
Jam 11 siang...
Zahra, Faiz dan nenek Faiz sudah siap untuk berangkat menuju rumah sakit, Mereka pergi dengan mobil Hermawan serta Mang ujang sopir pribadi keluarga Hermawan.
Di perjalanan, Zahra meminta Faiz untuk membeli buah, sebagai buah tangan mereka.
Mang Ujang menghentikan mobilnya di sebuah kios buah, Faiz turun dari mobil dan membelikan parcel buah untuk buk Mawar.
Setelah itu mereka pun kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit.
Tak berapa lama mereka pun sampai di rumah sakit, Mereka turun dari mobil lalu masuk ke dalam rumah sakit berjalan menuju ruangan yang telah di beritahukan Stella tadi lewat sms.
Tok....tok...tok...
Nenek Faiz mengetuk pintu ruangan rawat inap buk Mawar.
Stella yang sedang menonton TV menghilangkan rasa jenuhnya, berdiri menghampiri pintu dan membukakan pintu.
"Zahra..." panggil Stella senang, dan di saat itu juga Mawar terbangun dari tidurnya.
"Stell..." lirih buk Mawar dengan suara seraknya.
"silahkan masuk Ra..."ajak Stella.
"Iya buk...ibuk coba lihat siapa yang datang...!!" ucap Stella sumringah.
Mawar pun menoleh ke arah Zahra yang baru saja masuk ke dalam ruangannya.
"Zahra...kamu disini...???" lirih Mawar bahagia.
"Iya buk...Stella kasih kabar kalau ibuk masuk rumah sakit..." ucap Zahra sambil meletakkan parcel buah yang di bawanya di lemari samping brangkar buk Mawar.
"Biasalah Ra...namanya sudah tua...ya harus keluar masuk rumah sakit terus..." ujarnya.
"Walaupun aku udah tua War...aku gak mau masuk rumah sakit..." timpal nenek Faiz yang juga berada di sana.
"Iya sih Mbak..." lirih Mawar.
"Makanya ibuk jangan bandel, harus ikutin apa yang di bilang sama Stella..." ucap Zahra dengan senyumannya.
"Iya...coba aja kamu selalu ada di dekat ibuk...ibuk pasti sehat..." Mawar berusaha mencari alasan.
"Baru satu bulan Zahra tinggal sama kamu War...kamu udah sayang banget sama dia...Wajarlah cucu menantuku yang satu ini memiliki aura positif yang membuat orang-orang di sekitarnya selalu menyayanginya...." ujar Nenek Faiz membanggakan cucu menantunya.
"Iya mbak...Zahra wanita yang periang...dengan keberadaannya membuatku lupa akan kesepianku..." ujar Mawar.
Mereka pun tersenyum mendengar ucapan Mawar.
Mereka pun mengobrol sejenak, Nenek Faiz dan Faiz duduk di shofa yang terdapat di dalam ruangan Mawar bersama Stella.
__ADS_1
Sedangkan Zahra duduk di kursi tepat di samping tempat tidur Mawar dambil memijit-mijit lengan Mawar.
Stella memperhatikan gerak-gerik Zahra bersama Mawar, Sekilas Zahra melihat ada kemiripan di wajah Zahra dengan Fathiya.
Zahra membuka ponselnya, dia memperhatikan foto Fathiya yang tersimpan di ponselnya lalu melihat seksama pada wajah Zahra.
Stella tak menyangkal ada kemiripan antara Zahra dan Fathiya, namun Stella tak berani memberitahukan hal itu pada Mawar.
Stella berniat mengambil sampel rambut Zahra, namun Stella tak tahu bagaimana caranya.
Faiz melihat kegelisahan di wajah Stella, Faiz juga curiga melihat Stella yang terus menatap istrinya dengan tatapan yang tak dapat di artikan.
Karena Faiz mulai risih, dengan sikap Stella, akhirnya Faiz mengajak Zahra untuk pulang.
Faiz berdiri menghampiri Zahra yang masih duduk di samping Mawar.
"Sayang...kita pulang sekarang yuk..." ajak Faiz pada Zahra.
"Iya Ra...kita pulang yuk..." ajak nenek Faiz yang mulai bosan duduk disana.
"Mhm...iya Mas..." jawab Zahra dengan berat hati.
