
Namun Zahra yang merasa sangat kecewa, dia pun melangkah keluar dari kantin KBRI meninggalkan Faiz dan nenek Faiz yang hanya diam memandang kepergian Zahra.
Nenek Faiz meandang cucunya.
"Kejar Zahra Fa..." perintah nenek Faiz pada Faiz.
Faiz pun mengejar istrinya, sedangkan nenek Faiz melanjutkan belanjanya yang tadi sempat tertunda.
Zahra teris melangkah menyusuri pinggiran jalan tanpa melihat orang-orang yang menatapnya heran, karena Zahra berjalan sambil ngomel-ngomel tak jelas.
Faiz yang kehilangan jejak Zahra langsung menghubungi pengawal yang bertugas menjaga Zahra.
Zahra kini tengah duduk di sebuah taman, dia menatap kosong ke arah depan. Walau dia merasa sudah pergi jauh dari Faiz, dia merasa dirinya aman karena dia tahu ada empat orang pengawal menjaganya.
"Hei...kamu..." panggil Zahra pada salah satu pengawal.
"Saya nona...??" tanya salah satu pengawal sambil menunjuk pada wajahnya.
"Iya..." jawab Zahra melambaikan tangannya.
Pengawal itu heran saat di panggil oleh Zahra. Dia pun melangkah menghampiri Zahra.
"Ada apa Nona...??" tanya pengawal tersebut pada Zahra.
"Temani aku disini..." ucap Zahra pada pengawal itu.
Mau tak mau pengawal itu duduk di samping Zahra, namun sebelum pengawal itu duduk Faiz menarik lengan pengawal itu sambil menyuruhnya untuk meninggalkan Zahra.
Dan kini yang duduk di samping Zahra adalah Faiz.
"Kau tahu...?? emang apa sich salahnya jika aku makan duren...sekedar melepaskan keinginanku mau makan duren..." celoteh Zahra masih menatap lurus ke depan.
"Kalau keinginan ibu hamil itu tidak di turuti kan nanti anaknya bisa ileran...ih...Aku gak mau anakku ileran..." ujar Tasya lagi.
Faiz yang memdengar ucapan Zahra pun membayangkan anak kembarnya ileran semua.
"Ih...aku juga gak mau anak-anakku ileran..." ujar Faiz geli membayangkannya.
Zahra langsung menoleh pada suara di sampoignya.
"Mas Faiz...??" pekik Zahra saat melihat suaminya telah berada di sampingnya.
"Kemana pengawal tadi???" tanya Zahra pada Faiz.
Dengan santainya Faiz menunjuk pada pengawal yang kini telah berdiri di sekeliling mereka.
"Kalau aku makan sedikit boleh ya...!!!" rengek Zahra pada Faiz.
"Ya udah kita tanyakan sama nenek...tapi kita pulang dulu..." jawab Faiz.
"Nggak mau...pasti nenek gak bolehin nanti...kita beli sekarang aja...lalu makan disini..." rengek Zahra semakin membuat kepala Faiz pusing.
Faiz pun membuka ponselnya untuk mencari tahu bahayanya buah duren terhadap wanita yang tengah hamil muda melalui google..
__ADS_1
Faiz membaca dengan seksama, disana dapat di jelaskan bahwa wanita hamil boleh memakannya asalkan tidak berlebihan.
Akhirnya Faiz pun menuruti keinginan istrinya.
"Ya udah...kita kembali lagi ke kantin KBRI lalu membeli satu buah duren saja..." Ajak Faiz pada Zahra.
"Kamu janji mas..." ujar Zahra.
Faiz menganggukkan kepalanya tanda menyetujui keinginan aneh istrinya.
Zahra pun langsung memeluk Faiz.
"Terima kasih sayang..." ucap Zahra lalu mengecup pipi kanan dan kiri serta dahi Faiz membuat para pengawal melotot melihat tingkah aneh nona muda mereka.
Faiz hanya tertawa melihat tingkah aneh istrinya. Faiz mencoba memahami naik-turun emosi istrinya karena wanita hamil itu bersikap sesuka hatinya sesuai hormon kehamilan yang ada di dalam tubuhnya.
Faiz menggandeng istrinya menuju kantin KBRI, dimana disana nenek Faiz sudahenunggu mereka.
Faiz kembali masuk ke dalam kantin, dia mengambil satu buah duren lalu membayarnya.
