Terpikat Pesona Gadis Lugu

Terpikat Pesona Gadis Lugu
RENGGANG


__ADS_3

Salam hangat buat kalian semua😘😘😘😘😘


Terimakasih sudah mampir!!!


Komen dan like jangan lupa yah!!!!


Aku akan lebih sering up jika like dan komennya ada. 🥺


...~Happy reading ~...


Makan malam terasa sedikit canggung. Yoga merasa ada yang lain dengan Raisa. Sejak tadi gadis ini hanya diam dan tidak terlalu banyak bicara.


"Apa ada sesuatu yang aku tidak tahu?" tanya Yoga.


Raisa menggeleng pelan.


"Seharusnya aku yang bertanya begitu" batin Raisa.


"Apa makanan nya enak?" tanya Raisa berusaha untuk tetap terlihat normal. Ia malas berdebat dengan Yoga, mungkin dirinya saja yang terlalu berprasangka.


"Tentu saja enak. Masakan mu memang selalu enak" jawab Yoga.


Raisa mengangguk, ia sedikit merasa senang mendengar nya.


"Bagaimana pekerjaan kantor? apa hari ini lancar?"


"Yah, seperti itu lah Honey. Semua pekerjaan ku terasa membosankan apabila aku jauh dari mu"


Cih..Raisa tersenyum malu. Ia merasa Yoga Sekarang berubah menjadi raja gombal.


"Kenapa tersenyum? apa kau tidak percaya??"


"Yayayayaya aku percaya. Cepat habiskan nasi mu. Lalu beristirahat lah"


Ucap Raisa, ia menghabiskan cepat makanan nya lalu beranjak menuju dapur.


"Cepat sekali" gumam Yoga.


...----------------...


Raisa kembali ke kamar lebih dulu, ia beralasan pada Yoga jika kepala nya terasa sedikit pusing.


"Mengapa pria itu tidak jujur" gerutu Raisa berjalan menuju ke kamarnya dan Yoga.


Sedangkan Yoga, melamun di meja makan. Ia merasa ada hal yang aneh pada diri Raisa.


Wanita nya itu berubah menjadi sedikit cuek terhadapnya. Biasanya Raisa akan sangat cerewet dan menceritakan semua yang ia lakukan hari ini.


Namun kali ini Raisa lebih banyak diam.


"Ada apa?" gumam Yoga.


Cling~


Johan massage


Bagaimana keadaan adik ku?


"Cih, dia pikir adiknya dalam bahaya?" cibir Yoga membaca pesan dari calon kakak iparnya.


Yoga send.


Adik mu baik baik saja. Dia aman bersama ku!


Cling~


Terdengar suara pesan masuk lagi dari ponsel Yoga.


Johan massage


Awas saja jika kau tidak membahagiakan nya!


Yoga tertawa membaca pesan dari Johan yang terus berisi soal ancaman.


Yoga tidak membalasnya, ia malah beranjak dari ruang makan menuju ke kamar.


Sebelum masuk ke kamar, Yoga mendapat telfon grup dari Johan dan Niko.


Aneh, Yoga menggeleng melihat nama Niko tertera di sana. Padahal jaraknya dan Niko sangat dekat. Mereka berada dalam satu atap.


Yoga tidak jadi masuk ke dalam kamar, ia malah berjalan menuju ke ruang kerja nya.


"Ada apa ini??? kenapa kalian malah menggangu malam ku??" kata Yoga setelah menjawab panggilan video dari mereka.


"Wahhhh tuan kita ingin *** *** yah!!" goda Niko.


Terlihat Johan langsung melotot pada Yoga.

__ADS_1


"Awas saja jika adik ku bunting sebelum kau menikahinya!!" teriak Johan.


"Hahaha...Aku tidak akan menghamilinya, tapi aku tidak jamin jika dia tidak keenakan" balas Yoga bercanda.


"Sialan kau" umpat Johan. Ia tahu jika Yoga bercanda.


"Apa rencana mu Yoga, kapan kau akan menikahi Raisa?" tanya Niko membuka obrolan setelah mereka sama sama terdiam.


"Benar juga, kapan kau akan menghalalkan adik ku?? jika kau tak memiliki niat itu. Maka aku akan membawa adik ku pergi" sahut Johan.


Yoga memperbaiki posisi duduknya, ia juga sedang memikirkan hal yang sama.


"Aku sedang bingung, apa kah tidak terlalu cepat bagi Raisa untuk menikah? bukankah dia baru 19 tahun?"


"Tidak masalah, jika gadisnya siap" sahut Niko.


