
Yoga merasa Raisa terlalu lama pergi ke kamar Johan. Ia memutuskan untuk menyusul Raisa saja.
Yoga membuka celananya, lalu melilitkan handuk sebagai penutup bagian bawah tubuhnya.
Jika ia tidak membuka celana, maka akan banyak air berserakan di lantai mengikuti langkah kakinya. Seluruh tubuh Yoga benar benar sudah basah.
"Kenapa lama banget?" tanya Yoga.
Raisa tersentak, jantung nya seakan copot mendengar suara Yoga.
"Sstttt.... Kenapa berisik sih!" desis Raisa memberi kode agar Yoga tidak berisik.
"Ada apa memangnya?" tanya Yoga berbisik, ia melangkah mendekati Raisa dan ikut mendengar apa yang Raisa dengar.
"Ahh...Tuan...Geli.."
"What? mereka -?" Yoga menegakkan tubuhnya.
"Aku penasaran, siapa di dalam sana" bisik Raisa.
"Kalau begitu, masuk aja" usul Yoga.
Raisa menggeleng, ia tidak mau mengganggu kakaknya.
"Jangan, mereka bisa terganggu nanti" cegah Raisa menarik tang Yoga yang ingin membuka pintu kamar Johan.
"Aku penasaran"
"Ngintip sedikit saja" kata Raisa.
"Mana bisa! tidak jelas" protes Yoga.
Mereka terus berdebat dengan suara pelan. Yoga terus ingin membuka pintu, sementara Raisa melarang nya.
Bruk~<
"Ya Tuhan!!"
Titi terlonjak kaget, ia merapikan pakaian nya yang sudah berantakan oleh Johan. Lalu turun dari atas ranjang milik Johan.
Sementara Johan menutup mata menahan kesal. Ia menatap Yoga dan Raisa terjatuh di lantai.
"Apa yang kalian lakukan?" seru Johan berusaha menahan kesal.
"ah..Itu...Hmm..."
"Kami yang harusnya bertanya!" potong Yoga tanpa tahu malu.
"What??" Johan bangkit, ia turun dari atas ranjang. Kemudian berdiri di hadapan Yoga dan Raisa.
"Apa kau bilang? sudah jelas kalian mengganggu ku dan Titi!"
"Tapi kan, aku gak sengaja. Dia tuh, yang dorong aku. Sampai pintunya terbuka lebar. Aku tadi cuma mau ngintip sedikit" jawab Raisa jujur.
Titi menundukkan wajahnya, ia benar-benar malu tertangkap basah sedang bermesraan dengan Johan.
"Kenapa kau menunduk? " tanya Yoga pada Titi.
"Hei, kenapa kau memarahi kekasih ku?" sela Johan melotot pada Yoga.
__ADS_1
"Kekasih??" ulang Raisa kaget.
Raisa menatap Titi, ia merasa sudah tertinggal jauh tentang hubungan kakaknya dan juga pelayan nya.
"Maafkan aku Raisa" lirih Titi.
"Kenapa? apa ada yang salah??? aku sudah membelinya dari Yoga. Jadi pria ini tidak bisa melarang ku untuk bersamanya!" tegas Johan.
Mendengar kata membeli, Raisa langsung menatap kakaknya. Ia sangat membenci kata itu.
Raisa berpikir setiap laki laki akan semena mena setelah mereka membelinya. Memangnya mereka pikir wanita itu barang apa? beli beli.
Plak!
Johan kaget. Raisa tiba-tiba menamparnya.
Titi dan Yoga juga seperti itu. Tanpa sebab, Raisa menampar kakaknya sendiri.
"Kenapa kau malah menampar kakak mu Raisa?? apa kau ingin durhaka?" dengus Johan memegangi pipi kirinya.
"Kau pikir wanita itu barang huh? seenaknya kau beli dan kau miliki. Titi adalah sahabat ku, aku tidak mau dia merasakan sakit hati seperti ku."
Raisa menarik tangan Titi, ia menyembunyikan Titi di belakang nya.
"Di beli dan kemudian di sakit!" ucap Raisa melirik pada Yoga. Lalu ia menarik tangan Titi untuk pergi dari sana.
"Huh? dia bilang apa?" decak Johan tak percaya. Ia malah jadi uring-uringan sekarang.
"Dia menyindir ku?" gumam Yoga.
"Ujung tombaknya tajam dan mengena" sahut Johan.
Yoga dan Johan turun ke bawah, mereka bangun pagi pagi sekali. Bahkan Raisa dan Titi masih tertidur nyenyak.
"Bagaimana?" Yoga menatap Johan " apa kau siap?"
