Terpaksa Menikahi Kepsek Kejam

Terpaksa Menikahi Kepsek Kejam
Eps 61


__ADS_3

Saat itu juga Fathiya memperlihatkan Foto itu pada Mawar. Mawar terdiam memandangi Foto Fathiya dan Zahra yang sangatlah mirip.


"Mama yakin...Zahra adalah adik Kamu Ya..." ujar buk Mawar pada Fathiya.


"Iya ma...Yaya juga yakin...karena tadi Yaya liat tanda lahir yang sama persis seperti milik Azza ma..." Fathiya mengingat jelas tanda lahir yang di lihatnya tadi.


"Mama juga lihat...namun kita tidak mungkin mengungkapkan bahwa dia keluarga kita tanpa bukti-bukti yang kuat..."


"Apalagi Zahra merupakan menantu dari orang yang sangat terpandang..." jelas Mawar berharap Fathiya menyelidiki siapa sebenarnya Zahra dan bagaimana kehidupannya selama ini.


"Iya ma...Yaya akan coba cari tahu kebenarannya..." ujar Fathiya pada ibunya.


"Mama...istirahatlah biar mama cepat sembuh..." ujar Fathiya pada buk Mawar.


"Iya..." ucap Mawar lalu dia pun mencoba memejamkan matanya untuk istirahat.


Setelah Mawar beristirahat, Fathiya berbincang-bincang dengan Stella mulai dari kondisi Mawar hingga berbagai hal yang di lalui Mawar selama Fathiya tinggal di Indonesia.


"Mbak...bagaiamana sebelum Zahra kembali ke Paris kita ajak Zahra jalan-jalan dulu...sekaligus kita berusaha mengambil sesuatu yang bisa di jadikan alat untuk melakuka tes DNA...." usul Stella.


Stella yang sudah menganggap keluarga Fathiya dan ibuk Mawar sebagai keluarganya merasa ingin membantu mereka menemukan fakta sesungguhnya mengenai Zahra.


"Benar juga Stell...nanti mbak coba bilang sama mama biar mama bujukin Zahra suapaya dia mau berlibur sehari saja bersama kita..." ucap Fathiya setuju.


"Tapi mbak kalau bisa, mbak Alita juga ikut biar kita bisa melihat kemiripan kalian bertiga..." usul Stella lagi.


"Kayaknya susah Stell...Alita terlalu sibuk dengan pekerjaannya...mbak nggak mau mengganggu kesibukkannya..." Jawab Fathiya.


"Owh...ya udah...gak pa-pa mbak...aku akan usahakan mendapatkan sesuatu dari tubuh Zahra agar bisa di bawa untuk tes DNA..." Ujar Stella yakin.


Fathiya memgangguk berharap, semoga rencana yang akan mereka lakukan terwujud.


*****


Sementara itu Faiz dan Zahra baru saja sampai di bungalow milik Hermawan.


Seperti biasa Zahra tertidur dengan pulas di perjalanan.


Faiz menggendong Zahra yang masih tertidur pulas, dia membawa istrinya menuju kamarnya.


Di kamar Faiz membaringkan tubuh istrinya di ranjang, Faiz pun hendak beranjak menuju kamar mandi namun ponselnya berdering.


Faiz mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan dari Ridho.


"Hallo..." ucap Faiz saat panggilannya telah tersambung

__ADS_1


"Hallo Fa...situasi disini sedang genting... Ada beberapa wali murid yang kemarin anak-anaknya di skors karena bertengkar mendemo sekolah...mereka tidak terima anak-anak mereka di hukum..." jelas Ridho yang mulai panik mendapat tekanan dari wali murid.


"bagaimana pendapat papa???" tanya Faiz pada Ridho.


"Beberapa hari ini pak Adrian kurang sehat, aku tak tega menyampaikan berita ini pada beliau..." ujar Ridho lagi.


"Ya udah...malam ini aku kembali ke Indonesia..." ucap Faiz.


Zahra mendengar ucapan Faiz dan membuatnya terbangun, dia duduk menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur.


"Ada apa mas???" tanya Zahra pada Faiz yang tampak panik.


"Ada masalah di sekolah...kita harus berangkat ke Indonesia malam ini juga..." ucap Faiz tegas.


"Tapi mas...aku masih mau ketemu buk Mawar..." ucap Zahra sedih.


