Terpikat Pesona Gadis Lugu

Terpikat Pesona Gadis Lugu
Pembuktian Cinta Yoga


__ADS_3

Setiap malam, Yoga pergi ke rumah Johan. Mencoba untuk bertemu dengan Raisa.


Namun, gadis itu tidak mau menemuinya. Ia sudah tidak mau berurusan dengan pria itu lagi.


Menurut Raisa, sudah cukup rasa sakit yang ia terima selama ini. Ia tidak mau rasa sakit yang lebih dalam lagi.


Hari ini adalah hari ke 7 Yoga mendatangi rumah Johan. Lagi lagi Raisa menolak dan tidak mau bertemu dengan nya.


Yoga kembali berdiri di luar rumah Johan, tepatnya di taman belakang di bawah kamar Raisa.


Pria itu terus berdiri sembari menatap pintu jendela kamar Raisa yang tertutup rapat.


Biasanya malam sangat cerah, Yoga akan berdiri di sana hingga tengah malam. Tapi kali ini ia bertekad berdiri di sana hingga Raisa keluar.


Duarrr.......


Duarrr.....


gemuruh petir dan kilat silih berganti, angin kencang juga sudah mulai terasa. Seperti nya hujan deras akan segera turun.


Raisa terlihat tidak peduli, ia berusaha untuk memejamkan matanya agar segera tertidur.


Namun, seperti biasanya. Gadis itu baru bisa tertidur apabila Yoga sudah pergi.


Duarrrr!!!! Duarrr!!!!


Raisa kaget, ia melihat kearah jam dinding kamarnya.


Pukul 12.30


"Apa dia sudah pergi?" gumamnya.


Cepat cepat Raisa pergi ke jendela kamarnya, mengintip di balik gorden agar tidak terlihat oleh Yoga.


"Huh. Pria bodo!" umpat Raisa.


Yoga masih berdiri kokoh di bawah sana. Bajunya sudah terlihat basa kuyup oleh hujan gerimis.


Duaarrrrrr!!!!


Duarrr!!!!


Kilat dan petir silih berganti, hujan semakin deras turun.


Raisa menatap khawatir pada Yoga, meskipun ia kecewa, tapi hatinya masih milik Yoga.


Titi terlihat khawatir melihat tuan nya terkena hujan deras, ia bergerak gelisah memikirkan harus berbuat apa.


Sementara Johan hanya berdiri santai, dan terus memantau Yoga.


"Kasian tuan, bagaimana jika dia sakit?" ujar Titi terlihat khawatir.


"Tenang lah, dia pria kuat. Aku yakin Yoga bisa melewatinya" balas Johan.


Keduanya masih berdiri di ruangan olahraga yang berada di bagian belakang rumah.


Sudah hampir 1 jam Yoga berdiri di luar dengan bertemakan guyuran hujan.


Tubuhnya sudah mulai bergetar, dinginnya air hujan di malam hari sudah mulai terasa merasuk ke dalam tulang.


"Aku harus kuat, aku harus memperlihatkan pada Raisa, bahwa aku benar-benar mencintai nya. Mati sekalipun aku rela" batin Yoga.


Raisa menjadi bimbang, ia tidak tega melihat Yoga berdiri di bawah sana. Apalagi hujan deras dan juga petir.


"Bodoh!! pergi!!!" teriak Raisa dalam hati. Ia terus bergerak gelisah antara keluar atau tetap diam di kamar.

__ADS_1


Jika diam di kamar, maka pria keras kepala itu akan sakit berlama lama terkena hujan.


"Ah, bodo amat!"


Raisa berlari keluar dari kamar, ia mengambil payung. Lalu berlari keluar rumah.


Yoga sudah tidak kuat lagi, tubuhnya terasa kaku dan hampir tidak merasakan apapun lagi.


Bruk~<


Yoga berlutut di tanah, kakinya sudah tidak sanggup berdiri. Di tatapnya pintu jendela raisa lekat.


"Aku harus kuat" ucap Yoga menyemangati dirinya.


Tiba-tiba hujan tak terasa mengguyur tubuhnya, jendela kamar Raisa juga tidak terlihat oleh matanya.


"Apa aku buta?" pikir nya, ia hanya melihat benda yang berwarna menghalangi pandangannya.


"Pria bodoh!!!!"


Deg.


Yoga tertegun, suara Raisa terdengar sangat dekat di telinganya.


"Kau pikir kau sudah mati?" maki Raisa.


Yoga menoleh, senyum nya langsung mengembang ketika melihat Raisa berada di samping nya.


"Akhirnya kamu mau melihat ku" ucap Yoga senang, ia langsung memaksa kakinya untuk berdiri.


