
Flash back off...
Zahra hanya diam di dalam pelukan Faiz, dia membenamkan wajahnya ke dada bidang Faiz.
"tetaplah seperti ini..." pinta Zahra di dalam hati.
Setelah puas memeluk tubuh istrinya, Faiz melepaskan rangkulannya. Saat itu Zahra mendongakkan kepalanya melihat wajah suaminya.
Faiz kaget, saat melihat Zahra yang sudah bangun dari tidurnya.
"Kamu udah bangun Ra..." tanya Faiz hati-hati takut Zahra kembali histeris.
"Maafkan aku ya Ra..." Faiz kembali meminta maaf pada Zahra.
"lupakanlah...Ara akan mencoba melupakan yang telah terjadi selama ini..." ucap Zahra.
Hati Faiz bagaikan di sayat sembilu, kata-kata Zahra begitu dalam menusuk hatinya. Membuat Faiz semakin jatuh dalam jurang penyesalan.
Zahra bangun dari tidurnya, dia duduk di ranjang dan menyandarkan tubuhnya.
"Mas...Ara boleh minta sesuatu...??" tanya Zahra pada Faiz.
"Apa Ra...??"
"Kalau Mas tidak bisa menolak perjodohan ini...Ara mohon mas jangan sakiti Ara lagi... Ara akan tetap melayani mas dengan sebaiknya..." tutur Zahra.
Faiz masih diam...
"Walaupun mas Faiz membenci Ara, Ara gak bisa menolak perjodohan ini, karena Papa sama mama udah banyak berbiat baik sama Ara....mungkin dengan ini Ara bisa membalas semua hutang budi Ara sama Papa dan mama...." Zahra mengeluarkan uneg-uneg yang ada di dalam hatinya.
Faiz makin terpuruk mendengar kata-kata Zahra, Dia tak bisa menjawab apa pun.
"Jika mas tak sanggup berhenti menyakiti Ara...Ara mohon, tolong ceraikan Ara..." Zahra meneteskan air matanya.
Perlakuan Faiz padanya tidak hanya menyakiti badannya, namun juga menyakiti hatinya.
Faiz masih tak bergeming, karena melihat reaksi Faiz yang tidak menjawab setiap perkataannya.
Zahra pun melangkah keluar kamar, dia membiarkan Faiz berfikir tentang semua yang di ucapkannya.
*******
Keesokan harinya di hari minggu...
Pagi ini Alisya berniat hendak menemui sahabatnya, Alisya merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan pernikahan Zahra dan Faiz.
Alisya berangkat dari rumahnya menggunakan mobil pribadinya, Alisya sengaja mampir ke rumah buk Siti orang tua Zahra, karena menurut Alisya tidak mungkin dia lanhsung mencari Zahra ke rumah kediaman suaminya.
Alisya telah sampai di depan gerbang sekolah, untuk sampai ke rumah Alisya harus melewati gang sempit di samping gerbang sekolah.
Dia terus nenyusuri gang sempit itu, hingga kini dia telah berada di depan sebuah rumah sederhana milik mang Uddin, penjaga sekolah dan tukang kebun sekolah Harapan bangsa.
Karena Alisya merupakan sahabat Zahra, jadi Alisya sudah biasa berkunkung je rumah mang Uddin.
Tok...tok...tok...
__ADS_1
Alisya mengetuk pintu rumah, "Assalamu'alaikum..." ucapnya seraya menanti sahutan dari dalam rumah.
"Wa'alaikumsalam..." jawab buk Siti dari dalam runah.
Siti melangkah menuju pintu untuk nelihat tamu yang datang.
"Alisya..." seru Siti saat melihat sahabat Zahra berdiri di depan rumah.
"pagi buk....Ibuk apa kabar...??" sapa Alisya ramah pada wanita separuh baya itu.
"Alhamdulillah Baik nak...seperti kamu lihat..." jawab buk Siti.
"Silahkan masuk...duduk dulu nak..." ucap buk Siti ramah menyambut kedatangan Alisya.
"Iya buk...makasih buk..." ucap Alisya.
"Buk...Zahra ada di rumah...???" tanya Alisya berpura-pura belum tahu tentang pernikahan Zahra.
"Mhm...Zahra...Zahra sekarang udah gak tinggal disini nak..." jelas buk Siti.
"Kenapa emangnya buk???" tanya Alisya berusaha mengungkap kenyataan pernikahan Zahra.
