
Dalam perasaan bersalahnya Faiz mencoba untuk memejamkan matanya. Dia merebahkan tubuhnya di samping istrinya, Faiz menatap wajah anggun Zahra yang selalu tertutup dengan hijabnya.
Semenjak menikah Zahra tak pernah membuka hijabnya di hadapan Faiz, Namun Faiz pernah melihat mahkota Zahra di saat dia marah dan membuka paksa hijab istrinya, 2 kali hal itu di lakukannya namun Zahra tetap menutupi mahkotanya di hadapan suaminya.
Faiz mengartikan hal itu, bahwa Zahra tak rela membiarkan auratnya terbuka walaupun itu di depan suaminya.
"Maafkan aku...!!" lirih Faiz yang ternyata di dengar oleh Zahra yang awalnya terbangun hendak ke kamar mandi, namun mendengar kata-kata dari Faiz dia pun pura-pura tidur lagi.
"Aku terlalu jahat padamu...mungkin aku tak pantas jadi suamimu..." Lirih Faiz lagi.
Kata-kata Faiz membuat, hati Zahra perih, selama ini dia berusaha menjadi istri yang baik bagi Faiz, walaupun Zahra belum Rela memberikan hal yang berharga baginya yaitu Aurat dan seliruh tubuhnya pada pria yang kini telah sah menjadi suaminya.
Zahra ingin menyakinkan dirinya bahwa Faiz benar-benar pria yang baik untuknya, di saat hatinya yakin dia akan memberikan segalanya pada suaminya.
Faiz terus mencoba memejamkan matanya hingga dia pun mulai tertidur, di saat Faiz tertidur Zahra pun bangun dia pun melangkah ke kamar mandi.
Setelah kembali dari kamar mandi Zahra pun membaringkan tubuhnya di ranjang dia menatap wajah teduh suaminya. Dia yakin di balik kekerasan Faiz tersimpan hati yang lembut, hal ini yang terus di yakini Zahra sehingga dia masih bertahan di sisi Faiz.
*****
Satu bulan pernikahannya.
Di pagi hari, seperti biasa Zahra menunaikan shalat subuh dan mengaji. Faiz akan terbangun saat mendengar Zahra yang melantunkan ayat suci al-quran.
Faiz bangun dan beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, Saat Faiz telah masuk ke kamar mandi, Zahra menyelesaikan ibadahnya, dia menyimpan sajadah dan mukenanya.
Zahra mengambil pakaian yang akan di kenakan Faiz, Saat Gaiz keluar Zahra menghampiri Faiz dan membantunya mengenakan pakaiannya.
Hal ini telah menjadi kebiasaan bagi Zahra, bahkan Zahra kini telah bisa memasangkan dasi Faiz.
Selama satu bulan ini mereka lebih banya diam, dan berbicara di saat hal penting saja. Zahra masih syok dengan perlakuan Faiz, sedangkan Faiz masih Egois untuk mengakui keaalahannya secara langsung.
Faiz telah rapi untuk berangkat sekolah, sebelum berangkat dia pun sarapan bersama dengan kedua orang tuanya.
Zahra masih melayani suaminya sebaik mungkin, walau ada masalah di antara mereka berdua namun di depan Adrian dan Rahayu mereka berusaha menutupinya.
"Fa...bagaimana urusan kuliah Zahra...???" tanya Rahayu heran karena sebulan ini Zahra tak pernah keluar rumah.
"Mhm...beres ma...minggu depan Zahra sudah mulai kuliah ma..." jawab Faiz, Zahra bingung dengan jawaban Faiz mana mungkin dia bisa kuliah sedangkan dia belum melaksanakan pendaftaran dan tes.
Namun rasa penasaran itu hanya di pendamnya di dalam hati.
"Owh...syukurlah...mama kira kamu lupa dengan kuliah Zahra, soalnya belakangan kamu keliatan sibuk mempersiapkan akreditasi sekolah..." ujar Rahayu.
"Iya ma...nggak mungkin Faiz lupa hal sepenting ini...bagi Faiz segala yang berkaitan dengan Zahra adalah hal yang penting..." ucap Faiz jujur dan tulus dari hatinya.
__ADS_1
Zahra menatap mata Faiz yang terdapat kejujuran disana. Biasanya mata itu selalu menatap Zahra dengan tajam namun kali ini tatapan itu beda dari biasanya.
"Papa senang mendengarnya...papa gak salah menjodohkan kalian..." ujar Adrian penuh syukur dan terpancar di wajahnya sinar kebahagiaan.
