
Johan masuk ke dalam kamar Raisa, menatap sendu ke arah adik nya yang terbaring lemah di atas kasur.
Sudah 5 hari Raisa hanya berbaring di atas tempat tidur dan menangis.
Johan duduk di tepi ranjang, mengusap bahu adik nya yang bergetar.
"Dek, kamu kenapa sih. Cerita dong sama kakak, biar kita sama sama cari solusi nya" kata Johan membujuk.
Raisa tidak menyahut, hanya isakan tangis nya yang terdengar di telinga Johan.
Bayangan bayangan ketika Yoga memaksanya hingga bayangan pria itu menduakan nya silih berganti menghantui benak Raisa. Sehingga hanya sakit yang tersisa di hatinya.
Titi yang baru saja masuk ke dalam kamar Raisa membawa Johan keluar untuk berbicara.
"Tuan, aku tidak yakin. Tapi sebaiknya tuan membicarakan hal ini dengan tuan Yoga." Titi tampak khawatir. "Aku takut, jika begini terus nona bisa stres, kesehatan nya akan menurun nanti"
"Aku juga memikirkan hal itu, tapi aku takut jika Raisa tahu dia akan marah"
"Tidak tuan, ini jalan yang terbaik. Nona memang membenci tuan Yoga, tapi hatinya sangat merindukan tuan. Karena itu ia merasakan sakit yang tiada Tara"
"Baiklah, aku akan membicarakan ini dengan Yoga" putus Johan.
Titi mengangguk, lalu mereka pergi dari sana.
...----------------...
Seperti yang ia rencanakan dengan Titi. Johan pergi menemui Yoga di kantor.
Ketika di depan lift, Johan bertemu dengan Niko.
"Wah, teman ku ada di sini" sapa Niko senang. Mereka langsung bertos sebagai tradisi ketika bertemu di mana saja.
"Apa Yoga di kantor?" tanya Johan.
"Tentu, pria itu seperti batang kayu sekarang" bisik Niko.
Johan tampak kaget mendengar bisikan Niko. Sudah lama sejak Yoga terakhir kali ke rumah nya untuk melihat Raisa, Johan tak lagi bertemu dengan Yoga. Ia terlalu sibuk belajar dengan paman nya.
Johan dan Niko keluar dari lift, mereka langsung masuk ke dalam ruang kerja Yoga.
Alang kepalang, kedua pria itu kaget melihat betapa hancurnya ruangan Yoga.
"Astaga? apa sudah terjadi gempa bumi di sini?" kata Niko.
Johan mendekati Yoga, ia duduk di samping pria yang tengah tersandar sembari memegangi ponselnya yang terdapat foto Raisa.
"Kau sudah gila? apa begini cara mu ingin mendapatkan adik ku?" sindir Johan.
"Aku tidak tahu lagi bagaimana cara untuk membuatnya kembali pada ku" balas Yoga pasrah
"Kau hanya duduk dan mengamuk, apa kau pikir akan menghasilkan sesuatu?"
Johan berdiri dari duduknya, ia menatap kecewa pada Yoga.
__ADS_1
"Jika kau seperti ini terus, maka aku ragu untuk membiarkan mu mendekati adik ku"
Yoga mendongak, ia tidak suka mendengar perkataan Johan.
Niko tidak ikut campur, ia malah mulai merapikan satu persatu barang barang yang berserakan.
"Seperti nya kau benar, aku tidak layak untuk nya!" Yoga kembali menunduk, sudut matanya terlihat basah.
Melihat Yoga pasrah begitu, membuat Johan emosi seketika. Di cengkeramnya kerah baju Yoga, lalu di tariknya hingga pria itu berdiri menghadapnya.
Tatapan mata Johan sangat tajam, seolah menusuk kedua mata sayu Yoga.
"Setelah membuatnya menderita seperti itu, apa kau langsung menyerah begini???"
"Lalu aku harus apa? jangan kan berbicara, melihat ku saja dia tidak mau!" Yoga kembali mengamuk.
"Aku tidak tahu lagi harus bagaimana Johan!!! dia sangat membenci ku!! dan itu membuatku lemah!"
Yoga kembali ambruk di lantai, kakinya terasa sangat lemas Sekarang.
"Harusnya kau terus mengejarnya!! terus berjuang sampai dia percaya bahwa kau benar benar mencintainya!!!" teriak Johan di depan wajah Yoga.
