
Hari Raisa sangat sibuk, ia tidak sempat menemani putra nya pergi ke taman bermain. Alhasil, Roy pergi dengan pelayan rumah nya.
"Aku mau main di sini dulu, bibi tunggu saja di tempat duduk sana" kata Roy.
Pelayan itu mengangguk, kemudian pergi ke bangku yang Roy tunjuk.
Roy pergi ke ayunan, lalu bermain sendiri. Mata nya menatap lurus kearah tempat anak anak seusianya tengah bermain bersama.
"Membosankan" cibir Roy.
Tak lama kemudian, 3, orang anak laki-laki menghampiri Roy. Mereka bertubuh lebih besar dari Roy.
"He, kamu!"
Roy melirik malas.
"Singing banget sih, " salah satu dari ketiga anak itu menarik tangan Roy, hingga Roy terjatuh.
"Hahahaha....Lihat dia pecundang!" ledek salah satu dari ketiga anak laki-laki itu.
Roy mengepal tangan kuat, ingin sekali ia melawan mereka. Tapi, Roy sudah janji pada mami nya untuk menjadi anak yang baik.
"Gak bisa melawan yah? atau pengen ngadu sama mami kamu itu?"
"Dia selalu bersama maminya, Jangan gak punya ayah! hahahaha..."
"Gak punya ayah,berarti anak haram"
"Cukup!" Roy berdiri, menatap ketiga anak laki-laki itu marah.
"Aku punya papa!!! aku bukan anak haram!",
"Cih, jika kamu punya papa. Mana dia? kamu tidak pernah bersama dengan papa mu. Bahkan di rumah mu aku tidak pernah melihatnya!" ucap salah satu anak laki-laki yang rumah nya tidak jauh dari rumah Roy dan maminya.
Roy terdiam, mereka memang benar. Di rumah nya memang tidak ada papa nya. Bahkan Roy belum pernah bertemu dengan papanya.
"Minggir!" Roy berlari kencang meninggalkan taman bermain.
"Dasar anak haram!!! anak haram!!!" sorak anak anak itu mengejek Roy.
"Aku bukan anak haram! aku punya papa!! lihat saja nanti, kalian akan melihat papa ku!" gumam Roy dalam hati. Ia terus berlari tanpa henti, menyusuri jalanan yang mulai tidak ia kenali.
"Eh di mana aku?" Roy mulai panik, ia berhenti berlari dan melihat kearah sekitar. Ia sudah tersesat.
"Mati?" desah Roy makin panik, ponselnya ternyata mati.
"Bagaimana ini? aku tidak tahu jalan pulang" lirih Roy terisak.
Bocah 4 tahun itu duduk di tepi jalan pinggir trotoar. Ia tidak tahu harus kemana dan minta tolong pada siapa.
"Mami....Hiks...Hiks...Tolong temukan aku...."
__ADS_1
"Hiks...Hiks..."
Srettttt........
Sebuah mobil berhenti di depan Roy, membuat bocah itu berdiri dan menatap was was kearah mobil itu.
Terlihat seseorang keluar dari dalam mobil, lalu menghampiri nya.
"Kamu kenapa nangis di pinggir jalan?" tanya Yoga mendekati Roy. Ia kaget melihat bocah yang pernah ia lihat di cafe waktu itu.
Roy tidak menjawab, ia bergerak menjauh saat Yoga mendekatinya.
"Aku bukan orang jahat, aku akan membantu mu pulang. Percayalah" ucap Yoga meyakinkan Roy.
Roy mulai mendekat, lalu meraih tangan Yoga yang terulur padanya. Karena merasa takut, Roy langsung memeluk tubuh Yoga.
Deg.
"Kenapa aku merasa nyaman banget sama bocah ini?" batin Yoga, ia semakin memeluk erat tubuh mungil Roy dan berusaha memberikan ketenangan pada bocah itu.
...----------------...
Raisa mendapat telfon dari pelayan nya, ia mengatakan bahwa Roy hilang. Seketika Raisa panik, ia langsung bergegas mencari keberadaan putarnya.
"Aduh Roy, kamu kemana sih?...Mami khawatir banget!!!" gumam Raisa setengah menangis, jika menyangkut putranya ia akan melakukan apapun.