Faiz heran dengan Zahra, apa sebenarnya yang terjadi di antara buk Mawar dan dirinya sehingga Zahra selalu ingin berada di dekat Mawar.


Faiz pun menghampiri Zahra.


"Sayang....di sekolah sedang ada masalah...sedangkan kondisi kesehatan papa kurang baik...makanya aku harus pulang secepatnya..."


"Walaupun aku yakin Ridho bisa mengatasinya namun...Ridho tak ingin mengambil keputusan tanpa persetujuan dari aku...." Faiz berusaha membujuk Zahra agar Zahra mau lulang malam ini juga.


Dengan berat hati akgirnya Zahra menganggukkan kepalanya menyetujui keberangkatan malam ini.


Zahra pun beranjak dari tempat tidur dan melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


"Kakek sama nenek disini...???" ujar Faiz saat mendapati kakek dan neneknya yang duduk di taman, sedari tadi Faiz mencari ke ruang keluarga dan kamar mereka namun tidak menemukan kakek dan neneknya.


Akhirnya dia pun melangkah menuju taman belakang.


"Ada apa Fa...???" tanya nenek Faiz heran melihat cucunya yang tampak lelah.


"Kek...nek...Faiz sama Zahra harus berangkat ke tanah air malam ini juga...ada masalah yang harus di selesaikan..." ujar Faiz kepada kakek dan neneknya.


"Kok mendadak Fa...???" nenek Faiz heran.


"Iya nek...barusan Ridho kasih kabar...ada masalah di sekolah...papa tidak bisa fi ganggu karrna kesehatan papa yang kurang sehat..." jelas Faiz pada neneknya.


"Ya udah...nanti kakek siapkan pesawat jet pribadi buat keberangkatanmu ke Indonesia..." ujar Hermawan tegas.


Nenek Faiz hanya bisa terdiam, walau saat ini dia masih ingin bersama cucu dan cucu menantunya.


Namun dia tak bisa mengedepankan egonya, dia harus mendukung cucunya.

__ADS_1


"Ya udah biar nenek yang suruh pelayan bereskan barang-barang kalian..." ucap Nenek Faiz.


Dia pun melangkah masuk ke dalam bungalow lalu menyuruh para pelayan untuk mempersiapkan semua barang-barang Faiz dan Zahra karena mereka akan berangkat ke Indonesia malam ini.


Sebelum Zahra dan Faiz mereka menyempatkan diri untuk makan malam bersama, Zahra juga meminta pada pelayan untyk membawakannya bekal yang banyak di pesawat, karena kebiasaannya yang suka lapar.


Setelah makan malam, Faiz dan Zahra pun meninggalkan kota Paris menggunakan jet pribadi milik Hermawan.


Di dalam jet, tersedia kamar pribadi. fFaiz mengajak Zahra untuk masuk ke dalam kamar itu, agar Zahra bisa tidur dengan nyaman selama perjalanan menuju Indonesia.


Mereka berbaring di ranjang yang tersedia, Faiz memeluk tubuh Zahra dari belakang.


Zahra menangkap rasa sedih dari wajah istrinya.


"Ada apa sayang...???" tanya Faiz pada istrinya.


"Mas...Ara kok tiba-tiba ngerasa sedih ninggalin buk Mawar...? Ara juga gak tahu bisa ketemu buk Mawar kapan lagi..." ujar Zahra sendu.


"Mhm...kamu rindu ya sama buk Mawar...???kalau kamu pengen ketemu dia...kita kan bisa balik ke Paris lagi..." Faiz berusaha menghibur istrinya.


"Ara gak tau juga kenapa...Ara ngerasa sayang banget sama buk Mawar sama seperti Ara sayang sama buk Siti...Seperti ada yang mengikat Ara dengannya...tapi Ara gak tahu apa itu..." Zahra mengungkapkan rasa yang di rasakannya bersama Mawar.


" Mungkin karena buk Mawar yang baik sama kamu...membuat kamu merasa sayang padanya..." ujar Faiz.


"Mungkin juga sich..." lirih Zahra.


Tak berselang waktu lama, Zahra pun tertidur pulas di dalam pelukkan Faiz. Begiyu juga dengan Faiz dia pun mulai memejamkan matanya dan tertidur membawa mimpi indah bersama istrinya.


*******


Bersambung....


.


.


.


jangan lupa tinggalkan jejak ya readers yang baik hati...


# like...


# koment...


# Vote...

__ADS_1


# dan hadiah...


__ADS_2