Terpaksa Menikahi Kepsek Kejam

Terpaksa Menikahi Kepsek Kejam
Eps 50


__ADS_3

"Kamu ada ponsel Nak...??" tanya Mawar berharap Zahra membawa ponselnya agar dia bisa mengubungi keluarga Zahra.


Zahra hanya menggelengkan kepalanya putus asa.


Mawar menghela nafasnya, karena dia malah bingung dengan nasib yang Zahra.


"Ya udah...kamu ikut ibuk aja dulu ya...sambil kita cari informasi rumah kakek dan nenek suamimu..." Ibuk mawar berusaha menenangkan Zahra.


"Iya buk..." jawab Zahra.


Zahra pun merasa tenang dengan ucapan yang di lontarkan ibuk mawar.


"Assalamu'alaikum..." ucap Stella saat masuk ke dalam ruang rawat bu Mawar.


"Wa'alaikumsalam..." jawab Zahra dan Buk Mawar serentak.


"Kak...ini makanannya...silahkan di makan..." ujar Stella menyodorkan bungkusan makanan pada Zahra.


Zahra pun mengambil bungkusan makanan yang di berikan Stella.


"Kita makan bareng yuk kak..." Ajak Zahra pada Stella.


"iya kak..." jawab Stella mereka saling memanggil kakak karena tidak tahu siapa yang lebih besar, sekedar saling menghormati dengan panggilan kakak.


"Panggil aku Zahra aja...umurku masih Sembilan belas tahun..." ujar Zahra pada Stella karena merasa tidak enak di panggil kakak oleh Stella.


"Umurku dua puluh tahun...kamu boleh kok panggil nama aja..." balas Stella.


"Baiklah Stella..." ucap Zahra.


"Gitu dunkz Zahra..." ucap Stella, mereka pun terlohat semakin akrab.


"Ya udah kalian makan dulu sana...ibuk istirahat lagi..." perintah Ibu Mawar pada dua wanita yang ada di hadapannya.


"Baik buk..." ucap Stella dan Zahra serentak lalu membawa makanan mereka ke sofa yang ada di ruangan buk Mawar.


Zahra makan dengan lahapnya, saat ini dia merasa sangat lapar, Stella yang melihat Zahra makan seperti orang kelaparan merasa kasihan sehingga sebagian makanan miliknya di berikannya untuk Zahra.


Tanpa rasa malu Zahra pun menghabiskan makanan milik Stella, wajar saja makan Zahra banyak karena saat ini di dalam rahimnya tumbuh 3 janin yang butuh asupan dari makanan yang di makan oleh Zahra.


Setelah makan, Zahra mengelus perutnya yang masih rata.


"Sabar ya nak...kita pasti bisa pulang berkumpul dengan ayah kalian..." gumam Zahra yang terdengar jelas di telinga Stella.


Stella mengernyitkan dahinya,


"Kamu lagi hamil Zahra???" tanya Stella pada Zahra, dia merasa kasihan pada Zahra yang tidak bisa kembali pada keluarganya karena dia tak tahu alamat keluarga suaminya di Paris.


"I...iya..." jawab Zahra sedih.


"Kamu sabar ya...aku akan bantu kamu kembali berkumpul sama keluargamu.." ujar Stella pada Zahra.

__ADS_1


*****


Faiz dan Hermawan masih sibuk mencari Zahra, sudah dua hari Zahra menghilang. Akhirnya mereka pun melaporkan berita hilangnya Zahra pada polisi.


Empat orang suruhan pak Hermawan masih belum mendapatkan berita keberadaan Zahra, Faiz makin panik dan khawatir dengan keadaan istri dan Anaknya.


Hermawan dan Faiz yang baru saja sampai di bungalow di sambut oleh kedua orang suruhan Hermawan.


"Ada berita terbaru...???" tanya Hermawan pada orang suruhannya.


"kami mendapatkan informasi, terakhir Zahra ikut dengan seorang wanita paruh baya dan gadis yang berusia seumurannya"


"Dan dapat di pastikan dua orang wanita yang pergi dengan Zahra adalah warga Negara Indonesia..."


"Namun kami belum bisa mendapatkan identitas kedua wanita itu...karena wajahnya di CCTV tampak kabur..." jelas salah seorang orang suruhan Hermawan sambil menunjukkan video Zahra yang masuk ke dalam mobil milik Mawar.