"Buk...Ara pulang dulu ya..." Pamit Zahra.
"Ra...besok kamu bisa datang kesini lagi...??" pinta Mawar pada Zahra.
Senyuman Zahra mengembang seketika saat Faiz menganggukkan kepalanya.
"Baiklah buk...besok Ara datang lagi...tapi ibuk janji harus lekas sembuh..." pinta Zahra pada Mawar.
Mawar memgangguk pelan. "Iya nak...ibuk akan ikuti perintah dokter dan ucapan Stella..." lirih Mawar.
"Stell...jagain buk Mawar ya...kalau ada apa-apa kamu jangan lupa kabari aku..." ucap Zahra pada Stella.
"Iya Ra...makasih ya kamu udah datang..." ucap Stella tulus.
Stella merangkul tubuh Zahra, yang di balas serupa oleh Zahra.
"War...mbak pulang dulu ya...kamu cepat sembuh ya..." ucap Nenek Faiz sembari oamit pada Mawar.
"Aku juga pamit buk..." ucap Faiz sebelum menggandeng tangan istrinya keluar dari ruangan rawat Mawar.
Mereka pun keluar dari rumah sakit, Mang Ujang yang melihat majikannya keluar dari rumah sakit langsung mengambil mobil di parkiran menuju lobi rumah sakit, tak menunggu lama mobil mereka telah berada di depan mereka.
Mereka masuk ke dalam mobil, setelah memastikan majikannya telah siap, mang Ujang pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Jang...sebelum kita pulang mampir dulu di kantin KBRI ya...Ada beberapa bahan makanan yang harus kita beli..." ujar nenek Faiz pada mang Ujang.
"Baik buk..."Jawab Mang Ujang lalu mengarahkan mobilnya menuju kantin KBRI yang menyediakan beberapa bahan makanan Indonesia.
__ADS_1
Mang Ujang memarkirkan mobilnya tepat di depan Kantin KBRI.
Nenek Faiz turun dari mobil, di ikuti juga oleh Faiz dan Zahra, mereka memilih beberapa bahan makanan yang di butuhkan.
Zahra melihat buah durian yabg terpajang di etalase buah.
"Mas...Ara mau itu..." pinta Zahra pada Faiz sambil menunjuk pada rak yang berisi buah durian.
Faiz melihat pada arah tunjuk Zahra, dia pun paham apa yang di inginkan oleh istrinya.
Akhirnya Faiz pun mengambil 2 buah durian berukuran sedang, lalu memasukkannya ke dalam keranjang belanjaan.
Nenek Faiz mengernyitkan dahinya saat melihat buah durian telah berada di dalam keranjang belanja miliknya.
"Fa...ini buah duren buat siapa???" tanya nenek Faiz pada cucunya.
"buat Zahra nek..." Jawab Faiz jujur pada neneknya.
"Iya nek...Ara pengen banget makan buah duren...kayaknya enak banget deh..." jawab Zahra bersemangat.
Nenek Faiz pun mengingat bahayanya buah durian bagi wanita yang tengah hamil muda. Nenek Faiz tidak ingin terjadi apa-apa pada Zahra dia pun melarang Zahra membelinya.
"Ra...wanita yang lagi hamil muda, tidak di bolehkan memakan buah ini, karena buah duren itu panas...nenek takut terjadi apa-apa aama kandunganmu..." ujar nenek Faiz pelan dan sangat hati-hati agar Zahra tidak terainggung dengan ucapannya.
Zahra tampak sedih mendemgarkan ucapan nenek Faiz, raut wajahnya yang tadi sumringah kini berubah sendu.
Faiz yang melihat perubahan raut wajah Zahra pun langsung bingung harus bagaimana.
"Sayang...bukannya aku gak mau nurutin permintaan kamu...tapi ini kan nasehat dari nenek yang sudah berpengalaman...neenk cuma takut terjadi apa-apa dengan anak kita..." bujuk Faiz agar Zahra tak bersedih.
Namun Zahra yang merasa sangat kecewa, dia pun melangkah keluar dari kantin KBRI meninggalkan Faiz dan nenek Faiz yang hanya diam memandang kepergian Zahra.
Bersambung....
.
.
.
jangan lupa tinggalkan jejak ya readers yang baik hati...
# like...
# koment...
# Vote...
# dan hadiah...
__ADS_1