
"Alhamdulillah sayang...akhirnya kamu bisa berkumpul dengan keluarga kandungmu..." ujar Faiz mengelus kepala Zahra.
"Karena kamu sudah berjumpa dengan keluarga kandungmu...kita harus mengadakan syukuran, sebagai rasa syukur atas pertemuan yang di berikan Allah pada Zahra dan keluarga..." ujar Faiz lagi.
"Terima kasih sayang..." ucap Zahra mempererat pelukannya pada suaminya.
Zahra memang tidak berusaha sama sekali untuk mencari keluarga kandungnya, karena Zahra tak memiliki kunci apapun untuk menemukan mereka, karena Zahra takut kecewa dia pun tak berharap sama sekali untuk berjumpa dengan keluarga kandungnya.
Dan saat ini merupakan suatu keajaiban bagi Zahra bisa berjumpa dengan keluarganya.
Zahra bersyukur, keluarganya masih berusaha mencarinya itu artinya keluarga Zahra sangat menyayangi dirinya.
******
Zahra tak ingin melewati kebersamaannya dengan Ibu dan kakak-kakaknya.
Zahra pun memgajak keluarganya makan malam di rumah mang Ujang.
Mereka pun memasak bersama di rumah mang Ujang. Buk Siti yang masih dalam pemulihan hanya dapat melihat Zahra, buk Mawar dan kedua kakaknya sibuk memasak di dapur untuk makan malam.
Di sela-sela memasak mereka pun bersenda gurau sesekali Fathiya dan Alita memcibit pipi Zahra seperti yang biasa mereka lakukan pada Zahra di wakti Zahra masih kecil, dan mereka pun tertawa lepas.
Zahra sangat bahagia, memiliki kakak yang sangat menyayanginya. Dia pun membayangkan masa-masa kecilnya di temani oleh dua orang kakak yang sangat menyayanginya.
"Andaikan dulu Ara gak hilang...Ara akan tumbuh besar besar bersama Mbak Fathiya dan Mbak Alita...namun hari-hari Ara sewaktu kecil hanya Ara habiskan sendirian..." gumam Zahra di dalam hati.
"Kok melamun dek..." tanya Alita memyenggol adiknya yang kini tengah dudik beristirahat menatapi Fathiya, Alita dan buk Mawar memasak.
"Mhm...nggak apa-apa...Ara hanya membayangkan bagaimana masa-masa kecil Ara bermain sama mbak Yaya dan mbak Alita...pasti seru...tapi..." wajah Zahra sendu.
"Tapi...kan ada Mas Faiz yang menemani kamu bermain..." ujar Faiz saat baru saja masuk dapur mendengar ucapan istrinya yang bersedih di dapur.
"Mas Faiz..." ucap Zahra malu.
"Masa lalu tidak usah di ungkit lagi...semua yang kamu hadapi itulah takdir...dan kita harus menjalaninya dengan ikhlas dan sabar...Sekarang kita harus menjalani apa yang sudah ada di hadapan kita..." Nasehat Faiz pada Zahra.
Zahra mengangguk paham, Alita merangkul bahu adiknya.
"Iya dek...sekarang mbak-mbakmu ini akan mengisi hari-harimu....ya walaupun kami ada kesibukkan...kami akan rajin mengunjungi kamu..." ujar Fathiya pada Zahra ijut merangkul bahu adiknya di sisi lainnya.
Mawar terharu melihat ketiga putrinya telah berkumpul, dan mereka tampak saling menyayangi dan mengasihi.
Mereka telah selesai memasak, mereka pun mandi dan bersiap-siap untuk shalat maghrib.
Mereka sengaja shalat maghrib berjama'ah dengan mang Uddin sebagai imamnya.
__ADS_1
Sebelum maghrib Sakti datang dengan Ferdy, karena sehari ini Alita ingin menghabiskan waktunya bersama keluarganya di rumah mang Uddin ayah angkat Zahra.
"Pak dosen..." sapa Faiz pada Sakti yang baru datang lalu menyalaminya
"Jangan panggil pak dosen...kita kan keluarga...panggil mas Sakti aja..." ujar Sakti.
"Iya mas...yuk masuk ke dalam" ucap Faiz.
Semua orang telah berkumpul di mushola yangbtelah di sediakan khusus untuk tempat sholat ildi rumah mang Uddin.
Mereka pun shalat setelah azan maghrib berkumandang. Siti pun ikut sholat walaupun masih duduk di atas kursi roda.
