Terpikat Pesona Gadis Lugu

Terpikat Pesona Gadis Lugu
Jangan Ganggu Hidup Ku


__ADS_3

Julia merenung di dalam kamar, sejak siang tadi ia tidak mau kemana mana, pikiran nya di penuhi oleh Raisa dan Roy.


Dave datang, ia baru saja pulang dari kantor.


Dave memeluk istrinya, lalu mengecup wajah imutnya.


"Kamu mikirin apa sayang, kok bengong di sini?"


Hufff....


"Aku mikirin bagaimana cara untuk menyatukan Roy dan Yoga. Aku ingin mereka hidup bahagia"


Dave menjauhkan wajahnya dari pipi istri nya.


"Kau sudah gila? kenapa kau sangat terobsesi dengan mereka?"


"Bagaimana tidak, aku sudah lelah melihat Lina menangis dan menangis, apalagi Roy yang sering di hina anak haram. Aku sudah capek, aku tidak tega melihat nya" jelas Julia tulus dari hatinya.


"Aku sudah membuat rencana dengan Yoga, agar mereka dekat kembali. Tapi, semua itu gagal"


"What?? sejak kapan kamu jumpa sama pria brengsek itu?"


"Sejak Lina menjadi CEO perusahaan, aku bertemu dengan pria itu, dan aku tahu jika dia adalah pria yang baik. Aku rasa mereka hanya terlibat kesalahpahaman saja."


"Apa kau yakin?"


Julia mengangguk cepat, ia sangat yakin akan hal itu.


Dave berpikir sejenak, sebenarnya ia juga sudah sangat lelah melihat adik sepupunya menderita.


"Aku ada ide" ucap Dave membuat Julia berbinar.


"Apa itu?" Tanya Julia tidak sabar.


"Bagaimana kalo kita temui Johan, dia dan Yoga adalah teman baik, dan Lina juga adakah teman baik Johan sebelum menjadi adiknya"


"Lalu? " tanya Julia, ia masih belum mengerti.


"Kita tidak akan bisa menyatukan mereka jika yang melakukan nya hanya kita berdua, kita harus melibatkan orang orang di masa lalunya.


"Bener juga, kamu memang cerdas suami ku!" Julia memeluk erat suaminya, lalu mengecup lembut pipinya.


"Asal kau bahagia beb"lirih Dave.


...----------------...


Di sisi lain,Yoga dan Roy tengah menghabiskan waktu bersama di sebuah mall. Yoga sengaja menculik Roy dari para anak buah Raisa.


"Papa, aku sangat senang sekarang " ungkap Roy senang pada Yoga.


"Benarkah? wah bagus dong"

__ADS_1


Yoga menggendong Roy ke dalam pelukan nya, ia membawa Roy ke Timezone.


"Mau main yang mana?" tanya Yoga.


Roy melihat semua permainan yang tampak menarik, ia sampai bingung mau main yang mana.


"Ak-"


"Roy!!"


Yoga dan Roy kaget, mereka berbalik menghadap ke sumber suara memanggil nama Roy.


"Mami?" Roy turun dari gendongan tangan Yoga, ia menghampiri mami nya yang berlari kearah mereka.


"Ya ampun Roy, kamu kemana aja, mami udah ke sana ke mari mencari kamu. Mami pikir kamu kenapa kenapa!!!" ucap Raisa memeluk putranya.


"Maaf mami" lirih Roy merasa bersalah.


Raisa melepaskan pelukan nya pada Roy, lalu menatap tajam kearah Yoga.


"Kau!"


Sebelum Raisa mendekat pada Yoga, ia lebih dulu memberi kode pada pengasuh anak nya untuk membawa Roy ke mobil.


"Mami, aku mau sama papa!!"


"Ayo tuan muda, kita ke mobil" ajak pengasuh. Namun, Roy tidak mau. Ia terus meronta-ronta agar di lepaskan.


Pengasuh akhirnya menggendong Roy, lalu membawanya pergi.


Raisa kembali menatap Yoga marah, di matanya sangat terlihat api kebencian untuk Yoga.


"Apa lagi yang kau inginkan? aku sudah mengatakan padamu, untuk menjauhi putra ku!" ucap Raisa dengan amarah tak tertahankan lagi.


