Terpaksa Menikahi Kepsek Kejam

Terpaksa Menikahi Kepsek Kejam
Eps 73


__ADS_3

Jam 4.00 Subuh.


Zahra masih tertidur pulas, tak seperti biasanya Zahra masih nyenyak dalam tidurnya.


Faiz terbangun, dia melihat jam di dinding kmarnya telah menunjukkan jam 4 Subuh. Faiz mendekati tubuh istrinya yang masih po*** di baluti selimut.


Faiz melingkarkan tangannya ke pinggang Zahra, dia pun mengelus-elus perut Zahra yang sudah mulai membesar.


"Sehat selalu ya nak...Ayah akan selalu menjaga kalian..." bathin Faiz terus mengusap perit istrinya.


Zahra terbangun dari tidurnya karena merasa terusik dengan kelakuan suaminya.


Zahra menggenggam tangan Faiz, dia meletakkan tangan Faiz di bagian perutnya yang sangat terasa denyut jantung buah hatinya.


Faiz merasakan detakan jantung buah hatinya. Dia merasa sangat gembira dapat merasakan kehidupan buah hatinya yang masih berada di dalam rahim istrinya.


"Aku mencintaimu sayang..." bisik Faiz di telinga Zahra.


"Love you too kepsek kejamku..." balas Zahra lalu dia pun bangkit dari tidurnya.


"Aww..." pekik Zahra saat sadar tubuhnya masih polos. Dia pun mengambil handuk yang tergantung di samping lemari, lalu berlari kecil masuk ke kamar mandi.


Faiz tersenyum melihat tingkah Zahra. Senyum semakin mengembang saat mengingat dia menghukum Zahra sewaktu masih sekolah.


Tak berapa lama Zahra pun keluar dari kamar mandi. Zahra yang tahu suaminya juga masih polos, dia pun mengambilkan handuk untuk suaminya.


Zahra menghampiri Faiz dengan membawa handuk di tangannya.


Faiz yang masih ingin menikmati kebersamaannya dengan istrinya, menarik pinggang istrinya lalu mendudukkan Zahra di pangkuannya.


"Aku merindukanmu..." bisik Faiz.


Zahra mengernyitkan dahinya melihat tingkah suaminya.


"Kita kan ketemu setiap hari sayang..." ucap Zahra heran.


" Aku rindu masa-masa berdua denganmu..." ucap Faiz jujur.


Sejak merela pulang dari Faiz berbagai kejadian dan urusan yang harus di seleaaikannya membuat waktunya tersita dan jarang bisa berduaan.


"Iya sayang...sekarang Mas mandi dulu ya...bentar lagi azan subuh..." ucap Zahra sambil mencubit kecil hidung suaminya.


"Oke deh..." ucap Faiz lalu dia mengecup pipi Zahra.


Zahra pun berdiri membiarkan suaminya bangun dan melangkah menuju kamar mandi.

__ADS_1


Sambil menunggu Faiz mandi Zahra memakai pakaiannya, dia pun menyiapkan pakaian yang akan di kenakan Faiz.


Lalu dia pun bersiap-siap untuk sholat, sambil menunggu Azan, Zahra melakukan sholat sunat Fajar dan membaca Al-qur'an.


Faiz kekuar dari kamar mandi, dia yang melihat istrinya melantunkan indahnya ayat-ayat suci Al-qur'an, dia pun mengambil pakaiannya yang di telah di sediakan Zahra lalu mengenakannya.


Tak berapa lama Azan pun berkumandang, sebelum shalat subuh mereka melakukan sholat sunat sebelum subuh.


Setelah itu, mereka pun shalat subuh berjama'ah. Faiz mulai terbiasa menjadi imam untuk istrinya, suara indahnya membuat Zahra semakin khusyuk menunaikan ibadah sholat subuhnya.


Setelah selesai shalat, Faiz pun memimpin do'a-do'a terbaik untuk keluarga kecilnya serta keluarga besarnya.


Setelah berdo'a, Zahra meraih tangan suaminya lalu menyalaminya dan mencium punggung tangan suaminya.


Faiz pun mengecup kening istrinya tak lupa membacakan do'a terbaik buat istri dan anak-anaknya.


Setelah selesai beribadah, mereka pun bersiap-siap untuk keluar kamar menuju ruang makan untuk menikmati sarapan.


