
Tak berapa lama Rahayu masuk ke dalam ruangan Zahra.
"Bagaimana ma...?" tanya Adrian pada Rahayu.
"Alhamdulillah...buk Siti sudah melewati masa kritisnya...Perawat akan memindahkannya ke ruang rawat...mama minta supaya buk Siti di pindahkan ke ruangan ini..." jelas Rahayu.
Semua yang mendengar penjelasan Rahayu merasa lega.
Tak berapa lama perawat pun masuk mendorong brangkar yang di tempati Siti ke dalam ruangan Zahra.
"Saya harap...biarkan pasien istirahat dulu..." ucap perawat pada keluarga Siti yang berada di ruangan rawat Siti dan Zahra.
"Terima kasih sus..." ucap Adria.
Perawat pun keluar dari ruangan itu mereka merasa lega setelah mengetahui kondisi Siti.
Adrian, mang Uddin dan Ridho duduk di shofa yang tersedia di ruangan itu.
Sedangkan Rahayu mendekati Zahra dan duduk di samping Faiz.
"Mas...kayaknya mama belum makan..." ujar Zahra mengingat Mama mertuanya yang tidak jadu nakan siang karena kejadian yang menimpa mereka.
"Mama tunggu di sini ya...aku carikan makanan dulu buat mama..." ujar Faiz lalu dia pun keluar dari ruangan Zahra untuk mencari makanan.
Tak berselang lama.
Tok...tok...tok...pintu ruangan rawat Zahra pun di ketuk seseorang.
Mang Uddin langsung berdiri untuk membukakan pintu ruangan.
Mang Uddin mengernyitkan dahinya saat melihat dua orang wanita yang tak di kenalnya di depan pintu.
"Apa benar ini ruang rawat Zahra...??" tanya wanita paruh baya di depan pintu pada mang Uddin.
Mang Uddin yang tak mengenal wanita itu, dia menoleh ke belakang bingung.
Adrian yang melihat gelagat mang Uddin langsung berdiro menghampiri mang Uddin.
"Siapa mang???" tanya Adrian pada mang Uddin.
"Maaf pak...apa benar ini ruangan Zahra ??" tabya wanita paruh baya tadi.
Adrian yang juga tak mengenal wanita itu merasa waspada dengan yang telah yerjadi pada Zahra.
"Maaf...anda siapa??? ada keperluan apa??" tanya Adrian curiga.
"Mhm...saya Mawar dan ini putri saya Fathiya...kami mendengar ada seseorang yang hendak mencelakai Zahra..." jelas Mawar pada Adrian.
"Tunggu sebentar..." ujar Adrian lalu dia masuk ke dalam ruangan untuk menghampiri Zahra. Mawar dan Fathiya masih menunggu di luar ruangan.
"Ra...apa kamu mengenal Mawar?? dia ada di depan..." ujar Adrian pada Zahra.
__ADS_1
"Buk Mawar?? kenapa dia bisa disini??" Zahra heran.
Adrian hanya memgangkat kedua bahunya karena dia juga tidak tahu menahu tentang wanita yang bernama Mawar.
"Pa...buk Mawar itu wanita yang Ara bantuin waktu di Paris..." ujar Zahra melihat reaksi papa mertuanya yang tak mengenal Mawar.
"Owh..." Adrian hanya bisa ber-oh- ria lalu dia pun kembali ke pintu menemui Mawar.
"Silahkan masuk buk..." ujar Adrian mempersilahkan Mawar dan Fathiya masuk ke dalam ruangan rawat.
"Ibuk...ibuk disini...?? Kapan sampae Indo...??" tanya Zahra saat Mawar telah berada di sampingnya.
"Iya Ra...ibuk disini sejak 2 hari yang lalu..." jawab Mawar.
"Ma...pa...kenalin ini buk Mawar...wanita yang Zahra tolongin waktu di Paris..." ujar Zahra pada Adrian dan Rahayu yang hanya memandang heran melihat Zahra dan Mawar berinteraksi, mereka terlihat sangat akrab.
"Saya Rahayu.... ibu mertua Zahra..." ujar Rahayu sambil mengulurkan tangan.
"Dan ini Suami saya Adrian..." ujar Rahayu lagi. Adrian mengulurkan tangannya pada Mawar.
Mawar menerima jabatan tangan Adrian dan Rahayu dengan ramah.
