
Mengurung diri di kamar seharian, merupakan pilihan yang Raisa inginkan. Ia merasa tidak ada yang mau berpihak kepada nya. Semua orang membela Yoga.
Pria yang sudah membuat nya bahagia, lalu menghancurkan hatinya begitu saja.
3 hari sudah, Raisa tidak mau keluar dari kamar. Selama itu pula ia hanya minum air putih di kalah ia haus. Rasa lapar tidak ia rasakan. Kecuali Titi menyuguhkan ayam bakar. Raisa tidak dapat menolaknya.
Tuk!!! Tuk!!
"Sayang, keluar lah. Kakak mau bicara dengan mu" panggil Johan dari luar.
Raisa tak bergeming, ia hanya melirik sebentar pintu kamarnya lalu kembali menangis sendirian.
"Hiks...Hiks...Untuk apa bicara, ujung ujungnya kalian membela pria itu!" dengus Raisa dalam tangisnya.
Johan terus membujuk Raisa, terkadang Titi ikut mencoba membujuknya. Namun, hasilnya tetap sama. Gadis itu tetap keras kepala dan tidak mau berkompromi.
Di rumah nya, Yoga tampak kacau. Dia semakin gelisah dan menyalahkan dirinya dengan keadaan yang menimpa Raisa.
Yoga mendapat informasi dari Titi, bahwa Raisa mengurung diri di dalam kamar tanpa makan dan minum.
"Maafkan aku Raisa..." lirih Yoga merasa bersalah.
Pria itu sangat putus asa, ia tidak tahu lagi harus bagaimana untuk mengembalikan Raisa ke sisinya.
Yoga pergi ke sebuah klub malam, ia memutuskan untuk minum minum di sana.
Sembari minum, Yoga terus menatap foto Raisa yang ada di ponselnya. Ia sangat merindukan senyum manis gadis itu.
Lagi dan lagi Yoga kembali meneguk habis botol yang entah sudah ke berapa ia habiskan.
Yoga sudah mabuk berat, ia merancang tidak karuan memohon maaf pada Raisa.
"Kau gadis polos, tapi kau membuat ku seperti ini!"
"Kau itu bukan siapa siapa, tapi kau pemilik hati ku. He he... Keluguan mu membuat aku masuk ke dalam dunia terindah.."
Bruk~ Yoga ambruk di atas meja, bahunya bergetar. Ternyata pria itu menangis.
Ponsel yang Yoga pegang jatuh ke lantai. Salah satu pelayan klub itu memungutinya dan ingin memberikan pada pelanggan.
Saat ini klub itu akan tutup, karena itulah pelayan itu ingin mendekati Yoga.
"Tuan, ini ponsel mu. Apa kau sudah selesai minum? klub ini akan tutup sebentar lagi" ucap laki laki muda yang berprofesi sebagai pelayan.
Yoga tidak menyahut, ia masih tertelungkup di atas meja. Membuat pelayan itu sedikit panik. Bagaimana caranya untuk menyuruh pria itu pergi, sementara dirinya sudah terlalu mabuk.
Di lihatnya ponsel Yoga, kemudian di bukanya kontak yang sering di hubungi.
Tut..... Tut.....
__ADS_1
"Halo, apa anda kerabat pria ini? dia sudah mabuk berat. Toko kami akan segera tutup. Bisakah anda menjemput nya?" ucap pelayan itu panjat lebar.
Orang di sebrang sana hanya diam, ia tidak membalas ucapan pelayan itu.
"Hallo, apa kau masih di sana? tolong katakan, siapa yang harus aku hubungi jika kau tidak bisa. Boss ku akan mara-"
Klik~
Panggilan terputus.
"Aiss ...Sungguh tidak sopan. Jika tidak bisa katakan saja, jangan langsung seperti ini" maki Pelayan itu menatap ponsel Yoga.
Pelayan itu menatap Yoga frustasi, apa yang harus ia lakukan dengan tuan ini. Ia tidak bisa melihat kontak lain selain melihat panggilan yang sering di hubungi. Hanya itu yang tidak terkunci.
"Tuan, apa kau ingin membuat ku lembur sampai pagi?" gerutu pria itu kesal.
Yoga sudah tidak sadarkan diri, pria itu benar-benar banyak minum hari itu.
Di tempatnya, Raisa masih tampak ragu. Ia memang membenci Yoga, tapi ia juga tidak mau sesuatu terjadi pada pria itu jika nanti dirinya kecelakaan.
"Gak, aku gak perlu perduli!" tegas nya.
