Terpikat Pesona Gadis Lugu

Terpikat Pesona Gadis Lugu
Restu Johan


__ADS_3

Titi duduk di samping ranjang milik Raisa, dengan telaten wanita itu mengusapkan air hangat ke tubuh Raisa agar gadis yang masih memejamkan matanya itu merasa segar.


Dokter mengatakan jika Raisa akan tersadar sebentar lagi. Bius penenang yang masuk ke dalam tubuh Raisa mulai memudar dan hilang.


"Segeralah bangun, ada banyak orang yang menunggu mu nona" lirih Titi.


Ceklek.


Pintu kamar inap Raisa terbuka, menarik perhatian Titi untuk menoleh kesana.


"Tuan" sapa Titi melihat Yoga yang membuka pintu.


Yoga mengangguk, ia berjalan pelan masuk ke dalam.


Yoga berdiri di samping Raisa, tepatnya di seberang Titi.


"Apa dia masih tertidur?" tanya Yoga menatap lekat wajah damai Raisa.


"Begitulah, seharusnya nona sudah mulai siuman. Tapi sampai saat ini ia masih betah berlama lama di alam mimpi" jawab Titi sendu.


Titi mengambil kain lap yang ia gunakan untuk membersihkan tubuh Raisa, lalu membawanya ke kamar mandi.


"Saya ke kamar mandi dulu tuan, tolong jaga Raisa sebentar "


Yoga mengangguk, lalu ia menarik kursi dan duduk di samping Raisa. Meraih tangan mungil milik Raisa, lalu mengecupnya.


"Kenapa kamu betah banget tidur sih? aku kangen sama kucing peliharaan ku" lirih Yoga, ia kembali mengecup punggung tangan Raisa.


Entah mengapa Yoga merasa hidupnya hancur ketika melihat kondisi Raisa yang lemah seperti ini.


Yoga menunduk, ia menyalahkan dirinya atas apa yang telah Raisa alami. Hampir saja hidup gadis ini hancur jika mereka tidak datang tepat pada waktunya.


"Maaf kan aku...." lirih Yoga.


Kepala Raisa bergerak, perlahan mata nya terbuka dan melihat Yoga di dekatnya.


"Tuan?" gumam Raisa lemah.


Kaget, Yoga langsung mengangkat kepalanya dan menatap Raisa senang.


"Kamu sudah sadar?? sebentar aku panggilkan dokter" seru Yoga sembari berlari keluar memanggil manggil nama dokter.


Mendengar keributan, Titi langsung keluar dari kamar mandi dan mendapati Raisa sudah membuka mata.


"Nona sudah sadar???" girang Titi senang. Ia berhambur memeluk Raisa.


Raisa yang lema hanya memejamkan mata menerima pelukan Titi.


Tak lama kemudian Yoga kembali membawa dokter bersama nya, dan juga dua orang perawat pendamping.


"Bagaimana dok?" tanya Yoga tidak sabaran pada dokter setelah memeriksa Raisa.


"Pasien sudah membaik, sebaik nya jangan terlalu ribut dan membuat dirinya panik"


"Baiklah dok"


"Kalau begitu saya permisi" pamit dokter. Yoga mengangguk, lalu membiarkan sang dokter pergi bersama kedua perawat itu.

__ADS_1


"Nona, bagaimana perasaan mu? apa ada yang sakit?" tanya Titi.


Raisa menggeleng lemah, ia tersenyum pada Titi, lalu melirik ke arah Yoga yang berdiri di samping nya.


"Apa ada yang sakit?" tanya Yoga.


Raisa diam saja, ia berusaha untuk menahan dirinya agar tidak berteriak. Menahan rasa takut yang saat ini menggerogoti hatinya.


Yoga menjadi panik, ia semakin mendekat pada Raisa. Pria itu meraih tangan Raisa, namun di hindari oleh Raisa.


"Titi, aku takut" lirih Raisa hampir menangis, ia menatap Titi dengan tubuh bergetar.


"Ini aku Raisa, bukan penjahat itu" ucap Yoga berusaha menjelaskan.


"Titi, aku mohon" lirih Raisa semakin menjadi jadi menangis nya.


"Tuan, sebaiknya anda keluar dulu. Mungkin nona belum bisa melihat anda" sara Titi.


"Tapi..."


"Akkhhh....Pergi!! Jangan sentuh aku!!!!!" teriak Raisa mulai histeris, bayangan itu semakin jelas dan membuat nya takut.


Secara spontan Titi langsung memeluk dan berusaha menenangkan Raisa.


