
Raisa berjalan melewati lobi, ia tersenyum pada pegawai yang ada di sana.
"Wahhh.... desainer ternama kita!" ucap seseorang.
Raisa menoleh, kemudian wajahnya berubah masam.
"Kamu akhirnya datang juga" ucap Raisa malas
"Yah harus lah, membiarkan kamu sendiri di sini, membuat aku kasian" balas Julia tersenyum mengejek. Beberapa hari ini ia sengaja membiarkan Raisa mengurus perusahaan nya. Sudah lama Julia berusaha menarik Raisa masuk ke dalam perusahaan nya sebagai desainer interior. Beribu cara akhirnya Julia berhasil dan melepas perusahaan itu ke tangan Raisa.
"Kau menjebak ku, aku tak akan pernah melupakan itu Julia"
"Terserah saja, Sekarang aku bebas. Aku bisa kemana saja!" jawab Julia enteng, lalu pergi begitu saja.
"Hei.... Mau kemana kamu?? aku tidak mau di sini lagi!!!!!" teriak Raisa mencak mencak, Julia benar benar membuat nya kesulitan.
"Sifatnya masih sama, bahkan gaya nya marah. Hanya saja....Nama nya Kina" Yoga berdiri tak jauh dari tempat Raisa berdiri menatap kepergian Julia. Pria itu terus mengawasi wanita yang sangat mirip dengan mendiang kekasihnya.
"Aku yakin, dia adalah gadis ku!" ungkap Yoga tersenyum penuh arti menatap kepergian Raisa yang berlalu masuk ke dalam lift.
"Maaf tuan, anda ini siapa yah? kenapa anda terlihat mencurigakan?" tegur seorang satpam.
Yoga kaget, ia menoleh kearah lift, takut jika Raisa mendengar ucapan Satpam itu dan melihat dirinya di sini.
Bersyukur pintu lift sudah tertutup. Yoga bernafas lega melihat nya.
"Astaga, bapak ini bikin saya kaget saja!" marah Yoga melotot.
"Sikap tuan sangat mencurigakan!" kata Satpam itu.
"Pak, saya ini seorang CEO. Saya sedang melihat calon istri saya!" kata Yoga dengan sangat percaya diri.
"Siapa tuan?" tanya satpam kepo.
"Udah deh, kamu gak usah banyak tanya. Ini lihat kartu nama saya kalo bapak gak percaya!"
Yoga mengulurkan kartu namanya pada Satpam itu. Belum sempat satpam menerima nya, seseorang lebih dulu merebutnya.
"Apa ini!" ucap orang itu melihat kartu nama Yoga.
"Eh kamu siapa???" tanya Yoga kaget, ia berusaha merebut kartu namanya, tapi orang itu menghindari nya.
"Bu Julia" gumam Satpam itu kaget dan menunduk hormat.
"Jadi kamu CEO? dan ngincar Lina ku???" tanya Julia menatap Yoga dengan tatapan meneliti.
"Sudah lah, kalian gak perlu kepo. Sini kartu nama ku!" Yoga merebut kartu namanya, lalu kembali menyimpan nya.
"Hei, kenapa kau mengambilnya. "
__ADS_1
"Ini milik ku!" sanggah Yoga.
Julia mengerucutkan bibirnya, kemudian memukul kepala Yoga. Membuat pria itu melotot tak percaya!.
"Kau memukul ku??? beraninya!!!"
"Apa??" tantang Julia dengan mata melotot. "Mau mukul wanita???"
Tangan Yoga tertahan, melihat ke kiri dan kanan. Para pegawai melihat kearah mereka. Bisa bisa wibawanya sebagai CEO rusak.
"Sudah lah, wanita seperti mu memang menyebalkan!" dengus Yoga berlalu pergi.
Julia tidak membiarkan nya pergi begitu saja, ia harus mengejar Yoga dan mencari tahu siapa dia sebenarnya.
"Hei tunggu!" teriak Julia. Ia menahan lengan Yoga ketika pria itu hendak masuk ke dalam mobil.
"Apa lagi sih, kenapa ada wanita gila seperti mu!" teriak Yoga mulai kehabisan kesabaran.
"Tenang aja, aku mau bantu kamu kok deketin Lina"
Raut wajah Yoga berubah seketika, ia menatap Julia lekat, mencari titik kebohongan di sana.
"Aku serius, tidak perlu menatap ku seperti itu!" dengus Julia menatap Yoga tajam.
