
"Kenapa kamu melakukan ini Julia?" Raisa menatap Julia serius, ia benar-benar tidak habis pikir dengan sikap Julia yang menanda tangani surat kontrak kerja sama dengan perusahaan Yoga.
"Aku tidak tahu jika kamu sudah menolaknya, pria itu berkata kamu menyuruh dia menemui ku. Setelah aku baca... Yah gak masalah sih kerja sama dengan mereka, lagi pula kita untung banyak" jelas Julia berbohong.
"Tapi aku tidak mau Julia"
"Kenapa?" tanya Julia.
"Yah karena aku tidak mau" tegas Raisa lagi.
"Kamu harus jelasin dong Lina, kenapa kamu tidak mau? keuntungan nya juga besar Lo untuk perusahaan kita"
"Tapi aku tidak mau Julia"
"Yah kenapa??" sela Julia bertanya.
"Karena aku tidak mau!!"
"Itu bukan alasan" sungut Julia.
Hufff.....
Raisa menghempaskan tubuhnya di atas sofa balkon kamar Julia dan Dave. Mengalihkan tatapan matanya ke arah langit gelap tanpa bintang dan bulan.
Melihat itu, Julia ikut duduk di samping Raisa dan memeluk nya.
"Apa yang kamu takutkan hmmm? apa pria itu adalah ayah Roy?"
Stek..
Raisa melepaskan pelukan tangan Julia kemudian berdiri menjauh dari gadis itu.
"Jangan asal bicara" bantah Risa berkata pelan, ia mulai gelisah.
"Lalu, kenapa kau begitu menghindari pria itu?"
"Aku tidak menghindarinya, aku hanya tidak mau menerima kerja sama itu" sangkal Raisa lagi, alasannya benar benar tidak jelas.
"Aku tidak mengerti Lina, alasan mu sangat tidak jelas!" ujar Julia.
"Aku...Aku..." Raisa terus memutar otak nya mencari alasan yang tepat agar Julia tidak curiga. Jika gadis ini curiga, maka ia pasti akan mencari tahu, dan Raisa tidak mau itu terjadi.
"Kau kan tau, aku ini desain pakaian. Bukan interior seperti mu!"
"cih.." Julia tertawa receh. Lalu berdiri di hadapan Raisa.
"Aku tahu kemampuan mu Lina,kamu itu sangat pintar, skill mu dalam mendesain sangat bagus dan menakjubkan. Tapi...Aku terima alasan mu itu, meskipun tidak masuk akal"
__ADS_1
"Sudah lah, aku tidak mau lagi menjadi pemimpin perusahaan mu!" ujar Raisa hendak melangkah pergi, tapi Julia menahan nya.
"Aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu dari ku Lina, sudah 4 tahun kita bersama tapi kamu tidak mau menceritakan apa sebenarnya yang kamu alami di masa lalu" lirih Julia sedih, membuat Raisa merasa bersalah.
"Aku hanya tidak mau mengenang nya Julia" balas Raisa tanpa menoleh pada Julia. Lalu ia kembali melanjutkan langkah nya.
"Aku akan mencari tahu semuanya!!!! Aku tak akan membiarkan mu menderita di makan oleh masa lalu itu!!!!" teriak Julia mengiringi langkah kaki Raisa yang terus melaju kearah pintu kamar. Julia yakin, Raisa mendengar nya.
"Aku akan menemukan pria itu Julia!!! aku akan menemukannya dan mencari semua kebenaran nya!!" tekat Julia. Ia tahu pasti bagaimana penderitaan Raisa selama ini, setiap malam dulu Julia sering mendapati wanita itu menangis sendirian,meratapi hidupnya yang hancur lebur.
Meskipun dari luar Raisa terlihat seperti wanita paling bahagia dan tidak memiliki masalah. Namun, jauh di dalam hatinya. Ia memiliki begitu banyak penderitaan.
...----------------...
Yoga kembali datang ke taman bermain tempat ia sering bertemu dengan bocah kecil yang mampu mencuri perhatiannya.
"Di mana dia?" pikir Yoga sembari melihat ke arah arloji nya.
