
Zahra sangat merindukann suaminya saat ini, terlebih dari bawaan orok yang selalu ingin berada di dekat ayahnya.
"Zahra..." panggil bu Mawar lalu ikut duduk di bangku taman bersama Zahra.
"Iya bu...apa yang kamu pikirkan???" tanya Bu Mawar yang melihat Zahra tampak bersedih.
"Aku merindukan keluargaku bu..." jawab Zahra jujur.
"Maafkan ibu ya...jika saja ibu tidak meminta bantuanmu..." wajah Bu Mawar mulai sendu merasa bersalah pada Zahra.
"Tidak apa-apa bu..." jawab Zahra pada bu Mawar, dia pin berusaha menampakkan wajah cerianya agar bu Mawar tidak bersedih.
Di sisi lain Zahra selalu ingin berada di dekat bu Mawar, namun di satu sisi lainnya dia merindukan sosok suaminya dan keluarganya.
Dia tak menyangka liburan indah yang menjadi impiannya menjadi perpisahan dirinya dengan suaminya dan keluarganya.
"Kita sarapan yuk...ibu mau pergi keluar kamu temani ibu ya..." ajak bu Mawar, setiap hari setelah subuh Zahra selalu duduk di taman belakang rumah Mawar.
Zahra mengangguk lalu mengikuti langkah Mawar yang masuk ke dalam rumah menuju ruang makan.
Selama Zahra berada di rumah Mawar, dia memang makan banyak namun dia tak mengalami mual dan pusing seperti wanita hamil lainnya. Dia masih beraktivitas seperti biasa tanpa gangguan gejala-gejala kehamilan.
Stella yang telah berada di ruang makan menghidangkan makanan di atas meja. Lalu mereka pun makan bersama.
"Stella...kita jalan yuk...sekalian kita mencari informasi tentang keluarga Zahra..." ujar Mawar pada Stella di sela-sela makannya.
Dalam seminggu ini Mawar hanya berdiam diri di rumah karena kondisi kesehatannya sedang memburuk, namun hari ini dia tampak sudah fit dari hari sebelumnya.
******
Bungalow milik keluarga Hermawan.
Faiz tengah terbaring lemah, kesehatannya menurun karena makan tak teratur, serta pikirannya yang sangat terbebani.
Faiz tersentak dari tidurnya, dia langsung bangkit dari tidurnya namun kepalanya yang sangat pusing membuat dirinya kembali roboh terbaring di atas kasur.
Tubuh kekarnya kini berubah kurus tak seperti dulu. Rambutnya yang rapi kini terlihat acak-acakkan di tambah dengan Wajahnya yang kusut.
Nenek Faiz datang menghampiri cucunya sambil membawakan makanan serta obat.
"Fa...kamu makan dulu ya...lalu minum obat..." bujuk nenek Faiz pada cucunya.
"Nek...Fa gak mau makan...Fa gak mau minum obat..." tolak Faiz yang sudah putus asa dalam mencari istrinya.
"Kamu gak boleh bicara seperti itu Fa...Kamu harus yakin Zahra baik-baik saja..." nasehat nenek Faiz.
"Tapi sampai kapan Fa harus bersabar nek...hiks..." Faiz mulai menangis rasa hatinya mulai tak kuat lagi menahan rasa rindu dan luka.
"Selama kamu masih yakin Zahra baik-baik saja maka Zahra akan baik-baik saja..." Nenek Faiz terus memberi semangat pada cucunya agar terus kuat menghadapi cobaan ini.
Tok...tok...
__ADS_1
pintu kamar Faiz di ketuk pelayan.
"Masukk..." perintah Nenek Faiz.
"Nyonya ada tamu di bawah...tuan masih belum pulang mencari nona Zahra..." ujar Pelayan.
"Siapa??" tanya nenek Faiz.
"Itu teman nyonya yang biasa datang kesini..." jawab pelayan.
"Suruh dia masuk..." perintah Nenek Faiz, pelayan yang hendak keluar di tabrak seseorang.
"Mas Faiz...." pekik Zahra.
Zahra yang dari awal masuk kedalam pekarangan bungalow milik Hermawan merasa pernah datang ke tempat ini, setelah dia melihat foto Kakek dan nenek Faiz yang terpajang dia langsung berlari menaiki anak tangga menuju kamar Faiz.
Stella dan Mawar melihat sikap Zahra hanya bingung tak tahu harus bagaimana.
Zahra yang sangat merindukan suaminya, tanpa mengetuk pintu langsung masuk memanggil nama suaminya saat melihat Faiz terbaring lemah.
