
"Ibu Bahagia...jika non Alita benar-benar kakakmu Ra...dan itu artinya kamu akan berjumpa dengan ibu kandungmu Ra..." ujar Siti lagi.
"Tapi ibuk mohon...tetaplah menjadi putri ibuk, walaupun nanti kamu telah berjumpa dengan ibu kndungmu..." gumam Siti yang masih terdengar jelas oleh Zahra.
Zahra pun langsung memeluk Siti, dia pun tak kuasa menahan air matanya.
"Walau bagaimana Ibuk tetap ibu Ara buk...walaupun maut memisahkan kita ibuk tetap ibu Ara...ibu yang dengan tulus membesar Ara dengan penuh kasih sayang...hiks..." Zahra terharu.
Siti pun ikut menangis memeluk erat tubuh putri kecilnya yang kini telah tumbuh dewasa.
"Ada apa ini??" tanya mang Uddin yang baru saja masuk kamar heran melihat istri dan putrinya berpelukkan dan menangis.
" Eh...bapak...udah pulang???" tanya Siti tak menghiraukan pertanyaan suaminya sambil mengusap air matanya.
"Sudah...ini ada apa...kok Kesayangan bapak pada nangis..." ujar Mang Uddin pada istri dan putrinya.
Mang Uddin pun mengambil kursi untuk duduk di samping tempat tidur ikut nimbrung dengan istri dan putrinya.
"Ada Apa Ra...?? " tanya mang Uddin lagi pada Zahra.
"Ih...bapak kepo..." ujar Zahra sambil mengusap air matanya.
Mang Uddin tersenyum, lalu menatap dalam pada istrinya meminta penjelasan.
"Begini pak...Bapak ingat non Alita buk dosen yang tinggal di gang sebelah...??" tanya Siti pada mang Uddin.
"Ingat...yang datang sabtu kemarin ke rumah kan??" jawab mang Uddin.
"Iya pak...Alita cerita, kalau dia pernah kehilangan Adik...15 tahun yang lalu...tepat dengan kita menemukan Zahra pak..." jelas Siti pada Mang Uddin.
"Mana tahu Zahra adiknya non Alita itu buk..." ujar Mang Uddin menanggapi cerita istrinya.
"Maka dari itu pak...non Alita juga bilang kalau adiknya memiliki tanda lahir di pergelangan tangannya...yang sama persis dengan tanda lahir yang di miliki Ara..." jelas Siti lagi.
"Alhamdulullah...semoga dia benar kakak Ara...dan Ara akan berjumpa dengan keluarga kandungnya..." mang Uddin bahagia.
"Bapak senang ya kalau Ara kembali sama keluarga kandung Ara..." sungut Ara sedih dengan respon yang di berikan mang Uddin.
"Ya senanglah Ra...semua orang pasti ingin selalu bersama keluarganya..." jawab mang Uddin bingung melihat Zahra sedih.
"Berarti bapal gak sayang Ara lagi...!!!" gerutu Zahra manja.
"Walaupun kamu telah berjumpa dengan keluarga kandungmu...Ara akan tetap menjadi putri bapak yang sangat bapak sayangi..." ujar Uddin pada Zahra sambil mengelus kepala putrinya.
__ADS_1
Zahra pun langsung memeluk tubuh renta mang Uddin yang kini tak sekokoh dulu lagi, tubuh yang berjuang mencari penghidupan untuk Zahra.
"Makasih pak...Ara bersyukur bisa berjumpa dengan kalian...jika Ara bisa memehon untuk terlahir lagi...Ara akan memohon bisa terlahir dari seorang Ayah dan ibu seperti kalian..." ujar Zahra terharu memdengar ucapan Mang Uddin.
"Iya nak...bapak dan ibuk akan selalu menjadi ayah dan ibumu...walaupun kamu kembali pada keluarga kandungmu nantinya..." ujar Mang Uddin lagi.
Mereka pun tersenyum bahagia, kasih sayang yang di berikannya pada gadis mungil yang tidak mereka tahu dari mana asalnya menjadikan sosok gadis itu menjelma menjadi wanita yang sangat menyayangi mereka.
"Terima kasih pak buk...." Zahra memeluk kedua orang tua angkatnya.
Tok...tok...tok...