"Bagaimana aku bisa tahu, jika adik mu itu sudah siap?" ujar Yoga bingung.


"Lamar saja dia!" tukas Johan.


"Benar!! beri dia pesta kejutan, lalu lamar dia saat itu juga" usul Niko.


Yoga tampak terdiam, ia mulai mempertimbangkan usulan keduanya.


"Seperti nya tidak buruk. Aku akan melakukan nya" ucap Yoga menerima usulan Niko.


"Ya sudahlah, aku mengantuk. Bye"


"Bye"


Klik.


Johan dan Niko memutuskan sambungan video call secara bersamaan. Membuat Yoga yang belum sempat mengucapkan salam perpisahan terdiam.


"Dasar tidak sopan, apa begitu cara mereka menghargai teman" maki Yoga pada ponselnya, seolah olah itu adalah Johan dan Niko.


...----------------...


Di dalam kamar, Raisa bergerak gelisah. Ia pikir Yoga marah padanya karena ia tinggalkan di meja makan.


Sudah hampir 1 jam Raisa menunggu di kamar. Namun, Yoga tak kunjung menyusulnya.


"Apa dia marah?" gumam Raisa bertanya pada dirinya sendiri.


"Aku tidak yakin, tapi dia tidak masuk ke kamar. Ini sudah lebih dari 1 jam" gumam Raisa sembari menatap jam dinding.


Buru buru Raisa menutup mata dan berpura pura tertidur. Ia tidak mau Yoga mengetahuinya belum tidur.


Raisa mendengar langkah kaki mendekat kearah ranjang, lalu berhenti di samping nya.


Yoga berjongkok di samping Raisa. Menatap wajah damai gadis itu dalam.


"Maaf jika aku melakukan kesalahan" gumam Yoga pelan, kemudian mengecup kening Raisa, turun ke hidung dan berakhir di bibir Raisa.


Kecupan yang singkat, namun terasa hangat di sanubari.


Raisa masih mempertahankan matanya agar tetap tertutup. Ia ingin tahu apa yang akan Yoga katakan selanjutnya.


"Nice dream sweetie"


Setelah mengucapkan kata kata selamat tidur, Yoga beranjak dari sana. Ia tidak naik ke atas ranjang, melainkan kembali keluar dari kamar.


Mendengar pintu kembali terbuka dan tertutup. Membuat Raisa langsung membuka matanya lebar.


Gadis itu duduk di atas ranjang, menatap tidak percaya seisi kamar.


Bisa bisanya Yoga kembali keluar dan meningkatkan dirinya tidur sendiri.


"Apa yang salah?? kenapa dia tidak tidur di sini???" tanya Raisa heran.


"Ah bodo amat!"


Raisa kembali merebahkan dirinya di atas ranjang, kemudian menarik selimut hingga menyelimuti seluruh tubuhnya.


...----------------...


Draison berbaring di atas ranjang, ia berbalik membelakangi istri nya ketika Yaisya mulai menaiki ranjang.


"Cih, Sekarang sok gak mau tidur sama aku. Dulu kau mengejar aku" dengus Yaisya.


Sebenarnya Yaisya benar benar menyukai Draison. Namun pria itu seakan menolak dirinya setelah mengetahui niat jahat darinya.


"Jika aku tahu siapa dirimu, maka aku tidak akan pernah mau bertemu dengan mu dulu" balas Draison tanpa menoleh.


"Terserah kau saja. Memang dasar kau pria bodoh yah mau bagaimana lagi" sahut Yaisya. Ia ikut membelakangi Draison, mereka sama sama dua orang yang egois.


"Aku bisa saja menerima mu, asal kau tidak ikut campur urusan Yoga!" ungkap Draison.

__ADS_1


"Sudah terlambat, aku harus menikahkan Gladies dengan Yoga. Jika tidak usaha Keluarga ku akan hancur!"


"Cih. Sudah tua. Tapi masih memikirkan hal yang gelap itu!" cibir Draison.


"Terserah"


Yaisya memilih untuk memejamkan mata, mengabaikan Draison yang masih terjaga.


Kasian, masa tua mereka tidak berjalan baik. Seharusnya mereka sudah hidup tenang menikmati masa tua. Tapi malah masih sibuk mengikuti dunia yang tiada habisnya.


Usaha gelap keluarga Yaisya berlindung di bawah harta dan perusahaan milik Yoga. Namun pria itu tidak tahu, ia tidak tahu jika musuhnya sedang berlindung di dalam selimut nya.