"Memangnya kau siapa?"
"Cih, aku ini istri Abang nya." jawab Julia bangga.
"Mau aku bantu tidak???" ulang Julia.
"Oke baiklah, silahkan masuk!" jawab Yoga.
Kedua nya pergi ke sebuah cafe untuk membicarakan kerja sama mereka.
"Mau minum apa?" tanya Yoga.
Julia melihat ke buku tamu, lalu menunjuk teh hangat.
"Teh hangat satu, dan kopi panas satu" kata Yoga pada Pelayan.
"Baiklah, tunggu sebentar yah tuan dan nyonya" ucap pelayan itu pada Yoga dan Julia. Kemudian berlalu untuk membuatkan pesanan mereka.
Yoga menatap Julia, bersiap untuk membicarakan kerja sama mereka.
"Baiklah! apa yang bisa kamu bantu aku!" tanya Yoga serius.
"Mudah saja, sekarang katakan dulu, apa tujuan mu mengejar adik ipar ku?" ucap Julia bertanya balik.
Huffff...
__ADS_1
Yoga menghela nafas berat, mengenang masa lalu memang sangat menyakitkan bagi nya.
"Aku tidak tahu, tapi dia sangat mirip dengan kekasih ku yang di kabarkan meninggal 4 tahun yang lalu. Dia sedang mengandung darah daging ku"
Deg.
Jantung Julia berdetak kencang, pikiran nya melayang entah kemana.
"Apa mungkin Lina adalah gadis yang di maksud pria ini? jika yah, maka Roy adalah????" Julia menggigit bibir bagian dalamnya.
"Dia sangat menderita karena aku, tapi sungguh aku tidak sengaja. semuanya berjalan begitu buruk, aku yang bodoh malah menelantarkan nya" lanjut Yoga bercerita, raut wajahnya terlihat sangat sedih.
"Kenapa dia bisa mati?" tanya Julia penasaran, ia tengah mengumpulkan bukti tentang dugaannya.
"Karena kecerobohan ku, dia pergi dan terjebak dalam sebuah kecelakaan yang merenggut dirinya dari ku" lirih Yoga menunduk sedih.
"Permisi, ini minumannya. Mohon maaf sedikit terlambat karena pesanan yang sangat antri" ucap pelayan itu menyesal.
"Tidak masalah, pergilah " jawab Julia.
Pelayan itu menunduk hormat, kemudian berlalu pergi.
"Baiklah, aku akan membantu mu. Lina juga merasakan kesakitan yang sama dengan mu. Jadi aku rasa dia cocok dengan mu" kata Julia.
"Benarkah? apa kekasihnya meninggal juga?" tanya Yoga penasaran.
"Tidak, dia pergi meninggalkan Lina. Aku tidak tahu pasti permasalahan nya, karena Lina orang nya cukup tertutup. Tapi dia sudah punya anak" kata Julia, akhir kalimat nya membuat jantung Yoga seakan berhenti berdetak.
"Benar, itu memang dia! Lina pasti adalah Raisa ku yang mengandung anak ku!" gumam Yoga dalam hati.
"Baiklah, aku sangat senang kamu bisa membantu ku" ungkap Yoga. Julia membalasnya dengan senyuman.
"Aku dengar dengar perusahaan mu meminta Lina menjadi desainer interior nya?"
Yoga mengangguk pelan " Baiklah aku akan menerima nya, dengan begitu kalian akan bisa sering bertemu"
"Kau bisa? bukannya perusahaan ini di pimpin oleh Raisa?" kata Yoga salah mengucap nama Lina.
"Maksud ku Lina" ulang Yoga memperbaiki ucapan nya.
"Sebenarnya ini perusahaan ku, tapi aku menyuruh Lina yang mengurusnya. aku ingin bebas, suami ku sangat kaya. Jadi aku bisa kemana saja dan tidak perlu mengkhawatirkan biaya!", ucap Julia sombong.
"Raisa juga tidak perlu bekerja, bahkan dia tidak perlu sekolah, karena aku sudah memiliki segalanya" balas Yoga tak kalah sombong.
"Cih, tapi dia meninggal" cibir Julia membuat Yoga terdiam.
Melihat Yoga mendadak diam, Julia menjadi tidak enak. Ia sudah sembarangan berkata.
"Maaf" lirih Julia dengan nada menyesal.
__ADS_1
"Tidak apa apa"
...----------------...