Terpaksa Menikahi Kepsek Kejam

Terpaksa Menikahi Kepsek Kejam
Eps 87


__ADS_3

Sebelum makan siang, Rahayu menyuruh pelayan ke rumah mang Uddin mengajak mang Uddin dan Siti makan siang bersama di kediaman Adrian.


"Assalamu'alaikum..." Ucap Mang Uddin dan Siti saat masuk ke dalam rumah Adrian, Zahra yang mendengar suara bapak dan ibunya langsung berdiri menyambut mereka.


"Ibu...bapak..." pekik Zahra yang sangat merindukan kedua orang tua angkatnya itu.


Zahra melangkah menfhampiri mang Uddin dan buk Siti.


Zahra langsung memeluk ibunya.


"Ara kangen sama ibuk..." lirih Zahra.


"Kamu baik-baik saja kan??" tanya Siti khawatir pada putrinya.


"Ara baik buk...ini semua karena kakek yang menyelamatkan Ara..." ujar Zahra lalu mengajak Bapak dan ibunya menuju ruang keluarga untuk menemui kakek dan nenek Faiz.


"Buk...Pak...kenalkan ini kakek dan nenek Faiz... Kakek dan nenek tinggal di Paris buk...pak..." ujar Zahra memperkenalkan kakek dan nenek Faiz.


Siti dan Mang Uddin pun menyalami kakek dan nenek debgan hormat.


"Terima kasih tuan...tuan sudah menyelamatkan putri kami..." ujar mang Uddin sopan.


"Zahra adalah cucu kami...dan sudah kewajiban kami untuk menjaganya..." ujar Hermawan dengan berwibawa.


"Kalian sangat beruntung memiliki putri yang cantik paras dan cantik hatinya seperti Zahra..." puji Hermawan.


"Entahlah tuan...Zahra tumbuh seperti ini tak lepas dari didikan tuan Adrian dan nyonya Rahayu..." lugas buk Siti.


Mereka pun tersenyum mendengar ucapan Siti.


"Ya udah kita makan siang yuk... hidangannya sudah siap...!!" ajak Rahayu pada seluruh keluarga.


Mereka pun berpindah ke ruang makan, di ruang makan para istri mengambilkan makanan untuk suami mereka, setelah itu baru mengambil makanan untuk diri sendiri.


Mereka menyantap hidangan dengan lahap, keluarga besar yang di liputi rasa syukur karena masalah yang menghadang mereka kini sudah dapat di selesaikan.


Kebahagian tersirat di wajah mereka, terlebih Faiz dan Zahra. Mereka bersyukur memiliki seorang kakek yang siaga menjaga keluarga besarnya.


******


Mawar dan kedua putrinya mendapat kabar bahwa Zahra telah di temukan, tak menunggu lama Mawar yang sangat mengkhawatirkan keadaan putrinya pun langsung mengajak kedua putrinya ke kediaman Adrian untuk memastikan keadaan putri bungsunya.


Alita dan Fathiya pun memgantarkan sang Mama untu menemui adik bungsu mereka.


Di sore hari setelah shalat Ashar, Mawar dan kedua putrinya telah berada di kediaman Adrian.


Mereka menekan bel yang ada di pintu, tak berapa lama seorang pelayan datang membuka pintu.


"Mbak...Apa benar Zahra sudah di temukan??" tanya Mawar tak sabar.


"Iya Nyonya..." jawabnya


"apakah saya boleh berjumpa dengannya...??" tanya Mawar.

__ADS_1


"Silahkan masuk nyonya...!!" ujar sang pelayan.


Mawar pun masuk ke dalam rumah, si pelayan meminta buk Mawar untuk menunggu Zahra di ruang tamu.


Rahayu yang mendengar kedatangan tamu keluar dari kamarnya.


"Siapa bi...??" tanya Rahayu saat berpapasan dengan pelayan.


"Nyonya Mawar dan kedua putrinya nyonya...mereka mau berjumpa dengan non Zahra" jawab Pelayan.


"Ya udah...kamu panggil Zahra ya...biar saya yang menemani mereka..." perintah Rahayu.


Si pelayan pun beranjak melangkah ke kamar Faiz.


Sedangkan Rahayu melangkah ke ruang tamu menemani Mawar.


Di kamar, Faiz dan Zahra tengah beristirahat, mereka berbaring saling berpelukkan.


Faiz memeluk tubuh Zahra dengan erat. Zahra meletakkan tangan Faiz di atas perutnya.


Janinnya bergerak dengan lincah saat Faiz mengelus perut Zahra.