Dengan berat hati, Yoga melangkah keluar dari kamar inap Raisa. Ia juga tidak tega melihat gadis nya ketakutan.


"Kenapa keluar?" tanya Johan yang baru saja tiba, ia heran melihat yoga lesu dan berdiri di luar.


"Dia masih trauma, tidak bisa melihat laki laki" jelas Yoga.


Johan mengintip ke dalam, ia melihat Titi tengah memeluk adiknya yang tengah menangis histeris.


"Dia pasti sangat ketakutan, kejadian itu sangat membekas di memory nya."


Yoga duduk di kursi tunggu, wajah nya Kesu tidak bergairah.


"Kenapa kau seperti ini padanya?" tanya Johan heran, bukan kah Yoga hanya menganggap adiknya sebagai mainan saja?.


"Entah lah, aku juga tidak tahu. Hati ku hancur setiap kali aku melihat nya menderita" sahut Yoga.


"Kau mencintai nya?"


Yoga menoleh, ia juga ragu dengan hal itu. Sebelum nya yoga belum pernah merasakan apa itu cinta.


"Jika kau mencintai nya, aku akan merestui kalian. Tapi ada syaratnya"


"Apa?" tanya Yoga.


"Kau harus menjaganya dengan baik, jangan sampai adik ku meneteskan air mata, walaupun hanya satu tetes"


Yoga mengangguk, ia akan berusaha untuk melakukannya.


"Baik lah Abang ipar!" balas Yoga tersenyum cool.


"Jijik denger nya" balas Johan merinding. Lalu keduanya tertawa bersama.


...----------------...

__ADS_1


Sudah satu Minggu Raisa di rawat di rumah sakit. Akhirnya ia sudah bisa pulang.


Terlihat Titi sangat bersemangat mengemasi barang barang Raisa.


"Ayo nona, mereka pasti sudah menunggu kita di luar" ucap Titi.


"Baiklah" sahut Raisa tersenyum tipis.


Mereka berjalan pelan, sesampainya di lobi, Yoga menyambut mereka.


"Apa sudah siap?" tanya Yoga.


"Sudah balas" Titi.


Yoga beralih menatap Raisa, ia tersenyum manja. Sejak mendapatkan restu dari Johan. Yoga terlihat berbeda, ia semakin agresif pada Raisa. Berusaha untuk membuat gadis itu senang dan menghalau semua trauma itu.


"Princess ku bagaimana? apa sudah siap kembali ke rumah?"


"Aku kembali ke mana?"tanya Raisa datar.


"Ke rumah kita lah, kemana lagi" jawab Yoga cepat.


"Apa tidak bisa ke rumah kak Johan?" tawar Raisa.


Wajah Yoga langsung cemberut masam, ia tidak akan membiarkan Raisa jauh dari sisinya.


Yoga melirik Titi tajam.


Takut jika tuanya marah, Titi langsung membujuk Raisa.


"Nona, kita harus kembali ke rumah tuan Yoga. Jika kau kembali ke rumah tuan Johan. Maka aku akan kesepian " Ucap Titi.


"Kau bisa tinggal bersama ku, berhenti saja bekerja di sana " balas Raisa.


"Eh tidak boleh, pokoknya kamu harus pulang bersama ku. Tidak ada bantahan!!" tegas Yoga menarik tangan Raisa pergi.


"Eh tunggu "teriak Titi berlari mengejar tuan nya.


Mobil sudah siap, Yoga membukakan pintu untuk Raisa.


"Silahkan masuk nona" seru Yoga sopan.


"Hmm.."balas Raisa acuh. Tapi, di dalam hati gadis itu ingin berteriak, ia sangat malu melihat sikap Yoga yang berubah manis padanya.


Titi memberikan tas milik Raisa pada supir, agar di masukkan ke dalam bagasi. Setelah nya ia bersiap ingin masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Raisa.


"Ehhh... ngapain!" cegat Yoga.


"Yah masuk lah tuan, kan kita mau pulang" jawab Titi.


"Siapa suruh kamu duduk di situ. Kamu tuh samping Marko" usir Yoga mendorong Titi ke arah depan


"Lahhh kok samping Marko sih" dengus Titi, ia sangat benci bila duduk bersebelahan dengan Marko. Supir genit yang selalu merayunya.


"Hai nona Titi" sapa Marko tersenyum genit.


"Lihat kesini lagi, aku colok mata mu!" ancam Titi

__ADS_1


"Galak amat" cibir Marko.


...----------------...


__ADS_2