
"Tolong antar aku ke toilet" kata Raisa pada pelayan wanita, ia mengabaikan pria aneh yang masih berdiri sembari menatapnya lekat.
"Nona, kita sudah bertemu 3 kali. Aku yakin ini sebuah pertanda" ucap pria itu tersenyum lebar. Memamerkan lesung Pipit yang semakin menambah tingkat ketampanan nya.
"Iya, pertanda buruk" sahut Raisa ketus. Ia menyeret anak buah pria itu bersama nya menuju ke toilet.
"Sebelah sana nona, itu toilet wanita"
Raisa menoleh kearah yang di tunjukkan oleh pelayan wanita itu. Setelah pasti, Raisa pun berterimakasih dan segera pergi ke toilet.
5 menit di dalam toilet, Raisa kembali keluar dari sana. Ia berjalan santai menuju ke meja di mana Yoga masih duduk di sana.
Hub.
"Eh eh...."
Tiba tiba seseorang menyeret tangan Raisa dan membawanya ke ruang tempat karyawan beristirahat. Pria itu menyuruh semua karyawan nya keluar sebentar.
"Ihhh kamu itu apa apaan sih! bawa aku kesini lagi" Maki Raisa menatap sinis pria yang menurut nya sangat sangat aneh.
"Aku hanya ingin berkenalan dengan mu, tapi kau tidak mau!" Rajuk pria itu.
"Dih, merajuk kaya anak kecil. Aneh kamu!" Raisa melangkah menuju pintu, ia harus keluar dari sana. Sebelum Yoga mencarinya.
"Eitss..... jangan harap kamu bisa keluar, sebelum kita berkenalan" pria itu menarik lengan Raisa, membuat gadis itu kembali ke tempat semula.
"Iiiiihh.... mau kamu apa sih! kita itu gak kenal, jadi gak usah Deket Deket deh!" teriak Raisa mulai emosi parah.
"Makanya aku mau kita kenalan" balas Pria itu juga ikut berteriak, tapi dia tersenyum bukan marah.
"Tapi aku tidak mau!!!" teriak Raisa lagi. Mereka persis seperti anak kecil yang sedang bertengkar.
Raisa menarik nafas dalam, kemudian melepasnya secara perlahan. Menatap pria aneh itu dengan tatapan jengah.
"Ok, fine. kamu mau kenalan?" tanya Raisa. pria itu langsung mengangguk cepat.
"Ok, nama aku Lima. nah sekarang biarkan aku pergi" kata Raisa setelah menyebut asal namanya, lalu ia berbalik ingin keluar dari ruangan sumpek itu.
Lagi lagi, pria itu kembali menarik lengannya.
"Apa lagi sih......" geram Raisa benar benar tidak bisa menahan emosinya.
"Oke, Lina. Nama aku Dave. Dave Khan Rajha" Dave memperkenalkan diri.
"Oke terserah, sudah kan. Aku mau pergi, pacar ku sudah menunggu!"
Raisa mendorong dada Dave, kemudian melangkah cepat keluar dari ruangan itu agar Dave tidak menahan nya lagi.
"Lina?" ulang Dave, dahi nya mengernyit, kemarin temannya memanggilnya dengan panggilan Raisa. Tapi, kenapa sekarang namanya Lina??.
Dave tersenyum senang, ia pikir ini adalah pertanda bahwa mereka akan bertemu lagi.
Kalian tahu kenapa dia bisa berpikir seperti itu??? jawabannya karena ada masalah yang belum di selesaikan. Yah itulah jawabannya.
__ADS_1
Dave Khan Rajha, seorang pengusaha sukses di usia muda. Sangat muda sekali. Hampir sama seperti seperti Yoga, hanya saja mereka bergerak di bidang yang berbeda.
...----------------...
"Huh, dasar aneh!" gerutu Raisa kesal, wajahnya di tekuk berlipat lipat.
"Loh sayang, kok cemberut sih? ada apa? apa yang kurang sayang??" tanya Yoga heran melihat kekasihnya kembali dari toilet dengan wajah cemberut.
"Itu tuh....Ada orang aneh, aneh lah pokoknya!" jawab Raisa kesal.
"Siapa siapa?? ayo bilang sama aku. Biar aku marahin dia" Yoga berdiri di samping Raisa, kemudian menggandeng tangan Raisa, bermaksud ingin mencari siapa yang udah buat kekasihnya cemberut.
"Ihh apaan sih, kamu bikin aku makin kesel deh sayang"
"Kok makin cemberut, aku kan belain kamu sayang. Kenapa makin cemberut, harusnya kamu itu seneng. Ada ayang Yoga yang belain ayang Raisa" ucap Yoga panjang lebar, ia terdengar alay gak sih.
Raisa menatap Yoga aneh, kenapa pria ini semakin ke sini, semakin alay dan banyak omong.
"Kamu aneh yah?" kata Raisa.
Yoga mengerut, malah dirinya yang di katakan aneh oleh Raisa.
"Kok aku sih sayang, kamu malah yang aneh. Dah ke toiletnya lama, pas datang datang, eh udah cemberut aja" jelas Yoga.
