Terpikat Pesona Gadis Lugu

Terpikat Pesona Gadis Lugu
Kaca Baru??


__ADS_3

Di taman bermain, Raisa menemani Roy bermain. Sejak Yoga mengetahui Roy adalah putranya, sejak saat itu Raisa mengembalikan perusahaan Julia padanya. Ia tidak mau terlalu sibuk lagi, ia ingin memberikan waktu lebih banyak pada Roy.


"Roy, hati hati sayang!!!" teriak Raisa.


"Iya mami!!" sahut Roy.


Raisa tersenyum senang, Roy sangat senang bermain bersama Ratu, putri Titi.


"Mereka cepat sekali akrab yah" ucap Titi.


Raisa tidak menjawab, ia masih merasa kesal pada Titi.


"Apa kau masih marah?" tanya Titi sambil menatap Raisa lekat. Namun, wanita itu malah memilih pergi.


"Raisa tunggu!" tahan Titi mencekal lengan Raisa.


"Apa lagi? aku masih banyak urusan!" ketus Raisa.


"Kamu mau kemana?" tanya Titi sendu, ia tidak menyangka Raisa akan se marah ini padanya.


"Itu bukan urusan mu" balas Raisa lagi, nada bicaranya masih sangat ketus dan dingin.


"Maafkan aku Raisa, aku tidak bisa melihat mu menderita,makanya aku mau membantu Julia dan Roy, apa kau tidak lihat Roy sangat bahagia sekarang????"


Raisa tidak perduli, ia pergi meninggalkan Titi yang hampir menangis.


Raisa menghampiri putranya, lalu membawanya pergi.


"Mau kemana kak Roy?" tanya Ratu.


"Ratu sayang, kak Roy nya pulang dulu yah. Besok main lagi" ucap Raisa lembut.


"Janji yah, besok kak Roy main ke sini lagi"


"Iya Ratu" jawab Roy.


"Bye!!!"


"Bye kak Roy!!!!"


...----------------...


Di dalam mobil, Roy tak henti hentinya bertanya pada mami nya, kenapa mereka pergi begitu cepat.


"Mami, sebenarnya kenapa sih. Kita pulang sangat cepat!"


"Tidak apa apa Roy, mami hanya merasa tidak enak badan saja" jawab Raisa beralasan.


"Apa karena bibi? mami, maafin bibi, dia tidak bersalah mi" ucap Roy memohon, ia tidak mau Titi di benci oleh maminya, Roy sangat suka dengan Titi dan dia tidak mau maminya berantem lagi.


"Mami gak marah sama dia Roy, mami hanya belum bisa berdamai dengan masa lalu" lirih Raisa.


Roy terdiam, ia memang tidak mengerti, tapi Roy dapat merasakan pedih nya hati maminya saat ini.


...----------------...


Niko baru saja pulang dari rumah sakit, ia selalu saja pergi kontrol.


"Dari mana kamu Niko?" tanya Yoga yang berdiri di tangga. Ia berjalan cepat menuruni anak tangga, lalu berkacak pinggang di depan Niko.


"Ada apa sih?" tanya Niko lemah.


"Karena kamu gak ada, aku jadi susah ni pergi mengejar Raisa, aku jadi sibuk di perusahaan" cibir Yoga cemberut.


"Kan itu memang tugas kamu, gak mungkin aku selamanya bantu kamu, nanti kalau aku gak ada gimana?" celetuk Niko.

__ADS_1


Yoga terdiam, ia mencerna setiap kata kata Niko.


"Memangnya kamu mau pergi kemana?" tanya Yoga.


Niko tercekat, Ia berpikir keras mencari alasan apa yang harus ia berikan pada Yoga agar tidak mencurigai nya.


"Yah kemana aja, yang pasti aku pergi ke tempat yang tidak ada kamu!" cibir Niko, ia melewati Yoga begitu saja.


"Hei, tunggu!!! Kamu gak boleh pergi kemana pun!!! kamu itu harus ada di samping ku! meskipun kamu sudah menikah!!" teriak Yoga berbalik menatap Niko yang perlahan menaiki anak tangga. Ia mendengar jelas ucapan Yoga, perlahan air matanya mengalir dan semakin deras.


"Maafkan aku Yoga. Tapi, umur ku tidak akan lama lagi." batin Niko.


Yoga mendengus kesal, Niko malah mengacuhkan dirinya.


"Awas saja kalau kau berani melakukan itu!" kecam Yoga.


...----------------...


Sesampainya di kamar, Niko mengambil obat obatan yang harus ia konsumsi setiap harinya di dalam laci.


"Huh, selalu saja harus minum ini" gerutu Niko. Lalu melahap semua obat yang terdiri dari 5 macam pil.


Setelah meminum obat itu, Niko tak sengaja melihat foto dirinya bersama mama angkatnya dan juga Yoga. Mereka terlihat berada di sebuah pegunungan yang sangat tinggi dan tersenyum lebar.


"Mama.... maaf aku tidak bisa menjaga Yoga selama nya, aku sangat merindukan mu, jadi aku menyusul mu saja" lirih Niko.


"Maafin Niko ma, maafin Niko. Tapi Niko janji Yoga akan bahagia sebelum aku pergi menyusul mu" ungkap Niko lagi, tangan nya tergerak mengusap foto yang di bingkai cantik di atas nakas.


...----------------...


Drrttt....


Raisa melirik sebentar layar ponselnya yang baru saja menyala.


My Son.