Namun, hatinya tidak bisa berbohong. Raisa benar benar khawatir pada pria itu.
"Ah sial! kau akan membayar untuk hari ini!" putus Raisa bangkit, ia mengambil jaket nya dan juga kunci mobil.
Lalu, ketika bersama Johan. Raisa meminta dibelikan mobil, tapi belum pernah ia coba mengendarai nya.
Raisa berjalan cepat menuruni anak tangga. Johan yang masih duduk di sofa ruang tengah menatap kaget Adiknya.
"Loh Raisa mau kemana?" tanya Johan menghadang Raisa.
"Aku ingin menghirup udara segar. Aku tidak akan jauh" Jawab Raisa melewati kakaknya.
"Malam malam begini??" teriak Johan menyusul. Sekarang adalah pukul 11 malam.
"Sudah lah, jangan pedulikan aku. Aku akan menghubungi mu jika aku mendapat masalah!" balas Raisa sembari masuk ke dalam mobil, lalu melaju meninggalkan rumah.
Johan merasa khawatir, ia hendak mengikuti Raisa. Namun, Titi melarang nya.
"Tidak perlu tuan, nona pergi bertemu dengan tuan muda" ucap nya.
Johan kaget, bagaimana Titi tahu? Raisa saja sangat membenci Yoga. Bagaimana mungkin Raisa ingin bertemu dengannya.
"Kau gila?" dengus Johan.
"Cih, " Titi mengerucutkan bibirnya di jati begitu. "Aku mendengar seseorang menghubungi Raisa. Ia mengatakan jika Yoga Sekarang sedang mabuk" jelas Titi.
"Bagaimana jika itu jebakan?"
__ADS_1
Titi menggeleng pelan, otak Johan terlalu parno ternyata.
"Aku sudah menghubungi ponsel tuan muda, aku juga sudah memastikan jika yang menelfon tadi benar-benar pelayan Klub." jelas Titi.
Barulah Johan tenang, setidaknya adiknya akan baik baik saja.
Tadi memang Titi mendengar suara pelayan menelfon Raisa. Lalu, untuk memastikannya Titu mencoba memanggil video ke ponsel Yoga. Pelayan itu mengangkatnya dan memperlihatkan betapa malangnya Yoga.
Raisa terus mengendarai mobilnya menuju ke klub yang pelayan itu katakan.
Tampak jalanan mulai sepi, tidak terlalu padat pengendara meramaikan jalanan raya.
Sebenarnya sudah waktu untuk beristirahat, namun namanya jalan raya, tidak pernah putus kendaraan melaluinya.
Raisa tiba di depan klub, dengan menarik nafas dalam gadis itu keluar dari mobil dan melangkah masuk.
Klub itu sudah sangat sepi, seperti nya ini hanya tempat minum. Tidak seperti klub yang semakin larut semakin ramai.
"Adakah klub sepi seperti ini?" gumam Raisa. Ia terus melangkah masuk, mencari cari keberadaan Yoga.
Melihat Raisa seperti orang kebingungan, pelayan yang tadi duduk di samping Yoga langsung berdiri dan memanggil Raisa.
"Hei nona, kau mencari pria ini kan???" teriak pelayan itu.
Raisa menoleh, matanya menangkap sosok Yoga tengah menelungkup di atas meja, setengah badannya jatuh terjuntai.
"Seperti pria tidak berguna saja" umpat Raisa kesal.
Pelayan itu menatap Raisa, ia melihat ponsel yoga, lalu melihat ke arah wajah Raisa. Sama persis.
"Kenapa?" sinis Raisa.
"Kau wanita yang ada di dalam sini kan?" ucap pelayan laki laki itu sembari menunjukkan layar ponsel Yoga.
Deg.
Raisa kaget, kenapa fotonya ada pada Yoga. Sejak kapan wallpaper ponsel pria itu memakai fotonya.
"Raisaaaa!!!!??" erang Yoga kuat. Mengagetkan Raisa dan pelayan itu.
"Huh, dasar pria putus asa. Sejak tadi dia hanya memanggil nama itu, lalu menatap foto anda" decak pelayan itu.
Raisa tidak menjawab, ia hanya diam membisu sembari mendengar ocehan pelayan.
"Cepatlah bawa dia pergi, aku harus segera menutup klub ini dan beristirahat"
Pelayan itu pergi mengemasi meja meja yang lain, membiarkan Raisa diam menatap berapa rapuhnya Yoga saat ini.
...___________________...
__ADS_1