
"Aku lebih suka kamu keluar kamar mandi seperti ini..." bisik Faiz yang sudah berada di dekat Zahra.
Zahra merasa malu mendengar godaan dari Faiz, terlihat dari wajahnya yang memerah seketika.
"Kita sholat jamaah ya..." pinta Faiz.
Karena biasanya Faiz dan Zahra sholat subuh sendiri-sendiri. Faiz akan berusaha menjadi suami dan imam yang baik buat istrinya.
Zahra hanya mengangguk pelan, dia sangat bahagia, akhirnya dia bisa menjadi makmum dari suaminya.
Faiz pun melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya, sedangkan Zahra memakai pakaiannya dan bersiap-siap menunggu Faiz keluar dari kamar mandi, Zahra telah menyediakan koko dan sarung di atas ranjang. Sambil menunghu Faiz, Zahra membuka Al-qur'annya dan mulai melantunkan ayat-ayat suci Alqur'an.
Faiz keluar dari kamar mandi, dia langsung mengenakan koko dan sarung yangvtelah di sediakan Zahra. Zahra yang menyadari suaminya telah siap untuk menjadi imamnya, dia pun menghentikan bacaannya.
Faiz memulai shalat subuh bersama istrinya, terselip rasa bahagia di lubuk hati kedua insan yang suasana hatinya tengah berbunga-bunga.
Setelah selesai shalat, Faiz membacakan do'a-do'a terbaik untuk keluarga kecilnya yang di aamiinkan oleh Zahra.
Faiz menutup do'anya dengan membacakan Al-fatihah. setelah selesai, Faiz membalikkan tubuhnya memghadap istrinya, Zahra langsung meraih tangan suaminya lalu menunduk mencium ounggung tangan suaminya.
Faiz mengecup puncak kepala Zahra, sambil membacakan sebuah do'a untuk istrinya tercinta.
Setelah selesai menunaikan ibadah shalat subuh, Faiz pun bersiap-siap buat ke Sekolah sedangka Zahra bersiap-siap untuk ke kampus.
Setelah rapi, Faiz dan Zahra turun ke lantai satu menuju ruang makan, mereka hari ini tampak bahagia, Faiz menggandeng istrinya dengan mesra.
Rahayu yang hendak melangkah menuju ruang makan menangkap sesuatu yang berbeda pada anak dan menantunya.
Sepasang suami istri itu tak seperti biasanya namun Rahayu tidak dapat menangkap apa sebenarnya yang berubah.
"Pagi ma..." Sapa Faiz yang melihat mamanya juga melangkah menuju ruang makan, sedangkan Adrian telah berada di ruang makan.
"Pagi sayang..." ucap Rahayu merasa bahagia dengan perubahan anak dan menantunya itu.
Mereka bersama-sama masuk ruang makan, di ruang makan telah tampak Adrian yang masih asyik dengan korannya.
"Pagi pa..." Sapa mereka serentak.
"Pagi..." ucap Adrian sambil menutup korannya.
Mereka duduk di posisi mereka masing-masing. Hidangan sarapan telah terhidang di meja makan. Zahra mengambilkan makanan untuk Faiz begitu juga dengan Rahayu, dia mengambilkan makanan untuk Adrian.
Mereka menyantap makanan mereka masing-masing. Faiz tampak sesekali memperhatikan istrinya.
Faiz yang melihat mulut istrinya berlepotan langsung mengambil tisu untuk membersihkan mulut Zahra, Adrian dan Rahayu saling pandang dan tersenyum melihat hal yang di lakukan putranya pada menantunya.
"Ma...Faiz berangkat dulu..." ucap Faiz setelah dia menyelesaikan makannya. begitu juga denga Zahra.
"Hati-hati ya sayang..." ucap Rahayu melambaikan tangannya pada putranya.
Faiz beranjak dari duduknya, dia menyalami kedua orang tuanya. Zahra mengikuti langkah suaminya menuju teras.
Zahra menyalami tangan, serta mencium punggung tangan Faiz.
Faiz mengecup puncak kepala istrinya.
"Tunggu aku...aku hanya mencek kehadiran siswa...nanti aku akan antar kamu..." ucap Faiz.
Zahra mengangguk pelan " bersiap-siaplah mas tunggu disini aja nanti..." titah Faiz lalu dia pun berlalu menuju sekolah.
Jam setengah tujuh Faiz memang sudah berangkat ke sekolah, Dia akan mendisiplinkan seluruh hal-hal yang menurutnya tak sesuai pada tempatnya.