Bagi Yaisya juga tidak bisa menyingkirkan Yoga. Semua nya berada di tangan Yoga. Oleh karena itu, jalan satu satunya yang bisa menyelamatkan usaha Keluarga nya adalah menikahkan Gladies dengan Yoga.


Maka semuanya akan aman, Gladies bisa memantau Yoga dan juga Draison.


...----------------...


Hari semakin hari, setelah manis menghiasi mereka. Kini keadaan malah berbanding terbalik.


Yoga tidak membujuk Raisa, ia malah sengaja terlihat acuh pada gadis itu.Ia berniat untuk mengetahui seberapa besar perasaan Raisa kepadanya.


Selama ini Yoga selalu mengungkap isi hatinya pada Raisa. Gadis itu terlihat senang dan bahagia. Namun, yoga tidak tahu. Apakah ekspresi senang dan bahagia itu karena cinta atau karena kejutan yang selalu ia beri pada Risa


Jadi, Sekarang Yoga ingin melihat reaksi Raisa ketika Yoga berubah biasa saja kepadanya.


Ingin Yoga ingin Raisa mengejarnya balik, mencari perhatian dirinya.


Namun, Gadis itu masih bungkam. Ia semakin menjadi pendiam di kalah bersama Yoga.


Tapi, ketika di belakang Yoga. Raisa meraung Raung menahan sakit di hatinya karena Yoga cuek dan tidak seperti dulu lagi.


"Hiks...Hiks... aku benar, seharunya aku tidak terlena. Sekarang lihat! semuanya telah berakhir"


Raisa menangis seorang diri di taman belakang.


"Pria jahat! setelah bosan kau mencampakkan ku!!!" maki Raisa menginjak injak buket bunga yang pernah Yoga beri padanya. Meskipun bunganya sudah layu, tapi Raisa masih menyimpan tangkainya.


Kini ia malah membuang nya begitu saja di tanah. Lalu menginjak injaknya dengan kesal.


Tak sengaja, Titi melihat Raisa marah marah dan menginjak injak buket yang sudah layu.


Karena penasaran, Titi pun menghampiri Raisa.


" Apa yang kau lakukan nona?" tanya Titi heran.


Raisa tidak menjawab, ia malah duduk di bangku taman. Menghapus jejak air mata yang sempat mengalir deras.


"Nona nangis???" tanya Titi terkejut, siapa yang berani membuat nona muda nya menangis.


"Katakan nona, siapa yang sudah membuat air mata nona jatuh?. Aku akan menghabisinya. Jika tidak sanggup aku akan meminta bantuan tuan!" kata Titi.


Raisa semakin kesal, bagaimana mungkin Titi meminta bantuan Yoga. Sedangkan yang membuatnya menangis adalah Yoga.


"Kau tidak akan menang" sahut Raisa.


"Kenapa? apa kau ragu padaku? tuan sudah melatih ku untuk tetap kuat dan bisa melindungi mu" jelas Titi.


"Aduhhh Titi, memangnya kau bisa menghajar tuan mu sendiri!" ucap Raisa kesal.


"Huh?" Titi terperangah. Otaknya berkelana mencerna kata demi kata yang Raisa ucapkan.


"Jadi, kau menangis karena tuan Yoga?", tanya Titi lagi.


Raisa mengangguk pelan, sembari menatap wajah bloon Titi.


"Begini Nona" Titi mulai tidak bisa duduk tenang. Ucapan nya barusan sangat tidak berwibawa menurutnya.


"Aku tahu, kau tak akan sanggup" potong Raisa membuat Titi tercengir kikuk.


"Jika orang lain aku sanggup. Tapi...Tuan Yoga...Heheh....Aku tidak bisa" cicit Titi.


Raisa mendengus, hatinya semakin sakit mengingat Yoga terus.


"Tapi... Memangnya tuan Yoga kenapa? mengapa tuan membuat nona menangis?" tanya Titi penasaran.


"Ah sudah lah Titi. Buat apa aku bercerita pada mu jika kau tidak bisa menghajarnya" ucap Raisa.


"Eh mau kemana nona???" teriak Titi menatap kepergian Raisa yang berjalan cepat memasuki rumah.


"Ada apa sih dengan mereka" gumam Titi heran. Akhir akhir ini Yoga juga sering pulang terlambat. Bahkan ia sering melihat Yoga menghabiskan malam di ruangan kerja nya


"Apa mereka sedang berantem?" gumamnya semakin penasaran.


"Ahhh nona!!! tolong ceritakan padaku" teriak Titi berlari masuk ke dalam rumah menyusul Raisa.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2