
Semua staf dan pegawai berderet menyambut kedatangan boss mereka. Setiap hari Senin, sebelum di adakan rapat untuk seluruh pegawai. Mereka harus menyambut Yoga di depan loby.
"Selamat pagi boss" sapa mereka menunduk hormat.
Biasa nya Yoga akan cuek dan berjalan lurus menuju lift. Tapi kalo ini, ia berdiri menatap satu persatu pegawainya dengan senyum manis tercetak di wajah tampan nya.
"Huh?" kaget mereka semua.
Terutama pegawai wanita, mereka seakan meleleh melihat senyum manis Yoga.
"Tolong semangat lah bekerja" ujar Yoga sebelum berjalan menuju ke arah lift.
"Astaga, apa itu benar benar boss kita??"
"Apa dia salah minum obat?"
"Tampan banget!!!!"
Pekikan demi pekikan terdengar di telinga Yoga. Ia sedikit merasa geli mendengar ucapan kagum dari pegawainya.
"Aku jadi jauh lebih semangat" tutur mereka lagi.
Yoga keluar dari dalam lift. Ia memberikan beberapa map pada Niko yang sudah berdiri di depan pintu ruangan nya.
"Apa ini?? tuan muda Yoga memamerkan senyum manis nya?" decak Niko menyindir.
"Sesekali membuat mereka senang tidak masalah" balas Yoga acuh.
"Bagaimana dengan meeting hari ini??, apa aku lagi yang menggantikan mu??"
"Tentu saja" jawab Yoga enteng.
Niko mendesah frustasi, bagaimana mungkin ia terus yang sibuk. Sementara Yoga hanya duduk di meja kerjanya dan memeriksa semua yang padahal sudah ia selesaikan.
"Sebenarnya CEO perusahaan ini siapa sih" gerutu nya.
"Kalau bekerja tu harus ikhlas, agar berkah" sahut Yoga.
"Terserah!!"
Niko beranjak keluar dari ruangan Yoga, berlama lama di sana hanya akan membuat hidupnya semakin hancur.
Siang harinya, Yoga pergi ke lantai bawah. Tempat para kepala bidang berkumpul.
"Selamat siang semuanya, apa saya bisa meminta waktu nya sebentar?"
Mereka yang ada di sana pertama melongo. Sikap Yoga benar benar berubah. Pria itu malah menjadi sangat sopan dan lembut.
"Boss, apa kau baik baik saja?" tanya Kepala keuangan heran.
Yoga tersenyum, ia memaklumi keterkejutan pegawainya tentang sikap nya.
Sejak ia mengenal cinta, hati Yoga mendadak menjadi hangat. Ia tidak mau datar seperti sebelumnya.
"Apa aku terlihat seperti orang sakit?" tanya balik Yoga.
Kepala keuangan itu menggeleng cepat, ia menutup mulutnya rapat rapat agar tidak berbicara lagi.
"Baiklah, saya datang ke sini hanya ingin mengatakan pada kalian" Yoga terdiam sejenak, menatap satu persatu pegawai nya yang terlihat menunggu kelanjutan ucapan nya.
"Semangat lah dalam bekerja, nikmati keseharian kalian" lanjut Yoga.
Setelah mengucapkan kata kata itu, Yoga langsung berlalu pergi dengan senyum mengembang.
"Huh? dia tersenyum??"
Para kepala bidang masih melongo, tidak percaya dengan apa yang Yoga lakukan. Pria di gin itu datang hanya ingin memberi mereka semangat.
"Apa dia benar benar bos kita? apa tidak tertukar???"
__ADS_1
"Aku rasa ada yang salah dengan otak nya"
"Eh sudah sudah, bagus dong. Jika Boss sudah berubah, tekanan akan berkurang. Jadi lebih semangat lah bekerja!" sahut yang lain, pria yang bahagia dengan perubahan boss nya.
"Benar, kita harus semangat, jangan sampai boss kembali galak!"
Mereka semua mengangguk, dan kembali ke meja masing masing untuk melanjutkan pekerjaan masing-masing.
...----------------...
Di rumah besar Yoga, Raisa terlihat sangat sibuk di dapur.
Titi dan pelayan lain hanya menatapnya heran. Raisa memasak dan mengerjakan nya sendiri. Ia melarang siapapun ingin ikut membantu nya.
"Eh Titi! apa yang kau lakukan!" teriak Raisa pada.
"Aku hanya membantu mu mengangkat penggoreng ini nona. Jika tidak maka ikan nya akan gosong"
Raisa menggeleng, ia merebut panggangan itu.
"Aku sudah bilang, jangan ikut campur!!"
"Kalian cukup katakan saja apa yang harus aku buat, tidak menyentuh nya!" jelas Raisa lagi.
Mereka semua semakin heran, ada apa dengan nona muda mereka. Biasanya Raisa akan sangat senang jika di bantu, ia tidak suka bekerja sendiri. Tapi, lihat lah Sekarang.
Satu sendok pun Raisa tidak mengijinkan siapapun untuk menyentuh nya.
