Terpikat Pesona Gadis Lugu

Terpikat Pesona Gadis Lugu
Orang Asing


__ADS_3

Tak berdaya, tubuh mulai menyusut. Menahan setiap siksaan dan merasakan dinginnya lantai penjara tahanan di bawah tanah.


Setiap minggunya gadis itu terus mengerang kesakitan. Ia bahkan berharap hari berjalan lebih lama, agar orang itu tidak datang dan memberikan siksaan yang teramat sakit.


Mawar, siapa lagi gadis yang merasakan karma dari perbuatan kedua orang tua nya.


Krang....Tak.


Mendengar suara berisik pertanda pintu di buka. Tubuh Mawar langsung bergetar ketakutan.


"Jangan lagi, lukanya masih basa" batinnya, pikiran nya langsung panik.


"Bangun!"


"Bangun!!!"


Mawar masih tak bergerak, bukan tidak mau. Tapi ia sudah tak sanggup menggerakkan satu jari sekalipun.


"Tolong, ampuni aku" lirih Mawar pelan, bahkan hampir tidak terdengar.


Penjaga itu tidak peduli, seakan ia sudah tidak memiliki hati nurani.


Mawar di seret ke ruangan penyiksaan, di sana Johan sudah berdiri menunggu kedatangan mainannya.


"Bajingan" maki Mawar tak bersuara. Hanya sorot matanya yang menunjukkan betapa ia sangat membenci Johan.


"Kenapa? apa kau ingin membunuh ku? atau kau ingin membalas dendam kepada ku?"


Johan tertawa mengejek, bergerak saja gadis itu tidak bisa. Apalagi membalas dendam padanya.


"Aku kasihan padamu, tapi kelakuan kalian sangat tidak bisa aku ampuni!


Paman mengatakan padaku, seorang mafia, tidak boleh ada rasa belas kasihan!"


Mawar tertunduk lemah, kedua tangannya di pegang oleh penjaga, bahkan tubuhnya juga di sanggah. Jika tidak, tubuhnya bisa jatuh ke lantai.


Johan berdiri di depan mawar, mencengkram tahan yang sudah terlihat tulangnya.


"Hari ini kamu boleh bahagia, karena aku tidak akan menyiksa mu"


"Kenapa kau menyiksa kami seperti ini? kenapa kau tidak langsung membunuh ku saja!"


"Hahahahaha....."


Tawa Johan meledak,


"Bunuh kau bilang??? hahahaha."


"Jika kau mati, maka kau akan sangat bahagia. Tapi..." Johan menjeda ucapannya.


"Aku malah tidak bahagia, aku ingin kalian merasakan betapa menderitanya keluarga ku!!!"


"Itu bukan salah ku!" sekuat tenaga Mawar berusaha untuk menjawab Johan.


Melihat Mawar berusaha melawan ucapan nya, membuat Johan menjadi emosi. Ia mencengkram kuat leher gadis itu, seakan melampiaskan semuanya.


Tiba-tiba..


"Lepas!! lepaskan aku!!!"


"Mama..." gumam Mawar kaget.


Johan tersenyum miring, ia melepaskan cengkraman nya, kemudian menjauh dari Mawar.

__ADS_1


Bruk~


Tubuh Melinda jatuh di lantai, kedua tangannya di ikat ke belakang.


Tak jauh berbeda, wanita baru baya itu terlihat semakin tua dan kurus.


"Mawar??" Melinda beringsut, berusaha untuk mendekat pada putrinya.


Mawar mengumpulkan seluruh tenaganya, ia sangat ingin memeluk mamanya. Sejak Johan sering menyiksa diri nya. Pria itu memindahkan sel tahanannya.


"Lepas!" Mawar berusaha mendorong penjaga agar ia bisa mendekat pada mamanya, namun. Seakan ingin memisahkan dan hanya bertentang mata. Johan memerintahkan penjaga untuk menahan mawar dan sedikit menjauh dari Melinda.


"Sayang, kamu baik baik saja kan?" tanya Melinda menatap tubuh kurus tak terawat putrinya. Tanpa bertanya sebenarnya ia sudah tahu, jika putrinya tidak baik baik saja.


Mawar mengangguk, air matanya mengalir deras melihat kondisi mamanya, begitu juga sebaliknya


Prok!!! prok!!!


Johan bertepuk tangan melihat drama mawar dan Melinda.


"Aku tidak menyangka penjahat seperti kalian bisa menangis." cibirnya.


Melinda menoleh, ia menatap Johan memohon.


"Tolong lepaskan putriku, kau boleh melakukan apapun asal putri ku baik baik saja. Dia tidak bersalah" mohon Melinda.


"Cih, kau merasakan nya sekarang? " Johan berdiri.


"Lalu, apa kau tidak pernah berpikir sebelum kau menyiksa adik ku? bahkan kau membunuh ibu ku,!!!!" Teriak Johan kembali emosi.