"Jika kau seperti ini, sampai mati pun akan tetap seperti ini!," lanjut Johan.
Yoga terdiam, ia mulai mencerna setiap ucapan Johan.
"Otak cerdas mu itu kemana sih? kenapa kau terlihat sangat bodoh!" decak Johan lagi.
"Apa aku boleh melihatnya Sekarang?" tanya Yoga bodoh.
"Tahun depan saja!" tukas Johan kesal.
"Huh, masih lama" lenguh Yoga kembali sedih.
Astaga... Johan benar benar geram pada sahabat nya satu ini. Entah apa yang menyebabkan dirinya menjadi bodoh begini.
"Yah sekarang bodoh!!!!!!!" teriak Johan lagi.
Yoga langsung bersemangat, ia langsung merapikan penampilan nya dan berubah menjadi pria tampan seperti sebelumnya.
...----------------...
Di kamarnya, Raisa terduduk di atas ranjang dengan kedua tangan memeluk lutut nya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" pikir Raisa. Ia merasa hidupnya sudah tidak berguna.
"Nona..." panggil Titi.
Raisa menoleh, ia menatap datar kedatangan Titi yang membawa makanan kesukaan nya.
"Aku tidak selera Titi, tolong mengerti lah"
"Tapi nona belum makan sejak kemarin. Perut nona hanya terisi dengan air putih saja"
__ADS_1
Raisa berdiri, lalu pergi ke balkon kamarnya. Berbicara dengan Titi sama saja berbicara dengan kakaknya. Mereka tidak mengerti apa yang sedang ia rasakan.
"Nona!" panggil Titi lantang.
"Hmm" sahut Raisa, namun ia tidak menoleh.
"Mau sampai kapan nona seperti ini??, mau sampai kapan?? bertindak bodoh dan seakan hidup tidak ada artinya!!!,
Lihat lah, selama ini kau menjalani kehidupan yang sulit. Tapi kau bisa melewatinya.
Sekarang, apa karena satu pria kau berubah menjadi lemah dan bertindak bodoh!
Huh!!! aku tidak menyangka kau sebodoh ini"
Titi terus mengoceh meluapkan isi hatinya, ia sudah tidak tahan lagi melihat kondisi Raisa yang seperti enggan untuk hidup.
"Kau tidak mengerti" sahut Raisa pelan.
"Maka buatlah aku mengerti, berbagi lah dengan aku agar kau tidak merasa sendiri"
Raisa tak membalas lagi, ia duduk sembari menatap langit biru.
"Mama mu pasti sedih melihat putrinya bodoh seperti ini" decak Titi lagi.
Deg..
Raisa malah tiba tiba menangis, ia merasa sedih telah membuat mama nya kecewa.
"Hiks..Hiks..."
"Nona" panggil Titi Lirih, ia tidak bermaksud membuat Raisa semakin sedih.
Titi berjalan mendekati Raisa, memeluk gadis itu dari samping. Berkali kali Titi meminta maaf atas ucapan nya tadi.
"Aku tidak menyalahkan mu Titi, semua ini salah ku. Aku memang sangat bodoh, mama pasti kecewa padaku" lirih Raisa di sela Isak tangisnya.
"Tidak nona, aku hanya kesal makanya mengatakan hal itu" bantah Titi.
"Apa aku sebodoh itu Titi?" tanya Raisa.
Titi menggeleng, ia tidak mungkin mengangguk.
"Aku hanya ingin kau segera bangkit, buktikan pada dunia jika kau baik baik saja. Kau wanita kuat nona"
Raisa menghapus air matanya, ia meminta Titi untuk mengambilkan ayam bakar yang Titi bawa tadi.
"Makan lah yang banyak, aku akan memasaknya lagi jika kau masi mau" ucap Titi senang.
Raisa menghapus sisa air matanya lagi, lalu mulai menyantap ayam bakar itu.
Ketika memakan ayam bakar, dan merasakan kelezatan yang tiada Tara bagi Raisa. Membuat kesedihan yang melanda menghilang seketika.
Memang benar, ketika kita sedih, hanya sesuatu yang kita sukai lah yang mampu menghibur. Jika kau suka makan seperti Raisa, maka makanan kesukaan mu mampu mengubah suasana hati mu. Aku sudah membuktikannya😘 apa ada yang sama??
__ADS_1