"Raisa aku mohon maafkan aku, aku tidak pernah menduakan mu!! aku sangat mencintai mu!"


"Aku tidak peduli" balas Raisa ketus.


"Nona" pekik Titi girang, ia sampai tidak sadar memeluk Johan saking senang nya.


Titi tersadar, ia langsung melepaskan pelukan nya dan menunduk malu.


"Astaga" pekiknya dalam hati.


"Kau yang memulai, maka jangan salahkan aku untuk melakukan nya" ujar Johan tersenyum menang.


Johan menggendong Titi ke arah kamarnya, lalu mencium gadis itu dengan penuh nafsu.


"Tuan..Ah.."desah Titi menahan gejolak yang Johan timbulkan.


Keduanya larut dalam asmara, melupakan Yoga dan Raisa di luar sana.


...----------------...


Yoga dan Raisa masih berdiri di bawah guyuran hujan. Keduanya sama sama terdiam dalam pemikiran masing-masing.


"Kenapa kau melakukan ini!" ucap Raisa dingin.


"Karena aku mencintaimu!"


"Apa dengan menyiksa tubuh mu seperti ini?"


Yoga terdiam, membiarkan Raisa berbicara sendiri.


"Kau sudah gila huh? apa kau ingin menyakiti ku lagi huh?" teriak Raisa.


Yoga menggeleng, ia tidak bermaksud seperti itu


"Lalu apa? apa dengan begini aku akan senang?? apa kau pikir aku akan bahagia???"

__ADS_1


Cup~


Yoga mencium bibir Raisa, menghentikan ucapan ucapan yang tidak penting itu.


Raisa mendorong dada Yoga, lalu menamparnya kuat.


Plak!


Seakan tak terasa, Yoga kembali menarik wajah Raisa dan menciumnya lagi.


Namun Raisa kembali mendorong nya dan menamparnya.


Plak!!


Yoga tak gentar, ia menarik tubuh Raisa hingga payung yang gadis itu pegang terjatuh dan di terbangkan angin menjauh.


Cup~~


Raisa berusaha berontak, mendorong dan memukul dada Yoga agar melepaskan dirinya.


Tapi, pria itu tidak mau melakukan nya. Ia menahan pinggang Raisa dan juga tengkuk gadis itu untuk memperdalam ciumannya.


"Sorry" lirih Yoga di sela sela ciuman mereka.


Tubuh Raisa sudah basah kuyup, tangan nya sudah tak mampu untuk menolak lagi. Sejujurnya Raisa juga merindukan Yoga.


Lagi dan Lagi Raisa terbuai akan rayuan dan cumbuan maut Yoga.


Mereka berciuman di bawah derasnya guyuran hujan.


Duarrrrrrr!!!!!


Raisa terlonjak kaget, ia sangat takut dengan suara petir. Yoga melepaskan pangutan nya.


"Aku takut"cicit Raisa memeluk Yoga erat.


"Ahk" pekik Raisa lagi, Yoga tiba-tiba mengangkat tubuhnya ke dalam gendongan nya. Lalu berlari masuk ke rumah Johan.


Entah dari mana pria itu mendapat kekuatan nya, ia yang sudah lemas kembali bertenaga.


...----------------...


Raisa memberikan handuk pada Yoga, agar pria itu bisa mengeringkan tubuhnya.


"Tunggu di sini, aku akan mengambilkan pakaian kakak ku" kata Raisa.


Jam saat ini menunjukkan pukul 2 dini hari. Hujan masih sangat deras mengguyur bumi.


Yoga mengangguk, menerima handuk dari Raisa. Ia mulai mengeringkan rambutnya.


Raisa pergi ke kamar kakaknya, terlihat pintu kamar Johan tidak tertutup rapat.


"Ahh.... Tu-an..."


Deg.


Langkah Raisa terhenti. Ia kaget mendengar suara dari kamar kakaknya.


"Suara apa itu?" gumam Raisa dalam hati.


"Tuan...Ah..To-ah...",


Raisa semakin merinding mendengar lenguhan kenikmatan itu.


Semakin penasaran, Raisa menempelkan telinganya ke daun pintu kamar Johan. Menajamkan pendengaran agar mendengar lebih jelas lagi.

__ADS_1


"Ahh....tu-ah...An" rintihan suara seorang wanita, yang Raisa tidak tahu suara siapa itu.


"Aku tidak percaya?" Raisa menutup mulutnya dengan kedua mata melotot tidak percaya. Suara itu sangat jelas, Raisa tahu di dalam sana mereka sedang apa.


__ADS_2