Faiz yang mendengar suara yang sangat di rindukannya langsung bangun melihat kedatangan Zahra.
Nenek Faiz yang terkejut dengan semua ini merasa senang atas kembalinya cucu menantunya.
"Ara....itu kamu Ra...?" tanya Faiz yang belum yakin bahwa saat ini istrinya telah berada di depannya.
Faiz yang tadi lemah pun, tiba-tiba dia merasa sehat dan langsung berdiri memeluk tubuh istrinya.
Begitu juga Zahra langsung memeluk suaminya melepaskan rindu mendalam yang selama ini menyiksa dirinya.
Mawar pun ikut kaget saat melihat Zahra tengah berpelukkan dengan Faiz.
Dia tak menyangka tujuannya yang hanya ingin berjumpa dengan nenek Faiz teman serta kakak angkatnya yang telah lama tak di kunjungi menjadi pertemuan Zahra dengan suaminya.
Mawar pun bersyukur setelah satu bulan lebih mereka bersusah payah mencari informasi keluarga Zahra dan kini keluarga Zahra berada di hadapan mereka.
"Mawar...!!!" sapa Nenek Faiz saat melihat Mawar berada di depan pintu kamar Faiz.
"Iya mbak...mbak apa kabar...??" tanya Mawar masih menatap pada dua insan yang masih berpelukkan.
"Baik...kita ke bawah yuk..." Nenek Faiz mengajak Mawar menuju ruang tamu memberi ruang untuk Zahra dan Faiz.
Setelah puas mereka melepas rindu, Faiz menarik Zahra menuju tempat tidur dan duduk berhadapan dengan istrinya.
"Ara...kamu kemana aja??? Mas sangat merindukanmmu..." lirih Faiz.
"Ara juga rindu sama mas Faiz...." balas Ara kembali memeluk tubuh suaminya.
Zahra merasakan ada yang beda dari suaminya, tubuh Faiz yang semakin kurus membuat Zahra sedih.
"Mas...kenapa mas Faiz bisa seperti ini...???" tanya Zahra sendu menatap seluruh tubuh Faiz yang tampak acak-acakkan.
__ADS_1
"Semua ini karena akubkehilangan dirimu Ra...semangat hidupku hilang tanpa kehadiranmu di sampingku Ra..." ucap Faiz jujur.
Zahra terharu mendengarkan ucapan Faiz,
"Mas...Ara juga merasakan hal yang sama...bersyukur Ara berjumpa dengan bu Mawar yang baik hati..." ucap Zahra.
"Ibu Mawar merawat Zahra seperti merawat putrinya sendiri..." jelas Zahra lagi.
Zahra melihat makanan yang masih ada di atas nampan.
"Mas Faiz belum makan ya...???" Zahra mengambil piring makanan untuk Faiz, dia pun meyuapi Faiz makan.
"Makan duku ya mas..." ujar Zahra sambil menyodorkan sesendok nasi ke mulut Faiz.
Faiz pun membuka mulutnya, dia makan dengan lahapnya karena penyemangat hidupnya telah berada di hadapannya.
Zahra menyuapi Faiz hingga makanan di piring habis, setelah itu Zahra menyuruh Faiz meminum obat agar Faiz cepat sembuh.
Setelah selesai makan dan minum obat, Zahra menyurih Faiz untuk istirahat.
Faiz pun meminta Zahra untuk berbaring di sampingnya. Zahra menuruti keinginan suaminya dia pun merebahkan tubuhnya dalam dekapan suaminya.
Zahra mengambil tangn Faiz lalu meletakkannya di atas perutnya yang tampak sedikit membesar.
"Mas...anak-anakmu juga merindukanmu..." lirih Zahra di telinga Faiz.
Faiz pun meraba perut istrinya, dia dpat merasakan detak jantung anak-anaknya.
Faiz menatap dalam istrinya, tatapan itu turun ke bibir mungil istrinya, dia mengecup pelan bibir yang di rindukannya. Semakin lama ci***n yang di berikannya semakin dalam.
Zahra yang juga merindukan sentuhan suaminya membalas ci***n dari suaminya.
Mereka pun hanyut dalam kerinduan, mereka pun terbuai dalam kenikmatan memadu kasih yang telah lama tak mereka rasakan.
******
Bersambung....
.
.
.
w^jangan lupa tinggalkan jejak ya readers yang baik hati...
# like...
# koment...
# Vote...
__ADS_1
# dan hadiah...
terimakasih pembaca setiaku...