Sudah satu jam Yoga berdiri di depan gerbang taman bermain, tapi Roy tetap tidak terlihat.
Salah satu anak laki laki datang menghampiri Yoga.
"Paman, apa kau sedang mencari Roy?"
Yoga menatap anak laki-laki itu, kemudian mengangguk pelan.
"Dia tidak ada di sini, sejak terakhir kali kalian datang bersama dia tidak lagi datang ke sini" jelas anak kecil itu.
"Paman kan ayah nya, kenapa paman tidak tahu kalau anak paman tidak ada di sini?"
Yoga tersentak kaget, ia melihat sudah ada banyak anak anak seusia Roy menatap kearahnya. Jika dia salah menjawab dan mereka tahu kalau Roy bukanlah anak nya, maka Roy akan kembali di bully. Yoga tidak mau itu terjadi.
"Iya, paman sibuk bekerja ke luar kota dan luar negeri. Paman datang ke sini tanpa sepengetahuan Roy, agar dia kaget dan bahagia" jelas Yoga berbohong.
"Wahhhh ayah yang manis" sorak para anak gadis seusia Roy.
"Ayah ku tidak pernah seperti itu. Roy sangat beruntung"
"Iya yah!"
Yoga tersenyum, kemudian ia berbalik pergi.
"Kemana aku harus mencarinya?" gumam Yoga bingung, ia benar-benar rindu pada anak kecil itu.
"Apa dia marah pada ku? karena aku menolak mami nya?? arrrgggg!!!!!!!" Yoga mengerang Frustasi, memukul mukul stir mobilnya.
Sedangkan di cafe yang tidak jauh dari taman bermain itu. Roy duduk sendirian sambil meminum Boba.
__ADS_1
Ekspresi wajahnya terlihat datar, tatapan mata nya lurus ke depan.
"Kasian tuan muda" lirih pengasuh nya, ia selalu mengawasi Roy dari luar cafe.
Meskipun masih kecil, keluarga Raisa selalu menjelaskan pada pelayan ataupun pengasuh untuk anak anak mereka tetap jaga privasi. Menurut Raisa, ia tidak mau anak nya nanti terlalu dekat dengan pengasuh, dan di manfaatkan. Bukan bermaksud suudzon, tapi lebih baik mencegah dari pada mengobati.
...----------------...
Capek berkeliling mencari keberadaan Roy, Yoga akhirnya memutuskan untuk mampir ke cafe yang biasa ia ajak Roy.
Saat turun dari mobil, Yoga tak sengaja melihat pengasuh Roy duduk sembari menatap ke arah dalam cafe.
"Loh, kamu di sini. Mana Roy?"
"Eh tuan" sapa pengasuh langsung berdiri dari duduknya, ia memberikan hormat pada Yoga.
"Kamu sendiri? mana Roy?" ulang Yoga lagi.
Pengasuh itu melirik kearah Roy yang sedang duduk di dalam.
Yoga pun mengikuti arah lirikan mata pengasuh itu.
"Dia di dalam tuan, setiap hari hanya duduk sembari meminum Boba." ujar pengasuh terdengar sedih.
"Jadi, selama ini dia di sini?" tanya Yoga.
"Iya tuan, dia tidak mau datang ke taman bermain itu. Saya juga tidak tahu apa alasannya, tapi tuan muda lebih suka duduk diam di sini"
Yoga melangkah masuk ke dalam cafe, lalu duduk di depan Roy.
Awalnya Roy terlihat kaget,lalu ia kembali biasa saja.
"Kenapa anda duduk di situ?"
Deg. Bahkan Roy menyebut Yoga dengan panggilan Anda.
"Roy, marah yah sama aku?"
"Tidak, kenapa saya marah sama anda. Sudah jangan ganggu saya" usir Roy memalingkan wajah nya dari Yoga.
Terdengar para tamu kain berbisik bisik mengomentari tentang mereka.
"Manis yah, bapak dan anak bertengkar."
"ia lucu banget mereka"
"Sweet"
__ADS_1
Pengasuh dari luar juga terheran, mengapa Roy dan Yoga terlihat sangat mirip. Bisa di bilang Roy adalah versi Yoga kecil.
...----------------...