
Hari itu, Raisa sudah berdandan sangat cantik. Memakai celana panjang dengan baju lengan pendek dan di padukan dengan cardigan lengan panjang. Penampilan nya simple tapi memancarkan kilau kecantikan yang alami.
"Widih.... Pagi pagi begini sudah rapi aja. Mau kemana?" tanya Johan. Ia baru saja keluar dari kamarnya, tidak sengaja bertemu dengan adik nya yang juga baru keluar dari kamarnya.
Penampilan Raisa mengagetkan Johan, bagaimana tidak? biasanya hari libur seperti ini Raisa masih ngebo. Apalagi ketika Johan ajak berolahraga bersama. Behhh...Dia tidak akan mau. Raisa lebih memilih tidur ketimbang berolahraga.
"Kak, kamu itu bisa bedakan mana siang dan pagi gak sih?" ucap Raisa menatap Johan jengkel. Bagaimana tidak coba, Sekarang itu sudah pukul 11 siang. Tapi Johan malah bilang masih pagi. Kan aneh.
"Yah, menurut aku. Ini tuh masih pagi, karena kamu bangun nya selalu jam 1 atau 2" jawab Johan santai, namun menusuk ke hati Raisa. Kakaknya sama saja sedang mengatainya lama bangun.
"Apaan sih, aku tuh gak lama bangun nya. Tapi aku tuh suka berbaring dan memeluk selimut" jelas Raisa beralasan.
"Tapi merem"sambung Johan.
"Yahh...Kan merem doang, gak tidur" jawab Raisa. Membuat Johan gemes.
"Apa bedanya adek ku tersayang "ucap Johan gemes, tangannya terangkat menyentuh puncak kepala Raisa dan mengacak acak rambut adik nya.
"Eh eh, kan jadi berantakan!!!" rengek Raisa setengah nangis. Ia sudah capek capek menata rambut nya agar terlihat elegan dan cantik. Johan malah seenaknya membuat berantakan rambut nya.
Tahu sudah membuat kesalahan, Johan mulai beringsut menjauh dan ingin kabur. Karena sebentar lagi Raisa akan mengamuk.
"Kak Johan!!!!!!!!!!!!!!!!!!" suara Raisa melengking memenuhi seisi rumah. Titi yang sedang masak di dapur bersama pelayan lain saja kaget mendengar nya. wanita itu langsung keluar dari dapur.
"Ada apa?" tanya Titi pada Johan yang berjalan cepat masuk ke ruang makan dan bersembunyi di belakang Titi.
"Eh eh ada apa ini?" tanya Titi kaget.
Raisa masuk ke ruang makan, wajahnya terlihat marah dengan rambut sudah acak acakan.
"Titi, tolong minggir. Aku akan membuat wajah tampan pria itu rusak!!" seru Raisa penuh amarah.
"Nona ada apa? kenapa marah sama tuan Johan?" tanya Titi.
"Apa kamu bisa melihat rambut ku? dia sudah membuatnya berantakan!! " jelas Raisa menunjuk rambutnya pada Titi.
"Awas Titi, biarkan pria ini padaku!!!"
Raisa menarik tubuh Titi agar menjauh dari Johan, tapi pria itu malah menariknya juga dan menjadikan Titi sebagai benteng.
"Sini kau pria nakal!!! akan aku buat kau menyesal" ancam Raisa terus berusaha menggapai Johan. Namun tubuh Titi terus menghalanginya.
"Aduh, aku jadi pusing jika begini" erang Titi memegangi kepalanya. Kedua kakak ini mendorong dan menariknya.
"Sini kau!!!" ucap Raisa.
__ADS_1
"Tangkap kalo bisa" sahut Johan sembari mengejek adiknya.
Raisa semakin geram, ia terus berusaha menangkap Johan dan menarik Titi agar menyingkir.
"Berhenti!!!!!!!!!!!!!!!!" teriak Titi lantang.
Johan dan Raisa terdiam, seperti patung. Menatap tiri dengan ekspresi tidak percaya.
"Maaf, aku gak bermaksud membentak" cicit Titi takut.
"Kamu berteriak?" tanya Raisa dengan tampang terkejutnya. Selama ini tiri selalu lemah lembut kepada nya. Ia tidak menyangka Titi bisa setegas ini.
"Sudah biasa" dengus Johan.
"Kalian kenapa bertengkar sih, seperti anak kecil" cicit Titi lagi, tapi tidak dengan suara tegas.