"Kenapa kau melarang ku bertemu dengan nya! apa salah ku menjadi seorang ayah untuk Roy" kata Yoga masih dengan nada santai.


Raisa berdecih.


"Atas dasar apa kau ingin menjadi ayah bagi Roy, kau bukan siapa siapa! kau hanya orang asing!" teriak Raisa.


"Aku ayah nya, aku berhak atas dia!!" ingin sekali Yoga mengatakan hal itu, namun ia tidak bisa


"Kasian putra anda nyonya, dia merasa kesepian. Aku hanya ingin menyenangkan nya"


"Tidak perlu, kau tidak perlu ikut campur dengan kehidupan putra ku. Aku peringatkan pada mu, agar tidak perlu lagi menemui putra ku!"


Setelah mengucapkan hal itu, Raisa berbalik dan melangkah pergi.


"Kau tidak akan bisa menyembunyikan ini selamanya Raisa!" teriak Yoga.


Deg!

__ADS_1


Langkah kaki Raisa terhenti, bibirnya bergetar menahan tangis yang ingin meluncur dari matanya.


"Kau tahu? aku sudah melakukan test DNA. Dia anak ku juga, aku ayah kandung nya!!" teriak Yoga lagi.


Raisa berbalik, ia melangkah cepat menghampiri Yoga. Laku menampar pipi pria itu sekuat tenaga.


Plak!


"Apa hak mu melakukan itu! Dia putra ku, bukan putra mu! aku yang membesarkannya, aku yang merawatnya sendirian!"


"Lalu, setalah semua hal sulit itu aku lalui, kau tiba-tiba datang dan mengatakan dia adalah putra mu??? Tidak!!!! Aku tidak akan membiarkan putra ku memiliki ayah seperti mu!!!" Raisa berteriak histeris meluapkan semua amarahnya pada Yoga. Amarah yang selama ini terpendam.


Orang orang di sana melihat kearah mereka berdua. Orang orang itu heran dan juga kasian pada Raisa yang menangis seperti itu.


"Raisa, aku mohon. Dengerin aku dulu!!!" Yoga berusaha meraih tangan Raisa, namun wanita itu menepisnya.


"Jangan kau sentuh aku, aku gak sudi bila jari busuk mu itu menyentuh ku!" bentak Raisa.


Raisa menghapus air matanya, lalu menatap sinis pada Yoga.


"Aku harap ini terakhir kalinya kau mengganggu kehidupan ku dan putra ku!"


Raisa berbalik pergi tanpa menoleh lagi pada Yoga.


"Raisa!! Tunggu!! Aku bisa jelasin!!!" teriak Yoga, tapi Raisa sudah berlari pergi, ia sudah tidak mau melihat Yoga lagi. Rasa sakit itu kembali menggerogoti hatinya.


"Mami" Lirih Roy. Mata nya berkaca kaca menatap Raisa yang masih dalam keadaan menangis.


Raisa memeluk putranya, bibirnya bergetar dan menangis sejadi jadinya.


"Maafin mami Roy, maafin mami"


Roy tidak menjawab, ia hanya menangis di dalam pelukan maminya. Mereka terduduk di lantai mall dengan saling memeluk dan menangis.


Roy mendengar semua percakapan Raisa dengan Yoga. Tapi, Roy masih kecil, dia belum terlalu mengerti apa yang Raisa dan Yoga bicarakan. Roy hanya berpikir jika karena dirinya Yoga dan Raisa bertengkar. Bahkan Roy melihat mami nya menampar wajah Yoga.


Roy sangat merasa bersalah, ia tidak mau Yoga terus terusan di marahi oleh mami nya. Roy sangat sayang pada Yoga dan juga mami nya.


Yoga adalah sosok papa yang Roy idam idamkan selama ini. Ia sangat sayang pada Yoga.


"Ayo kita pulang mi, kita tidak boleh jadi tontonan orang banyak" lirih Roy.


Raisa mengangguk, lalu menggendong putranya keluar dari mall itu menuju ke parkiran mobil.


"Jangan nangis lagi yah" ucap Roy mengusap air mata maminya yang masih membasahi pipi maminya.


"Iya sayang, makanya jangan bandel yah"


Roy mengangguk patuh, ia janji tidak akan membuat mami nya marah lagi.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2