
Keesokkan harinya Ridho langsung mengurus urusan yang berhubungan dengan Setiawan, hingga akhirnya putra dari Setiawan di keluarkan dengan tidak hormat dari sekolah Harapan bangsa.
Walaupun Setiawan sangat murka, namun dia tak dapat bertindak apa-apa karena dia tak ingin jabatan serta kebusukkannya di sebarluaskan oleh Ridho.
Saat ini Faiz harus lebih waspada dalam menghadapi siswa serta orang tua siswa. Walaupun urusan Setiawan baru saja selesai, namun bukan berarti Faiz bisa tenang. Karena Setiawan bisa saja membalas dendam dengan cara lain. Yang pasti Faiz dan Ridho harus lebih berhati-hati lagi.
Ridho dan Faiz kembali melakukan aktivitas yang biasa mereka lakukan di sekolah, karena hampir satu bulan Faiz tidak masuk, dia pun memeriksa seriap penjuru sekolah untuk memastikan segala sesuatunya berjalan sebagaimana mestinya.
Di saat berkeliling sekolah, Faiz mendapati Zahra sedang melangkah menuju rumah mang Uddin.
Faiz pun mendekati wanitanya itu. Faiz hendak menggoda istrinya.
"Kamu....!!!" panggil Faiz dengan suara tegasnya, membuat Zahra menghentikan langkahnya.
Lalu dia pun menghampiri wanita yang kini berdiri terdiam di tempatnya Zahra tahu kesalahannya, Zahra belum meminta izin pada Faiz untuk berjumpa dengan kedua orang tuanya.
Zahra hendak menghubungi Faiz namun ponsel Faiz tak aktif, hingga akhirnya Zahra pun pergi tanpa izin dari suaminya.
Zahra perlahan-lahan membalikkan tubuhnya lalu menatap takut pada suaminya, melihat hal itu Faiz pun berakting tengah marah padanya.
"Kamu mau kemana???" tanya Faiz dengan suara datar, membuat Zahra menundukkan kepalanya.
"mhm...a..a...ku..." Zahra gugup dia teringat saat Faiz marah besar padanya karena dia sempat keluar rumah tanpa izinnya.
"Mm...maaf..." lirih Zahra, hanya kata maaf yang dapat terlontar dari mulutnya.
Faiz pun tersenyum.
"Kenapa sayang...???" tanya Faiz dengan suara yang lembut dan penuh kasih sayang membuat Zahra mendongakkan kepalanya yang tertunduk.
"Mas Faiz..." pekik Zahra kesal karena suaminya itu mengerjainya.
Faiz tertawa, membuat Zahra semakin kesal.
"Huhhft...dasar KepSek Kejam..." ujar Zahra memukul dada bidang Faiz yang masih tertawa.
Faiz tak menghiraukan ucapan Zahra lalu dia pun menggandeng tangan Zahra.
"Yukkk kita ke rumah ibuk..." ajak Faiz tanpa bersalah.
Mereka pun melangkah menuju rumah besar, namun tampak sederhana di belakang sekolah milik mang Uddin orang tua angkat Zahra.
Mereka kini telah berada di depan rumah mang Uddin.
"Assalamu'alaikum..." ucap Zahra dan Faiz secara serentak.
Siti yang mendengar suara Zahra, langsung berlari memghampiri pintu masuk. Dia membukakan pintu untuk putrinya.
Siti yang mendapat kabar hilangnya Zahra sangat khawatir terlebih saat itu Zahra tengah mengandung, Dia tak henti-hentinya berdo'a untuk keselamatan putri angkatnya itu.
__ADS_1
Saat Siti membukakan pintu, tanpa aba-aba, Zahra langsung menghambur di pelukkan ibunya.
"Zahra kangen..." lirih Zahra, tanpa di sadarinya dia pun meneteskan air mata rindu untuk ibunya.
Siti nengelus pundak Zahra, memeluk erat tubuh Zahra yang terlihat tampak berisi.
"Ibuk juga kangen sama kamu nak...ibuk rindu dan khawatir dengan kondisi kamu terlebih cucu nenek..."Ujarnya membelai lembut perut Zahra yang mulai membesar.
Faiz menyalami Siti dan mencium punggung tangannya setelah Siti melepas pelukannya dari tubuh Zahra.
"Assalamu'alaikum buk..." ucap Faiz sopan pada Siti.
"Wa'alaikumsalam...yuk masuk..." ajak Siti pada Zahra dan Faiz.
Zahra dan Faiz pun duduk di ruang keluarga, Zahra meletakkan dua paper bag yang di bawanya tadi di atas meja.
