Terpikat Pesona Gadis Lugu

Terpikat Pesona Gadis Lugu
Ternyata mereka sudah tahu


__ADS_3

Tuk!! Tuk!!!


"Masuk!" sahut Yoga dari dalam.


Terdengar pintu terbuka, Yoga mengalihkan pandangan matanya kearah pintu.


Dahinya mengernyit melihat seseorang masuk ke dalam ruangan nya.


"Maaf tuan, saya di minta oleh Bu Lina untuk membahas proyek kerja sama kita. Beliau menyuruh saya untuk membahas dengan anda tuan"


"Kenapa bukan dia?"


"Saya juga tidak tahu tuan, tapi boss saya mengatakan harus membahas dengan anda, jika anda menolak, berarti anda setuju membatalkan kontrak kerja sama ini"jelas pria itu.


"Sial!" umpat Yoga dalam hati, Raisa ternyata tidak sebodoh yang Yoga pikir.


"Kamu silahkan tunggu di ruangan meeting,nanti saya akan mengutus seseorang untuk membahas ini"


"Baik tuan!"


Pria itu menunduk hormat pada Yoga, lalu keluar dari ruangan Yoga.


"Sial! Raisa berusaha untuk menghindari ku lagi!"


Yoga mengambil ponselnya, ia menghubungi sekretaris nya untuk menangani proyek ini.


Yoga menyelesaikan semua pekerjaan nya, lalu ia pergi keluar. Ia harus menemui Raisa.


...----------------...


"Sayang, kamu tidak bohong kan?" tanya Titi , ia masih belum bisa mempercayai apa yang baru saja suaminya katakan.


"Iya sayang, Raisa masih hidup. Dia memiliki anak yang lucu. Oh iya, kalian juga sudah pernah bertemu" jelas Johan.


"Apa? kapan?" Titi malah lupa, banyak anak kecil yang ia temui.


"Anak laki-laki yang membantu mu di bully oleh ibu ibu lemes"


"Maksud mu Roy?"


Johan mengangguk.


"Astaga, aku sudah ada feeling, karena dia sangat mirip dengan Yoga"


"Aku sebenarnya juga tidak pernah menyangka Sayang, saat aku pergi ke rumah paman untuk meminta bantuan, bertepatan saat itu Raisa pulang"


"Oh jadi dia tinggal bersama paman?" tanya Titi. Johan mengangguk.


"Iya sayang, baru beberapa bulan saja" jawab Johan.


"Aku ingin bertemu dengan nya sayang" rengek Titi, ia benar-benar menyayangi sahabat nya itu.Hanya Raisa yang memperlakukan nya beda . Raisa yang membuka pola pemikiran dirinya.


"Baik sayang, kamu siap siap lah" ujar Johan.

__ADS_1


Titi merasa sangat senang, ia beranjak menuju ke kamar. Namun langkahnya terhenti.


"Jadi, kalian sudah tahu?"


Deg.


Johan berdiri dari duduknya, menatap Yoga yang entah sejak kapan berdiri di ambang pintu. Pria itu pasti sudah mendengar pembicaraan nya.


"Yoga?"


"Tuan?"


Yoga berjalan mendekat kearah Johan, tatapan matanya sedingin es.


Pria itu datang ke rumah Johan untuk memberikan informasi ini kepada Johan, agar mereka bisa sama sama berjuang untuk mengembalikan Raisa yang dulu.


Tapi, Yoga malah mendapat Johan sudah mengetahuinya.


"Aku bisa jelasin Yoga" ujar Johan.


"Tidak perlu di jelasin Johan, aku sangat kecewa sama kamu. kenapa kamu gak beritahu aku? kenapa kamu malah buat aku seolah seperti orang gila dan bodoh. Mengejar seseorang yang mirip dengan Raisa.


"Tapi itu pantas untuk mu tuan! kau mesia-siakan Raisa, bahkan kau tidak mengakui anak yang ia kandung!" Titi malah terpancing emosi.


"Itu karena aku tidak tahu!" balas Yoga.


"Cih, memangnya apa yang kau tahu soal nona? kau hanya tau tentang keegoisan mu saja!" Titi berjalan, lalu berdiri di depan Yoga. Tatapan matanya menusuk ke relung hati Yoga.


"Titi, aku juga tidak tahu. Aku memang salah, tapi aku juga menderita"


Titi hendak memukul Yoga, namun di tahan oleh Johan.