"Bi, mana Roy!" tanya Raisa pada pelayan yang sejak tadi menunggu kedatangan nya.
"Aduhh gimana dong, kalau ada apa apa sama anak saya gimana???"
"Maafin saya non, maafin saya"
"Udah, ayo kita cari sama sama!!" ajak Raisa berlari ke segala arah sembari memanggil manggil nama putranya.
...----------------...
Yoga membawa Roy duduk di bangku taman tak jauh dari ia menemukan Roy.
"Ini buat kamu" Ucap Yoga sembari memberikan es krim pada Roy. Tadi ia melihat tukang es krim berhenti tidak jauh dari sana, lalu Yoga berinisiatif ingin membelikan untuk Roy.
Rasa yang Yoga beli adalah rasa kesukaan nya, ia tidak tahu Roy menyukai rasa apa. Jadi ia memutuskan untuk membeli sesuai kesukaan nya saja.
"Makasih" balas Roy pelan. Ia masih terlihat sedih, ucapan anak anak tadi masih terngiang di telinganya.
"Kamu kok sedih sih? makin Ding es krimnya. Nanti meleleh Lo" kata Yoga.
"Aku sedih, teman teman selalu mengatai ku anak haram!" air mata kembali membanjiri pipi Roy.
"Eh kok anak laki-laki nangis sih"
"Aku gak nangis, tapi sedih" balas Roy menutupi wajahnya.
__ADS_1
"Sttt .... Memangnya papa kamu kemana? kok mereka bisa bilang kamu anak haram?"tanya Yoga penasaran.
"Aku juga tidak tahu, sejak lahir hingga sekarang aku tidak pernah bertemu papa. Kata mami, papa ku pergi jauh. Jadi tidak bisa bertemu"
Hati Yoga terenyuh, ia juga marah pada laki-laki yang sudah menelantarkan anak nya seperti ini.
"Kenapa tidak suruh papa mu pulang, dan katakan kalau kamu rindu" usul Yoga.
Roy menggeleng pelan, bagaimana mungkin ia meminta papa nya datang. Wujudnya saja ia tidak tahu. Mau tanya maminya? mustahil. Semuanya hanya akan berakhir dengan perdebatan dan membuat mami nya sedih.
"Aku juga tidak mengerti, apa masalah mereka. Seperti nya mami marah sama papa sehingga mereka tidak bersama"
"Anak yang bijak" gumam Yoga dalam hati.
"Wahhh, bapak dan anak ini terlihat manis yah" ungkap ibu ibu yang lewat di depan Yoga dan Roy.
"Dia bukan papa ku" sahut Roy.
Ibu ibu itu kaget, mereka terlihat sangat mirip.
"Benarkah tuan? tapi kalian terlihat sangat mirip" sahut ibu ibu itu heran.
Yoga menoleh pada Roy, ia tersenyum tipis. Mana mungkin bocah ini mirip dengan nya.
"Mungkin kita sama sama tampan" ujar Yoga menghibur Roy.
Perlahan Roy tidak menangis lagi, ia menghapus air matanya pelan. Lalu mulai memakan es krim nya
"Enak eskrim nya. Kenapa om bisa tahu rasa kesukaan aku?" tanya Roy heran.
"Wahhh berarti kita memiliki selera Yang sama. Aku juga menyukai rasa itu" ujar Yoga senang.
"Orang tampan memang begitu" celetuk Roy. Yoga terkekeh mendengar nya, bisa saja anak seusia Roy bersikap begitu dewasa dari anak anak pada umumnya yang seusia dengan nya.
"Siapa nama mu?" tanya Yoga.
"Roy, nama ku Roy " jawab nya tegas.
"Baiklah Roy, apa kita bisa berteman? sesama orang tampan, kita harus berteman" ujar Yoga.
"Tentu saja, aku hanya akan berteman dengan orang orang tampan saja" sahut Roy.
Mereka tertawa bersama, hingga suara seseorang menghentikan nya.
"Roy!!!!!"
Deg!
...----------------...
Akankah Yoga dan Raisa bertemu lagi?? menurut kalian gimana? yuk tekan like dan komen yah!!
__ADS_1