Terpaksa Menikahi Kepsek Kejam

Terpaksa Menikahi Kepsek Kejam
Eps 57


__ADS_3

Sore pun telah berganti malam, Zahra dan Faiz pun pulang ke rumah setelah mereka puas berjalan-jalan.


Di perjalanan pulang Zahra tertidur lelap di pangkuan suaminya, Faiz membiarkan Zahra merebahkan kepalanya di pahanya agar Zahra merasa nyaman dalam tidurnya.


Faiz menatap wajah lelah istrinya, dalam kelelahan itu tersimpan kebahagiaan. Faiz pun mengelus pelan kepala Zahra yang masih tertutupi hijab hingga mereka pun sampai di bungalow milik kakek Faiz.


Saat mobil berhenti Zahra masih saja tertidur dengan nyenyaknya, Faiz tak tega membangunkan istrinya.


Dia pun keluar mobil terlebih dahulu lalu menggendong tubuh mungil istrinya, walaupun berat badan Zahra bertambah namun Faiz yang rajin berolahraga masih kuat mengangkat istrinya.


Faiz masuk ke dalam rumah dengan menggendong istrinya, nenek Faiz melihat kedatangan mereka.


"Kenapa Zahra di gendong Fa...?" tanya nenek Faiz.


"Kasihan Zahra nek...tidurnya begitu nyenyak...Fa gak tega banguninnya..." jawab Faiz.


"Kamu juga dulu seperti itu lho nek..." ujar Hermawan yang memghampiri mereka, mengingat masa-masa muda mereka.


"Masa sih kek...???" elak nenek Faiz.


Faiz hanya tersenyum melihat kakek dan neneknya berdebat, dia pun pamit untuk langsung membawa Zahra ke kamarnya.


Di kamar Faiz membaringkan tubuh Zahra di atas kasur secara pelan-pelan agar Zahra tak terbangun.


Setelah membaringkan Zahra di atas kasur, Faiz menyelimuti tubuh Zahra, lalu dia pun beranjak melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Tak berapa lama, Faiz pun selesai mandi, dia keluar kamar mandi dan melangkah menuju lemari mengambil pakaian kaos dan celana pendek. Setelah mengenakan pakaiannya, Faiz membuka-buka file foto-fotonya bersama Zahra tadi lalu memindahkannya ke laptop miliknya.


Dia juga mengirimkan file foto-foto mereka pada seseorang.


"Hari ini begitu menyenangkan...hari ini merupakan kenangan terindah buat kita sayang...." gumam Faiz menatap bahagia pada foto Zahra yang paling di sukainya.


Tak berapa lama dia pun menutup laptopnya, lalu dia beranjak menuju tempat tidur, dia pun merebahkan tubuhnya di samping istrinya.


Faiz memeluk tubuh Zahra dari belakang, lalu dia pun tertidur pulas.


******


Bruuukk....


Tubuh Mawar tiba-tiba ambruk di saat dia hendak melangkah menuju kamarnya, Stella berlari menghampiri bu Mawar yang telah tergeletak di lantai.


"Tolong..." teriak Stella membuat para pelayan datang menghampirinya.


Bang Ucok sopir sekaligus tukang kebun buk Mawar pun mengangkat tubuh buk Mawar ke dalam mobil.


Malam itu juga buk Mawar langsung di bawa ke rumah sakit, Stella takut terjadi apa-apa pada buk Mawar.


Semenjak Zahra kembali pada keluarganya, kesehatan buk Mawar memang menurun drastis.


Stella selalu mengingatkan buk Mawar agar tidak terlalu memikirkan Zahra, namun buk Mawar tak bisa sedikit pun melupakan kenangannya bersama Zahra. Walaupun hanya sebulan mereka bersama namun buk Mawar merasa dia telah bertahun-tahun bersama Zahra.


Sesampai di rumah sakit, buk Mawar langsung di periksa, seperti biasa tensi buk Mawar turun lagi karena banyaknya pikirannya membuat istirahatnya terganggu.


Saat ini buk Mawar dalam pengaruh obat tidur, dokter sengaja memberikan obat tidur, agar buk Mawar dapat istirahat dengan total. Tampak dari wajahnya bebrapa hari ini buk Mawar tidak dapat tidur dengan baik.


Keesokkan harinya...

__ADS_1


Stella yang setia menjaga buk Mawar di ruang rawatnya teringat untuk menghubungi Zahra, mana tahu dengan kedatangan Zahra bisa membuat buk Mawar baikkan.


Stella memgambil ponselnya, lalu mencari no. bungalow milik Hermawan.


Kring...kring....kring...(telpon rumah di bungalow Hermawan berdering)


Seorang pelayan berlari meraih telpon yang berdering.


"Hallo..." ucap pelayan tersebut.


