
"Papa, maaf" lirih Roy.
Yoga tersenyum, ia berlutut di depan putranya.
"Kenapa kamu minta maaf sayang? papa malah bahagia, kamu sudah tahu semuanya" balas Yoga tersenyum lembut, tangan nya mengusap pipi Roy lembut.
"Tapi, mami sedih. Aku membuat mami sedih, hiks ..Hiks...."
Titi dan Julia pergi mengejar Raisa, di ruangan itu hanya ada Yoga dan Roy.
"Tidak sayang, mami sebenarnya bahagia. Hanya saja dia terkejut" bujuk Yoga sembari memeluk putranya erat.
"Benarkah?" tanya Roy, tangis nya mulai mereda.
"Iya sayang, mami itu sayang banget sama Roy, dan dia pasti seneng Roy lakukan ini"
Roy membalas pelukan papa nya, ia mengecup pipi papanya, lalu semakin mengeratkan pelukannya. Seakan akan ia sedang melepas rindu yang selama ini ia pendam.
...----------------...
Raisa terus berlari,ia masuk ke dalam lift. Lalu menekan tombol lift agar cepat tertutup sebelum Julia dan Titi berhasil mengejarnya.
"Raisa!!!!" teriak Titi dan Julia bersamaan. Namun, mereka terlambat, Lift sudah tertutup rapat.
"Aduhhh, tu anak ngeselin banget!" gerutu Julia dengan nafas tersengal.
Raisa keluar dari lift, ia langsung menuju ke parkiran dan memutuskan untuk pergi dari sana.
Apa yang terjadi hari ini, sangat membuat dirinya terkejut. Ternyata ini tidak kebetulan, ini adalah rencana Julia dan Titi.
Sembari menyetir, Raisa memukul mukul dadanya yang terasa sangat sesak.
"Kenapa sakit sekali!" lirih Raisa. Air matanya terus mengalir membanjiri pipinya.
...----------------...
Julia dan Titi tiba di parkiran. Lagi lagi mereka kalah cepat, Raisa sudah pergi meninggalkan mall itu.
"Yah, dia sudah pergi!" lenguh Julia.
"Kita harus kemana ni?" sambut Julia lagi.
Titi tampak diam, memikirkan kemana Raisa akan pergi.
"Aku rasa aku tahu kemana dia pergi!!" ujar Titi ,ia menarik tangan Julia.
"Ehh... Mau kemana?" kaget Julia, tangan nya tiba-tiba di tarik tanpa pemberitahuan dari Titi.
"Ikut aja, aku tahu Raisa kemana!" jawab Titi. Mereka sudah masuk di dalam mobil Titi, lalu melaju meninggalkan mall.
Tak berapa lama, Titi dan Julia tiba di Danau tempat Raisa biasa menenangkan diri.
__ADS_1
Mereka berjalan mencari keberadaan Raisa di tepi Danau.
"Itu dia!" ujar Titi menunjuk ke arah wanita yang kini berdiri menatap hamparan danau.
"Huh, akhirnya ketemu juga" gumam Julia sembari mengatur nafas.
Raisa tidak merespon, ia masih menatap lurus ke bentangan luas danau.
"Kenapa kalian datang ke sini?" tanya Raisa dengan nada dingin.
"Mencari kamu kah, ngapain lagi" jawab Julia.
"Tidak usah temui aku lagi!"
Deg.
Julia dan Titi kaget, semarah itu kah Raisa pada mereka??.
"Apa soal kejadian ini kamu marah pada kami?" tanya Julia.
Raisa berbalik, kondisinya tidak baik baik saja. Raisa kacau, penampilan nya sangat berantakan. Air mata terus mengalir dari sudut matanya.
"Kalian tahu? berapa lama aku menyimpan dan menahan semua rasa sakit ini?. Menyimpan amarah saat melihat putra ku di hina! di caci oleh orang orang!
Apa kalian memikirkan itu???" Raisa berteriak, ia benar-benar marah Sekarang.
"Raisa, maksud kami hanya ingin Roy dan kamu bahagia" ungkap " sela Titi.
"Diam!!!!" teriak Raisa.
"Tapi dia berhak tahu!" balas Julia, ia malah terpancing emosi mendengar teriakan Raisa.
