
Empat belas jam perjalanan, mereka pun sampai di Indonesia pada pukul 10 pagi. Di bandara Ridho langsung yang menjemput Zahra dan Faiz.
Ridho akan menjelaskan semua yang terjadi di sekolah dalam minggu ini.
"Hai bro..." sapa Ridho merangkul tubuh sahabatnya. Ridho sangat bahagia bisa berjumpa kembali dengan sahabatnya sekaligus atasannya ini.
Rencana awal mereka yang hanya berlibur dalam 2 minggu menjadi lewat satu bulan karena peristiwa hilangnya Zahra di Paris.
Akhirnya Ridho dapat bernafas lega, karena semenjak pak Adrian kurang sehat, Ridho lah yang menghandle segala sesuatunya yang berhubungan di sekolah.
Ridho membantu Faiz membawakan barang-barangnya lalu meletakkannya di bagasi mobil.
Zahra melangkah mengikuti dua pria yang kini berjalan di sampingnya menuju parkiran mobil.
Di mobil Zahra duduk di belakang, sedangkan Faiz duduk di samping Ridho, karena bisan mendengarkan pembicaraan antara suaminya dan sahabat suaminya itu, Zahra pun memejamkan matanya.
"Ceritakan padaku..." ujar Faiz pada Ridho saat dia melihat istrinya tengah memejamkan matanya.
"Ada 3 orang Siswa yang membully satu orang siswa yang kurang mampu...dia bisa di terima di sekolah ini karena bantuan beasiswa...lalu 2 orang teman siswa ini tidak tetima sahabatnya di bully mereka pun membalas perbuatan 3 orang itu maka terjadilah pertengkaran antara mereka..."
"setelah di sidangkan mereka pun di hukum dengan di skors selama satu minggu...dan ternyata orang tua mereka yang mendapati anak-anaknya tidak sekolah gara-gara di skors mlaah protes kepada yayasan..." jelas Ridho.
Sebenarnya masalahnya tidak terlalu rumit hanya saja, wali murid yang di hadapi itu merupakan seorang anggota parlemen yang memiliki kekuasaan untuk menutup sekolah Harapan Bangsa dengan sekejap mata.
Faiz mengangguk pelan paham dengan penjelasan yang di berikan oleh Ridho.
Faiz mulai mencerna dan berfikir, langkah apa yang akan di laluinya agar siswa itu tetap di beri hukuman sebagai pelajaran untuk siswa yang lainnya. Dan menghadapi emosi orang tuanya.
Tiga puluh menit perjalanan mereka pun sampai di rumah, Zahra terbangun dia pun turun dari mobil begitu juga dengan Faiz.
Sebelum masuk rumah, Faiz menyuruh Ridho untuk duluan pergi ke sekolah. Sedangkan dia menghampiri Zahra.
"Sayang...kamu masuk ke rumah duluan ya...nanti kalau mama papa bertanya tentang aku, katakan aku langsung ke sekolah karena ada urusan yang aku urus..." pesan Faiz pada istrinya, Zahra mengangguk paham lalu Faiz pun meninggalkan Zahra yang masih menatap punggung suaminya hingga menghilang di balik pagar..."
"Assalamu'alaikum..." ucap Zahra saat melangkah masuk ke dalam rumah.
Zahra masuk di sambut oleh pelayan.
"Nona Zahra...nona sudah pulang???" tanya pelayan lalu membantu Zahra membawa barang-barangnya menuju kamar.
"Mama mana bi...?" tanya Zahra heran melihat keadaan rumah yang sepi.
"Nyonya sedang di kamar non...tuan Adrian kurang sehat..." jawab pelayan itu lalu dia pun berlalu meninggalkan Zahra.
Zahra yang khawatir dengan keadaan papa mertuanya langsung melangkah menuju kamar mertuanya.
__ADS_1
Tok...tok...tok...
Zahra mengetuk pintu kamar mertuanya.
"Masuk..." teriak Rahayu dari dalam kamar, mendengar teriakan itu, Zahra pun membuka pintu kamar.
Zahra mendapati Adrian terbaring lemah di atas ranjang. Zahra pun melangkah menghampiri mereka. Menyalami Rahayu dan Adrian.
"Assalamu'alaikum ma...pa..." ucap Zahra.
Rahayu yang masih tidak percaya dengan kedatangan Zahra langsung memeluk menantunya yang sangat di rindukannya.