"Zahra udah menikah...dan dia saat ini tinggal di rumah suaminya...." jelas Siti jujur.
Menurutnya tidak ada yang perlu di sembunyikan karena cepat atau lambat teman-teman Zahra juga akan tahu tentang pernikahan Zahra.
"Apa...ibu serius...sama siapa buk???" lagi-lagi Alisya berpura-pura tidak tahu.
"Sebulan yang lewat Zahra menikah dengan Alfaiz Hermawan putra dari bapak Adrian Hermawan..."
"Zahra menerima pernikahan itu karena permintaan dari tuan Adrian..." ucap Siti terus terang pada Alisya.
"Mhmm...trus gimana cara Aku bisa ketemu sama Zahra buk...???" tanya Alisya langsung.
"Ya udah tunggu bentar ya...ibuk ganti baju dulu... biar nanti ibuk yang ngantarin kamu ke rumah mertua Zahra..." ujar Siti
"Iya buk..."
Siti pun masuk ke dalam kamar untuk mengganti pakaiannya.
"Yuuk..." ajak Siti pada Alisya.
Mereka pun melangkah menuju kediaman Adrian. Saat mereka sampai di depan rumah Adrian.
Tok...tok...tok...
Siti mengetuk pintu rumah Adrian, tak berapa lama keluar seorang pelayan membuka pintu.
"Eh...Ibuk Siti...silahkan masuk buk..." Ucap Pelayan itu sopan pada Siti.
"Iya..." ucap Siti dan melangkah masuk ke dalam rumah menuju ruang tamu.
"Silahkan duduk dulu ya buk..." Pelayan itu mempersilahkan mereka duduk.
Tak berapa lama menunggu Rahayu keluar dari kamarnya dan menghampiri mereka.
__ADS_1
"pagi buk Siti....apa kabar...???" sapabRahayu sopan pada buk Siti.
"Pagi nyonya..." ucap Siti ramah pada Rahayu.
Rahayu melirik ke arah Alisya seolah dia mempertanyakan keneradaan Alisya.
"Eh iya nyonya...kenalkan ini Alisya...Alisya adalah sahabat Zahra, dia ingin berjumpa dengan Zahra..." jelas Buk Siti yang mengerti raut wajah Rahayu melirik Alisua.
"Pagi nyonya..." sapa Alisya ramah. Lalu mengulurkan tangannya menyalami tangan Rahayu.
"pagi nak...." sapa Rahayu ramah.
"Mhm...mau ketemu Ara ya...??? mhm...kebetulan kemarin Zahra dan Faiz pergi jalan...sampai pagi hari ini belum pulang...Mungkin mereka menginap di hotel atau apartmen milik Faiz..." Jelas Rahayu karena sejak kemarin Zahra dan Faiz belum pulang ke rumah.
Alisya tampak sangat kecewa, karena dia tak dapat menemui Zahra, yang dia ingin sekali berbicara dengan sahabatnya. Alisya merasa ada sesuatu yang di sembunyikan Zahra darinya.
"Mhm...ya udah Nyonya...gak apa-apa...lain kali Alisya datang lagi buat menemui Ara..." ucal Alisya sendu karena kecewa.
"Kalau begitu kami pamit dulu ya nyonya..." Ucap Siti lalu mengajak Alisya untuk berdiri dan meninggalkan kediaman Adrian.
Dengan hati kecewa, Alisya kembali pulang. Namun dia juga bersyukur dapat informasi penting dari buk Siti.
Alisya tak lagi ikut dengan buk Siti menuju rumah mang Uddin, Dia langsung menuju mobilnya yang terparkir di depan gerbang Sekolah.
"Buk...Alisya pamit ya..." ucap Alisya sebelum dia memasuki mobil miliknya.
"Iya nak...hati-hati..." sahut Siti melepas kepergian Alisya.
******
Di Universitas XX telah berkumpul ribuan mahasiswa dan mahasiswi baru. Mereka berbaris di tengah lapangan sesuai jurusan masing-masing dengan attribut yang telah di tentukan.
Alisya dan Reynald telah ikut berbaris di lapangan, namun mereka belum melihat kehadiran Zahra. Alisya semakin cemas dengan keadaan Zahra. Apakah mungkin Zahra tidak jadi kuliah di Universitas yang sama dengannya.
Bersambung....
.
.
.
.
jangan lupa tinggalkan jejak ya readers yang baik hati...
# like...
# koment...
# Vote...
# dan hadiah...
terimakasih pembaca setiaku...
__ADS_1