"Nah tu aneh, kamu makin cerewet deh. Makin banyak ngomong nya" kata Raisa.
"Emang aku biasanya gimana?" tanya balik Yoga.
"Yoga itu irit ngomong, tatapan tajam, dingin banget, terus kejam! tapi kok sekarang beda? jangan... Jangan...." Raisa menunjuk Yoga curiga.
"Kamu bukan Yoga yang asli yah? kembaran nya kah???" tanya Raisa ngasal. Membuat Yoga langsung memasang wajah datar.
Suasana hati Raisa yang tadinya buruk, kini malah berubah menjadi sangat happy. Tingkah baru Yoga benar benar menghibur dan membuatnya sangat nyaman.
"Emangnya kamu pikir ini kisah novel yang ada balas dendam dan bertukar dengan kembaran??? ngaco aja deh"
Raisa malah terkekeh pelan, mana mungkin Yoga punya kembaran. Jika pun ada, maka tingkah mereka pasti akan berbeda. Satu es, satu api.
...----------------...
Setelah adegan bahagia dan lucu lucuan Raisa dan Yoga. Kini mereka beralih ke adegan serius.
"Sayang, ini sudah malam. Dan kita sangat jauh loh dari rumah" kata Yoga.
Mereka masih di dalam mobil, yang sengaja Yoga parkir di depan mini market setelah keluar dari restauran.
"Yah aku gak tahu, tidur di mobil aja kali. Nunggu Ampe siang" usul Raisa asal.
"Kaya orang susah aja" cibir Yoga, ia kembali menghidupkan mesin mobilnya, lalu mulai menjalankan nya membelah jalan raya.
"Terus gimana dong?" tanya Raisa, ucapan Yoga tadi masih ambigu menurutnya.
"Kita akan nginap di hotel aja" putus Yoga enteng.
__ADS_1
Deg.
Jantung Raisa berdetak kencang, kejadian waktu Yoga mabuk kembali berputar di benak nya.
Yoga menoleh ke samping, menatap wanita cantik yang duduk di sebelah nya. Yoga merasa Raisa pendiam tiba tiba, padahal tadi masih semangat.
Tangan Yoga terangkat dan menyentuh tangan Raisa yang terasa dingin di genggaman nya.
"Kok tangan kamu dingin? sayang? kamu sakit??" tanya Yoga mulai panik. Ia menatap Raisa dan jalanan secara bergantian, fokusnya terpecah dua. Apalagi Raisa tidak merespon, gadis itu hanya diam dan memejamkan matanya.
Tak jauh di depan sana, Yoga melihat palang nama hotel berbintang. Tanpa berpikir panjang, Yoga langsung membelokkan mobilnya masuk ke dalam pekarangan hotel.
Yoga berhenti di parkiran mobil, ia menoleh ke samping dan berusaha memanggil Raisa yang masih saja diam.
"Raisa!! Raisa, kamu kenapa? jawab aku dong. Sayang....!!!"
"Sayang .."
"Raisa!!!"
Yoga menarik wajah Raisa menghadap kearahnya sembari menepuk nepuk pipinya pelan.
"Ahh..." desah Raisa kaget, Yoga tiba-tiba mencubit pinggang Raisa. Membuat gadis itu tersentak dan tidak sengaja terdorong ke depan, bibir mereka bertemu.
Cup~<
Bruk~<
Raisa tersadar, ia langsung mendorong tubuh Yoga kuat agar menjauh darinya.
"Sayang, kamu kenapa sih??? aku panik tahu. Aku takut kamu kesambet atau apa gitu" kata Yoga dengan nada khawatir.
Deru nafas Raisa masih tidak beraturan, ia terlalu larut dalam ingatan buruk. Seakan semuanya nyata, hingga cubitan di pinggangnya, membuat ia tersadar.
"Aku hanya masuk angin" jawab Raisa bohong.
Raisa melihat ke sekeliling mobil, terdapat banyak mobil berderet di sana.
"Kita di mana?" tanya Raisa tanpa menoleh, ia masih melihat ke arah luar mobil.
"Kita di parkiran Hotel sayang" jawab Yoga.
"Ha? sejak kapan?" kaget Raisa, ia merasa baru aja tadi yoga mengatakan akan menginap di hotel, eh tahu tahunya udah ada di hotel sekarang.
"Aku khawatir sama kamu, makanya aku tanpa pikir panjang langsung belok ke sini" jelas Yoga jujur.
Pria itu membuka belt nya, kemudian keluar dari dalam mobil. Yoga mengitari mobilnya, berpindah ke sebelah Raisa. Membukakan pintu mobil untuk Raisa, agar wanita nya berasa seperti ratu.
"Ayo, kita harus segera istirahat" kata Yoga mengulurkan tangannya.
Raisa masih terdiam, termenung menatap uluran tangan Yoga.
"Sayang, ayo" ucap Yoga lagi, sembari meraih tangan mungil Raisa. Membuat Raisa terpaksa keluar dari mobil, dan mengikuti langkah Yoga menuju ke lobi. Mereka harus memesan kamar dulu.
__ADS_1
...----------------...