"Wa'alaikumsalam...Ara....kamu udah pulang nak...???" ujar Rahayu.
"Iya ma..." jawab Zahra.
"Faiz mana??" tanya Rahayu heran karena hanya mendapati menantunya yang masuk ke dalam kamarnya.
"Mas Faiz langsung ke sekolah ma...ada urusan yang harus di selesaikannya..." jawab Zahra.
"Sebegegitu pentingkah...???" tanya Rahayu heran, karena beberapa hari ini Adrian tidak dapat datang ke sekolah karena kesehatannya yang memburuk.
"Papa bagaimana ma...???" tanya Zahra mengalihkan pembicaraan.
"Kenapa kalian pulang nggak kasih kabar dulu...???" tanya Adrian heran.
"Nggak apa-apa pa...kata mas Faiz cuma ingin kasih kejutan buat mama sama papa..." ujar Zahra berbohong tak ingin papa Adrian memiliki fikiran dengan masalah yang tengah di hadapi oleh sekolah.
"Owh...kamu udah makan nak...???" tanya Rahayu.
Zahra menggelengkan kepalanya.
"Ya udah kamu bersih-bersih dulu...habis itu kamu makan ya...nggak usah tunggu Faiz kamu kan lagi mengandung...kasihan anak kamu kelaparan..." ujar Rahayu sambil mengelus perut Zahra yang tampak sedikit membuncit.
"Iya ma...kalau gitu Ara ke kamar dulu ya ma...pa..." ucap Zahra pamit.
Lalu Zahra pun keluar dari kamar mertuanya, dia pun melangkah menuju kamarnya. Sesampai di kamarnya, Zahra langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri agar badannya segar.
Setelah mandi Zahra pun memggunakan pakaiannya lalu dia pun turun melangkah menuju ruang makan untuk makan.
Di ruang makan Rahayu telah menyuruh pelayan untuk menyiapkan makanan untuk Zahra.
Sebelum makan, Zahra mendengar langkah kaki Faiz yang terburu-buru masuk ke dalam rumah.
Zahra pun melangkah keluar ruang makan, dia melihat Faiz menuju kamarnya. Tanpa pikir panjang Zahra yang melihat raut wajah Faiz yang tegang membuat Zagra khawatir lalu menyusul Faiz menuju kamar.
__ADS_1
Rahayu yang melihat itu heran, dia pun nembiarkan Zahra menyusul suaminya.
Di dalam kamar, terlihat Faiz menopang kepalanya dengan kedua telapak tangannya. Zahra pun menghampiri Faiz lalu memegang pundak suaminya.
"Ada apa Mas...???" tanya Zahra pada Faiz.
Faiz yang melihat Zahra terlihat khawatir berusaha menenangkan dirinya. Dia mencoba tersenyum menutupi masalah yang kini berada di pundaknya.
"Kamu dari mana sayang..." tanya Faiz pada istrinya mengalihkan pembicaraan.
"Dari ruang makan...kamu ada masalah apa mas...???" tanya Zahra lagi yang khawatir dengan masalah di hadapi suaminya.
"Nggak apa-apa sayang...kamu udah makan...??" tanya Faiz lagi.
"Belum...waktu Ara mau makan, Ara melihat mas Faiz masuk rumah, makanya Ara nyusul mas Faiz mau ngajakin makan bareng..." jawab Zahra jujur.
"Mhm...makasih ya sayang...tapi kamu makan sendiri dulu ya..." bujuk Faiz yang tiba-tiba teringat sesuatu.
"tapi mas Faiz yakin nggak apa-apa...???" tanya Zahra meyakinkan Faiz karena rasa khawatirnya dia takntega meninggalkan suaminya.
"Nggak apa-apa..."Faiz memgembangkan senyumannya.
Zahra pun kembali melangkah menuju ruang makan, Dia berusaha berfikir positif dengan masalah yang di hadapi Faiz, dan berharap Faiz segera dapat menyelesaikan masalah yang tengah di hadapinya.
Kali ini Zahra makan tak bersemangat, karena dia sudah terbiasa makan di dampingi oleh suaminya.
Zahra hanya memakan makanan secukupnya sekedar mengisi perutnya yang lapar yang belum terisi sejak tadi pagi.
Bersambung....
.
.
.
jangan lupa tinggalkan jejak ya readers yang baik hati...
# like...
# koment...
# Vote...
# dan hadiah...
__ADS_1