Faiz pun takjub dengan gerakan-gerakan anak-anaknya. Dia pun langsung bangun dan mengajak janin di dalam perut Zahra berbicara.


"Anak-anak papa...!!" ujar Faiz berbicara dengan perut Zahra yang telah membesar.


Mereka pun bergerak semakin kencang hingga terbentuk tonjolan yang berpindah di perut Zahra.


Faiz pun semakin semangat berbicara memgajah buah hatinya berinteraksi.


Sedang asik berinteraksi dengan buah hatinya, pintu kamar pun di ketuk pelayan.


Faiz dan Zahra saling berpandangan, Zahra mengangkat bahunya. Faiz pun turun dari kasur dan melangkah menuju pintu kamar.


Faiz melihat seorang pelayan berdiri di depan kamarnya.


"Ada apa bi???" tanya Faiz.


"Maaf den...nyonya Mawar sedang berada di sini..." ujar pelayan.


"Owh...terima kasih bi...sebentar lagi kami turun..." ujar Faiz. Dia pun menutupa pintu dan masuk ke dalam kamar mberotahukan kepada Zahra tentang kedatangan Mawar.


"Sayang...mama, Mbak Yaya dan Mbak Alita lagi di bawah...mau ketemu kamu...!" ujar Faiz.


"Serius mas...??aku kangen sama mereka mas..." Sahut Zahra.


"Ya udah...yuk siap-siap kita ke bawah..." ujar Faiz pada istrinya.


"Iya Mas..." Ucap Zahra lalu dia pun mengganti pakaian serta mengenakan hijabnya.


Zahra telah terbiasa menggunakan pakaian yang terbuka jika di kamar, dia selalu merasa kepanasan apalagi Faiz sangat senang menikmati tubuh indah milik istrinya walaupun hanya sekedar memandangnya.


Setelah Zahra mengganti pakaiannya, Faiz pun menggandeng tangan istrinya turun tangga.

__ADS_1


Saat turun tangga Faiz menggenggam tangan Zagra dan hati-hati dalam setiap melangkah.


"Sayang...besok kita pindah kamar ke lantai bawah aja ya...aku khawatir kamu turun naik tangga..." usul Faiz yang khawatir dengan keadaan Zahra.


Faiz takut Zahra terjatuh saat turun naik tangga. Dia tak ingin terjadi hal yang tak di inginkan, baik itu pada istri maupun anak-anaknya.


"Terserah kamu aja mas..." ujar Zahra dengan senyuman khasnya.


Mereka pun sudah sampai di lantai bawah, Saat ini Mawar, Fathiya, dan Alita telah berada di ruang krluarga mengobrol dengan Rahayu dan nenek Faiz.


"Mama...mbak Yaya...mbak Alita..."Panggil Zahra merindukan keluarga kandungnya.


Mawar dan kedua putrinya berdiri menghampiri Zahra, mereka memeluk si bungsu kesayangan mereka.


Sebuah keluarga yang penuh kasih sayang. Walaupun keluarga ini memiliki kekurangan yakni ketiadaan sosok Ayah di antara mereka, namun mereka tetap bahagia.


"Alhamdulillah nak...kanu selamat...kamu baik-baik saja kan sayang..." ujar Mawar sambil memperhatikan seluruh bada putrinya dari atas hingga bawah.


"Baik ma...Kakek jagain Ara dengan baik..." Zahra tersenyum bahagia atas perhatian Mama serta kedua kakaknya.


"Syukurlah dek...kami sangat mengkhawatirkan keadaanmu..." ujar Fathiya yang ikut andil mencari Zahra selama Zahra menghilang.


"Iya mbak..." ucap Zahra.


"Mama...mbak Yaya...mbak Alita...kita makan malam disini ya...Ara masih kangen kalian..." pinta Zahra yang masih ingin bersama keluarganya, walaupun mang Uddin dan Siti telah pulang ke rumah mereka.


"Iya Mawar...Biar kita bisa ngobrol-ngobrol dulu..." tambah nenek Faiz.


" Ya udah gak apa-apa...asalkan tidak merepotkan..." ujar Mawar menyetujui permintaan putrinya.


Mereka pun kembali berkumpul di ruang keluarga, mengobrol sambil menunggu waktu maghrib masuk.


Zahra sangat bahagia menerima perlakuan dari seluruh keluarganya yang sangat menyayangi dirinya.


******


Bersambung....


.


.


.


jangan lupa tinggalkan jejak ya readers yang baik hati...


# like...


# koment...


# Vote...


# dan hadiah

__ADS_1


__ADS_2