Di ruang makan, mang Uddin sudah duduk di sana, begitu juga dengan Siti yang duduk di samping mang Uddin.


"Ibuk...udah gimana ???" Tabya Zahra pada Siti.


" Ibuk udah mendingan, dan ibuk juga udah coba jalan..." jawab Siti sambil memperlihatkan kalau dia tak lagi menggunakan kursi roda.


"Alhamdulillah..." ucap Zahra dan Faiz serentak. lalu mereka ikut duduk bergabung dengan mang Uddin dan buk Siti.


Setelah itu Zahra pun mengambil makanan untuk dirinya, mereka oun menikmati sarapan dengan lahapnya.


Mang Uddin dan Siti tersenyum bahagia melihat Zahra yang sangat perhatian pada mereka, Walaupun Zahra sudah berjumpa dengan keluarganya. Sikap dan perhatiannya pada mang Uddin dan Siti sebagai orang tua angkatnya masih sama seperti biasanya.


Bagi Zahra mang Uddin dan Siti tetap kedua orang tuanya, karena merekalah yang membesarkan Zahra penuh dengan kasih sayang. Karena mereka juga lah yang hadir sebagai sosok ayah dan ibu di saat dia membutuhkan kasih sayang orang tua.


Setelah selesai makan, Pelayan langsung merapikan meja makan.


"Ra...kemarin Ridho telah mengurus segala urusan tentang perkuliahanmu...jika kamu mau kuliah kamu bisa kuliah senin depan..." ujar Faiz mulai membuka pembicaraan.


"Benarkah??" Zahra sangat senang dia bisa kuliah lagi.


"Iya Ra...tapi dengan syarat kamu akan di kawal oleh pengawal selama berada di luar...Karena hingga saat ini Aku belum bisa menemukan orang yang ingin mencelakai keluarga kita...." ujar Faiz lagi.


"Iya mas...Ara paham..." ucap Zahra.


Zahra senang bisa kembali kuliah, walaupun dia harus pergi dengan keadaan perut yang telah membesar, namun yang terpenting adalah cita-citanya.


Zahra juga sudah rindu dengan sahabatnya Alisya, yang selalu menjadi tempat dia berbagi.

__ADS_1


"Aku berangkat ke sekolah ya Ra..." ujar Faiz pamit.


"Iya mas..." Zahra melangkah menuju kamar mengambil tas kerja Faiz.


"Ini mas..." Zahra pun mengantar Faiz menuju teras, dia menyalami serra menciumi punggung tangan suaminya.


Faiz pun mengecup puncak kepala Zahra, dan tak lupa membacakan do'a-do'a terbaik.


"Aku berangkat ya..." ujar Faiz lalu dia pun melangkah menuju sekolah.


Zahra kembali masuk ke dalam rumah, dia pun bergabung dengan ibu dan bapaknya yang telah berpindah ke ruang keluarga.


Siti yang merasa bosan di dalam kamar meminta mang Uddin membantunya berjalan menuju ruang keluarga.


"Aku juga berangkat ya buk..." pamit mang Uddin pada Siti.


Siti mengangguk lalu meraih tangan suaminya, dan menciumi punggung tangan suaminya.


Walaupun mereka bukan termasuk orang yang berada, mereka selalu membiasakan diri saling mengasihi, sehingga cinta mereka masih utuh sampai saat ini.


"Ra...bapak berangkat dulu..." pamit mang Uddin.


Zahra pun menyalami bapaknya, dan tak lupa mencium punggung tangan bapaknya.


Faiz memang menghargai mang Uddin sebagai orang tuanya di rumah, namun mang Uddin tak besar kepala, walau bagaimana pun mang Uddin tetap bawahan menantunya itu jika berada di sekolah.


Mang Uddin adalah pekerja yang gigih, dan sangat bertanggung jawab. Saat ini mang Uddin di bantu oleh dua orang pekerja lainnya yang sengaja di tambah oleh Faiz agar ayah mertuanya tak lagi sesibuk biasanya.


Dan Mang Uddin lah sebagai ketua mereka, mang Uddin yang mengatur dan mengajari dua orang pekerja yang lainnya dalam mengelola kebersihan sekolah.


Bersambung....


.


.


.


jangan lupa tinggalkan jejak ya readers yang baik hati...


# like...


# koment...


# Vote...

__ADS_1


# dan hadiah


__ADS_2