"Kau tidak berhak ikut campur! aku tidak pernah meminta kalian mengurai hidup ku!jalani saja hidup kalian!" sinis Raisa.
"Lina! sadar lah! apa kau tidak mau melihat putra mu bahagia?apa kau suka dia di hina Dandi caci maki terus? bahkan dia tidak memiliki teman. You know?" balas Julia berteriak.
Raisa terdiam, ia malah kena mental mendengar teriakan Julia.
"Roy butuh kasih sayang orang tua yang lengkap Lina. Dia itu masih kecil, tapi sudah merasakan tekanan batin seperti itu." lirih Julia.
"Kami hanya ingin kau bahagia Raisa, tidak lebih! "sahut Titi
"Kalian malah membuat ku semakin menderita!" balas Raisa, ia kembali menghadap ke danau, membiarkan air mata terus mengalir begitu saja.
"Kamu harap kau memikirkan tentang Roy Lina, jangan hanya karena kau membenci Yoga, kebahagiaan Roy menjadi taruhannya" kata Julia.
"Semua ada di tangan mu" tambah Titi.
Mereka pergi dari sana, meninggalkan Raisa sendiri untuk menenangkan diri.
...----------------...
__ADS_1
Yoga membawa Roy pulang ke rumah nya, malam ini ia akan menghabiskan malam bersama putranya.
Yoga sudah mengirimkan pesan pada Raisa dan juga Julia. Agar mereka tidak mencari Roy nanti.
Julia mengatakan boleh, sedangkan Raisa. Ia hanya melihat pesan dari Yoga tanpa membalasnya.
"Malam ini papa ingin tidur memeluk anak papa yang sangat tampan!!!" sorak Yoga seperti anak kecil.
Roy tersenyum senang, tapi hatinya sedih. Dirinya tidak mau berdua saja dengan papa nya. Tapi dia juga ingin bersama mama nya.
Yoga membawa dua gelas coklat di tangannya. Ia meletakkan di atas meja di depan Roy, lalu menggendong putranya dan di letakkan di atas pangkuannya.
"Kok anak papa sedih sih???"
Roy menunduk, memeluk leher papa nya.
"Aku tidak mau berdua saja dengan papa. Tapi bertiga dengan mama" kelu Roy.
"Iya sayang, besok kita akan bertiga sama mama. Kamu tenang aja!" janji Yoga.
"Benarkah??? papa gak bohong???" tanya Roy memastikan. Ia menatap papanya dengan mata berbinar.
"Semoga saja Raisa bisa membuka hatinya" batin Yoga berdoa.
"Sekarang, kita minum susu coklat yah!. Setelah itu gosok gigi dan cuci tangan kaki. Bersiap untuk tidur !!!!" Sorak Yoga di akhir kalimat nya.
"Yeayyy!!!!" sahut Roy bahagia.
Malam itu, Yoga merasa sangat bahagia. Ia bisa tidur bersama putra nya.
Setelah sekian lama kehilangan tanpa di ketahui, akhirnya menjadi buah yang cantik.
"Eh siapa ini?"tanya Niko bercanda, ia mencubit lembut pipi Roy.
"Om siapa?" tanya Roy menepis tangan Niko.
"Dia Saudara papa sayang, dia juga yang ngasih tahu papa kalau mama kembali" jelas Yoga.
Barulah Roy tersenyum hangat, setelah mendengar kebaikan Niko.
"Aku Roy, anak papa" ucap Roy memperkenalkan diri.
"Uncle Niko", balas Niko.
...----------------...
Raisa pulang ke rumah, ia langsung pergi ke kamar putranya.
"Sepi" lirihnya,ia duduk di tepi ranjang milik Roy, lalu ia juga merebahkan tubuhnya terlentang dan menatap langit langit kamar Roy.
Air mata Raisa kembali membanjiri pipinya. Ia merasa ucapan Titi dan Julia emang benar. Roy menjadi korban atas keegoisan. dirinya.
__ADS_1
"Maafin mami Roy, mami gak bisa jadi mami yang baik untuk kamu" lirih Raisa.
Wanita itu meringkuk di atas ranjang Roy ,meratapi kehidupan nya dan juga sikapnya yang membuat putranya menderita.