"Tidak!! bukan kami, tapi pria itu!!" ucap Melinda menuduh suaminya.


"Cih, aku tidak peduli. Aku ingin kau merasakan betapa menderitanya seorang ibu ketika anak nya di siksa!"


"Siksa wanita tua itu, biarkan putrinya menyaksikannya" titahnya sebelum pergi.


Seorang penjaga bertambah satu, untuk menyiksa Melinda.


Mawar menggeleng kuat, ia tidak mau mamanya di siksa. Namun ia tidak bisa berbuat apa apa. Hanya air mata yang terus mengalir menyaksikan semua penderitaan ini.


...----------------...


Raisa dan Titi sedang berjalan jalan di sebuah taman. Raisa tersenyum bahagia, ia sangat suka berjalan santai sembari menikmati alam. Apalagi taman yang mereka kunjungi sangat terawat dan memiliki banyak tanaman dan pepohonan.


"Aduh, aku haus ni" lirih Titi.


Wajar saja, mereka berjalan di bawah terik matahari. Meskipun di bawah rindang pohon, tetap saja panasnya terasa.


"Yaudah, aku tunggu di bangku sama yah. Kamu pergi beli minum" ujar Raisa menunjuk sebuah bangku di bawah pohon dekat kolam ikan.


"Baiklah, nona jangan kemana mana yah" peringat Titi.


Raisa mengangguk seperti anak yang di tinggal ibunya sebentar.


Titi tersenyum, ia berjalan cepat menuju mini market. Letak nya cukup jauh, Titi harus memutar dan menyebrang.


Raisa duduk di bangku yang ia tunjuk tadi, menatap ke arah kolam ikan yang penuh dengan ikan mas.


Terlihat senyum manis Raisa merekah ketika para ikan lucu menampakkan diri secara bersamaan. Mulut ikan terlihat membentuk gelembung.


"Wahh lucu sekali" decak Raisa bertepuk tangan.


Sletss....

__ADS_1


Seketika ikan ikan itu menghilang, meninggalkan buih terapung dan kemudian menghilang.


"Yah, kok hilang" gumam Raisa kecewa.


"Hahaha....."


"Eh" Raisa kaget, ia menoleh pada seorang pria tampan tengah menertawai nya.


Awalnya Raisa menoleh ke kiri dan kanan, mencari apa yang sedang pria itu tertawai.


"Eh nona, aku menertawai mu" ujar pria itu, ia berjalan mendekat pada Raisa, kemudian duduk di sampingnya.


Raisa cemberut, ia menggeser tubuhnya ketika pria itu bergabung di bangku yang sama dengan nya.


"Jika kau berisik, maka ikan ikan itu akan takut dan bersembunyi" jelas pria itu tanpa Raisa minta.


"Maaf tuan, aku tidak bertanya" ketus Raisa.


"Aku hanya menjelaskan" jawab pria itu Entang.


Raisa mendengus kesal, pria ini sangat menyebalkan menurutnya.


Tidak nyaman dengan keberadaan pria itu, akhirnya Raisa beranjak ingin pergi. Namun, pria itu menahan lengannya.


"Mau kemana? apa aku mengganggu mu?" tanya pria itu


"Susah tahu bertanya lagi"


"Maafkan aku, tapi apa kita bisa berkenalan?" sahut nya .


Raisa mendelik, apa pria ini tidak tahu malu? apa dia orang yang tidak bisa melihat situasi.


"Maaf yah tuan, saya tidak bisa berkenalan dengan orang asing" tolak Raisa .


Pria itu tersenyum, dan senyum nya manis sekali.


"Setelah berkenalan kita tidak akan menjadi orang asing lagi" sahut nya santai.


"Pria gila!" umpat Raisa semakin kesal. Ia menepis tangan pria itu, kemudian beranjak pergi.


"Raisa!!!" panggil Titi.


Raisa langsung berjalan cepat menghampiri Titi. Syukur gadis itu datang di waktu yang tepat.


"Siapa dia?" tanya Titi melihat kearah pria bersama Raisa tadi.


Raisa menarik tangan Titi, lalu berbalik pergi.


"Orang gila" jawab Raisa asal.


"Tapi tampan, kok ada ya orang gila kaya gitu" kekeh Titi.


"Raisa?? jadi nama nya Raisa??" gumamnya, pria itu tersenyum lagi, menampakkan lesung pipi di sebelah kanan.


...----------------...


Sesampainya di rumah, Raisa melihat Yoga sudah standby di ruang tengah.


"Baru pulang sayang?" tanya Yoga lembut.


"Bukan urusan kamu" balas Raisa ketus, menatap Yoga sekilas. Kemudian beranjak menuju ke kamarnya.


Titi menjadi tidak enak, ia berusaha untuk menjelaskan pada tuannya agar tetap bersabar dan terus berjuang.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2