
Setelah selesai membuka sabuk pengaman milik istrinya. mereka pun turun dari pesawat. Dan untuk pertama kalinya bagi Zahra menghirup udara kota Paris.
Faiz telah berada di depan bandara, seorang datang menghampiri Faiz,
"Den Faiz...pa kabar???" ucap seorang pria yang mengenakan seragam supir dan berbahasa Indonesia.
Dia adalah supir keluarga Hermawan, yang berada di Paris. Tepatnya supir Kakek dan Nenek Faiz yang berada di Paris, setelah mewarisi sekolah yang di dirikannya, kakek Faiz yaitu bapak Hermawan pindah ke Paris di karenakan istrinya atau nenek Faiz adalah warga negara asli Paris.
"Baik mang Ujang...Mang Ujang pa kabar???" tanya Faiz pada supir keluarga yang di bawa pak Hermawan dari Indonesia untuk tinggal bersamanya di Paris.
Hermawan atau kakek Faiz sengaja membawa mang Ujang dan keluarganya untuk tinggal di Paris karena mang Ujang merupakan orang kepercayaannya.
"Yuuukkk den..." ajak mang Ujang.
Faiz pun menggandeng tangan Zahra untuk masuk ke dalam mobil yang di bawa mang Ujang, sedangkan mang Ujang menaikkan barang-barang bawaan Faiz dan Zahra ke dalam mobil.
Setelah semua barang-barang Zahra dan Faiz masuk ke dalam mobil, mang Ujang pun memgemudikan mobil menuju kediaman kakek dan nenek Faiz.
Di perjalanan Zahra sibuk melihat pemandangan kota Paris dari jendela mobil.
"Menakjubkan...kota Paris itu indah ya Mas..." ujar Zahra kagum, karena baru kali ini dia melihat kota Paris secara langsung.
Faiz tersenyum melihat Zahra yang begitukagum dengan kota Paris, bagi Faiz kota Paris tak asing lagi baginya karena setiap tahun dia akan berkunjung ke Paris untuk menemui Kakek dan Neneknya.
"Kamu mau jalan-jalan kemana???" tanya Faiz pada istrinya yang masih asyiik melihat keramaian kota dari jendela mobil.
"Aku terserah mas Faiz aja... soalnya aku juga gak ngerti kota Paris..." jawab Zahra lugu.
"Hehe..." Kekeh Faiz melihat istrinya yang begitu lugu.
Sepanjang perjalanan Faiz hanya memandangi wajah anggun milik istrinya yang tengah terpesona dengan apa yang ada di hadapannya.
Tak berapa lama mereka sampai di sebuah bungalow mewah dan megah, mobil masuk ke dalam pekarangan bungalow yang bagaikan istana milik keluarga Hermawan.
Hermawan merupakan seorang bisnisman, namun dalam kesibukkannya berbisnis dia juga memdirikan sebuah sekolah yang langsung di pimpinnya. Begitu juga dengan putranya Adrian. Adrian menjadi kepala sekolah sekaligus menjalankan bisnis Hermawan.
Bagaimana kakek dan Ayahnya begitu juga dengan Faiz, meskipun dia seorang kepala Sekolah dia masih memiliki bisnis yang di kelolanya bersama Ridho.
Mereka turun dari mobil, beberapa pelayan datang mengeluarkan barang-barang milik Zahra dan Faiz lalu mereka membawanya masuk ke sebuah kamar yang berada di lantai dua.
"Woow...mas...ini istana apa rumah???" tanya Zahra berdecak kagum dengan kemewahan bungalow milik Hermawan.
"Ini rumah nenek dan kakek..."jawab Faiz santai.
__ADS_1
" besar banget mas..." ujar Zahra lagi.
"Sudahlah...yuk masuk...kakek dan nenek sudah menunggu kita..." ujar Faiz lalu menarik tangan Zahra untuk masuk ke dalam bungalow tersebut.
"Faiz...kamu sudah datang nak...???" tanya Nenek Faiz yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Iya nek...Fa udah sampe..." ujar Faiz lalu ia pun merangkul tubuh renta neneknya.
"kamu apa kabar sayang...??? kenapa lama sekali baru sekarang kamu mengunjungi nenekmu ini...??? tanya nenek Faiz dengan meneteskan air mata haru.
