
Di terminal...
Ridho langsung menuju ruang informasi yang terdapat di terminal itu, Fathiya mengikuti langkah Ridho dari belakang.
Di karenakan Ridho merupakan orang penting dengan mudah masuk ke dalam ruangan informasi tersebut, dan Ridho juga dengan mudah memdapatkan rekaman CCTV saat stella menghilang.
Dari rekaman itu tampak Stella di culik, namun mereka tak dapat memastikan, apakah Stella di culik atau hanya pura-pura di culik.
Setelah mendapat rekaman itu Ridho pun langsung menghubungi anak buahnya dan mengirimkan video tersebut, untuk mencari tahu keberadaan Stella saat ini.
"Saat ini hanya ini yang bisa kita lakukan..." ujar Ridho.
Tanpa di sadarinya Ridho kembali memggenggam tangan Fathiya, namun Fathiya hanya bisa menatap tangan pria yang menarik tangannya menuju mobilnya.
Saat mereka telah berada di dekat monil, Ridho melepaskan tangan Fathiya, lalu dia pun membukakan pintu mobil untuk Fathiya, setelah itu melangkah mengitari mobil masuk ke dalam mobil.
"Sayang kita tak bisa mengejar mobil itu... tapi Aku sudah perintahkan anak buahku untuk mencari mobil itu, kita berharap mobil itu dapat di temukan secepatnya..." ujar Ridho sebelum mengemudikan mobilnya.
Fathiya hanya bisa mengangguk, dia berharap adiknya dapat di temukan secepatnya.
Ridho fokus mengemudikan mobil, sedangkan Fathiya merasakan sesuatu yang aneh saat dia melihat Ridho di tambah dengan sikap Ridho padanya.
Fathiya menatap ke luar jendela, untuk menghilangkan rasa canggungnya.
"Mhm...udah waktunya makan siang...kita makan dulu ya..." ajak Ridho pada Fathiya.
Fathiya hanya mengangguk setuju.
Ridho menghentikan mobilnya di sebuah restoran.
" yuk...." ajak Ridho.
Fathiya pun keluar dari mobil dan mengikuti langkah Ridho, Ridho memilih bangku yang berada di pojok.
"Kamu mau pesan apa???" tanya Ridho pada Fathiya.
Fathiya membolak-balikkan daftar menu memilih makanan yang di rasanya enak.
"Aku pilih chikens steak saus Enoki..." ucap Fathiya.
"Pas banget...di resto ini memang terkenal dengan chiken steak saus enoki yang paling enak..." ujar Ridho.
Pelayan pun datang memghampiri mereka.
"Mau pesan apa tuan...nona...???"sapa Pelayan itu dengan ramah.
"Chikens steak saus Enoki 2..." jawab Ridho
"Minumnya???" tanya Pelayan.
Ridho menatap pada Fathiya, mengangkat alisnya untuk bertanya minuman yang ingin di pesan Fathiya.
"Aku jus lemon aja.." ujar Fathiya.
"Ya udah...aku juga mau jus lemon..." ujar Ridho.
"Berarti pesanannya Chikens steak saus enoki 2 dan jus lemon 2...??" tanya Pelayan memastikan pesanan mereka.
__ADS_1
"Yap..." sahut Ridho.
Fathiya tersenyum melihat Ridho, rasa kagum tumbuh di dalam hatinya.
Pria yang berwajah tampan, penampilannya yang rapi serta kejeniusan yang di milikinya membuat banyak wanita yang tergila-gila padanya.
Ridho yang merasa di tatap oleh Fathiya langsung mengangkat kepalanya sambil mengernyitka dahinya.
"Ada apa...??apa ada yang salah?" tanya Ridho berusaha merapikan penampilannya.
"Eh...tidak..tidak apa-apa..." jawab Fathiya gugup ketahuan menatap kagum pada Ridho.
"Mhm...kau kerja dimana???" tanya Ridho mencairkan suasana canggung di antara mereka.
"Aku...aku bekerja di rumah sakit..."jawab Fathiya.
"Sebagai....???" tanya Ridho ingin tahu.
"Sebagai apa ya...???" Jawab Fathiya menjahili Ridho.
"Kamu seorang perawat atau dokter???" tanya Ridho serius.
"Menurut kamu...??" Fathiya malah bercanda.
"Jija di lihat dari penampilannya....seorang perawat pasti menggunakan pakaian seragam...tapi karena kamu tidak menggunakan seragam...aku tebak kamu seorang dokter???" ujar Ridho menunggu jawaban dari Fathiya.