"Hallo...bisa saya bicara dengan Zahra...??" tanya Stella saat telpon sudah tersambung.


"Tunggu sebentar ya..." Pelayan pun meletakkan telpon lalu berlari menuju kamar Faiz.


Tok...tok...tok... (Pelayan mengetuk pintu kamar Faiz...)


Faiz dan Zahra yang baru siap beribadah sholat subuh dan membaca Al-qur'an saling bertatapan saat mendengar ketukan pintu karena tak biasanya pagi-pagi sekali sudah ada yang mengetuk pintu.


Faiz melangkah menuju pintu, lalu membukanya.


"Maaf tuan muda...ada telpon untuk nona Zahra..." ucap pelayan saat melihat Faiz membuka pintu.


Faiz pun melangkah menuju telpon yang berada di kamarnya.


Dia mengangkat panggilan itu,


"Hallo..." ujar Faiz heran dengan siapa yang menelpon istrinya melalui telpon rumah.


"Hallo...tuan Faiz...bisakah saya berbicara dengan nona Zahra...aku Stella pengasuh buk Mawar..." ucap Stella saat mendengar Faiz yang mengangkat panggilannya.


"Tunggu sebentar..." ucap Faiz.


"Hallo..." ucapnya ragu.


"Ra...ini aku Stella..." ucap Stella.


"Stella apa kabar...???" (Zahra)


"Aku baik Ra...tapi buk Mawar..." (Stella)


"Ada apa dengan buk Mawar ??" (Zahra)


"Buk Mawar masuk rumah sakit lagi..." (Stella)


"Kok bisa??? " (Zahra)


"Biasa tensi buk Mawar turun lagi...karena beliau kurang tidur..." (Stella) "Kamu bisa datang kesini gak Ra...???"


"I...iya...aku minta izin mas Faiz dulu ya Stell...Aku usahakan hari ini mengunjunginya..." (Zahra)


"Makasih ya Ra...sejak kamu kembali sama keluargamu...buk Mawar tampak sedih..." (Stella)


"Iya Stella...nanti aku kesana ya..." (Zahra)


Panggilan pun terputus, Faiz mengernyitkan dahinya penasaran dengan pembicaraan mereka.


"Ada apa Ra...??" tabya Faiz yang penasaran.

__ADS_1


"Buk Mawar masuk rumah sakit mas...Stella minta aku datang kesana..." jelas Zahra pada Faiz.


"Ya udah nanti siang aku antar kamu ke rumah sakit ya..." ujar Faiz.


Zahra memgangguk setuju.


"Ya udah...kita turun yuk...sarapan..." Ajak Faiz pada Zahra.


"Iya mas...aku udah lapar..." rengek Zahra.


Faiz tersenyum melihat tingkah istrinya.


"Yukk..." mereka pun keluar kamar dan turun menuju ruang makan.


Di ruang makan Hermawan dan istrinya telah duduk di kursi kebesarannya.


"Pagi nek...kek..." sapa Zahra dan Faiz saat masuk ke dalam ruang makan.


"Pagi sayang..." ucap nenek Faiz khas dengan senyuman yang mengembang di bibirnya.


"Gimana Ra...??? kemarin jalan-jalannya seru...??" tanya nenek Faiz pada Zahra sambil menunggu pelayan menghidang makanan untuk mereka.


"Seru banget nek...apalagi di Mosque Grandee...mesjid yang sangat bagus nek..." ujar Zahra mengingat perjalanannya kemarin bersama Faiz.


Bagi Zahra, tempat yang paling mengesankan adalah Mosque Grandee.


"Kalian jadi ke menara Eifell???" tanya nenek Faiz.


"Jadi nek...Seru juga sich disana..." jelas Zahra.


"Syukurlah kalau kamu suka...hari ini kalian mau kemana???" tanya nenek Faiz lagi.


Zahra menoleh pada Faiz untuk menjawab pertanyaan dari neneknya.


"Mhm....rencananya kami mau ke rumah sakit nek..."Jawab Faiz.


"Ngapain??? siapa yang sakit???" tanya nenek Faiz heran.


"mau jenguk Buk Mawar nek...beliau masuk rumah sakit lagi..." jawab Faiz.


"Owh...kalau gitu nenek ikut ya...nenek juga pemgen jenguk Mawar..." ucap Nenek Faiz.


Makanan pun telah terhidang di atas meja, mereka pun menikmati sarapan pagi mereka dengan lahapnya apalagi Zahra dia memakan makanannya dengan lahap serta dengan porsi yang banyak.


Bersambung....


.


.


.


jangan lupa tinggalkan jejak ya readers yang baik hati...


# like...


# koment...

__ADS_1


# Vote...


# dan hadiah...


__ADS_2