Sebelum kegiatan PBM Faiz akan memeriksa seluruh sudut sekolah, karena dia tak ingin sekolah terlihat kotor .
__ADS_1
Faiz memang disiplin dan tegas, jiwa kependidikan yang di tanamkan Adrian padanya menjadi jati dirinya sebagai kepala sekolah namun sikapnya itu di nilai kejam oleh semua kalangan, baik kalangan pegawai, guru, apalagi siswa dan siswi.
Setelah selesai mengurus berbagai hal di sekolah, Faiz pun kembali ke rumah. Di teras Zahra telah duduk memamti suaminya. Faiz mengembangkan senyumannya yang di balas senyuman indah oleh Zahra.
Faiz langsung melangkah menuju garasi mobil, dia mengeluarkan mobil miliknya. Faiz berhenti di teras, Zahra berdiri dari duduknya dan melangkah menuju mobil Faiz.
Faiz membukakan pintu dari bangku kemudi, Zahra pun masuk ke dalam mobil. Faiz memasangkan sabuk pengaman untuk Zahra.
Setelah dia yakin Zahra telah siap, dia pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Faiz menghidupkan musik, terdengar lantunan lagu yang sangat menyejukkan jiwa. Yang berjudul Aisyah sang istri rasullullah.
lirics
Mulia, indah, cantik berseri
Kulit putih, bersih, merahnya pipimu
Dia Aisyah, putri Abu Bakar
Istri Rasulullah
Sungguh sweet Nabi mencintamu
Hingga Nabi minum di bekas bibirmu
Bila marah, Nabi 'kan bermanja
Mencubit hidungnya
Aisyah, romantisnya cintamu dengan Nabi
Dengan Baginda kau pernah main lari-lari
Selalu bersama
Hingga ujung nyawa kau di samping Rasulullah
Aisyah, sungguh manis, oh, sirah kasih cintamu
Kau istri tercinta
Ya Aisyah, ya khumaira
Rasul sayang, Rasul cintamu
Ho-o
Sungguh sweet Nabi mencintamu
Hingga lelah Nabi baring di jilbabmu
Seketika kau pula bermanja
Mengikat rambutnya
Aisyah, romantisnya cintamu dengan Nabi
Dengan Baginda kau pernah main lari-lari
Selalu bersama
Hingga ujung nyawa kau di samping Rasulullah
__ADS_1
Aisyah, sungguh manis, oh, sirah kasih cintamu
Kau istri tercinta
Ya Aisyah, ya khumaira
Aisyah, romantisnya cintamu dengan Nabi
Dengan baginda kau pernah main lari-lari
Selalu bersama
Hingga ujung nyawa kau di samping Rasulullah
Aisyah, sungguh manis, oh, sirah kasih cintamu
(Bukan persis novel mula) benci jadi rindu
(Kau istri tercinta) ho-o
Ya Aisyah, ya khumaira
Rasul sayang, Rasul cintamu
Zahra yang mendengarkan lantunan itu merasa sangat bahagia, lagu ini sedikit mengena pada dirinya yang di cintai Faiz saat berumur masih sangat muda.
Zahra berharap Faiz bisa meniru Nabi muhammad dalam mencintai dirinya.
Di sela-sela senandung iti, Faiz membelai kepala Zahra yang terbungkus hijab. Wajah Zahra langsung merona merah bagaikan tomat masak.
Faiz yang melihat ekspressi Zahra langsung mencubit hiding Zahra karna merasa gemas melihat ekspressi istrinya yang masih saja malu-malu pada dirinya.
"Mas...apaan sich..." rengek Zahra manja.
"Kamu itu gemesin banget..." ucap Faiz lalu kembali fokus dengan mengemudikan mobilnya.
Dua puluh menit berlalu, mereka pun sampai di kampus Zahra. Faiz memarkirkan mobilnya.
Zahra meraih tangan Faiz lalu menyalami dan mencium punggung tangan faiz.
"Ara pamit ya mas..." ucap Zahra.
"Iya sayang...hati-hati...belajarlah yang rajin..." ucap Faiz lalu mencium puncak kepala istrinya dia pun mengucapkan do'a terbaik untuk istrinya.
Zahra pun keluar mobil dan masuk ke pekarangan kampus, hari ini dia memulai harinya dengan penuh kebahagiaan.
******
Bersambung....
.
.
.
jangan lupa tinggalkan jejak ya readers yang baik hati...
# like...
# koment...
# Vote...
__ADS_1
# dan hadiah...
terimakasih pembaca setiaku...