sapa Siti pada gadis kecil itu.
"Hiks...mama...hiks...mama..." Zahra kecil masih saja menangis.
"Kamu kehilangan mama kamu nak...??" tanya Siti ramah.
__ADS_1
Zahra pun mengangguk sambil sesenggukkan menangis. Karena dia tidak tahu tengah berada di mana.
Tempat itu sangat asing baginya. Siti pun mengajak Zahra duduk di bangku yang ada di pinggir jalan.
"Ikut ibuk yuk nak..." ajak Siti.
Karena Zahra merasa butuh perlindungan dia pun mengikuti wanita yang baru saja di kenalnya.
Setelah Zahra duduk di bangku itu, Siti pun mengambil air minum yang ada di dalam tasnya dan memeberikan minuman itu pada Zahra. Setelah dia merasa Zahra sudah tenang. Siti pun bertanya.
"Nama kamu siapa???" tanya Siti pelan agar dia bisa membantu gadis kecil yang baru saja di temukannya.
"Azzah....latul....Umayla..." jawab Zahra masih dengan logat balita yang susah di pahami.
"Azzah...latul Umayla...??" Siti mengulangi ejaan yang bari saja di ucapkan Zahra namun Zahra menggelengkan kepalanya.
"Azzahratul...Umayla...???" tanya Siti lagi pada Zahra namun Zahra masih saja menggelengkan kepala.
Siti pun mencoba mengganti huriluf L yang di lontarkan Zahra dengan huruf R.
"Azzahratul Umayra??" tanya Siti lagi yang di jawab anggukkan oleh Zahra.
Zahra sedari kecil memang sering di panggil ibunya dengan nama yang lengkap agar dia mengenal dirinya.
Karena kasihan Siti pun mengajak Zahra untuk ikut dirinya pulang. Zahra yang polos pun mengikuti Siti berharap dia bisa kembali berjumpa keluarganya.
Satu minggu Zahra bersama Siti, namun dia tak mendapatkan kabar sama sekali tentang orang yang kehilangan anak.
Mungkin katena di rumah Siti tak memiliki TV di tambah dia yang jarang keluar rumah dia tak mendapati orang tua yang kehilangan putrinya.
Akhirnya Adrian menyarankan kepada mang Uddin dan Siti untuk mengadopsi Zahra sebagai putrinya.
Flash back Off....
Bersambung....
.
.
.
jangan lupa tinggalkan jejak ya readers yang baik hati...
# like...
# koment...
__ADS_1
# Vote...
# dan hadiah...