Pintu rumah mang Uddin di ketuk, mengusik suasana haru biru yang tengah terjadi di dalam keluarga kecil mang Uddin.
"Ada tamu...bapak buka pintu dulu ya..." ujar mamg Iddin lalu mang Uddin pun keluar menuju pintu utama, dan membukakan pintu rumahnya.
Saat pintu terbuka tiga orang wanita berdiri di depan rumahnya, 2 orang wanita yang pernah menjenguk putrinya di rumah sakit dan satu orang lagi adalah Alita, buk doaen yang tinggal di gang sebelah komplek perumahan mang Uddin.
Mang Uddin heran dengan kedatangan mereka.
"Zahranya ada pak...???" tanya Alita pada mang Uddin yang masih heran dengan kedatangan mereka.
"Mhm...ada...ada perlu apa ya dengan Zahra...??" tanya mang Uddin berharap penjelasan mereka.
Mang Uddin mengambil kertas tersebut, lalu membacanya. Mang Uddin pun tak sadar air matanya mengalir begitu saja membasahi pipinya. Dia bahagia dengan kenyataan yang ada di hadapannya.
"Ma...mari masuk...Ara sedang di kamar ibunya..." ujar mang Uddin pada tiga wanita itu.
Mereka pun melangkah mengikuti langkah mang Uddin menuju kamar tempat Siti dan Zahra berada.
"Siapa pak???" tanya Zahra saat melihat mang Uddin masuk ke dalam kamar.
"Zahraaa..." Sahut buk Mawar menghampiri Zahra dan langsung memeluk tubuh Zahra
Zahra yang masih bingung dengan sikap buk Mawar semakin bingung saat mendengar ucapan buk Mawar.
"Zahra...kamu anak mama nak...akhirnya mama bisa berjumpa denganmu..." lirih Mawar.
Zahra melepaskan pelukkan buk Mawar, dia menatap mang Uddin dan buk Siti penuh tanda tanya.
Mang Uddin pun memberikan secarik kertas yang di berikan Fathiya padanya tadi pada Zahra.
Zahra pun membaca kertas yang di berikan mang Uddin padanya. Zahra sangat bahagia saat membaca kertas itu, di kertas itu tertera bahwa buk Mawar adalah ibu kandung Zahra.
__ADS_1
Zahra menoleh pada mang Uddin, mang Uddin mengangguk meyakinkan Zahra bahwa isi kertas itu adalah nyata.
Zahra pun jatuh di pelukkan buk Mawar, dia sangat bahagia bisa berjumpa dengan ibu kandungnya, saat ini dia mengerti dengan perasaan yang di rasakannya saat bersama dengan buk Mawar. Zahra yang selalu rindu berada di dekat Mawar sebuah ikatan seotang anak pada ibu kandungnya.
Fathiya dan Alita pun menghampiri Mawar dan Zahra, mereka pun saling berpelukkan.
Tak terasa air mata haru menetes di pipi Mang Uddin dan Siti, mereka ikut bahagia dengan kebahagiaan yang di dapat oleh putri angkatnya.
"Maafkan mbak ya dek...karena mbak lengah menjagamu, akhirnya kamu terpisah dari kami..." ujar Fathiya mencium kening Zahra.
"Ini semua terjadi karena takdir mbak...Allah lah yang berkehendak hingga kita terpisah... dan Allah lah yang berkehendak sehingga kita dapat berkumpul kembali..." ujar Zahra.
"Iya dek....aku senang bisa ketemu sama adikku lagi..." ujar Alita menimpali.
Mereka pun hanyut dalam kebahagiaan yang tak terkira.
"Ehem...."
Setelah di rasa mereka puas melelaskan rasa yang terpendam selama ini, Faiz pun berdehem, memberitahukan semua orang tentang keberadaannya di depan pintu kamar Siti.
Semua orang pun menoleh pada asal suara, Zahra yang melihat suaminya trlah datang langsung berlari ke pelukkan Faiz.
"Mas...ternyata buk Mawar mama kandungku mas..." ucap Zahra bahagia.
"Alhamdulillah sayang...akhirnya kamu bisa berkumpul dengan keluarga kandungmu..." ujar Faiz mengelus kepala Zahra.
Bersambung....
.
.
.
jangan lupa tinggalkan jejak ya readers yang baik hati...
# like...
# koment...
# Vote...
# dan hadiah
__ADS_1