"Titi, dan kalian semua. Aku ingin membuat makan siang untuk tuan muda. Jadi kalian tidak boleh membantu ku." Raisa mengulum senyum.
"Aku mau, tuan muda hanya memang buatan ku, murni"
"Oh jadi, karena itu kami tidak boleh membantu mu?" sahut Titi.
Raisa mengangguk, ia hanya ingin bumbu cinta dari nya seorang, tanpa campur tangan orang lain.
"Ya sudah, kalau begitu kami hanya akan melihat nya saja"
30 menit Raisa berkutat di dapur, akhirnya ia bisa tersenyum puas menatap hasil masakannya yang sudah ia masukkan ke dalam kotak makan.
"Wanginya enak banget, apa ada tersisa untuk kami?" ujar salah satu pelayan.
"Tentu saja, aku menyisakan sedikit untuk kalian" jawab Raisa tersenyum lebar.
"Benarkah???" para pelayan berbinar, mereka segera pergi ke meja tempat Raisa menatap makanan makanan yang sudah ia masak sebelum masuk ke dalam kotak makan.
"Habiskan kuah dan cabe nya yah!!! Hahahaha...."
Tawa Raisa meledak, ia mengerjai para pelayan yoga dengan hanya menyisakan cabe dan kuah nya saja.
"Tidak masalah nona, ini sangat enak!!!" sahut mereka, tapi Raisa sudah berlalu pergi.
"Dasar anak muda labil" gumam Titi geleng kepala melihat tingkah Raisa.
"Siapa yang anak muda?"
Deg.
Titi kaget, ia hampir terhuyung ke belakang jika tidak di tahan oleh seseorang.
"Tuan Johan?" kaget Titi.
Johan hanya tersenyum, ia berhasil mengagetkan wanita itu.
"Kau terkejut??" kekeh Johan.
Titi menggeleng, ia berusaha menyembunyikan keterkejutan nya dan juga rasa senangnya melihat Johan .
"Ekhem...Ekhem..."
__ADS_1
Para pelayan mulai berdehem, menggoda Titi yang tampak tersipu malu.
"Kembali bekerja, jika tidak kalian akan aku hukum!" ucap Titi.
Johan tersenyum, ia tahu wanita di depan nya ini malu malu di hadapan nya.
"Kau sedang malu???" tebak Johan.
"Tidak, kenapa aku harus malu di hadapan tuan menyebalkan seperti mu!" balas Titi berlalu dari hadapan Johan.
Candu mengganggu kepala pelayan itu, Johan malah mengikuti Titi.
"Hei, mau kemana???"
Titi terus berjalan cepat, ia tidak mau Johan mengetahui detak jantung nya. Bisa bisa nanti Johan akan semakin mengejek nya.
"Loh, kak Johan?"
Raisa menuruni anak tangga dengan cepat, lalu mengambil kotak makan yang ia siapkan untuk yoga di atas meja depan sofa.
Johan dan Titi berhenti, menatap Raisa yang juga menatap heran kepada mereka berdua.
"Kalian mau kemana? kenapa berkejaran begitu?"
"Tidak, siapa yang berkejaran. Aku ingin ke taman belakang untuk menyiram bunga" jawab Titi.
"Hah? apa kau ingin berkeliling dari depan ke belakang Titi???" cibir Raisa.
"Huh?" Titi mengerut tidak mengerti.
Hufff....
"Lihat lah kemana arah kau berjalan. Dan ingat lagi jawaban mu" jelas Raisa menghela nafas kasar.
Titi melakukan apa yang Raisa katakan, dirinya berjalan cepat ke arah pintu depan, sedangkan alasan nya ingin ke belakang.
"Mau menghindari ku Hem..."goda Johan.
Titi menggeleng kuat, ia sudah ketangkap basah sekarang.
"Sudah lah, aku ingin ke kantor tuan muda sekarang. Apa kau mau ikut Titi?" tawar Raisa.
"Maaf nona, tapi aku belum mandi. Mungkin lain kali saja" tolaknya.
Raisa mengangguk, ia memaklumi gadis itu.
Lalu, Raisa menatap kearah kakak nya.
"Apa yang membuat mu datang ke mari Kak?"
"Tidak ada, aku hanya ingin berkunjung" jawab Johan santai.
"Yaudah, kalau begitu. Aku akan pergi sekarang"
"Eh tunggu" cegat Johan.
"Aku akan ikut dengan mu, aku juga memiliki urusan dengan calon adik ipar ku" jelas Johan. Raisa tersipu malu.
"Yaudah ayok" Raisa berjalan lebih dulu keluar dari rumah. Meninggalkan Titi dan Johan.
Johan berdiri di hadapan Titi, membuat gadis itu semakin gugup.
"Kau selamat kali ini pelayan cantik" bisik Johan menunduk mendekat ke telinga Titi.
Fyuuu~
"Huh?" kaget Titi. Ia menoleh ke belakang menatap kepergian Johan dengan kesal.
"Dasar tuan muda tidak tahu tata Krama" dengus nya, Johan pergi tanpa pamit.
__ADS_1
...----------------...