Johan bergidik bahu, tentu saja dia siap.
"Apa yang membuatku tidak siap?" jawab Johan sombong.
Kedua pria itu berjalan menuju dapur. Kedua nya berniat ingin membuat sarapan untuk kedua tuan putri mereka.
Perjuangan keduanya sama, Titi yang termakan ucapan Raisa tadi malam , malah ikut merajuk dan tidak mau menyapa Johan.
Jadi, kedua pria ini ingin membuat dua wanita itu terkesan.
Yoga berkutat dengan sayuran, ia terlihat sedikit bingung memikirkan bagaimana cara memotong lobak.
Tak! Tak! Tak!!
lobak bulat sudah terbagi menjadi 6 bagian. Dengan senang hati Yoga langsung mencuci nya di wastafel, kemudian di letakkan di dalam mangkok plastik ukuran besar.
"Hei, ini terlalu besar" kata Johan menunjuk lobak nya.
Sebenarnya Johan juga sama, ia tidak pandai memasak. Selama ini ia hanya mengawasi management restoran nya. Tidak pernah ikut campur di dapur.
"Benarkah? apa aku harus mencincangnya lagi?"
Johan mengangguk menjawab pertanyaan Yoga.
__ADS_1
Keduanya semakin sibuk memikirkan makanan apa yang akan mereka buat pagi ini.
"Apa yang harus kita buat dengan bahan bahan ini?"tanya Johan.
Yoga menatap bahan bahan yang telah mereka siapkan. Ada wortel, lobak putih, daging ayam, dan bumbu giling yang entah apa namanya mereka juga tidak tahu.
Semua bahan bahan sudah di cincang ala kadarnya. Jika di lihat, bentuk mereka sudah tak berbentuk lagi.
"Bagaimana kalau kita masak nasi goreng??" usul Yoga.
"Seperti nya tidak sulit" balas Johan.
"Fix, kita masa nasi goreng."
Yoga dan Johan berbagi tugas, Yoga di bagian membuat nasi goreng, sedangkan Johan membuat topingnya. Yaitu ayam goreng krispi.
"Untuk nasi goreng kita butuh nasi, dan bawang bangan, terus bumbu penyedap nya." tutur Yoga.
"Untuk topingnya, butuh daging ayam, tepung dan sedikit bumbu agar renyah" tutur Johan pula.
Kedua nya saling pandang, lalu melirik pada sayuran secara bersamaan.
"Lalu sayuran ini?" tunjuk Yoga.
Johan tanpa berpikir sejenak,
"Apa kau pernah memakan nasi goreng yang ada sayurnya?" tanya Johan.
"Belum sih, tapi sayur membuat tubuh sehat. Apalagi wanita biasa nya suka sayur" sahut Yoga.
"Kau benar, Raisa dan Titi pasti suka" kata Johan tersenyum senang.
Sementara di dalam kamar, Raisa dan Titi tampak masih tertidur pulas. Keduanya mengenakan piyama couple.
Raisa memang sangat menyukai Titi, wanita ini satu satunya wanita yang bisa ia ajak berteman. Apalagi Titi selalu saja menemaninya sejak di rumah Yoga.
Mereka semakin dekat, apalagi Yoga memerintahkan Titi untuk selalu mengawasi Raisa dan menemani gadis itu.
Sinar matahari memaksa masuk mendorong cela cela gorden agar bisa menyilaukan mata dua wanita yang seakan masih enggan untuk membuka mata.
"Aduhhh kenapa silau sihh" gerutu Raisa menarik selimutnya untuk menutupi wajahnya.
"Nona...Kenapa di tarik sih, aku dingin!!!" erang Titi. Ia malah kembali menarik selimut yang ditarik oleh Raisa tadi.
"Titi...."
"Nona!!!!"
Keduanya malah saling tarik menarik, mata masih terpejam, tidak ada satupun dari mereka yang mau membuka mata. Hanya tangan merekalah yang bergerak aktif tarik menarik itu.
"Ahh...Nona"
Titi mengalah, ia membuka mata nya. Duduk di atas ranjang sembari merenggangkan tubuh.
"Jam berapa sekarang??", gumam Titi menguap lebar. Mata nya berair karena menahan kantuk.
Titi turun dari ranjang, kemudian berjalan gontai menuju ke kamar mandi.
Sementara Raisa, malah kembali masuk ke alam mimpi. Tadi malam mereka tidur sangat larut. Hampir subuh, apalagi setelah menangkap basa Johan dan Titi sedang bercumbu, Raisa malah mengomel pada Titi hingga mereka tertidur.
__ADS_1
...----------------...