"Fa baik nek...nenek kan tahu, Faiz sibuk mengurusi sekolah dan berbagai bisnis yang harus Faiz jalankan...."
"Apalagi... saat ini Zahra juga sedang kuliah...dia harus menunggu waktu libur baru kami bisa berangkat...," jelas Faiz.
"Mana Zahra Fa...??" tanya nenek lalu melihat ke belakang Faiz dimana berdiri seorang wanita yang berhijab rapi. Wajahnya tampak sangat anggun.
"Cucu memantuku..." lirihnya mendekati Zahra.
"Kau benar-benar cantik nak..." ucapnya membuat Zahra tersipu malu.
" Terima kasih nek..." ucap Zahra ramah.
"Maaf ya nak...nenek tidak bisa hadir di acar pernikahan kalian...karena kami sudah tua tidak sanggup lagi melakukan perjalanan jauh..." ujar Nenek pada Zahra.
Mereka harus membawa pengasuh untuk membantu mereka nanti dalam perjalanan, dan bagi mereka hal itu sangat merepotkan oleh sebab itu mereka menyuruh Faiz dan Zahra untuk datang ke Paris membawa istrinya.
"Tidak apa-apa nek..." ujar Zahra berusaha akrab dengan nenek Faiz yang baru saja di kenalnya.
"Kakek mana nek...???" tanya Faiz karena belum berjumpandengan kakeknya.
"Kakekmu ada di taman... Dia lebih suka menunggumu di taman...pergilah samperin kakekmu..." perintah nenek pada cucu dan cucu menantunya.
"Baiklah nek..." Faiz langsung menggandeng tangan istrinya untuk mengikuti langkahnya menuju taman belakang.
Di taman belakang terdapat kebun bunga yang luas serta bangku taman yang menghadap ke sebuah danau buatan yang terdapat di seberang tanah milik kakek Faiz.
Pemandangan yang sangat indah dan menakjubkan. Siapa pun yang tinggal di rumah ini akan merasa betah dan nyaman.
Hermawan sengaja membangun bungalow ini semegah dan seasri mungkin untukbtempat berkumpulnya anak dan cucunya nantinya.
Dia ingin di hari tuanya di hibur dengan kedatangan anak dan menantunya.
"Kakek..." panggil Faiz saat dia telah berada di samping kakeknya yang sedang duduk menikmati indahnya pemandangan sore.
__ADS_1
Hermawan menoleh pada asal suara yang memanggilnya, di ahafal betul suara cucu satu-satunya yang selalu menjadi penghiburnya.
"Faiz..." kakek berdiri lalu memeluk tubuh cucunya yang kini telah tumbuh dewasa.
"Kakek apa kabar???" bisik Faiz.
Hermawan melepaskan pelukkannya saat melihat wanita berhijab yang bersiri di belakang Faiz.
"Fa...inikah istrimu...???" tanya Hermawan menunjuk pada wanita yang menurutnya begitu anggun dengan kepala yang di tutupi hijabnya.
Faiz menoleh pada Zahra, lalu menuntun Zahra untuk menyalami kakeknya.
"Iya kek...ini Zahra istri Faiz..." ucap Faiz memperkenalkan istrinya.
"Zahra kek..." lirih Zahra menyalami dan mencium punggung tangan renta Hermawan.
"Kau beruntung mendapatkan wanita seperti dia Fa...Dia benar-benar anggun..." puji Hermawan terhadap Zahra.
"Terima kasih kek..." lirih Zahra.
"Ayo...kita masuk...sebentar lagi maghrib dan kita makan malam bersama... nemekmu sudah menyiapkan makanan kesukaanmu..." ujar Hermawan menggandeng Faiz di sebelah kanan dan Zahra di sebelah kirinya.
Hermawan tampak menyukai cucu menantunya. baginya Zahra begitu cocok mendampingi Faiz yang berjiwa keras kepala.
Sewaktu kuliah Faiz tinggal bersama kakek dan neneknya di bungalow ini. Dan setelah Faiz menamatkan S2 nya dia pun kembali ke Indonesia untuk mengelola sekolah yang telah didirikan Hermawan.
Bersambung....
.
.
.
w^jangan lupa tinggalkan jejak ya readers yang baik hati...
# like...
# koment...
# Vote...
# dan hadiah...
__ADS_1
terimakasih pembaca setiaku...