Raisa membaca pesan dari putranya, kemudian membalasnya.


To My Son


Boleh sayang.


Saat ini Raisa tengah sibuk membuat rancangan busana untuk client nya yang akan menikah, jadi Raisa harus serius dan bekerja keras untuk menyelesaikan nya.


Setelah semuanya selesai, Raisa pun memutuskan untuk keluar dari ruangan kerja nya di rumah.


"Aku haus" gumam Raisa berbelok ke dapur, ia sebenarnya hendak menuju ke kamarnya untuk beristirahat, namun karena rasa haus ia menunda masuk ke kemar.


Saat melewati ruangan tengah, Raisa melihat putranya tengah makan eskrim bersama Yoga.


"Hai ma" sapa Roy.


Raisa tersenyum manis, kemudian berubah menjadi masam saat Yoga membalas senyum nya.


"Idih, kok malah jadi cemberut sih!" gerutu Yoga.


"Biasalah pa, pms" celetuk Roy asal.


"Benarkah???" tanya Yoga tidak percaya.


"Gak tahu juga sih, hehe" Roy tercengir.


Raisa melanjutkan langkahnya menuju ke dapur, lalu menyelesaikan tujuan nya pergi ke sana.


Setelah selesai dari dapur, Raisa kembali melewati ruangan tengah rumah nya.

__ADS_1


"Gak mau makan eskrim?" tawar Yoga.


"Gak suka!" tolak Raisa sadis.


"Enak lo mi" sahut Roy.


"Gak enak karena ada dia!" ketus Raisa lagi. Lalu ia berjalan santai menuju ke kamar nya.


"Raisa, kamu kenapa sih. Selalu nolak aku!" marah Yoga mulai emosi, ia berdiri dari duduknya, laku hendak menghampiri Raisa. Namun, Roy menahannya.


"Jangan marahin mami, hidupnya sudah sangat sulit Papa" ujar Roy.


Raisa hampir tidak percaya mendengar ucapan putranya barusan. Andai saja Yoga tidak ada, maka sudah di pastikan Raisa akan berlari dan memeluk putranya.


Sayangnya ada Yoga, Raisa jadi mengurungkan niat nya. Ia melangkah cepat menuju kamar.


"Memangnya kenapa sih? papa kan cuma ingin bersama dengan kalian berdua lagi, papa ingin menebus kesalahan papa selama ini Roy" lirih Yoga.


"Tapi pa, kata kakek, semua yang sudah hancur tidak bisa di perbaiki lagi, seperti kaca. Di satukan pun akan tetap retak." ucap Roy bijak.


"Maksud kamu, papa gak bisa sama sama kalian lagi?"


Roy menggeleng. " Bukan begitu pa, jika kaca lama sudah retak dan pecah. Maka papa bisa ganti kaca yang baru" jelas Roy.


Kening Yoga mengerut, ia tidak mengerti maksud dari putra pintar nya ini.


"Aiss, kenapa sih papa bodoh banget" dengus Roy, membuat Yoga melotot mendengarnya.


"Maksud kamu, papa cari mami yang baru, gitu?"


"Bukan papa......, Memangnya kalau papa berkaca di kaca lam, terus berkaca di kaca baru Waja papa berubah bentuk?" tanya Roy.


"Tidak"


"Nah, tu tahu. Ganti kaca bukan berarti cari mami baru, enak aja! tapi buka lembaran baru, gitu loh!"


Plak~ Yoga menepuk jidatnya, hanya untuk mengatakan buka lembaran baru saja, Roy memakai tata bahasa yang sangat panjang dan berbelit.


"Sayang kenap harus pake pribahasa sih, kan kamu tinggal bilang buka lembaran baru, dah selesai, gak harus muter muter ke Bandung terus ke Kalimantan, dan balek lagi ke Bandung!" ujar Yoga gemas pada putranya sendiri.


"Kan biar pro papa, biar lebih bergaya gitu!!"


"Au ah, pusing kalau punya anak terlalu pintar" dengus Yoga merebahkan tubuhnya di atas Sofa, sedangkan Roy malah semakin lahap memakan eskrim yang papa nya bawa.


...----------------...


"Bagaimana? apa dia sudah tahu?"


"Belum, dia belum tahu"


Dua pria tengah berbincang di sebuah cafe, mereka tampak tegang dan serius membahas sebuah masalah.


Si pria yang terlihat sudah tua, menatap lawan bicaranya dengan tatapan tidak mengerti.


"Sudah lah, jangan khawatir. Aku sudah menyiapkan semuanya!" ujar pria itu, lalu memperlihatkan senyum manisnya agar pria tua itu yakin jika dirinya baik baik saja.


"Kau ini, dari dulu tidak pernah berubah!" dengus pria itu.


Mereka adalah, Niko dan Draison. Ketika Niko pergi ke rumah sakit, tidak sengaja ia berpapasan dengan salah satu anak buah Draison, karena penasaran anak buah Draison mencari tahu dan melaporkan pada Draison.


Karena itu, Draison datang dan mengintrogasi Niko. Barulah Niko bercerita dan meminta papa angkatnya untuk merahasiakan semua ini dari Yoga. Niko tidak mau Yoga kepikiran dan menjadi kacau.


Meskipun sering berantem dan adu mulut, Niko tahu Yoga sangat sayang dan peduli padanya. Mereka itu bagaikan semut dan gula. Di mana ada gula, di situ ada semut


Kapan pun dan di mana pun Yoga berada, Niko pasti akan menjaganya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2