
Sesuai yang Niko inginkan Sekarang Yoga berada di sebuah ruangan, untuk pertama kali nya ia menunggu client.
"Apa apaan ini, aku boss besar, kenapa aku yang menunggu nya!" gerutu Yoga dalam hati.
Tak la kemudian masuk seorang wanita cantik, kemudian duduk di kursi depan Yoga.
"Maaf saya terlambat" ucap wanita itu terdengar menyesal sudah membuat client nya menunggu.
Deg.
Tubuh wanita itu mendadak kaku, matanya bertemu dengan mata Yoga yang seperti nya juga sama terkejut dengan dirinya.
"Ehem.." Raisa berdehem, berusaha bersikap biasa saja.
Tapi, Yoga tidak bisa diam saja. Ia menatap wajah Raisa lekat, melihat wajah wanita ini membuat nya merasa seperti menatap Raisa.
"Raisa... Benarkah ini kamu?" Yoga berdiri, mendekat dan menangkup wajah Raisa dengan kedua tangannya.
"Kamu gila yah!"
Plak!
Raisa menampar wajah Yoga, ia merasa tindakan yoga adalah tindakan pelecehan.
"Raisa, kamu masih marah?" ucap Yoga sedih.
"Siapa Raisa? aku tidak kenal! kamu salah orang" ucap Raisa sinis.
Mendengar suara keributan di dalam ruangan Boss nya. Seorang wanita masuk ke dalam ruangan dan kaget melihat boss nya bertengkar dengan client.
"Bu, ada apa?" tanya wanita itu pada Raisa.
"Usir pria ini dari sini, dan batalkan kerja sama dengan mereka!" ucap Raisa, lalu pergi begitu saja dari sana.
Yoga terkejut, Raisa sudah sangat banyak berubah sekarang.
"Maaf pak, apa yang telah bapak lakukan?" tanya wanita itu menatap Yoga bingung.
"Siapa wanita itu?" tanya Yoga dengan suara bergetar.
"Dia boss kami, nama nya Lima Khan."
"Tidak mungkin" Yoga menggeleng pelan, lalu pergi begitu saja dari sana.
"Dasar aneh!" dengus wanita itu sembari menatap kepergian Yoga.
...----------------...
Raisa masuk ke dalam ruangan nya, menutup pintu lalu bersandar pada pintu itu. Ia menangis, hatinya kembali sakit. Ia tahu hal ini akan terjadi apabila ia kembali ke negara ini.
Tapi, mau bagaimana lagi. Ia juga tidak bisa terus menerus bersembunyi di negara lain. 4 tahun sudah cukup bagi nya untuk bersembunyi.
"Aku tidak akan pernah memaafkan mu!" ucap Raisa penuh keseriusan, di matanya hanya ada kemarahan dan pilu.
...----------------...
Waktunya pulang kerja.
__ADS_1
Raisa berjalan di basemen perusahaan menuju ke mobil nya. Tatapan matanya tampak kosong, pertemuan tak di sengaja dirinya dengan Yoga mengusik pikiran nya.
"Raisa!"
Deg.
Suara itu membuat langkah Raisa terhenti, lalu berbalik.
"Kamu lagi!" ucap Raisa menatap Yoga sinis.
"Aku tahu itu kamu, lama tidak berjumpa!" ucap Yoga tersenyum sinis.
"Kamu gila yah? sudah berapa kali aku bilang. Aku bukan Raisa!"
"Lalu, kenapa kamu berhenti saat aku memanggil nama itu!"
Raisa mulai terlihat panik, mencari jawaban yang tepat untuk menjawab ucapan Yoga.
"Aku kaget mendengar teriakan mu, secara spontan aku menoleh dan berhenti!"
"Bohong!"
"Tidak percaya yah sudah! aku tidak peduli juga!" Raisa kembali berbalik dan melangkah pergi.
"Kau berpura pura mati untuk menghindari ku???" tanya Yoga dengan berteriak!
Namun, Raisa tidak peduli, ia berjalan terus, lalu masuk ke dalam mobilnya. Dengan tangan bergetar, Raisa melajukan mobilnya.
"Aku akan membuktikan jika kamu itu Raisa ku!" gumam Yoga penuh tekad, matanya masih mengawasi kepergian mobil Raisa.
...----------------...
Niko berdiri di ambang pintu, bersidekap dada menatap Yoga yang tengah berbaring. Melihat Yoga begini, ia sudah Pastika jika Yoga sudah bertemu dengan wanita yang memiliki wajah mirip dengan Raisa.
"Gimana? apa kau menyesal datang ke sana?" tanya Niko.
"Aku tidak menyesal, tapi aku malah bingung " balas Yoga.
Niko berjalan masuk ke dalam kamar, lalu duduk di samping Yoga yang masih berbaring.