"Paling tidak kita bisa tenang, bahwa Zahra saat ini bersama orang Indo, dia takkan kesulitan dalam berkomunikasi..." tambah orang suruhan Hermawan yang satu lagi.


BUGH...


Faiz memukul orang suruhan Hermawan.


"Kamu pikir istriju bisa aman dengan orang asing??? hah???"


"Iya kalau mereka orang baik-baik...kalau mereka orang jahat bagaimana???" bentak Faiz tak terima ucapan suruhan Hermawan yang menyatakan Zahra dalam keadaan aman.


Yang dia cemaskan saat ini, Zahra di aniya oleh orang jahat sehingga berpengaruh pada calon bayinya.


Sejak kehilangan Zahra, emosi Faiz naik turun dia tak bisa mengontrol emosinya dengan baik.


Untunglah ada Hermawan dan istrinya yang menemani Faiz dalam menjalani musibah yang tengah di hadapinya.


Orang tua Faiz belum bisa datang ke Paris karena Adrian sibuk mengambil alih tugas-tugas Faiz di Sekolah.


"Kalian udah pulang??" tanya nenek Faiz yang melangkah keluar dari kamarnya saat mendengar ribut-ribut di ruang tamu.


Hermawan mengangguk dan memberi isyarat pada istrinya untuk membawa Faiz ke dalam rumah.


"Kamu pasti lapar Fa...kita makan dulu yukk..." Ajak Nenek Faiz lalu menggandeng cucunya menuju ruang makan.


Di ruang makan, nenek Faiz menyuruh pelayan menyiapkan makanan untuk Faiz, setelah makanan telah terhidang di depan Faiz. Nenek Faiz pun menyuruh Faiz untuk makan.


"Makan dulu ya Fa..."bujuk Nenek Faiz.


Saat ini Faiz mulai putus asa, berbagai pikiran negatif hadir membayang-bayangi benaknya.


"Nenek tahu apa yang saat ini yang kamu rasakan...bersabarlah dan banyak-banyak berdo'a untuk keselamatan Zahra..."


"Nenek yakin saat ini Zahra berada di tempat yang aman..." ujar nenek Faiz menenangkan cucunya.


Faiz pun mencoba menyuapi makanan ke dalam mulutnya, walaupun tak berselera dia mencoba memakannya agar dia tak jatuh sakit, dan agar dia bisa terus mencari Zahra.

__ADS_1


Setelah selesai makan, Faiz pun melangkah menuju kamarnya, di dalam kamar dia pun langsung masuk kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah selesai mandi, Faiz duduk di atas ranjang memandangi setiap sudut ruang kamarnya, dia mengingat semua yang di laluinya bersama Zahra di kamar itu, di hari dia mendapat kabar gembira tentang kehamilan istrinya.


Setelah lelah ia memandangi setiap sudut ruangan, Faiz pun tertidur di ranjang.


*****


Hari ini keadaan ibu Mawar sudah membaik, sehingga dokter mengizinkan ibu Mawar pulang ke rumah.


Untuk sementara waktu ibu Mawar membawa Zahra tinggal di rumahnya.


Selama ibu Mawar di rumah sakit, Zahra dan Stella menginap di rumah sakit menemani ibu Mawar.


Segala kebutuhan Zahra di sediakan oleh Stella.


*****


Di Rumah megah milik ibu Mawar...


Stella memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu utama rumah megah milik Ibu Mawar.


Stella membantu ibu Mawar turun dari mobil begitu juga Zahra ikut membantunya.


"Zahra...kamu tinggallah sementara waktu disini...nanti ibu akan suruh orang untuk mencarikan keluargamu..." ujar Ibu Nawar.


Zahra hanya mengangguk pelan.


"Stella...beri tahu Zahra dimana kamarnya, dan tolong bantu Zahra melengkapi kebutuhannya..." perintah ibu Mawar pada Stella.


"Baik buk..." jawab Stella, Stella pun membawa Zahra menuju kamar tamu yang berada di lantai satu. yang berada tepat di samping kamarnya.


"Kamu istirahat dulu Ra...nanti kalau butuh apa-apa kamu tinggal pencet tombol ini, pelayan akan datang membantumu...." ujar Stella lalu menunjukkan sebuah tombol merah yang terpasang di dinding atas nakas di samping tempat tidur.


Bersambung....


.


.


.


w^jangan lupa tinggalkan jejak ya readers yang baik hati...


# like...


# koment...


# Vote...


# dan hadiah...

__ADS_1


terimakasih pembaca setiaku...


__ADS_2