"Dia itu! kekasih mu itu merusak rambut ku!" aduh Raisa.
"Gak sengaja juga" sahut Johan membela diri.
"Enak aja gak sengaja!" tuding Raisa.
Mereka kembali adu mulut, Titi yang berdiri di antara kedua kakak adik ini menutup telinga nya.
"Sudah Diam!!!! ini masih pagi loh, tapi sudah membuat rusuh!" teriak Titi. Ia menarik kedua kakak adik itu ke meja makan. Lalu menyuruh mereka untuk duduk.
Raisa dan Johan menurut patuh, keduanya tidak ada yang mengeluarkan suara. Hanya tatapan saling mengejek dan mengancam yang mereka tunjukkan satu sama lain.
Titi pergi ke dapur, kemudian kembali lagi dengan membawa sarapan untuk keduanya. Tidak hanya Titi, tapi ada juga pelayan rumah Johan membantunya membawa masakan yang tadi Titi masak ke meja makan.
"Makan cepat! tanpa mengeluarkan suara!" titah Titi tegas.
"Awas aja kamu!" ancam Raisa menunjuk Johan dengan tatapan matanya.
"Apa!!!" tantang Johan.
"Mulai lagi!!!!" bentak Titi marah, satu tangannya menggebrak meja agar lebih terlihat sangar.
Jujur saja, sebenarnya Titi sangat takut dan maki. Tapi ia harus melakukan nya. Kedua anak manusia ini tidak akan berhenti jika tidak di marahi. Tubuh besar dan dewasa, tapi sikap keduanya masih seperti anak kecil jika sudah bertemu.
...----------------...
Setelah sarapan bersama Johan dan Titi, Yoga datang menjemput Raisa. Mereka akan pergi berkencan hari ini. Sesuai dengan janji Yoga pada Raisa. Mereka akan pergi berkencan seharian ketika Yoga libur nanti.
"Kita mau kemana sayang?" tanya Yoga menoleh pada wanita yang duduk di sebelahnya.
__ADS_1
Raisa menoleh juga, membalas tatapan mata Yoga yang menatapnya takjub. Penampilan Raisa sangat mempesona di mata Yoga.
"Terserah kamu aja deh, aku mah ngikut aja" jawab Raisa.
"UMM...Kemana yah? kamu suka nya kemana?" tanya Yoga lagi, ia bingung mau ajak Raisa kemana.
"Aku sih kemana aja suka, asalkan bersama mu..." gombal Raisa.
"Asekkk!!!" sahut Yoga, lalu mereka tertawa bersama.
"Aku kok jadi grogi" ungkap Yoga mengusap dadanya.
"Kamu kenapa gerigi?" tanya Raisa.
"Yah grogi lah, namanya juga lagi jalan sama masa depan" balas Yoga menggombal.
"Asekkk" sahut Raisa kembali tertawa.
Suasana di dalam mobil Yoga menjadi sangat hidup, Raisa terlihat ceria dan bahagia. Yoga sangat senang melihatnya, perlahan ia berhasil menghapus luka di hati Raisa.
"Kok kamu gak belok ?" tanya Raisa heran, biasanya Yoga selalu belok ketika di perempatan lampu merah.
"Ngapain belok? aku kan mau lurus ke hati kamu" jawab Yoga kembali melempar gombalan nya pada Raisa.
Gadis itu malah tersenyum malu, kemudian mencubit pipi Yoga.
"Kamu kok makin gemesin sih, seperti calon anak anak kita nanti" ucap Raisa membalas gombalan Yoga.
"Hahahaha.....Kamu selain lugu, ternyata bisa gombal juga yah sayang. Aku beneran baper Lo" kata Yoga setelah tertawa.
"Yah bagus kalo baper" sahut Raisa.
"Kenapa?" balas Yoga.
"Yah bagus aja" jawab Raisa lagi, tapi tidak dengan gombalan nya.
"Yahhh, aku pikir mau ngegombal" desah Yoga kecewa.
"Ihh apaan, masa aku terus yang gombalin. Kamu juga lah" protes Raisa melepaskan cubitan nya di pipi Yoga.
"Idihhh.... Tadi romantis, Sekarang malah judes lagi."
Raisa bergidik bahu mendengar ucapan Yoga, mood nya terasa berubah ubah Sekarang. Entah mengapa Raisa merasa dirinya agak lain akhir akhir ini.
Suasana dalam mobil Yoga kembali hening dan canggung. Keceriaan itu sudah lenyap seketika.
__ADS_1
...----------------...