"Mhmm...ya begitulah..." jawab Fathiya.
"Dulu aku juga ingin jadi dokter...tapi...Faiz mengajakku untuk berkecimpung di dunia pendidikan...sebagai sahabat terbaik Faiz... Aku memutuskan untuk sekolah di bidang pendidikan..." jelas Faiz pada Fathiya.
"Faiz adalah sahabatku sewaktu aku mengambil S2 ku di Paris...kamu tak ikut bersamanya???" Fathiya heran mendengar pernyataan Ridho sebagai sahabat Faiz.
"Saat itu papa sedang sakit keras...membuatku tak mungkin meninggalkan Indo...sehingga aku ngambil s2 di sini..." jelas Ridho.
Tak berapa lama pesanan mereka pun datang.
Mereka menyantap makanan mereka dengan saling mengenal satu sama lain hingga akhirnya mereka pun merasa saling dekat.
Ridho yang awalnya canghung memanggil nama Fathiya, akhirnya dia pun memanggil nama kecilnya YAYA...
Setelah selesai makan siang, Ridho mengantarkan Fathiya ke tempat mobil Fathiya yang di tinggalkannya tadi.
"Makasih ya..." ucap Fathiya saat dia telah berada di depan mobilnya.
"Sama-sama...jika ada informasi terbaru kabari aku..." ujar Ridho.
"Ya...kamu juga...kabari aku secepatnya jika ada berita terbaru..." Ujar Fathiya.
"Okeh..." sahut Ridho, lalu Ridho membalikkan tubuhnya melangkah menuju mobilnya, sedangkan Fathiya menatap Ridho dengan penuh rasa kagum hingga menghilang masuk ke dalam mobilnya.
Fathiya pun melanjutkan perjalanannya pulang, dia merasa lelah dan memutuskan untuk pulang.
*****
Sementara itu, di sebuah rumah kosong di pinggiran kota. Stella terikat di sebuah kursi, di dalam kamar yang terkunci.
Dia baru saja tersadar dari pingsannya akibat obat bius yang di berikan seorang pria yang menculiknya saat di terminal.
__ADS_1
Stella menatap pada sekelilingnya, dia kaget saat sadar dirinya terikat di sebuah kursi.
Tiba-tiba seorang pria berbadan besar, pria yang berperawakan seorang preman dengan seorang wanita berpakaian seperti pelayan.
"Kasih dia makan!!!" perintah pria pada pelayannya.
Pelayan itu menghampiri Stella dengan membawa sepiring makanan.
"Siapa kau...???" teriak Stella.
"Kau tak perlu tahu siapa aku... Ini semua karena kau telah berurusan dengan orang yang salah...." bentak sang Pria.
"Maksudmu???" tanya Stella heran.
"Nanti kau akan tahu...sekarang makanlah...!!!" ucap Si Pria lalu dia meninggalkan Stella dengan pelayan wanita itu.
Di luar kamar si Pria menelpon seseorang.
" Tuan...wanita itu sudah di eksekusi..." ujar si pria pada tuannya tak lain adalah Kakek Hermawan.
"Baiklah...sebentar lagi aku akan kesana..." ujar Hermawan.
Hermawan sengaja menyuruh orang suruhannya untuk menculik Stella agar dia bisa menginterogasi Stella untuk mengungkap alasan Stella berniat mencelakai cucu menantu kesayangannya.
Setelah mendapat telpon itu, Hermawan pun bersiap-siap berangkat ke sebuah rumah miliknya yang jauh dari penduduk.
"Kakek mau kemana...???" tanya Faiz saat Hermawan hendak keluar dari Villa.
"Kakek ada urusan sebentar, Kakek harap kalian tidak keluar dari Villa..." pesan kakek.
"Iya kek..." ucap Faiz.
Hermawan pun pergi menuju tempat anak buahnya mengeksekusi Stella, di atar oleh para body guardnya yang sangat jitu.
Tak betapa lama, Hermawan pun sampai di rumah tempat Stella berada.
Di rumah itu terdapat beberapa pengawal untuk menjaga agar Stella tak dapat melarikan diri.
Saat Hermawan masuk ke rumah itu, para pengawal dan anak buahnya memberi hormat padanya.
"Dimana wanita itu???" anya Hermawan.
Bersambung....
.
.
.
jangan lupa tinggalkan jejak ya readers yang baik hati...
# like...
# koment...
# Vote...
__ADS_1
# dan hadiah