Dia sengaja membelikan Gamis buat Siti serta koko buat mang Uddin.
Tak berapa lama mereka duduk mang Uddin datang, dia baru saja menyelesaikan tugas-tugasnya di sekolah.
"Assalamu'alaikum..." ucapnya Saat masuk ke dalam rumah.
"Wa'alaikumsalam..." jawab Zahra dia pun berdiri menghampiri mang Uddin.
"Bapak..." lirih Zahra menyalami dan menciun punggung tangan mang Uddin. Di ikuti oleh Faiz.
"Ara...kamu udah pulang nak...??" ucapnya, sama dengan istrinya dia juga mengkhawatirkan putri angkatnya, namun dia tak bisa berbuat apa-apa selain berdo'a untuk keselamatan putri angkatnya. Saat ini dia sangat bersyukur bisa berjumpa kembali dengan putri angkatnya itu.
"Sehat beginilah nak...namanya udah tua..." jawab mang Uddin lalu dia pun mengajak Faiz dan Zahra kembali duduk di ruang keluarga.
Zahra pun minta izin masuk ke dapur melihat apa yang sedang di lakukan ibunya disana, sedangkan Faiz mengobrol dengan mang Uddin di ruang keluarga.
"Ibuk bikin apa...??? " tanya Zahra melihat ibunya sibuk di depan kompor.
"Ini nak...ada sedikit pisang, ibuk mau gorengkan buat kalian..." jawab Siti.
"Ara bantuin ya buk..." ujar Zahra hendak mendekat.
"Nggak usah...kamu bikin minum aja buat Faiz..." ujar Siti. Lalu Zahra pun mengambil dua cangkir gelas lalu memyeduh teh disana.
Setelah itu dia pun memgantarkannya ke ruang keluarga, dan menyajikan teh tersebut sekaligus dengan goreng pisang yang masih panas.
"Ini enak banget Ra..." ucap Mang Uddin pada Zahra.
"Iya pak...ibuk yang bikinkan..." jawab Zahra polos.
"Kebetulan ada persediaannya, jadi ibuk gorengkan saja..." Siti menyela pembicaraan mereka yang baru saja datang dari dapur.
"Yukk nak Faiz di makan..." ucap Siti mempersilahkan menantunya memakan hidangam secukupnya itu.
__ADS_1
Siti pun ikut bergabung dengan mereka, mereka pun nercemgkrama melepas rindu.
Tak berapa lama Faiz melihat jam di pergelangan tangannya.
"Pak...buk...Faiz lanjutin kerjaan Faiz dulu di sekolah..." Faiz hendak pamit.
"Ara masih mau disini...???" tanya Faiz pada istrinya.
"Iya mas....kita nginap disini ya...Ara masih kangen sama bapak dan ibuk...." pinta Zahra memelas pada Faiz.
"Ya udah...nanti pulang sekolah...mas Faiz langsung kesini..." ujar Faiz menyetujui permintaan istrinya.
Karena senang Zahra langsung memeluk suaminya.
"Makasih mas..." ucapnya tanpa di sadarinya mang Uddin dan Siti tersenyum melihat tingkah Zahra.
Faiz melirik Zahra memberitahukan pada Zahra bahwa orang tuanya melihat tingkah konyolnya.
"Mm...mmaaf..." lirih Zahra lalu dia pun melepaskan pelukannya dari tubuh Faiz dengan rasa malu.
Mang Uddin hanya menggeleng-gelengkan kepala, meski putrinya dydah menikah namun sifatnya yang masih kekanak-kanakkan belum juga hilang.
" Ya udah...mas balik ke Sekolah dulu ya...kamu hati-hati disini..." ujar Faiz sebelum pergi.
"Pak...buk...aku pamit dulu..." ujar Faiz lagi lalu dia menyalami mang Uddin dan buk Siti secara bergantian.
"Iya nak...makasih udah izinkan Zahra menginap disini..." ucap Siti pada Faiz.
"Ibuk sama bapak adalah orang tua Zahra... Itu artinya ibuk dan bapak juga orang tua Faiz... kalau Zahra ingin nenginap disini gak ada alasan Faiz melarangnya buk..." ujar Faiz.
Siti sangat senang nendengar ucapan menantunya, dia bersyukur Zahra mendapatkan suami yang kaya raya serta memiliki sifat yang baik pula.
Faiz pun melangkah keluar rumah yang di antar Zahra hingga teras rumah.
Bersambung....
.
.
.
jangan lupa tinggalkan jejak ya readers yang baik hati...
# like...
# koment...
# Vote...
__ADS_1
# dan hadiah...