Setelah sholat dan berdo'a mereka pun saling bersalaman, seperti biasa saat Zahra menyalami Faiz suaminya. Faiz selalu membacakan do'a-do'a terbaik untuk istrinya.
Setelah selesai bersalaman mereka pun bersiap-siap untuk makan malam, mereka menikmati makan malam mereka dengan penuh suka cita, sesekali di iringi dengan tawa karena ulah si kecil Ferdy yang menggemaskan.
Selesai makan Mawar, Fathiya, Alita dan suaminya pun pamit pulang.
"Mama pulang dulu ya dek..." ujar Mawar pada Zahra.
"Mbak Yaya dan aku juga dek... besok-besok kami main lagi kesini..."Alita ikutan pamit.
"Mama nginap di sini aja sama Ara...Ara masih ingin bareng mama..." pinta Zahra.
" Ara sayang...kali ini mama pulang ke rumah mbak Alita dulu ya...beaok-besok mama janji akan menginap di sini..." Mawar berusaha membujuk Ara.
"Beneran ya ma...Ara masih kangen sama mama..." ucap Zahra jujur lalu memeluk ibunya.
Fathiya dan Alita pun ikut memeluk Zahra dan ibunya.
"Lihatlah pa...mama sudah menemukan putri kita yang hilang...kami sudah berkumpul lagi...semoga papa di sana ikut bahagia dengan kebahagiaan uang kami rasakan saat ini..." bathin Mawar terharu di saat ketiga putrinya merangkul dirinya.
Setelah puas berpelukkan, Mawar,Fathiya, Alita dan suaminya pun keluar rumah lalu pulang ke rumah Alita.
Faiz dan Zahra pun masuk ke dalam kamarnya, begitu juga mang Uddin mendorong kursi roda buk Siti menuju kamar mereka.
Di dalam kamar, Zahra dan Faiz langsung berwudhu' untuk menunaikan ibadah shalat Isya berjamaah.
Setelah sholat mereka pun naik ke atas ranjang.
Faiz yang belum mengantuk mengambil ponselnya lalu mengota-atiknya, melihat hal itu Zahra pun duduk di samping Faiz lalu merebahkan kepalanya di dada bidang Faiz.
Faiz pun mengelus rambut Zahra yang terurai indah.
"Kamu bahagia sayang...?" tanya Faiz pada istrinya.
__ADS_1
"Iya mas...aku sangat bahagia...ternyata keluargaku masih mencari diriku..." ujar Zahra.
"Alhamdulillah..." ucap Faiz.
Faiz pun menangkupkan wajahnya istrinya dengan tangannya.
"Semoga kebahagiaan selalu menyertai keluarga kita ya sayang..".lirih Faiz.
Faiz menatap dalam pada istrinya, dia pun mulai tergoda melihat bibir seksi milik istrinya, dia pun mendaratkan sebuah Ci***n di sana.
Ci***n yang di berikan Faiz semakin dalam membuat Zahra susah bernafas, Zahra pun mendorong sedikit dada bidang Faiz, hingga Faiz melepaskan ci***n yang di berikannya
"Mas...kamu mau bunh aku...??" gerutu Zahra.
Faiz hanya tersenyum lalu dia pun kembali melu*** bibir seksi Zahra.
Faiz terus menikmati lu***annya, sambil tangannya mulai menjelajahi setiap senti tubuh istrinya.
Jari jemari Faiz terus memberi sensasi di tubuh Zahra, hingga kini jari jemarinya tengah me****s dua gundukan kembar bagian dada Zahra.
Zahra pun mengeluarkan desahan demi desahan hingga Faiz semakin terpancing untuk menyentuh istrinya.
Dia pun memulai aksinya. Faoz membuka piyama yang di pakainya, begitu juga dengan baju tidur Zahra, Faiz pun membukanya hingga kini mereka pun telah Po*** di baluti dengan selimut.
Faiz pun memainkan aksinya yang di nikmati oleh Zahra, dia semakin bahagia merasakan kasih sayang dari orang-orang yang berada di sekelilingnya.
Malam itu mereka habiskan dengan adegan-adegan panas yang di lakoni oleh Faiz, hingga akhirnya mereka tertidur pulas.
Bersambung....
.
.
.
jangan lupa tinggalkan jejak ya readers yang baik hati...
# like...
# koment...
# Vote...
# dan hadiah
__ADS_1