Setelah itu dia pun langsung keluar menghampiri istrinya yang duduk di bangku di depan Kantin.
"Yuk...kasihan nenek nungguin kita..." ucap Faiz.
Nenek Faiz hanya menatap heran pada tingkah cucunya, dia membiarkan Faiz menuruti keinginan istrinya. Nenek Faiz takut Zahra tersinggung lagi jika dia melarang Zahra memakan duren itu.
Zahra pun melangkah menuju parkiran mobil, di dalam mobil Nenek Faiz memilih banyak diam dari pada mengobrol, karena dia tak ingin salah bicara.
Zahra merasa canggung dan bersalah pada nenek Faiz karena telah mbantah ucapannya.
Nenek Faiz menoleh ke belakang, dimana Faiz dan Zahra duduk.
"Gak apa-apa Ra...nenek cuma ingin yang terbaik buat kamu..." ucap nenek Faiz pada Zahra.
"Iya nek...tapi Ara makan sedikit aja boleh ya..." pinta Zahra memohon.
Nenek Faiz mengangguk.
"Tapi janji ya...gak boleh banyak-banyak..." ucap neenFaiz mengingatkan Zahra pun mengangguk.
Tak berapa lama Zahra pun tertidur, dia merasa sangat lelah, dia merebahkan kepalanya di pangkuan suaminya.
Faiz dengan senang hati membiarkan istrinya tertidur pulas di pangkuannya.
Tak berapa lama mereka sampai di rumah. Saat Faiz hendak menggendong istrinya, Zahra pun terbangun.
"Udah sampai ya mas...?" tanya Zahra pada Faiz.
"Udah sayang...yukk kita turun..." Ajak Faiz.
Zahra pun turun dari mobil, begitu juga dengan nenek Faiz.
"Fa...ingatkan Zahra nanti untuk memakan buah duren itu secukupnya saja...nenek gak mau terjadi apa-apa pada kandungannya..." pesan nenek Faiz sebelum berlalu menuju kamarnya.
__ADS_1
"Iya nek..." jawab Faiz.
Mereka pun masuk ke dalam rumah, Zahra langsung mengajak Faiz untuk ke dapur. Karena dia ingin memakan buah duren yang tadi di belinya.
Semua barang-barang belanjaan tadi di bawa ke dapur oleh mang Ujang, Mang Ujang meminta pelayan lainnya untuk menyusun barang-barang belanjaan itu di kulkas.
"Mang...tolong ya...bukain buah durennya... Zahra mau makan disini..." pinta Faiz pada mang Ujang.
"Baik den..." ucap Mang Ujang. Lalu dia pun mengambil buah duren yang tadi di beli Faiz dan membukanya.
Setelah di bukanya, Mang Ujang memberikan buah duren itu kepada pelayan wanita untuk mensajikannya dan memberikannya pada Zahra.
Zahra masih duduk di meja makan, menanti buah durennya di temani oleh Faiz.
"Ini non..." ucap seorang pelayan sambil meletakkan buah durennya di atas meja.
Zahra pun memakan buah duren itu, baru saja dia memakan satu buah itu, Zahra pun muntah-muntah.
Dia tiba-tiba merasa pusing, dia pun meninggalkan buah itu yang terletak di atas Meja.
"Mas...suruh mang Ujang habiskan buahnya...kan mubazir..." ucap Zahra lalu dia pun berlalu menuju kamarnya.
Faiz pun memanggil kembali mang Ujang dan menyuruhnya untuk menghabiskan buah duren yang masih terletak di atas meja. Lalu dia pun mengikuti langkah istrinya menuju kamar.
Mang Ujang yang merasa beruntung, langsung melangkah menuju meja makan. Dia pun menghabiskan buah itu dengan lahapnya.
******
Keesokkan harinya...
Zahra dan Faiz kembali mengunjungi buk Mawar di rumah sakit.
Tok....tok...tok....
Zahra mengetuk pintu ruangan buk Mawar, seirang wanita yang tak di kenalnya membukakan pintu ruangan itu.
Mata wanita itu tertuju pada Faiz, dia tersenyum.
"Faiz...kamu...???" ucapnya langsung merangkul tubuh Faiz tanpa memperdulikan Zahra yang berada di sampingnya.
Bersambung....
.
.
.
jangan lupa tinggalkan jejak ya readers yang baik hati...
# like...
# koment...
__ADS_1
# Vote...
# dan hadiah...