"Sudah sayang, Sekarang Raisa sudah kembali, kita tidak boleh bertengkar lagi." bujuk Johan menenangkan istrinya.


"Tidak bisa, jika dia kembali menyakiti Raisa lagi, maka kita akan kehilangan Raisa lagi sayang, tolong katakan padanya untuk tidak mengganggu nona lagi!!" teriak Titi histeris.


Yoga menunduk malu, ia juga merasa bersalah pada Titi.Tapi, dirinya juga menderita, ia juga menyesal dan merasakan sakit yang bahkan lebih sakit yang Titi rasakan.


"Mama, kenapa mama nangis?" Ratu berlari mendekati mama nya, lalu memeluk erat kaki Titi.


"Sayang, ayo masuk kamar. Ganti baju nya" ujar Johan. Titi tak bisa bersuara lagi, air matanya terus mengalir deras.


"Baiklah papa" jawab Ratu patuh, ia pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian.


"Aku akan menyusul Ratu" ujar Titi pergi menyusul putrinya.


Kini tinggal Yoga dan Johan berada di ruang depan itu.


"Sejak kapan kamu tahu?" lirih Yoga.


"Sejak aku bertemu langsung dengannya, ia tidak bisa berbohong padaku" jawab Johan menjelaskan.


Yoga mengangguk mengerti, ia semakin sadar sekarang. Diantara mereka semua hanya dirinya yang bodoh, yang tidak peka dengan kehadiran Raisa.

__ADS_1


"Pulanglah, istirahat. Jangan mencoba membuat kesalahan itu lagi" ujar Johan, sebelum pria itu ikut menyusul istri dan anaknya.


"Aku mengerti" sahut Yoga pelan. Ia mengangguk pelan, lalu berbalik pergi setelah memastikan Johan sudah tidak ada.


...----------------...


Setelah dari rumah Johan, Yoga kembali ke tujuan utamanya. Yaitu bertemu dengan Raisa. Tapi, dirinya tidak tahu di mana Raisa tinggal sekarang.


Yoga pergi ke taman bermain tempat Roy sering main. Yoga yakin Roy sedang berada di sana.Yoga akan mengikuti kemana Roy pergi untuk mendapatkan alamat rumah Raisa.


Saat tiba di taman bermain, Yoga melihat Roy baru saja masuk ke dalam mobilnya.


"Apa dia akan pulang?" ujar Yoga heran. Biasanya Roy akan sangat lama di taman ini.


Yoga mengikuti mobil yang membawa putra nya pergi.


Bukan ke rumah, ternyata Roy pergi ke cafe tempat dirinya dan Roy sering bertemu.


Yoga ikut keluar dari mobilnya, lalu mengendap-endap mengikuti Roy.


"Keluar lah, Jangan mengumpat di sana!" seru Roy yang mengetahui kehadiran Yoga.


"Heheh...Kamu kok tahu aku sih" kekeh Yoga tidak merasa bersalah.


Yoga menghampiri putranya, ingin rasanya ia memeluk dan mengatakan bahwa dirinya adalah papa kandung Roy.


"Maaf tuan, nona tidak mengijinkan anda untuk bertemu dengan tuan muda" ujar pengasuh menjelaskan pada Yoga.


"Kenapa gak boleh? selama ini saya tidak pernah menyakiti Roy."


"Sudah lah, bi tunggu di luar saja. " ucap Roy.


Pengasuh tidak bisa berkata apa apa lagi, ia menuruti permintaan tuan mudanya.


Yoga tersenyum, sikap putranya sama persis seperti sikap dirinya waktu kecil, bahkan ketika sudah dewasa sebelum bertemu dengan Raisa.


Yoga ikut duduk bersama Roy di salah satu meja. Ia menatap putranya dengan senyuman.


Tanpa di duga, Roy bangkit dari duduknya, lalu memeluk Yoga.


"Aku merindukan mu papa"


Deg!


Betapa sangat bahagia nya hati Yoga mendengar ucapan putranya yang memanggil nya dengan panggilan papa.


Apa Roy sudah tahu?, apa Raisa sudah mengatakan nya?


"Meskipun mami melarang ku bertemu dengan mu, tapi aku akan tetap menemui mu. kamu masih mau aku anggap sebagai papa ku kan?"


Ha, ternyata Roy tidak tahu.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2