"Wanita itu? kamu sudah bertemu?"
"Kamu sudah melihatnya?" tanya Yoga menatap Niko. Lalu Niko pun mengangguk mengiyakan pertanyaan Yoga.
"Karena itulah aku menyuruh mu untuk datang ke sana, menemui gadis yang memiliki wajah hampir mirip dengan Raisa"
Yoga bangkit, memperbaiki duduknya menghadap ke Niko.
"Wajahnya sangat mirip, suaranya juga. Sorot matanya juga mirip. Aku yakin, dia adalah Raisa!" ujar Yoga.
"Belum tentu, di dunia ini ada yang mirip tanpa ikatan darah. Mungkin saja gadis itu memiliki kemiripan itu dengan Raisa" jelas Niko.
Yoga menggeleng pelan, hatinya mengatakan bahwa itu adalah Raisa.
"Aku yakin, dia Raisa!" tegas Yoga yakin.
"Terserah kau saja, jikalau dia Raisa. Kau tetap tidak akan bisa mendekati nya"
__ADS_1
"Kenapa?" yoga menatap Niko bingung.
Pletak!
"Aws.... Kenapa kau memukul ku bodoh!" teriak Yoga marah, ia mengusap kepalanya yang di pukul oleh Niko.
"Kau sudah menyakitinya, menolak dirinya bahkan itu terjadi dua kali. Apa kau akan yakin dia menerima mu? jika gadis itu bukan Raisa da tahu kisah mu dengan Raisa. Aku rasa dia akan tetap membenci mu!"
Yoga menekuk wajahnya, apa yang Niko katakan memang benar. Raisa mengalami hal buruk karena dirinya. Bahkan saat gadis itu hamil Yoga tetap mengabaikan wanita itu.
"Aku akan tetap mengejarnya, mau Raisa atau tidak. Aku tidak akan mensia siakan mereka lagi" gumam Yoga.
"Cih, kau yakin bisa mengejarnya?" decak Niko.
"Tentu, aku pasti bisa.!" yakin Yoga.
Niko menghela nafas melihat saudara sekaligus sahabat nya ini.
"Kau harus semangat!" gumam Niko, ia menepuk bahu Yoga kemudian berlalu pergi. Meninggalkan Yoga yang kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
...----------------...
Sementara dengan Raisa, wanita itu malah pergi ke sebuah danau yang dulu nya adalah tempat untuk menenangkan dirinya.
Wanita itu berdiri di tepi danau, tatapan nya lurus menatap jauh ke tengah danau yang tampak gelap, dan hanya lampu lampu tepi danau yang terlihat di seberang sana.
"Kenapa aku bertemu dengan nya lagi? aku sangat ingin hidup bahagia"
"Aku tidak mau merasakan luka itu lagi, dua kali itu sudah terlalu banyak merasakan sakit!"
"Arrrggggggggg!!!!!!!! Aku benci kamu!!!!!!!!!!!!!!!"
Raisa berteriak sekuat tenaganya, melampiaskan sesak yang ada di dadanya.
"Sudah reda?"
"Astaga!" Raisa terlonjak kaget, Dave datang tiba-tiba.
"Kau mengagetkan ku kak!" pekik Raisa.
"Cih, kau berteriak sekencang itu, apa tidak takut penghuni danau ini terlonjak kaget mendengar nya?"
"Kau jangan menakut nakuti aku!" serga Raisa mulai merinding.
"Adik sepupu, aku tahu kau masih mencintainya. Tapi, apa dengan menghindari nya kau bisa kabur dari semua ini? tidak!" tegas Dave.
Raisa menatap kakak sepupunya dengan dahi mengerut, meskipun umur sudah semakin matang. Tapi, Raisa tetap lah Raisa yang dulu. Ceroboh dan lugu.
"Jangan lari dari kenyataan, buktikan pada pria itu. Kau adalah Lina, bukan wanita yang pernah ia sakiti! apa kau bisa?"
"Aku pasti bisa, aku tidak akan lemah lagi!" jawab Raisa penuh keyakinan.
"Aku harap begitu, jika kau luluh lagi,maka kau harus bisa melupakan masa lalu!" lirih Dave, kemudian memeluk adik sepupunya.
Dave sangat tahu perjuangan Raisa selama 4 tahun ini. Menjalani kehamilan tanpa seorang pendamping, melahirkan dan membesarkan seorang putra sendirian.
"Makasih sudah selalu ada untuk ku kak"
__ADS_1
"Aku kakak mu, mantan gebetan " kekeh Dave di akhir kalimat nya. Dulu ia mengira rasa ketertarikan nya pada Raisa adalah rasa suka, ternyata karena ada ikatan darah. Dave selalu tertawa jika mengingat masa masa itu.
...----------------...