Adrian sangat menyayangi Zahra, semenjak kecil dia ikut andil dalam mendidik Zahra, bagi Adrian, Zahra adalah putrinya.
Bahkan karena kasih dan sayangnya terhadap Zahra, membuat Adrian tak rela melepaskan Zahra menikah dengan pria lain. Sehingga dia menjodohkan Zahra dengan putranya yang terkenal selalu dingin pada wanita mana pun.
Semenjak remaja, Adrian tidak pernah melihat Faiz dekat dengan wanita, Wanita yang paling dekat dengan Faiz adalah Zahra. Walaupun di saat remaja, Zahra enggan untuk berkomunikasi dengan Faiz.
Apalagi semenjak Faiz menjabat sebagai kepala sekolah di Yayasan Harapan Bangsa.
Seolah Zahra sangat membenci Faiz yang sangat angkuh, dingin dan kejam.
Zahra dan Faiz hanya tersenyum kaku mendengar ucapan Adrian.
"Faiz berangkat dulu ya ma...pa..." ucap Faiz lalu berdiri meninggalkan ruang makan yang di ikuti Zahra dari belakang.
Di teras rumah, Zahra menyalami suaminya. dan membiarkan Faiz menciumi puncak kepala Zahra.
Kali ini Faiz mengelus pipi Zahra.
"Kebetulan hari ini hari sabtu, mas pulang lebih awal bersiaplah...mas akan ajak kamu jalan-jalan..." ucap Faiz.
Zahra hanya mengangguk pelan mengiyakan ucapan Faiz. Faiz pun meninggalkan Zahra dan melangkah menuju sekolah.
****
Reynald dan Alisya sedang duduk di sebuah cafe, mereka baru saja melihat nama-nama mahasiswa yang lulus sebagai mahasiswa di universitas XX.
Alisya dan Reynald di nyatakan lulus di jurusan yang sama sedangkan dia tidak menemukan nama Zahra di sana.
Alisya mulai sedih dengan keadaan Zahra, Alisya berfikir, Faiz tidak mengizinkannya untuk melanjutkan kuliah di Universitas XX.
"Sya...kamu pernah kontak Zahra gak...??" tanya Reynald yang heran atas menghilangnya Zahra.
Terakhir dia berkomunikasi satu bulan yang lalu, semenjak itu hpnya tidak pernah aktif lagi.
"aku juga heran nich...sejak ketemu ngambil persyaratan pendaftaran, Zahra tidak pernah menghubungiku...setiap aku menghubunginya ponselnya selalu tidak aktif" ujar Alisya yang juga heran dengan hilangnya Zahra dari peredaran.
"Kita samperin ke rumahnya yuk..." Ajak Reynald yang sudah rindu berat dengan wanita pujaannya.
"jangan...!!!" seru Alisya membayangkan suami Zahra nan kejam itu.
"Ada Apa emangnnya...???" tanya Reynald semakin penasaran dengan tingkah Alisya.
__ADS_1
"Gak apa-apa sich...mhm...besok dewh aku samperin dia...tapi kammu gak usah ikut..." ucap Alisya.
"kok gitu...??" protes Reynald.
"Ya ga pa-pa juga sich...kayaknya Zahra agak risih dewh di kunjungi sama cowok..." Alisya mencoba memberi alasan agar Reynald tidak bertanya lagi
"Owh gitu...ya udah aku tititp salam buat Zahra ya..." ucap Reynald kecewa.
"Habis ini kamu mau kemana Sya..??" tanya Reynald pada Alisya.
"gak kemana-mana.."
" kamu mau gak temani aku ke mall cari beberapa buku novel..." ajak Reynald .
"boleh...sekalian aku bosan mau jalan-jalan" seru Alisya semangat.
setelah selesai menghabiskan minuman yang tadi mereka pesan, Alisya dan Reynald pun langsung menuju mall.
****
Zahra duduk melamun di balkon kamar, sudah sebulan Zahra hanya dapat melihat dunia luar dari balkon kamarnya.
Zahra mengisi hari-harinya yang kosong dengan menonton televisi dan duduk di balkon kamar sambil menyaksikan canda gurau para ibu-ibu kompleks dengan tukang sayur.
"Kamu disini...???"
Bersambung....
.
.
.
.
jangan lupa tinggalkan jejak ya readers yang baik hati...
# like...
# koment...
# Vote...
# dan hadiah...
__ADS_1
terimakasih pembaca setiaku...