"Bagaimana keadaan kamu Ra...???" tanya Mawar pada Zahra.
"Aku nggak apa-apa buk...hanya ibuku yang terluka buk..." jawab Zahra sambil menunjuk pada Siti yang terbaring belum sadarkan diri.
Mawar merasa iri saat mendengar Zahra memanggil Siti dengan kata ibuku.
"Ra...kamu kenal sama pria yang mau mencelakai kamu??" tanya Fathiya.
"Nggak tahu kak...soalnya Ara lagi ngobrol sama mama Rahayu..." jawab Zahra polos.
"udah di selidiki Ra???" tanya Fathiya lagi.
Zahra mengangkat bahunya, menandakan dia tidak tahu.
Fathiya mengangguk paham. Dia yakin Faiz suami Zahra telah bertindak.
Tak berapa lama Faiz masuk ke dalam ruangan, Faiz kaget saat mendapati Fathiya dan Mawar berada di ruangan istrinya.
"Fathiya...???" lirih Faiz mengernyitkan dahinya heran lalu meletakkan makanan yang di bawanya di atas meja.
"Ma...ini makanannya...mama makan dulu... mama jiga harus jaga kesehatan..." ujar Faiz pada Rahayu, Rahayu dan Adrian pun berpindah ke Shofa.
Rahayu menawarkan makan pada semua orang yang ada di sana lalu dia pun makan bersama Ridho yang jiga belum makan siang.
Adrian memperhatikan gerak-gerik Mawar dan Fathiya. Adrian sedikit curiga dengan mereka.
"Kapan kalian sampe ke Indo??" tanya Faiz heran dengan keberadaan Mawar dan Fathiya di ruangan itu.
"2 hari yang lewat mas..." jawab Fathiya.
__ADS_1
Kini Faiz telah berdiri di samping Zahra yang asyik mengobrol dengan Mawar.
Setelah puas melepaskan rindunya dengan Zahra, Mawar pun pamit untuk pilang. Dia merasa tak enak hati dengan keluarga Zahra yang berada di ruangan itu.
"Ara sayang...ibuk pulang dulu ya...udah sore..." ujar Mawar pamit.
"Iya buk...ibuk hati-hati ya..." ujar Zahra.
Mawar pun pamit pada semua orang di sana lalu mereka pun keluar dari ruangan Zahra. Sebelum pulang.
"Buk...ibuk duluan aja ke parkiran...aku mau ke tempat temanku dulu ya buk..." ujar Fathiya lalu dia pun nerllai menuju ruangan sahabatnya.
"Yola..." panggil Fathiya saat masuk ke dalam ruangan sahabatnya.
"Fathiya...kapan kamu dari Paris...??? ngapain kamu disini???" tanya Yola heran karena sepengetahuannya Fathiya sedang cuti dan berada di Paris.
"Aku baru sampe Indo 2 hari yang lewat... Yol...aku butuh bantuan kamu..." ijar Fathiya serius.
"Bantuan apa Ya...? aku akan bantu jika sanggup..." ucap Yola.
Fathiya pun menjelaskan pada Yola, untuk membantunya mengambil sampel darah Zahra untuk menguji DNA Zahra dengan DNA Ibunya Mawar untyk membuktikan bahwa Zahra adalah adiknya.
Yola paham dengan penjelasan Fathiya, dengan senang hati Yola akan membantu sahabatnya itu.
"Kamu tenang aja Ya...aku usahakan...kebetulan aku besok masuk ke ruangan itu untuk mencek kondisi pasien yang bernama Siti..." ujar Yola pada Fathiya.
"Makasih Yol...aku senang banget kamu mau bantuin aku...mamaku berharap sekali kalau Zahra adalah putrinya...Karena hal itu makanya mama mau pulang ke Indo..." ujar Fathiya.
"Aku usahakan ya...Semoga hasilnya nanti sesuai dengan apa yang kita harapkan..." ujar Yola.
"Kalau gitu aku pergi dulu ya...makasih Yol..." ujar Fathiya pada Yola sahabatnya sesama dokter.
"Sama-sama..." ucap Yola.
Fathiya pun keluar dari ruangan Yola, lalu dia pun melangkah menuju Parkiran dan pulang ke rumah Alita.
Bersambung....
.
.
.
jangan lupa tinggalkan jejak ya readers yang baik hati...
# like...
# koment...
# Vote...
__ADS_1
# dan hadiah